Strategi Pengembangan Komoditas Unggulan Agribisnis Wilayah Perbatasan Kabupaten Kapuas Hulu

Vinsensius, Vinsensius (2001) Strategi Pengembangan Komoditas Unggulan Agribisnis Wilayah Perbatasan Kabupaten Kapuas Hulu. Masters thesis, Institut Pertanian Bogor.

[img]
Preview
PDF
r18_01-Vinsensius-cover.pdf

Download (359kB)
[img]
Preview
PDF
r18_02-Vinsensius-ringkasaneksekutif.pdf

Download (353kB)
[img]
Preview
PDF
r18_03-Vinsensius-daftarisi.pdf

Download (341kB)
[img]
Preview
PDF
r18_04-Vinsensius-pendahuluan.pdf

Download (424kB)

Abstract

Wilayah perbatasan merupakan sebutan berdasarkan pembagian wilayah pembangunan di Kabupaten Kapuas Hulu yang berbatasan langsung dengan negara tetangga Serawak Malaysia Timur. Wilayah perbatasan terdiri dari lima ( 5 ) Kecamatan yaitu Embaloh Hulu, Batang Lupar, Badau, Empanang dan Puring Kencana yang terletak di sepanjang jalur jalan Lintas Utara menghubungkan Kabupaten Kapuas Hulu dengan Serawak dan Merakai Kabupaten Sintang. . Berdasarkan konsep pembagian wilayah pembangunan, wilayah perbatasan memiliki potensi sektor pertanian. Potensi yang ada belum dikembangkan. Perkembangan sektor pertanian saat ini ditentukan oleh tradisi masyarakat sebagai lapangsan usaha, dilakukan secara tradisional, teknologi rendah, didukung struktur tanah yang cocok, iklim, daerah ketinggian, serta usaha perorangan atas kesadaran pemenuhan kebutuhan hidup. Usaha dalam skala besar belum dilakukan. Program pengembangan wilayah perbatasan perlu pembenahan mendasar dan perencanaan dari awel berdasarkan potensi yang ada dengan terlebih dahulu merumuskan permasalahan yaitu apa sektor ekonomi basis dan utama serta sektor pertanian basis dan utama dimiliki wilayah perbatasan, apa komoditas unggulan agribisnis wilayah perbatasan yang layak dikembangkan, apa faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan pengembangan serta apa strategi yang tepat dilaksanakan guna pengembangannya. Untuk menjawab permasalahan tersebut maka penelitian ini dilakukan. Tujuan penelitian adalah mengetahui sektor ekonomi basis dan utama serta sektor pertanian basis dan utama wilayah perbatasan, mengetahui komoditas unggulan agribisnis '" ". 'wilayah perbatasan, mengetahui faktor-faktor yang menentukan' keberhasilan, menentukan alternatif strategi pengembangan, merekomendasi strategi priorltas dan rencana kerja. Penelitian ini merupakan penelitian survey bersifat deskriptif menggunakan data primer dan sekunder. Analisa data menggunakan metode Location Quotient (LQ), metode perbandingan eksponensial (MPE) dan paired comparison criteria, analisa SWOT, metode Proses Hirarki Analisis (PHA). Berdasarkan anallsis LQ diketahui bahwa sektor ekonomi basis wilayah perbatasan adalah pertanian (LQ=1,45) dan perdagangan (LQ=1,17). Sektor ekonomi utama sebagai mata pencaharian pokok masyarakat juga pada sektor pertanian (LQ=1, 12) dan sektor jasa (LQ=1,13). Berarti sektor yang layak dikembangkan di wilayah perbatasan adalah sektor pertanian. Sektor pertanian basis wilayah perbatasan adalah perkebunan (LQ=1,40) yang berarti perkebunan penting peranannya sebagai sumber pendapatan. Sektor pertanian utama wilayah perbatasan juga terletak pada perkebunan (LQ=1,23) dimana perkebunan merupakan lapangan usaha utama masyarakat. Komoditas unggulan agribisnis wilayah perbatasan adalah komoditas lada dengan rating nilai komoditas alternatif 10,12. Komoditas agribisnis lada sebagai komoditas unggulan ditinjau dari beberapa kriteria penentu yaitu kondisi Iingkungan a.tau alam bobot 0,13, merupakan usaha yang menjadi tradisi masyarakat bobot 0,12, sumber pendapatan masyarakat bobot 0,12, memiliki potensi pasar yang baik bobot 0,10, tergantung pada sarana, prasarana transportasi bobet 0,10, luasnya areal tanam atau penyebaran lekasi bebet 0,09, sesuai kebijakan pemerintah bebet 0,06, serta waktu yang dibutuhkan bebet 0,04. Berarti komeditas perkebunan lada layak untuk direncanakan pengembangannya. Analisis IFE dan EFE matrik yang menghasilkan faktor-fakter strategis berpengaruh, yaitu; fakter strategis internalelemen kekuatan yang paling berpengaruh adalah letak geegrafis bebet 0,103 dan lapangan usaha masyarakat bebet 0,093. Fakter strategis internal elemen kelemahan yang paling berpengaruh adalah keuangan dan permedalan bebet 0,117. Faktor strategis eksternal yang paling berpengaruh adalah faktor strategis elemen