Analisis Saluran Distribusi PT. Texmaco Jaya Untuk Pasar Dalam Negeri

KOMARUDIN, GARNA (1997) Analisis Saluran Distribusi PT. Texmaco Jaya Untuk Pasar Dalam Negeri. Masters thesis, IPB.

[img]
Preview
PDF
R11-01-_Garna_Komarudin-_Cover.pdf - Published Version

Download (332kB)
[img]
Preview
PDF
R11-02-_Garna_Komarudin-_RE.pdf - Published Version

Download (338kB)
[img]
Preview
PDF
R11-03-_Garna_Komarudin-DaIsi.pdf - Published Version

Download (347kB)
[img]
Preview
PDF
R11-04-_Garna_Komarudin-Bab1.pdf - Published Version

Download (366kB)
[img] PDF
R11-05-_Garna_Komarudin-Bab2DST.pdf - Published Version
Restricted to Repository staff only

Download (2MB)
Official URL: http://elibrary.mb.ipb.ac.id/

Abstract

PT. Texmaco Jaya didirikan pada tanggal 28 November 1970, bergerak di sektor industri tekstiI khususnya kain, berlokasi di Jakarta sedangkan pabriknya terletak di Karawang dan Pemalang. Sejak awal operasinya, Perseroan senantiasa berupaya untuk meningkatkan volume penjualannya secara bertahap melalui peningkatan kualitas produk yang sesuai selera konsumen maupun penambahan jumlah saluran distribusinya. Saluran distribusi yang dipergunakan untuk pasar di dalam negeri terdiri dari saluran Wholesale trader, pabrik/industri garmen, retailer dan Outlet. Perkembangan jumlah saluran distribusi tersebut atas dasar posisi piutang dagang selama 7 tahun terakhir (1990 sampai dengan 1996) memperlihatkan peningkatan yaitu rata-rata per tahun sebesar 31 unit untuk wholesale, 4 unit untuk industri garmen, 17 unit untuk retail dan 3 unit untuk showroom/outlet. Posisi akhir tahun 1996 memperlihatkan jumlah wholesale sebanyak 262 unit, industri garmen sebanyak 32 unit, retail sebanyak 148 unit dan outlet sebanyak 21 unit. Sedangkan share volume penjualan dari masing-masing saluran distribusi selama periode tersebut adalah berturut-turut Wholesale 70,37%, Industri garmen 27,23%, Retail 1,18% dan Outlet sebesar 1,2296. Dasar penelitian ini adalah perkembangan permintaan selama 7 tahun terakhir ini pertumbuhannya cenderung menurun sedang dilain pihak biaya distribusi menunjukan kecenderungan yang terus meningkat dan semakin melambatnya perputaran piutang dagang. Disamping itu dibandingkan dengan perusahaan sejenis yang juga telah go public, posisi perusahaan masih lemah khususnya terhadap biaya operasi dan perputaran piutang dagangnya. Tujuan Geladikarya ini adalah untuk melakukan analisis/kajian terhadap masing-masing saluran distribusi yang dipergunakan perseroan khususnya untuk pasar dalam negeri selama periode tahun 1990 sampai dengan 1996, dengan melihat efektifitas dan efisiensinya baik secara kualitatif maupun kuantitatif terhadap perkembangan volume penjualan dan biaya distribusinya. Hasil geladikarya ini dapat memberikan informasi mengenai alternatif penggunaan saluran distribusi yang efektif dan efisien kepada perseroan untuk pengembangan dimasa datang. Analisis data yang dipergunakan yaitu secara kualitatif dengan mengidentifikasi frekwensi delay payment, frekwensi pembelian, jumlah klaim, delay payment dan kemampuan menjual dari setiap saluran. Sedangkan secara kuantitatif melalui analisa DEA, Perputaran Piutang Dagang, Margin distribution serta Analisa korelasi/regresi. Dari hasil analisis menunjukan bahwa peningkatan jumlah saluran distribusi selama 7 tahun terakhir memberikan pengaruh yang positif terhadap peningkatan volume penjualannya sedangkan terhadap biaya distribusinya pengaruhnya kurang kuat/lemah. Secara kualitatif saluran yang paling banyak melakukan