Strategi pengendalian kualitas pt. cadbury indonesia menghadapi persaingan cadbury schweppes se asia pasifik

Susanti, Anastasia Trianita Hesti (2005) Strategi pengendalian kualitas pt. cadbury indonesia menghadapi persaingan cadbury schweppes se asia pasifik. Masters thesis, Institut Pertanian Bogor.

[img]
Preview
Text
E18-01-Anastasia-Cover.pdf - Published Version

Download (328kB) | Preview
[img]
Preview
Text
E18-02-Anastasia-Abstract.pdf - Published Version

Download (313kB) | Preview
[img]
Preview
Text
E18-03-Anastasia-Ringkasaneksekutif.pdf - Published Version

Download (323kB) | Preview
[img]
Preview
Text
E18-05-Anastasia-Pendahuluan.pdf - Published Version

Download (366kB) | Preview
[img]
Preview
Text
E18-04-Anastasia-Daftarisi.pdf - Published Version

Download (319kB) | Preview
Official URL: http://elibrary.mb.ipb.ac.id

Abstract

Salah satu produsen makanan di Indonesia yang mulai merencanakan menerapkan sistem manajemen mutu secara benar adalah PT. Cadbury Indonesia yang merupakan anak perusahaan dari Cadbury Schweppes. Hal utama yang mendorong Cadbury mulai menerapkan sistem manajemem mutu pangan karena teknologi dan globalisasi bisnis telah menciptakan lingkungan persaingan baru di Abad 21 ini. Cadbury Indonesia tidak hanya bersaing dengan perusahaan di luar Cadbury, tetapi Cadbury Schweppes menerapkan sistem persaingan internal, artinya Cadbury Indonesia juga bersaing dengan sesama Cadbury, misalnya Cadbury Malaysia, Thailand, dan Singapura. Area yang dinilai tidak memberikan keuntungan maka akan ditutup. Cadbury Indonesia sudah memutuskan untuk bersaing di Asia Pasifik. Cadbury Indonesia harus memilih strategi dan cara-cara memasuki pasar internasional. Managemen Cadbury Indonesia mengutamakan dan berkomitmen kualitas di atas segala-galanya. Berdasarkan hal tersebut di atas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini yaitu : (1) Bagaimana lingkungan dan kondisi-kondisi operasi dasar yang diperlukan dalam menerapkan sistem analisa bahaya melalui pengendalian kritis?, (2) Bagaimana efektivitas dari program-program prasyarat yang harus dievaluasi selama proses desain dan implementasi setiap rencana HACCP?, (3) Pada tahap apakah PT. Cadbury Indonesia saat ini berada dan bagaimana posisi persaingan perusahaan ini dalam lingkup Cadbury Schweppes secara global?, dan (4) Strategi manajemen mutu apakah yang dapat membantu implementasi dan pemeliharaan rencana HACCP? Tujuan dari penelitian ini, yaitu: (1) mengidentifikasikan kriteria kondisi-kondisi operasi dasar manufakturing yang menjadi penyebab penghalang perusahaan dalam meingimplementasikan dan memelihara rencana HACCP, (2) Mengevaluasi penyimpangan pelaksanaan program kelayakan dasar dalam rencana HACCP, (3) menentukan posisi Cadbury Indonesia di Asia Pasifik dan, (4) Merumuskan saran perbaikan untuk menjelaskan posisi Cadbury Indonesia. Penelitian ini hanya dibatasi pada pabrik Cadbury Schweppes di Asia Pasifik dengan responden sebanyak 26 pabrik. Penelitian dilakukan di PT. Cadbury Indonesia pada bulan Januari sampai Juni 2005. Pemilihan lokasi studi kasus dilakukan secara sengaja (purposive). Analisa data dilakukan dengan menggunakan analisa deskriptif dan metode kuantifikasi analisa persaingan industri. Data yang diolah dan dianalisa terdiri dari hasil audit kelayakan dasar, prosedur operasional standar, dan data kematangan pabrik. Dari hasil audit kelayakan dasar, dibedakan atas aspek minor, mayor, serius dan kritis yang kemudian dilakukan pembobotan. Berdasarkan hasil pembobotan dan rekapitulasi analisa variabel kelayakan dasar, dapat dikatakan bahwa posisi Cadbury Indonesia dalam posisi yang ketat, mengingat pada kekurangan mayor, Cadbury Indonesia masih ditemukan satu penyimpangan