Strategi Pengembangan Ternak Sapi Berorientasi Agribisnis Dalam Rangka Meningkatkan Ketahanan Pangan di Propinsi Riau.

Hermawan, Dedih (2002) Strategi Pengembangan Ternak Sapi Berorientasi Agribisnis Dalam Rangka Meningkatkan Ketahanan Pangan di Propinsi Riau. Masters thesis, Institut Pertanian Bogor.

[img]
Preview
PDF
r21-01-dedih_hermawan-cover.pdf

Download (357kB)
[img]
Preview
PDF
r21-02-dedih_hermawan-abstrak.pdf

Download (247kB)
[img]
Preview
PDF
r21-03-dedih_hermawan-ringkasan_eksekutif.pdf

Download (373kB)
[img]
Preview
PDF
r21-04-dedih_hermawan-daftar_isi.pdf

Download (366kB)
[img]
Preview
PDF
r21-05-dedih_hermawan-pendahuluan.pdf

Download (421kB)
[img] PDF
img-210140119.pdf
Restricted to Repository staff only

Download (1MB)
[img] PDF
img-210140407.pdf
Restricted to Repository staff only

Download (1MB)
[img] PDF
img-210140606.pdf
Restricted to Repository staff only

Download (1MB)
[img] PDF
img-210140752.pdf
Restricted to Repository staff only

Download (1MB)

