Kajian Manajemen Teknologi Pengolahan Teh Pada PTP Nusantara VIII, Perkebunan Gunung Mas, Bogor, Jawa Barat

SUTOMO, J. (1998) Kajian Manajemen Teknologi Pengolahan Teh Pada PTP Nusantara VIII, Perkebunan Gunung Mas, Bogor, Jawa Barat. Masters thesis, IPB.

[img]
Preview
PDF
R12-01-J_Sutomo-cover.pdf - Published Version

Download (346kB)
[img]
Preview
PDF
R12-02-J_Sutomo-RE.pdf - Published Version

Download (364kB)
[img]
Preview
PDF
R12-03-J_Sutomo-DaIsi.pdf - Published Version

Download (328kB)
[img]
Preview
PDF
R12-04-J_Sutomo-Bab1.pdf - Published Version

Download (400kB)
[img] PDF
R12-05-J_Sutomo-Bab2DST.pdf - Published Version
Restricted to Repository staff only

Download (3MB)
Official URL: http://elibrary.mb.ipb.ac.id/

Abstract

Dengan semakin berkurangnya sumbangan devisa yang dihasilkan dari ekspor minyak dan gas bumi akhir-akhir ini, perhatian pemerintah terhadap sektor non-migas, khususnya sektor agribisnis semakin besar. Agribisnis menduduki tempat yang strategis sebagai sektor penghasil devisa negara. Salah satu komoditi agribisnis yang semakin meningkat permintaannya dan memiliki prospek yang baik untuk terus dikembangkan adalah komoditi teh. Perkebunan Gunung Mas merupakan salah satu unit usaha dari PTP Nusantara Vlll Bandung, yang bergerak dalam bidang budidaya dan pengolahan teh dan kina. Sebelum tahun 1987 pabrik pengolahan teh Gunung Mas menggunakan sistem tradisional (orthodox), tetapi sejak tahun 1987 dilakukan investasi mesin baru dengan sistem modem dengan menggunakan mesin CTC (Crushing-Tearing-Curling). Diharapkan dengan mesin yang modern dan cara pengolahan yang baru, produksi yang dihasilkan akan lebih meningkat, sehingga dapat menunjang keberhasilan kinerja perkebunan. Harapan tersebut ternyata sampai saat ini belum dapat menjadi kenyataan. Kapasitas produksi yang ditetapkan dalam RKAP (Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan) setiap tahun, sampai saat ini belum pernah tercapai. Penyebab tidak tercapainya kapasitas produksi tersebut adalah kapasitas produksi optimal (harian) tidak selalu tercapai dan mutu produk yang dihasilkan rata-rata tergolong rendah dengan indikator pendapatan dari hasil penjualan lebih rendah daripada biaya yang telah dikeluarkan. Kondisi tersebut di atas antara lain mengindikasikan bahwa pelaksanaan manajemen teknologi (dilihat dari sisi technoware, humanware, inforware dan orgaware) pada perkebunan belum optimal. Untuk lebih meningkatkan kualitas dan kuantitas produk, produktivitas dan keuntungan, perkebunan perlu mengetahui sampai dimana tingkat teknologi yang dimiliki. Dengan memperhatikan komponen-komponen teknologi, sumberdaya manusia, informasi dan organisasi diharapkan perkebunan dapat mengembangkan manajemen teknologi yang dimiliki sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan perkebunan serta permintaan pasar. Berdasarkan kondisi tersebut di atas, dirumuskan permasalahan sebagai berikut: (1) Bagaimana pelaksanaan manajemen teknologi pengolahan teh di PTP Nusantara VIII, Perkebunan Gunung Mas, (2) Alternatif pengembangan manajemen teknologi apa saja yang mungkin dilaksanakan oleh PTP Nusantara VIII, Perkebunan Gunung Mas sesuai dengan kemampuan perkebunan. Tujuan geladikarya adalah: (1) Mengkaji penerapan manajemen teknologi pengolahan teh di PTP Nusantara VIII, Perkebunan Gunung Mas, (2) Merumuskan beberapa alternatif pengembangan manajemen teknologi yang mungkin dilaksanakan sesuai dengan kemampuan perkebunan. Penelitian difokuskan pada kajian manajemen teknologi pengolahan teh yang dilaksanakan oleh perkebunan serta faktor-faktor dominan yang mempengaruhinya. Kajian hanya terbatas pada tahap pemberian alternatif, sedangkan implementasi selanjutnya diserahkan kepada manajemen perkebunan. Metoda penelitian yang digunakan adalah studi kasus dengan analisis deskriptif. Data dianalisis dengan menggunakan statistika nonparametrik, yaitu metoda Mann-Whitney dan metoda Chi-Square. Hasil pengolahan data dianalisa dengan menggunakan metoda Manual lndikator Teknologi Industri yang dikembangkan oleh Proyek Science and Technological Management Information System terhadap dua indikator teknologi, yaitu indikator transformasi teknologi dan indikator kemampuan teknologi. Pengkajian dilakukan terhadap empat komponen teknologi yaitu perangkat teknologi, perangkat manusia, perangkat informasi dan perangkat organisasi. Dari pengkajian indikator transformasi teknologi diketahui bahwa: (1)Perangkat teknologi pada perkebunan memiliki median 4 (mesin manual, mesin bermotor, dan mesin khusus), dinilai cukup mampu untuk bersaing karena tidak berbeda nyata dengan kondisi yang diharapkan perkebunan, yaitu berada pada median 4,5 (mesin bermotor dan mesin khusus). (2) Perangkat