peluang yaituotonomi daerah bobot 0,140, pola kemitraan bobot 0,125 dan kebijakan dan komitmen pemerintah daerah bobot 0,075. Faktor strategis eksternal elemen ancaman yang paling berpengaruh adalah produk impor bobot 0,187 dan perlumbuhan ekonomi bobot 0,166. Alternatif strategi setelah dilakukan rating adalah melakukan pengembangan sentra budidaya bobot 2,965, membangun sarana prasarana dan infrastruktur bobot 2,578, melakukan pembinaan terpadu bobot 2,333, kerjasama regional dalam dan luar negeri bobot 2,281, menyediakan modal pengembangan bobot 1,999, dan membentuk kemitraan dengan pola PIR bobot 1,745. Rekomendasi strategi melalui analisis AHP menghasilkan prioritas 1 adalah pengembangan sentra budidaya bobot 0,352 dan prioritas 2 adalah membangun sarana prasarana dan infrastruktur bobot 0,300. Rencana kerja pengembangan sentra budidaya komoditas unggulan agribisnis wilayah perbatasan dilakukan dengan strategi penataan lahan bobot 0,262, penentuan pola kemitraan bobot 0,220. pengadaan sarana penunjang bobot 0,202, sosialisasi dan pembinaan kontinyu bobot 0,185, dan pengendalian bobot 0,131. Implikasi kebijakan penataan lahan adalah mengeluarkan aturan tentang penggunaan tanah perkebunan, membuat kebijakan terpadu pengembangan sentra budidaya, pendataan tanah potensial perkebunan, menentukan model pengembangan, kebijakan pembagian lahan, serla kemudahan memperoleh kepaslian hukum tanah. Penentuan pola kemitraan, implikasi kebijakan adalah menetapkan pola kemitraan melalui keputusan Bupati, menyempurnakan peraturan usaha untuk mencegah monopoli, melakukan penentuan penanaman modal dari investor atau mitra kerja. Implikasi kebijakan pengadaan sarana penunjang adalah membuat jalan dan parit dalam areal sentra budidaya, pembuatan jembatan yang melalui aliran sungai, mengadaan peralatan pokok, pengadaan bibit unggul, obat-obatan serla pengadaan kendaraan seperli truk untuk alat pengangkutan. Implikasi kebijakan sosialisasi dan pembinaan adalah penetapan jadwal pembinaan, mengadakan pendidikan dan pelatihan, penataran manajemen usaha, studi banding, memanfaatkan tenaga konsultan, menyusun tim pembina. Imlikasi kebijakan pengendalianterpadu oleh pemerintah, swasta dan masyarakat dengan cara pengawasan lapangan, penelilian hasil kerja secara periodik serla membentuk tim pengawas. Konsep pengembangan sentra bUdidaya komoditas unggulan yang ditawarkan peneliti adalah lahan potensial wilayah perbatasan dibagi kedalam lima ( 5 ) pusat pengembangan, masing-masing pusat pengembangan memiliki lahan antara 200-500 ha, pusat sentra budidaya dibagi dalam dua ( 2 ) bagian pusat pengolaha produksi. Rencana pemasaran dibagi dalam dua ( 2 ) wilayah, yaitu pemasaran luar negeri dan pemasaran dalam negeri. Beberapa saran yang dapat diperlimbangkan pemerintah daerah Kapuas Hulu, dunia usaha dan masyarakat dalam pelaksanaan pengembangan sentra budidayCl komoditas unggulan agribisnis wilayah perbatasan secara terpadu, antara lain: 1). memperlimbangkan sosial bUdaya masyarakat dengan tidak melakukan pelanggaran hak adat untuk mendapatkan dukungan masyarakat, 2).lokasi lahan hendaknya berada disepanjang jalur jalan lintas utara untuk memberikan peluang masyarakat pindah dari pemukiman lama di tepi-tepi sungai ke sepanjang jalur jalan Iintas utara guna mempercepat pengembangan wilayah, 3). harus ada kepastian alokasi modal, 4).Pemerintah Daerah dan masyarakat dunia usaha secara terpadu melakukan sosialisasi pelaksanaan kegiatan, 5). Pemerintah Daerah dan dunia usaha perlu melakukan kerjasama regional yang iebih konkrit dengan Pemerintah Daerah Kabupaten Sintang dan Negara Serawak Malaysia Timur baik dalam menghimpun investor, pemasaran, perdagangan dan pembangunan sarana prasarana infrastruktur.

Item Type: Thesis (Masters)
Uncontrolled Keywords: Komoditas Unggulan Agribisnis, Wilayah Perbatasan Kabupaten Kapuas Hulu, Manajemen Strategi, Analisis Location Quotient (LQ), Analisis Metode Perbandingan Eksponensial (MPE), Metode Paired Comparison Criteria (PGG), Analisis SWOT, Proses Hirarki Analisis (PHA), Survey, Data Primer dan Sekunder.
Subjects: Manajemen Strategi
Divisions: Sekolah Bisnis > Perpustakaan
Depositing User: Staff-1 Perpustakaan
Date Deposited: 09 Jan 2012 03:50
Last Modified: 09 Jan 2012 03:50
URI: http://repository.sb.ipb.ac.id/id/eprint/1021

Actions (login required)

View Item View Item