Analisis Pengaruh Depresiasi Rupiah Terhadap Daya Saing Produksi Kedelai di Propinsi Jawa Timur

SANTOSO, MARTINUS, HERI (1999) Analisis Pengaruh Depresiasi Rupiah Terhadap Daya Saing Produksi Kedelai di Propinsi Jawa Timur. Masters thesis, IPB.

[img]
Preview
PDF
R12-01-Martinus_Heri_Santosa-cover.pdf - Published Version

Download (369kB)
[img]
Preview
PDF
R12-02-Martinus_Heri_Santosa-RE.pdf - Published Version

Download (373kB)
[img]
Preview
PDF
R12-03-Martinus_Heri_Santosa-DaIsi.pdf - Published Version

Download (322kB)
[img]
Preview
PDF
R12-04-Martinus_Heri_Santosa-Bab1.pdf - Published Version

Download (403kB)
[img] PDF
R12-05-Martinus_Heri_Santosa-Bab2DST.pdf - Published Version
Restricted to Repository staff only

Download (2MB)
Official URL: http://elibrary.mb.ipb.ac.id/

Abstract

Kedelai merupakan sumber kalori dan protein nabati yang banyak dikonsumsi masyarakat lndonesia sebagai makanan dan bahan pakan ternak. Sebagai bahan makanan di pulau Jawa terutama digunakan sebagai bahan baku membuat tempe, tahu, sebagian kecil digunakan untuk membuat kecap, tauco, dan makanan lainnya, sehingga dicitrakan sebagai bahan makanan masyarakat ekonomi menengah kebawah. Budidaya kedelai telah lama dikenal di lndonesia, dan bahkan sejak lima tahun terakhir mendapat perhatian dan prioritas dari Departemen Pertanian untuk dikembangkan sebagai bahan makanan lain setelah padi dan jagung, namun sampai saat ini produksi kedelai lokal belum dapat memenuhi kebutuhan didalam negeri. Produksi kedelai secara nasional selama periode 1990-1998 berkisar 1,3-1,9 juta ton per-tahun, sedangkan permintaan kedelai berkisar antara 1,8-2,6 juta ton per-tahun, oleh karena itu kebutuhan didalam negeri di pasok dari luar negeri terutama dari Amerika dan China. Jawa Timur sebagai salah satu sentra produksi kedelai di Indonesia, selama periode 1990-1998 produksi setiap tahun berkisar 0,37-0,45 juta ton yang dihasilkan dari 0,3-0,37 juta Ha luas lahan penanaman kedelai, yang berarti merupakan produsen terbesar dengan kontribusi terhadap produksi nasional sebesar 29%-37%. Sementara itu potensi lahan kering yang masih bisa dikembangkan diseluruh propinsi Jawa Timur sebesar 1,1 juta Ha yang terdiri atas; lahan kebun/tegalan, lahan ladang/huma, dan lahan tidur lainnya. Kedelai di propinsi Jawa Timur, dihasilkan dari 29 Kabupaten dan 8 Kota Madya setiap tahun dengan jumlah yang tidak sama bergantung kepada musim, program yang diterapkan pemerintah, dan pengaruh eksternal lainnya. Menurut data BPS, propinsi Jawa Timur, selama sepuluh tahun terakhir rata-rata produksi mengalami penurunan sebesar 0,13 % seiring dengan penurunan luas panen. Namun disisi lain, produktivitas kedelai per Ha mengalami kenaikan rata-rata sebesar 0,23 %. Penurunan luas panen dan produksi rata-rata setiap tahun tersebut dipengaruhi dari penurunan luas panen dan produksi yang cukup besar di tahun 1998 yang disebabkan antara lain : Perubahan cuaca global (el-nino) rnengakibatkan kekeringan juga dialami di Jawa Timur, hal ini menyebabkan; bergesernya musim tanam, terjadinya serangan hama, turunnya produktivitas. Krisis moneter yang melanda Indonesia sejak akhir tahun 1997 yang ditandai dengan naiknya nilai tukar USD terhadap rupiah sebesar 520 % jika diperhitungkan kenaikan nilai kurs dari Januari 1997 (Rp. 2.398) hingga Juni 1998 (Rp. 14.900). Dari uraian tersebut tersebut diatas, dengan membatasi pada pengaruh depresiasi rupiah, penulis mengajukan hipotesis Depresiasi nilai tukar rupiah akan meningkatkan nilai tukar mata uang asing terhadap rupiah akan meningkatkan daya saing kedelai di Jawa Timur. Dengan tingginya nilai tukar mata uang asing terhadap rupiah maka harga kedelai lokal mampu bersaing. dengan