manusia pada perkebunan memiliki median 5 (kemampuan mereparasi, kemampuan mereproduksi, dan kemampuan mengadaptasi), dinilai belum memenuhi kondisi yang diharapkan perkebunan, yaitu berada pada median 8 (kemampuan menyempurnakan dan kemampuan melakukan inovasi). (3) Perangkat informasi pada perkebunan memiliki median 5,5 (menggunakan fakta dan menghayati fakta), dinilai belum memenuhi kondisi yang diharapkan perkebunan, yaitu berada pada median 7,5 (menyimpulkan fakta dan mengkaji fakta). (4) Perangkat organisasi pada perkebunan memiliki median 3 (mencari bentuk pola kerja, menetapkan pola kerja, dan menciptakan pola kerja baru), dinilai belum memenuhi kondisi yang diharapkan perkebunan, yaitu berada pada median 6 (melindungi pola kerja, menstabilkan pola kerja, dan memapankan pola kerja). Pengkajian indikator kemampuan teknologi menunjukkan bahwa kemampuan perkebunan berada pada level 2 (di bawah rata-rata perkebunan PTP Nusantara Vlll dalam industri teh). Namun demikian berdasarkan hasil pengujian, Ho (nilai pengamatan = nilai yang diharapkan) diterima yang berarti bahwa kondisi perkebunan saat ini sudah memenuhi kondisi yang diharapkan perkebunan yaitu berada pada level 3 (sebanding dengan rata-rata perkebunan PTP Nusantara Vlll dalam industri teh), karena perkebunan memiliki potensi kemampuan untuk bersaing dengan menerapkan manajemen teknologi yang lebih baik. Berdasarkan uji statistika dengan metoda Chi-Square, disimpulkan bahwa hubungan antara indikator transformasi teknologi dengan indikator kemampuan teknologi bersifat bebas dan tidak saling mempengaruhi. Berdasarkan hasil kajian manajemen teknologi pada Perkebunan Gunung Mas dapat ditarik kesimpulan bahwa penerapan manajemen teknologi pada perkebunan masih memiliki kelemahan, karena perkebunan telah memiliki dan menguasai perangkat teknologi dengan baik, tetapi belum ditunjang dengan perangkat manusia, perangkat informasi dan perangkat organisasi. Beberapa alternatif kebijakan yang dapat diterapkan dalam rangka pengoptimalan pelaksanaan manajemen teknologi pada perkebunan adalah : (1) Memanfaatkan perangkat teknologi yang ada seoptimal mungkin. Meningkatkan perawatan perangkat teknologi secara rutin agar selalu dalam kondisi baik sehingga dapat digunakan seefektif mungkin guna menunjang pencapaian produksi yang optimal. Memulihkan daya dukung lahan dan mengoptimalkan perawatan tanaman guna meningkatkan jumlah produksi dan mutu bahan baku pucuk. (2) Meningkatkan program-program pelatihan dan pendidikan (studi lanjut) guna lebih meningkatkan keahlian dan ketrampilan perangkat sumberdaya manusia, terutama dalam hal keahlian dan ketrampilan manajemen, mekanik dan teknis produksi. Meningkatkan pelatihan ketrampilan bagi tenaga kerja lapangan, termasuk tenaga kerja lepas yang pada umumnya masih memiliki ketrampilan rendah. Meningkatkan motivasi dan rasa keprofesionalan kerja guna merubah budaya perusahaan (corporate culture), dalam hal ini Perkebunan Gunung Mas) yang kurang baik. (3) Meningkatkan pemanfaatan informasi yang ada dalam kaitan pengoptimalan pencapaian kapasitas produksi dan peningkatan mutu produk yang dihasilkan. Menyimpan arsip data secara sistematis sehingga memudahkan pencarian kembali. Melakukan studi banding ke perkebunan (pesaing) yang lebih berhasil. Meningkatkan frekuensi keikutsertaan SDM dalam menghadiri seminar-seminar untuk menambah wawasan guna lebih memacu prestasi kerja karyawan dan pihak manajemen perkebunan. (4) Kinerja dari perangkat organisasi perkebunan perlu lebih ditingkatkan dengan cara lebih mendayagunakan kewenangan masing-masing bagian sesuai dengan sistem organisasi yang diterapkan, yaitu bahwa masing-masing bagian mempunyai otonomi dan wewenang sesuai lingkup tugasnya secara intern. Berkaitan dengan kebijakan Direksi, meminta kejelasan otonomi dan wewenang sehingga anggaran biaya program kerja yang telah dibuat berdasarkan kondisi dan karakteristik khas perkebunan dapat direalisir sesuai dengan pengajuan sehingga dukungan biaya untuk pelaksanaan program kerja dapat terpenuhi. Melaksanakan program kerja secara efisien dengan menekan pengeluaran biaya yang kurang bermanfaat, pengetatan pengawasan yang berkaitan dengan produksi. Melengkapi struktur organisasi yang masih kurang guna memperlancar mekanisme kerja perkebunan

Item Type: Thesis (Masters)
Uncontrolled Keywords: Manajemen Teknologi, Pengolahan Teh, PTP Nusantara VIII, Perkebunan Gunung Mas, Bogor-Jawa Barat
Subjects: Manajemen Teknologi
Divisions: Sekolah Bisnis > Perpustakaan
Depositing User: Staff-6 Perpustakaan
Date Deposited: 18 Jan 2012 03:46
Last Modified: 18 Jan 2012 03:46
URI: http://repository.sb.ipb.ac.id/id/eprint/1036

Actions (login required)

View Item View Item