Abstract

Dedih Hermawan, 2002. Strategi Pengembangan Ternak Sapi Berorientasi Agribisnis Dalam Rangka Meningkatkan Ketahanan Pangan di Propinsi Riau. Dibawah Bimbingan Bunasor Sanim dan Wahyudi. Pengembangan peternakan khususnya ternak sapi di Propinsi Riau, diprioritaskan pada wilayah potensial dan strategis yang sementara ini telah ditetapkan wilayah-wilayah sentra produksi ternak sapi, yaitu di Kabupaten Rokan Hulu, Kampar, lndragiri Hulu, lndragiri Hilir, Kepulauan Riau dan Natuna. Namun, hingga kini hasilnya berupa produksi daging belum dapat mencukupi kebutuhan konsumen masyarakat Riau, sehingga kekurangannya lebih kurang 30 % masih didatangkan dari luar, baik dari propinsi tetangga maupun impor dari negara sahabat. Peranan subsektor peternakan terhadap PDRB sektor pertanian dalam kurun waktu 1996 hingga 1999 hanya 6,6 % dan merupakan yang terkecil dibandingkan dengan subsektor lainnya seperti tanaman pangan, perkebunan, perikanan dan kehutanan. Namun demikian, berdasarkan hasil studi yang pernah dilakukan, subsektor peternakan memiliki potensi besar yang dapat dimanfaatkan bagi pengembangan ternak sapi. Potensi tersebut berupa areal atau lahan potensial sebesar 1.200.000 Ha yang dapat menampung ternak sebanyak 1.826.000 ST atau setara dengan 2.408.01 8 ekor sapi dan baru dimanfaatkan 12,64 % atau seluas 146.1 53 Ha. Disamping itu, dorongan untuk mengembangkan ternak sapi semakin bertambah besar dengan adanya permintaan daging dan konsumsi daging per kapita yang semakin meningkat setiap tahunnya serta pasar yang terbuka luas b ik pasar dalam negeri maupun pasar ekspor. Untuk meningkatkan pendapatan para peternak yang menguntungkan, hendaknya pengembangan ternak sapi tersebut berdasarkan kepada sistem agribisnis yang meliputi : (1) Subsistem agribisnis hulu, yakni kegiatan ekonomi yang menghasilkan sapronak, seperti : bibit, pakan, obat, vaksin; (2) Subsistem agribisnis budidaya, yakni kegiatan yang menggunakan sapronak untuk menghasilkan kornoditi peternakan primer, seperti : bibit sapi dan sapi potong; (3) Subsistem agribisnis hilir, yakni kegiatan yang mengolah komoditas peternakan primer menjadi produk olahan, seperti : daging segar, daging beku, kerupuk kulit; (4) Subsistem pemasaran yang meliputi pasar, mata rantai pemasaran, informasi harga pasar, sarana prasarana milsalnya Rumah Potong Hewan; (5) Subsistem penunjang, yakni kegiatan yang diperlukan oleh keempat subsistem agribisnis, seperti : kebijakan pemerintah, permodalan, pelatihan. Apabila ha1 ini tercapai, maka diharapkan dapat meningkatkan ketahanan pangan dari komoditas peternakan, artinya kornoditas tersebut tersedia cukup, mudah diperoleh dan terjangkau oleh daya beli masyarakat. Berdasarkan konsep pengembangan ternak sapi yang hendak dikembangkan tersebut, maka perlu dilakukan pembenahan dan perencanaan mendasar sesuai dengan potensi yang dimiliki oleh masing-masing wilayah dengan cara terlebih dahulu merumuskan faktor internal berupa kekuatan dan kelemahan serta faktor eksternal berupa peluang dan ancaman yang berpengaruh strategis terhadap pengembangan ternak sapi. Disamping itu, juga perlu melakukan analisis terhadap wilayahwilayah yang telah ditetapkan sebagai sentra produksi, guna mengetahui prioritas wilayah pengembangan, mengingat adanya keterbatasan sumberdaya alam, manusia dan sumberdaya keuangan yang ada, sehingga akan dapat ditetapkan strategi yang tepat untuk diimplementasikan. Untuk menjawab ha1 tersebut maka'penelitian ini dilakukan. Tujuan penelitian yang hendak dicapai adalah : (1) Mengetahui wilayah prioritas pengembangan temak sapi serta faktor-faktor eksternal dan internal dalam usaha ternak sapi berorientasi agribisnis. (2) Merumuskan beberapa alternatif strategi pengembangan ternak sapi berorientasi agribisnis, (3) Memilih strategi utama pengembangan ternak sapi berorientasi agribisnis serta (4) Menganalisis keterlibatan dan pengaruh masing-masing lembaga dalam upaya meningkatkan populasi dan produksi ternak dan akhirnya merekomendasikan strategi prioritas yang harus dilaksanakan. Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif jenis survey studi kasus pengembangan ternak sapi di Propinsi Riau dengan memanfaatkan data primer dan sekunder, sedangkan analisis data dilakukan melalui analisis IFE, analisis EFE, analisis CPM, analisis matriks SWOT, analisis QSPM dan analisis kelembagaan dengan teknik ISM yang dilakukan di Propinsi Riau dengan mengambil sampel responden di Kota Pekanbaru, Kabupaten Rokan Hulu, Kampar dan lndragiri Hulu. Berdasarkan analisis IFE diketahui bahwa faktor-faktor yang menjadi kekuatan dalam pengembangan ternak sapi di Propinsi Riau adalah tersedianya rumput alam, rurnput unggul, dan limbah hasil tanaman pangan, peternak yang terampil dan adanya daya dukung lahan, sedangkan yang menjadi kelemahan utamanya adalah faktor keterbatasan modal. Dari analisis EFE diketahui bahwa yang menjadi peluang paling besar adalah adanya dukungan Pemda dalam penyediaan dana kredit, naiknya konsumsi daging, harga