harga kedelai impor, sehingga produksi kedelai lokal dapat ditingkatkan untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. Dari hipotesis yang diajukan maka perumusan masalahnya adalah; perlu mengkaji tingkat efisiensi budidaya kedelai dilihat dari komponen input dan output produksi serta melihat keunggulan komparatif kedelai jika direncanakan sebagai subsitusi impor. Selain itu juga dilihat bagaimana posisi kedelai dibandingkan dengan komoditas tanaman pangan lainnya dan bagaimana merumuskan alternatif strategi untuk meningkatkan daya saing kedelai di Jawa Timur. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis tingkat efisiensi budidaya tanaman kedelai pada keadaan normal (belum dipengaruhi dampak krisis moneter) dan pada saat krisis, menganalisis keunggulan komparatif kedelai, secara makro menganalisis tingkat efisiensi kedelai dibanding dengan tanaman pangan lainnya, serta memformulasikan alternatif strategi untuk mengembangkan daya saing kedelai propinsi Jawa Timur. Pengumpulan data dilakukan dengan cara pengamatan langsung dilapangan dan mengambil data sekunder dari instansi terkait yaitu; Dinas Dep. Pertanian Tanaman Pangan dan Palawija, Biro Pusat Statistik, DOLOG, KOPTl Jatim. Selain itu dilakukan wawancara dengan Penyuluh Pertanian Lapangan, Anggota KOPTI, Pejabat-pejabat terkait dan beberapa pakar. Dari data yang diperoleh kemudian diolah secara tabulasi dan grafis, kemudian dilakukan perhitungan 1). kelayakan usaha dengan Analisis Usaha Tani, 2) Analisis DRC (Domestic Resource Cost) untuk melihat rasio komparatif pengorbanan sumber daya domestik untuk mendapatkan 1 dolar Amerika dalam memproduksi satu satuan kedelai, 3) Analisis makro dengan menggunakan tabel input-Output yang diterbitkan oleh Biro Pusat Statistik Propinsi Jawa Timur. Dari hasil analisis tersebut kemudian dilakukan analisis SWOT (Strenghts, Weakneeses, Opportonities, Threats) untuk memperoleh gambaran mengenai peluang, ancaman, kekuatan, dan kelemahan. Dari matrik SWOT kemudian ditetapkan alternatif strategi yang terbaik untuk dapat meningkatkan daya saing kedelai di Jawa Timur. Hasil penelitian dengan menggunakan analisis usaha tani dapat dibedakan masa sebelum krisis (Januari 1997) keuntungan petani sangat marginal, seperti yang ditunjukkan dengan rasio R/C (revenue/costs) sebesar 1,09 sedangkan pada masa krisis (Juli 1998) petani memperoleh keuntungan tinggi, hal ini ditunjukan dengan rasio WC sebesar 1,84. Pada bulan Desember 1997 (masa transisi), petani mengalami kerugian, hal ini terlihat pada R/C sebesar 0,98. Dari analisis Tabel Input-Output propinsi Jawa Timur, terlihat bahwa efisiensi usaha tani kedelai lebih rendah dibanding tanaman pangan lainnya seperti; padi, jagung, kacang tanah, dan umbi-umbian, namun jika dilihat lndeks Derajat Penyebaran (IDP) dan lndeks Derajat Kepekaan (IDK), Kedelai memiliki angka relatif lebih tinggi dari tanaman pangan lainnya, hal tersebut menunjukkan bahwa kedelai mempunyai efek pengganda (multiplier) yang relatif lebih baik dibanding dengan tanaman pangan lainnya dan prospektif untuk dikembangkan di propinsi Jawa Timur. Analisis DRC pada Januari 1997 menunjukkan rasio DRC sebesar 1 ,I 1, ini berarti pada bulan tersebut untuk memperoleh satu USD diperlukan biaya domestik sebesar 1,11 kali lebih besar, atau dengan kata lain produk kedelai Jawa Timur secara ekonomis tidak komparatif untuk tujuan subsitusi impor, sebaliknya pada bulan Juni 1998, keadaannya berbeda, hal ini ditunjukkan dengan rasio DRC yang rendah yaitu sebesar 0,45. Dan pengaruh terbesar dari kenaikan daya saing kedelai di propinsi Jawa Timur ditentukan oleh variabel-variabel ; (1) Kenaikan produksi kedelai per Ha, (2) Kenaikan harga