Analisis Manajemen Rumah Singgah dalam upaya peningkatan Penanganan Anak Jalanan di Propinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta

SUBEKTI, BAMBANG (2002) Analisis Manajemen Rumah Singgah dalam upaya peningkatan Penanganan Anak Jalanan di Propinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta. Masters thesis, IPB.

[img]
Preview
PDF
2EK-01-Bambang_Subekti-cover.pdf - Published Version

Download (380kB)
[img]
Preview
PDF
2EK-02-Bambang_Subekti-RE.pdf - Published Version

Download (447kB)
[img]
Preview
PDF
2EK-03-Bambang_Subekti-DaIsi.pdf - Published Version

Download (329kB)
[img]
Preview
PDF
2EK-04-Bambang_Subekti-Bab1.pdf - Published Version

Download (438kB)
Official URL: http://elibrary.mb.ipb.ac.id/

Abstract

Masalah anak menjadi perhatian tidak saja orang tua dan masyarakat tetapi juga para pemimpin dunia sejak dicanangkan "Tahun lntemasional untuk Anak" tahun 1979. Puncak perhatian itu terjadi ketika diselenggarakan Konperensi Tingkat Tinggi untuk Anak Tahun 1990 di New York, Amerika Serikat. Salah satu masalah yang menyangkut anak dan sering dijumpai di kota-kota besar yang perlu mendapat perhatian, ialah adanya kelompok anak yang melakukan kegiatan di jalan-jalan. Tanpa memandang sebab yang melatarbelakangi keberadaan anak di jalanan, mereka sering disebut sebagai "Anak Jalanan". Meskipun "Anak Jalanan" hidup bersama dengan orang tua/keluarganya, tetapi bila kita melihat masa depan mereka, terdapat tanda-tanda bahwa apa yang mereka lakukan adalah merupakan tindakan eksploitasi dari orang dewasa terhadap anak. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dan masyarakat (baik perorangan, kelompok atau lembaga) mempunyai tanggung jawab bersama untuk menyelenggarakan penanganan anak jalanan, pemerintah melalui Dinas Sosial membuat kebijakan secara terpadu, bertahap dan menyeluruh. Terpadu artinya melibatkan instansi teknis terkait (Lembaga Swadaya Masyarakat, Organisasi sosial lainnya, Rumah Singgah dll.), bertahap artinya menggunakan azas prioritas dan menyeluruh dimaksudkan memperhatikan aspek ketertiban umum dan kesejahteraan. Untuk itulah perlunya pendekatan dan pertimbangan atau perencanaan yang matang, pengorganisasian yang tepat, pelaksanaan yang selaras dengan perencanaan dan koordinasi dan pengendalian yang lebih konsisten. Berkenaan dengan hal-hal tersebut di atas, maka : " Analisis Manajemen Rumah singgah Dalam Upaya Peningkatan Penanganan Anak Jalanan di Propinsi DKI Jakarta " diharapkan dapat dipergunakan sebagai bahan masukan bagi Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dalam merumuskan kebijakan dalam menanganan Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial, khususnya masalah anak jalanan di Provinsi DKI Jakarta. Atas dasar hal tersebut, maka tujuan dari penelitian ini adalah : 1. Menganalisis kondisi manajemen anak jalanan di rumah singgah. 2. Menganalisis kondisi pelayanan anak jalanan di rumah singgah. 3. Menganalisis komponen manajemen yang mempengaruhi terhadap pelayanan anak jalanan di rumah singgah. 4. Memformalisasikan peningkatan penanganan anak jalanan yang sesuai dengan kondisi manajemen dan pelayanan Rumah Singgah di wilayah Propinsi DKI Jakarta. Untuk mengumpulkan data dan informasi yang diperlukan penulis menggunakan tehnik pengumpulan Field Research atau penelitian lapangan Rumah Singgah serta Anak Jalanan guna mendapatkan informasi langsung secara lengkap dan tepat dengan mempergunakan kuisioner (daftar pertanyaan) untuk diisi. Penentuan responden Rumah Singgah dalam penelitian ini menggunakan pendapat Cochran. Dari 96 rumah singgah ditetapkan 15 rumah singgah sebagai sampel. Untuk responden dari anak jalanan ditentukan 2 orang anak di setiap rumah singgah, sehingga jumlah responden dari anak jalanan sebanyak 30 orang anak. Teknik Pengolahan dan Analisis Data mempergunakan Uji Tanda untuk data yang berskala ordinal dan Uji Korelasi Rank's Spearman untuk mengukur keeratan hubungan antara dua variabel yang tidak memiliki sifat distribusi normal. Dari analisis diperoleh beberapa hasil sebagai berikut : 1. Komponen Manajemen di Rumah Singgah yang meliputi perencanaan, organisasi dan pengawasan masih cukup signifikan positif, artinya komponen manajemen masih dapat dipertahankan dalam pelaksanaan, namun untuk pengawasan jangka panjang harus ada upaya pembenahan, karena taraf signifikansinya menunjukkan taraf yang tidak signifikan. 