Analisis Kapasitas Untuk Memperoleh Laba Tertentu Dengan Menggunakan Pendekatan Break Even Point pada PT.Sari Husada, Yogyakarta

Purnama, Rahim (1997) Analisis Kapasitas Untuk Memperoleh Laba Tertentu Dengan Menggunakan Pendekatan Break Even Point pada PT.Sari Husada, Yogyakarta. Masters thesis, IPB.

[img]
Preview
PDF
R11-01-Rahim_Purnama-Cover.pdf - Published Version

Download (336kB)
[img]
Preview
PDF
R11-02-Rahim_Purnama-RE.pdf - Published Version

Download (331kB)
[img]
Preview
PDF
R11-03-Rahim_Purnama-DaIsi.pdf - Published Version

Download (315kB)
[img]
Preview
PDF
R11-04-Rahim_Purnama-Bab1.pdf - Published Version

Download (361kB)
[img] PDF
R11-05-Rahim_Purnama-Bab2DST.pdf - Published Version
Restricted to Repository staff only

Download (2MB)
Official URL: http://elibrary.mb.ipb.ac.id/

Abstract

Setiap perusahaan yang bergerak dalam bidang jasa, perdagangan dan industri bertujuan untuk menjaga kontinyuitas, pertumbuhan dan perkembangan usahanya. Sasaran tersebut dapat dicapai apabila perusahaan mampu menjaga peningkatan kinerja perusahaan dari setiap periode operasi yang dijalani dengan berorientasi pada efektifitas, efisiensi dan produktifitas usaha, sehingga perusahaan mempunyai daya saing yang kuat. Salah satu indikator keberhasilan pengelolaan usaha adalah kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba, lnformasi perolehan laba ini dapat digunakan untuk melihat performance / kinerja perusahaan. Untuk memberikan arah pada perusahaan dalam menggunakan aktivanya maka perusahaan perlu membuat perencanaan, salah satu dari perencanaan tersebut adalah perencanaan laba. Perencanaan laba ini dapat dibuat berdasarkan metode Break even point (titik impas). Break even point analysis atau analisis titik impas adalah alat untuk mengetahui pada tingkat penjualan berapakah suatu perusahaan tidak menderita rugi atau laba, dari hasil tersebut dapat diproyeksikan jumlah/omzet penjualan yang harus dicapai dengan menetapkan berapa laba yang diinginkan pada periode tertentu. Sebagai suatu perusahaan industri PT.Sari Husda bahan baku susu menjadi berbagai jenis produk juga perlu mengetahui pada tingkat penjualan berapakah perusahaan dapat mempertahankan tingkat laba yang diinginkan dan mengetahui berapakah kontribusi laba dari masing -masing produk yang dihasilkan. Tujuan geladi karya ini adalah untuk menganalisis biaya-biaya yang terkandung.dalam produk susu merek sendiri: susu formula awal (SGM dan Vitalac), susu lanjutan (SGM 2, Vitalac 2) , susu pertumbuhan (SGM Junior), susu untuk bayi lactose intolerance (LLM), susu untuk ibu hamil dan menyusui (Lactamil, Vitanova). Untuk mengetahui berapa jumlah biaya tetap dan variabel; biaya bersama yang harus dibebankan, contribution margin secara total maupun per jenis produk, serta mengetahui tingkat penjualan berapakah yang harus dicapai agar perusahaan dapat mencapai laba tertentu. Dari hasil penelitian dan analisis dengan menggunakan pendekatan konsep fungsi biaya: biaya produksi dan non produksi terdiri dari biaya bahan baku Rp 41.853.202.207.-, biaya bahan kemasan Rp 14.268.137.116 , biaya tenaga kerja langsung Rp 9.512.091.411, dan biaya overhead pabrik Rp 29.512.091.411. sedangkan biaya non produksi dikelompokkan menjadi biaya administrasi dan umum sebanyak Rp 7.404.116.247.- serta biaya pemasaran Rp 9.400.967.780.- Analisis biaya dengan pendekatan konsep tingkah laku biaya, maka kandungan biaya yang terdapat pada masing-masing jenis produk susu adalah (a) biaya tetap: biaya produksi Rp 22.915.417.369.- dan biaya non produksi: biaya pemasaran Rp 6.178.316.057.-, biaya administrasi dan umum Rp 5.544.575.121.