kedelai impor, (3) Kenaikan nilai kurs dolar terhadap rupiah, (4) Penurunan harga komponen domestik, (5) Penurunan harga komponen asing. Faktor eksternal yang merupakan peluang yang dapat mempengaruhi peningkatan daya saing produk kedelai di Jawa Timur yaitu; permintaan pasar besar, kebijaksanaan harga kedelai yang diserahkan mekanisme pasar, nilai kurs meningkat, kemauan pemerintah (political will) kuat, agroindustri telah berkembang. Sedangkan faktor eksternal yang merupakan ancaman adalah; ketersediaan benih bersertifikat tidak memadai, inflasi tinggi, iklim, harga c.i.f rendah (dumping), produksi kedelai dari propinsi lain, bahan pengganti kedelai. Faktor internal yang merupakan peluang bagi peningkatan daya saing kedelai di propinsi Jawa Timur adalah; potensi lahan masih luas, produktivitas kedelai relatif tinggi. IDP dan IDK relatif tinggi, pengalaman dan teknologi on-farm memadai, prasarana dan sarana tersedia, harga komponen domestik murah, sedangkan faktor internal yang merupakan kelemahan yaitu; luas panen menyempit, produksi menurun, penggunaan input antara tinggi, surplus usaha rendah, subsidi pupuk, subsidi benih dan subsidi bunga. Tahap selanjutnya menyusun matrik SWOT dengan menghubungkan kekuatan dan kelemahan, peluang dan ancaman dari faktor-faktor eksternal dan internal, kemudian dihasilkan 10 alternatif strategi dimana 4 strategi menjadi prioritas untuk dilaksanakan yaitu : 1. Menghilangkan monopoli tata niaga BULOG. 2. Mengembangkan pola kemitraan antara Petani-Koperasi-Swasta/Bank/ BUMN. 3. Mengembangkan pemanfaatan lahan potensial dengan membuka lahan baru dan memanfaatkan lahan tidur. 4. Meningkatkan kualitas SDM petani dan pelaku agribisnis lainnya. Untuk pelaksanaan alternatif strategi yang diambil tersebut diperlukan saran sebagai berikut : Menetapkan terlebih dahulu target area siapa yang akan diuntungkan, petani, konsumen (masyarakat), dan atau industri makanan/pakan, oleh karena itu segala pengaturan tataniaga yang menyebabkan distorsi pasar sudah seharusnya di lepas, seperti kebijaksanaan subsidi dan peran BULOG yang tidak dapat lagi sebagai stabilator penyangga (buffer stock) dan sebagai stabilator harga. Perlu ditetapkan kebijaksanaan tata ruang yang jelas dan tetap untuk mempertahankan status lahan pertanian yang dikuatkan dengan peraturan yang jelas dan tetap (land reform) agar dapat mencegah konversi lahan pertanian. Peningkatan produksi dapat dilakukan dengan; mekanisasi pertanian dengan menggunakan mesin olah tanah (hand traktor), alat sabit bergerigi dan mesin panen serta pengering (dryer) dengan menggunakan produk lokal, penggunaan benih bermutu melalui kampanye penggunaan benih bermutu melalui berbagai media dengan sasaran adalah kelompok-kelompok tani, peningkatan teknologi budidaya, memanfaatkan lahan tidur, serta meningkatkan produktivitas pada lahan-lahan yang memiliki potensi sebagai lahan yang sangat sesuai (S1) dan lahan yang sesuai (S2) melalui peningkatan indeks pertanaman menjadi (IP-300). Perlu dilaksanakan Pola kemitraan antara swasta/Bank/BUMN, Petani dan Koperasi sebagai satu sistim agribisnis untuk keterjaminan modal, pengadaan saprodi dan jaminan pemasaran dan disupervisi instansi terkait. hal tersebut dapat memperkecil resiko dan memperbesar nilai tambah petani produsen.

Item Type: Thesis (Masters)
Uncontrolled Keywords: Analisis Pengaruh Depresiasi Rupiah Terhadap Daya Saing Produksi Kedelai di Propinsi Jawa Timur
Subjects: Manajemen Keuangan
Divisions: Sekolah Bisnis > Perpustakaan
Depositing User: Staff-6 Perpustakaan
Date Deposited: 24 Mar 2014 08:11
Last Modified: 24 Mar 2014 08:11
URI: http://repository.sb.ipb.ac.id/id/eprint/1037

Actions (login required)

View Item View Item