daging sapi yang tinggi dan teknologi yang terus berkembang. Analisis CPM menghasilkan wilayah yang menjadi prioritas pertama dalam pengembangan ternak sapi adalah Kabupaten Rokan Hulu. Analisis matriks SWOT menghasilkan beberapa strategi, yaitu strategi pengembangan sentra budidaya temak sapi, strategi pengembangan sentra penggemukan ternak sapi, strategi penyediaan modal usaha, strategi membangun sarana dan prasarana usaha, strategi pembinaan terpadu dan strategi kerjasama regional dan internasional (dalam dan luar negeri). Selanjutnya alternatif strategi hasil SWOT tersebut, dibuat urutan sesuai peringkat yang menunjukan tingkat kepentingan yang dilihat dari skor melalui penjumlahan nilai skor dari masing-masing faktor internal dan eksternal, maka diperoleh urutan ranking atau peringkat sebagai berikut : (1) Pengembangan sentra produksi budidaya ternak sapi (2,35); (2) Melakukan pembinaan terpadu (1,99); (3) Membangun sarana dan prasarana usaha (1,95) (4) Pengembangan sentra penggemukan ternak sapi (1,72); (5) Penyediaan modal usaha (1,67); dan (6) Melakukan kerjasama regional dan internasional (1,46). Alat analisis lain yang digunakan untuk menentukan kemenarikan relatif dari beberapa alternatif strategi yang dihasilhan dari analisis SWOT adalan analisis QSPM. Untuk melakukan analisis QSPM terlebih dahulu dari enam alternatif strategi disusun menjadi tiga set strategi, yaitu : Strategi I (Strategi Pengembangan Sentra Produksi, meliputi : pengembangan sentra budidaya dan penggemukan ternak sapi), Strategi II (Strategi Koordinasi dan Pembinaan Terpadu, meliputi : membangun sarana dan prasarana serta melakukan pembinan terpadu), Strategi III (Strategi Kerjasama Regional Dalam dan Luar Negeri, meliputi : penyediaan modal usaha dan melakukan kerjasama regional dalam dan luar negeri). Hasilnya, yang menjadi strategi utama dalam pengembangan ternak sapi di Propinsi Riau adalah Strategi Pengembangan Sentra Produksi dengan total attractiveness score = 5,23. Analisis kelembagaan yang menggunakan teknik ISM menghasilkan empat elemen kunci lembaga (DP=IO) yang berpengaruh terhadap pengembangan ternak sapi di Propinsi Riau, yaitu Bappeda, Dinas Peternakan, Dinas Koperasi dan PKM serta Badan Ketahanan Pangan. Berdasarkan diagram model struktural hubungan konstektual dinyatakan bahwa bentuk hubungan keterkaitan antara lembaga adalah merupakan struktur campuran (mixed structure) karena mempunyai empat jenjang atau level dan siklus, sedangkan sesuai dengan hasil matriks DP-D ternyata lembaga-lembaga tersebut berada pada sektor Ill (Linkage), artinya setiap tindakan pada lembaga tersebut akan menghasilkan sukses program pada pengembangan ternak sapi di Propinsi Riau, juga sebaliknya lemahnya perhatian terhadap lembaga-lembaga tersebut akan menyebabkan kegagalan program, karena masing-masing lembaga ini memiliki kekuatan penggerak (driver power) yang tinggi bagi pencapaian tujuan pengembangan ternak sapi. Dengan demikian, maka keberhasilan pengembangan ternak sapi di Propinsi Riau, nampaknya sangat ditentukan oleh respon Pemerintah Daerah dalam hal ini terutama lembaga yang termasuk kedalam elemen kunci dalam menggunakan kekuatan yang dimiliki dan memanfaatkan peluang yang terbuka lebar pada momentum yang tepat, sehingga dapat meminimalkan kelemahan-kelemahan disertai dengan menekan faktor-faktor yang menjadi ancaman. Beberapa saran yang diusulkan untuk dapat dipertimbangkan oleh Pemerintah Propinsi Riau dalam ha1 ini Dinas Peternakan dan masyarakat peternakan dalam pelaksanaan pengembangan ternak sapi berorientasi agribisnis di Propinsi Riau, antara lain : (1) Perlu melibatkan secara optimal seluruh stakeholder terkait terutama lembaga yang menjadi elemen kunci, meningkatkan menyediakan kredit modal kerja bagi peternak melalui alokasi dana pembangunan serta melakukan promosi dan sosialisasi pelaksanaan kegiatan pengembangan peternakan kepada masyarakat dunia usaha; (2) Melengkapi sarana dan prasarana penunjang di wilayah sentra produksi, membangun RPH representative dan meat shop guna mendorong dan mempercepat proses peningkatan produksi ternak sapi; (3) Melakukan kerjasama regional yang lebih konkrit dengan Pemerintah Propinsi tetangga, Badan Penelitian/Perguruan Tinggi dan kerjasama regional dengan negara-negara sahabat; (4) Perlu dilakukan analisis usaha sesuai dengan kondisi masing-masing wilayah pengembangan ternak sapi dan (5) Perlu dilakukan analisis Coeficien of Domestic Resource Cost (DRC).

Item Type: Thesis (Masters)
Uncontrolled Keywords: Manajamen Strategi, Ternak sapi, Agribisnis, Ketahanan Pangan, Analisis IFE, Analisis EFE, Analisis Matriks SWOT, Analisis QSPM dan Analisis Kelembagaan teknik ISM, Data Primer dan Sekunder, Propinsi Riau.
Subjects: Manajemen Strategi
Divisions: Sekolah Bisnis > Perpustakaan
Depositing User: Staff-7 Perpustakaan
Date Deposited: 12 Jan 2012 09:21
Last Modified: 25 Aug 2016 08:54
URI: http://repository.sb.ipb.ac.id/id/eprint/1163

Actions (login required)

View Item View Item