mayor. Kekurangan mayor menjadi tolak ukur yang pertama karena memiliki nilai persaingan yang sangat tinggi. Kekurangan mayor artinya, penyimpangan terhadap aspek kelayakan dasar yang dapat menyebabkan resiko besar terhadap kontaminasi dan mutu produk yang dihasilkan. Intensitas ancaman untuk penilaian kelayakan dasar dari aspek prosedur operasi standard pada taraf medium dan Cadbury Indonesia pada posisi selalu di atas target.Tingkat kematangan pabrik Cadbury Indonesia menunjukkan angka yang tinggi yaitu 63 persen, berarti dalam posisi yang aman mengingat tingkat kematangan pabrik minimal 50 persen. Ada empat hal pokok yang harus segera diperbaiki dan dievaluasi oleh Cadbury Indonesia berdasarkan hasil penilaian audit Cadbury Schweppes. Empat hal ini adalah kebijakan mutu, kontaminasi makanan, penyampaian mutu, dan pelatihan mutu yang masih berada di bawah standard kematangan pabrik. Kebijakan mutu adalah hal pertama yang harus didukung oleh program lainnya agar dapat dilaksanakan secara aktif. Pada akhirnya kebijakan pendukung dapat dikembangkan dalam srategi kebijakan mutu jangka panjang. Kontaminasi makanan, dapat mulai dicegah dengan cara mensosialisasikan kepada seluruh karyawan yang terlibat dalam proses produksi mengenai pengetahuan tentang kontaminasi. Hal ini artinya dimulai dari level satu, selanjutnya diharapkan mulai meningkat ke level yang lebih tinggi yaitu dengan cara mengembangkan program pemeriksaan produk dan berkoordinasi dengan pihak Cadbury Schweppes Global. Dan pada akhirnya Cadbury Indonesia diharapkan mulai mempersiapkan pembangunan kebijakan tentang kontaminasi yang melekat pada setiap bisnis. Hal ketiga yang juga harus segera diperbaiki oleh managemen Cadbury Indonesia adalah masalah penyampaian mutu, dimulai dari mengendalikan dokumentasi. Setiap proses bisnis harus secara resmi menggunakan dokumentasi sistem manajemen mutu secara jelas dan terstruktur. Selanjutnya hal keempat yang harus diperbaiki adalah masalah pelatihan. Setiap karyawan baru harus diberi pelatihan pengetahuan mutu. Pelatihan dasar harus diberikan saat ada proses baru atau perubahan sistem manajemen mutu dimulai. Program pelatihan ini harus dilaksanakan sesuai dengan tanggungjawabnya, dan melibatkan customer dan supplier. Sistem manajemen mutu harus memastikan pelatihan selalu diperbaharui. Dari jumlah keluhan rata-rata selama empat tahun terakhir Cadbury Indonesia berada pada urutan 16 dari 26 negara, artinya posisi Cadbury Indonesia masih bisa dikatakan aman karena berada di atas 50 persen. Bila hanya dilihat pada jumlah keluhan selama tahun 2004, maka Cadbury Indonesia berada pada posisi 6 besar dari 26 negara, artinya Cadbury Indonesia betul-betul berusaha meningkatkan kualitas produksinya sehingga tidak ada keluhan dari pelanggan. Lingkungan dan kondisi-kondisi operasi dasar yang diperlukan dalam menerapkan sistem analisa bahaya melalui pengendalian titik kritis adalah (1) perbaikan kostruksi tempat pembuangan limbah pabrik, (2) ruang penyimpanan harus dilengkapi dengan kontrol suhu, (3) ruang pengolahan harus tetap tidak berhubungan langsung / terbuka dengan garasi atau bengkel, dan (4) rancang bangun, konstruksi dan penempatan peralatan dan wadah harus dijamin sanitasi dan dapat dibersihkan secara efektif.

Item Type: Thesis (Masters)
Uncontrolled Keywords: Sistem Manajemen Mutu, PT. Cadbury Indonesia, Manufakturing, Sistem Analisa Bahaya, Pengendalian Kritis, Kelayakan Dasar, Kematangan Pabrik, Kebijakan Mutu, Kontaminasi Makanan.
Subjects: Manajemen Strategi
Depositing User: Staff-3 Perpustakaan
Date Deposited: 10 Jan 2012 03:47
Last Modified: 30 Jun 2016 03:19
URI: http://repository.sb.ipb.ac.id/id/eprint/1059

Actions (login required)

View Item View Item