-, (b) biaya variabel: biaya bahan baku dan kemasan Rp 56.121.339.323.-, biaya tenaga kerja langsung Rp 9.512.091.41 1 .- dan biaya overhead pabrik Rp 6.571.682.210.-; biaya non produksi: biaya pemasaran Rp 3.222.651.723.-, biaya administrasi dan umum Rp 1 .862.541.126. Untuk biaya bersama yang dibebankan kemasing jenis produk dengan menggunakan pendekatan angka nilai jual relatif adalah biaya overhead pabrik 5.639.232.689. biaya adminstrasi dan umum 1.862.541.126 biaya pemasaran 3.222.651.723 Dari Perhitungan analisis titik impas bahwa produk susu untuk merek sendiri PT. Sari Husada atas dasar data dan informasi tahun 1996, secara total adalah sebesar Rp 64.549.854.435.- dan 458.546 Unit. Hasil tersebut memberikan informasi bahwa pada tingkat penjualan tersebut laba perusahaan secara total dari produk susu untuk klasifikasi produk sendiri adalah nol. Jadi apabila perusahaan akan mendapatkan laba maka harus mencapai penjualan diatas titik impas tersebut. Untuk masing-masing jenis produk susu didapat titik impas (BEP) . SGM1: 200 G/Doos Rp 836.846.788, 5.945 unit ; 400 G/Doos Rp 1 616.375.302, 11.482 unit; 800 G/Doos Rp 2.407.367.471 17.101; FORMULA B /Klg 1.719.548.194 12.215 unit ; SGM2 30 G/Doos 126.100.201 896 unit. 200 G/Doos 836.846.788 . 5.945 unit; 400 G/Doos 1.283.929.318. 9.121 UNIT; 800 G/Doos 3.255.677.913 23.128 unit 400 G/Klg Rp 1.673.693.575 11.889 unit. Margin of safety (MOS) (Batas Aman) didapat sebesar 61.35%. maksudnya adalah, apabila perusahaan tidak ingin menderita kerugian maka nilai penjulan tidak boleh turun lebih dari 61,35% rencana penjualan. Resiko terjadinya penurunan penjualan lebih dari MOS tersebut adalah kerugian, atau dapat pula diartikan bahwa apabila nilai penjualan turun belum mencapai 61,35% maka perusahaan masih mendapatkan keuntungan. Jika tidak ada perubahan biaya dan harga jual dengan Operating profit margin (OPM) sebesar 32,90% maka nilai penjualan yang harus dicapai adalah sebesar nilai penjualan tahun 1996, yaitu sebesar Rp 166.795.216.154 untuk produk susu yang tergolong produk sendiri. Apabila terjadi perubahan-perubahan biaya maka nilai penjualan yang harus dicapai juga harus berubah, dalam perhitungan ini dimisalkan terjadi perubahan biaya variabel dari tahun sebelumnya sebesar 10%, sedangkan kondisi lain tetap, dan Operating profit margin yang diharapkan tetap sama, maka penjualan yang harus dicapai adalah Rp 178.300.767.277.- Dengan demikian, apabila perusahaan tetap akan mempertahankan ratio keuntungan, sebesar 32,89% maka nilai penjulan yang harus dicapai untuk produk sendiri Rp 178.300.767.277.-. Jadi dengan meningkatnya biaya variabel, dengan kondisi lain citeris paribus maka titik impas pada periode yang akan datang sebesar Rp 72.647.459.201, lebih tinggi dari titik impas pada tahun 1996. Sehingga perusahaan harus berupaya secermat mungkin untuk mengendalikan sumberdaya yang ada agar tidak menderita rugi, dan berupaya mencapai target penjualan yang diharapkan. Dari analisis ini maka disarankan perusahaan tetap mempertahan dan meningkatkan produk yang menghasilkan kontribusi margin lebih tinggi, yaitu untuk kemasan doos berisi 400 gram dan 800 gram untuk jenis produk SGM, LLM, Vitalac, dan Vitanova, sedangkan Provikid isi 400 gram .

Item Type: Thesis (Masters)
Uncontrolled Keywords: Kapasitas, Laba, Break Even Point, PT.Sari Husada-Yogyakarta
Subjects: Manajemen Keuangan
Divisions: Sekolah Bisnis > Perpustakaan
Depositing User: Staff-6 Perpustakaan
Date Deposited: 24 Mar 2014 08:16
Last Modified: 24 Mar 2014 08:16
URI: http://repository.sb.ipb.ac.id/id/eprint/1152

Actions (login required)

View Item View Item