2. Berkaitan dengan kondisi pelayanan rumah singgah terhadap anak jalanan, dibagi dalam dua kelompok, yaitu kelompok komponen sistem Pembinaan terhadap Anak Jalanan dan Kelompok Komponen Sistem Pemberdayaan terhadap Anak Jalanan. Dari Kelompok Komponen Sistem Pembinaan terhadap Anak Jalanan disimpulkan sebagai berikut: a. Pembinaan Medis, persepsi anak jalanan terhadap pembinaan medis yang diberikan oleh rumah singgah ternyata cenderung negatif, artinya bahwa layanan pembinaan medis terhadap anak jalanan masih harus ditingkatkan. b. Pembinaan Mental, persepsi anak jalanan terhadap pembinaan mental cenderung negatif, artinya bahwa pembinaan mental yang diberikan oleh rumah singgah terhadap anak jalanan masih cukup rendah, untuk itu perlu ditingkatkan. c. Pembinaan Kemandirian, Persepsi pegawai rumah singgah maupun anak jalanan terhadap pembinaan kemandirian memiliki kecenderungan yang sama, artinya mereka beranggapan bahwa pembinaan kemandirian yang diberikan oleh rumah singgah maupun yang diterima oleh anak jalanan masih perlu lebih ditingkatkan/dibenahi. d. Pembinaan Keterampilan. Persepsi pegawai rumah singgah terhadap pembinaan keterampilan yang diberikan kepada anak jalanan telah cukup memadai, namun bagi anak jalanan pembinaan keterampilan yang diberikan oleh rumah singgah dirasakan belum cukup memadai. e. Pembinaan dengan Pemberian Bantuan Stimulus. Persepsi pegawai rumah singgah terhadap pemberian bantuan stimulus kepada anak jalanan dirasakan telah cukup memadai, namun bagi anak jalanan pemberian bantuan stimulus masih dirasakan kurang sehingga perlu lebih ditingkatkan sehingga sesuai dengan yang mereka butuhkan. Sedangkan dari Kelompok Komponen Sistem Pemberdayaan terhadap Anak Jalanan disimpulkan sebagai berikut : Persepsi antara pegawai rumah singgah dan anak jalanan menunjukkan kecenderungan yang sama, yaitu sama-sama menyatakan kondisi yang negatif. Artinya bahwa pemberdayaan terhadap anak jalanan di rumah singgah masih perlu dibenahi agar anak jalanan dapat memasuki dunia nyata dengan kemampuan dan kemandirian untuk menjadi bagian dari masyarakat. Prioritas kebijakannya adalah sebagai berikut : 1). Pembinaan Keterampilan. Upaya pembinaan keterampilan lebih ditekankan kepada pemberian keterampilan yang disesuaikan dengan bakat/minat dan potensi anak jalanan itu sendiri, memberikan kesempatan pelatihan yang berkaitan dengan keprofesian atau keterampilan tertentu secara berkesinambungan. Memberikan pelatihan/keterampilan untuk bewirausaha, memberikan pendampingan atau bimbingan dalam pelatihan keterampilan. 2). Kembali ke Daerah Asal. Artinya melakukan pembinaan mental terhadap anak jalanan agar mereka mau kembali ke daerah asalnya dengan modal keterampilan yang telah mereka miliki, disamping menyadarkan kepada mereka bahwa kembali ke daerah asal lebih menjamin kehidupan yang layak. 3). Bantuan Stimulan. Meningkatkan pemberian bantuan untuk modal usaha, bea siswa atau bantuan pendidikan lainnya kepada anak jalanan melalui rumah singgah. Mengkaji dan meningkatkan pengawasan terhadap pemberian bantuan kepada anak jalanan yang disalurkan melalui rumah singgah. 4). Kembali ke Keluarga. Menciptakan suasana Rumah Singgah sebagaimana suasana keluarga sehingga anak memperoleh perhatian dan kasih sayang, disamping itu berusaha untuk menyadarkan anak agar mereka mau kembali ke keluarga. 5). Pembinaan Medis. Mengajarkan kepada anak jalanan di rumah singgah agar mereka mengerti tentang kebersihan dan kesehatan.

Item Type: Thesis (Masters)
Uncontrolled Keywords: Manajemen Rumah Singgah, Penanganan Anak Jalanan, Propinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta
Subjects: Manajemen Sumber Daya Manusia
Divisions: Sekolah Bisnis > Perpustakaan
Depositing User: Staff-6 Perpustakaan
Date Deposited: 24 Mar 2014 08:09
Last Modified: 24 Mar 2014 08:09
URI: http://repository.sb.ipb.ac.id/id/eprint/1184

Actions (login required)

View Item View Item