delay payment adalah saluran Industri garmen yaitu dari frekwensi pembelian 6 kali per unit per tahun sebesar 1,42 kali terlambat pembayarannya, kemudian diikuti wholesale sebesar 1,23 kali sedangkan saluran retail dan outlet pembayarannya selalu tepat waktu. Frekwensi pembelian yang paling aktif yaitu retailer sebanyak 14,85 kali per tahun kemudian diikuti secara berurutan oleh saluran outlet, industri garmen dan wholesale masing-masing 13,85 kali, 6,29 kali dan sebesar 5,85 kali per tahun. Mengenai kemampuan menjualnya yang paling baik adalah industri garmen yaitu rata-rata sebesar 421.400 yard per tahun kemudian diikuti secara berurutan oleh wholesale, outlet dan retail masing-masing 113.300 yard, 26.600 yard dan sebesar 3.200 yard per tahun. Secara kuantitatif saluran wholesale termasuk dalam kelompok yang paling efektif namun paling tidak efisien, sedangkan saluran industri garmen, retail dan outlet termasuk efisien namun share penjualannya rendah. Dari sudut lamanya tagihan piutang dagang, saluran retail merupakan yang tercepat yaitu rata-rata 28 hari, kemudian diikuti secara berurutan oleh outlet, iwholesale dan industri garmen masing-masing selama 34,104, dan 109 hari. Sedangkan atas dasar margin distributionnya saluran retail yang paling efisien yaitu rata-rata sebesar 0,46%, diikuti secara berurutan oleh saluran outlet, industri garmen dan wholesale masing-masing sebesar 0,60%, 0,64% dan 0,66%. Dari analisa korelasi menunjukan bahwa saluran wholesale memiliki hubungan yang paling erat terhadap peningkatan volume penjualannya diikuti secara berurutan oleh saluran outlet, industri garmen dan retail. Hasil pengujian terhadap koefisien regresinya menunjukan bahwa benar wholesale dan retail significant terhadap peningkatan volume penjualan Sedangkan saluran industri garmen dan outlet tidak significant. Melalui analisa simulai memperlihatkan bahwa tanpa menilai saluran lain lebih buruk, maka retailer dan kemudian outlet merupakan distributor yang paling baik secara kualitatif dan kuantitatif, sedangkan bila dilihat dari omset penjualannya, saluran wholesale merupakan yang terbesar diikuti industri garmen, outlet dan retail. Berdasarkan hasil temuan dalam Geladikarya ini, disarankan kepada perseroan agar terus menambah jumlah saluran distribusi khususnya wholesale, retail dan outlet agar volume penjualannya meningkat/minimal dapat dipertahankan. Khusus terhadap pengembangan wholesale dan industri garmen perlu diperhitungkan bonafiditas dan komitmen yang tinggi, dan terhadap retail dapat dikembangkan melalui pola kemitraan, sedangkan pembentukan outlet dikembangkan dalam rangkan lebih menjangkau konsumen dan citra perseroan sebagai penghasil kain dengan kualitas yang tinggi. Sedangkan untuk menekan biaya distribusi disarankan agar perseroan membentuk depo-depo baru yang lebih dekat dengan lokasi saluran. Implikasi dari solusi di atas yaitu perseroan harus lebih selektif dalam memilih saluran, perlu tambahan tenaga kerja, biaya investasi meningkat, dan lebih tegas dalam menerapkan sangsi/penalty terhadap saluran yang melanggar pembayaran walaupun beresiko kehilangan saluran dimaksud.

Item Type: Thesis (Masters)
Uncontrolled Keywords: Saluran Distribusi, PT. Texmaco Jaya, Pasar Dalam Negeri
Subjects: Manajemen Pemasaran
Divisions: Sekolah Bisnis > Perpustakaan
Depositing User: Staff-6 Perpustakaan
Date Deposited: 24 Mar 2014 08:16
Last Modified: 24 Mar 2014 08:16
URI: http://repository.sb.ipb.ac.id/id/eprint/1130

Actions (login required)

View Item View Item