PERENCANAAN STRATEGIC PENGEMBANGAN AGRIBISNIS KOMODITI LABA (Piper Ningrum)DI KABUPATEN LAMPUNG TENGAH

Anthoni, . (2000) PERENCANAAN STRATEGIC PENGEMBANGAN AGRIBISNIS KOMODITI LABA (Piper Ningrum)DI KABUPATEN LAMPUNG TENGAH. Masters thesis, IPB.

[img]
Preview
PDF
R16-01-Anthoni-Cover.pdf - Published Version

Download (228kB)
[img]
Preview
PDF
R16-01b-Anthoni-Riwayat_Hidup.pdf - Published Version

Download (75kB)
[img]
Preview
PDF
R16-03-Anthoni-Ringkasan_Eksekutif.pdf - Published Version

Download (166kB)
[img]
Preview
PDF
R16-04-Anthoni-Daftar_Isi.pdf - Published Version

Download (93kB)
[img]
Preview
PDF
R16-05-Anthoni-Pendahuluan.pdf - Published Version

Download (228kB)
Official URL: Http://elibrary.mb.ipb.ac.id

Abstract

RINGKASAN EKSEKUTIF - Anthoni, 2000. Perencanaan Strategik Pengembangan Agribisnis Lada (Piper niurum) di Kabupaten Lampung Tengah, dibawah Bimbingan M. Syamsul Ma'arif dan Kirbrandoko - Komoditi lada merupakan salah satu komoditi andalan ekspor di Kabupaten Lampung Tengah dengan total nilai ekspor mencapai 34.809.991 US$ dan volume ekspor sebesar 7.870 ton pada tahun 1998. Perkebunan lada di Lampung Tengah mencapai 9.754 hektar atau 23% dari perkebunan lada yang terdapat di Propinsi Lampung yaitu sebesar 42.328 hektar pada tahun 1998. Namun, dalam perkembangannya perkebunan lada yang dikembangkan melalui perkebunan rakyat, produksi dan luas areal tanamnya mengalami fluktuasi bahkan cenderung menurun. Pada tahun 1992 luas produksi mencapai 12.993 hektar dan produksi 8.171,20 ton, sedangkan pada tahun 1998 luas arealnya 9.754 hektar dan produksinya 5.868 ton, dan tahun 1999 sampai saat dilakukan penelitian kondisinya diperkirakan relatif sama dengan tahun 1998. Hal ini disebabkan beberapa faktor antara lain masih rendahnya kualitas sumberdaya manusia, sistem pengelolaan sumberdaya seperti lahan, permodalan, teknologi, dan sarana produksi agribisnis lada yang belum optimal dan berkesinambungan, sistem informasi pasar komoditi lada yang belum efektif, dan kurangnya kerjasama kelembagaan yang terpadu antara berbagai pihak terkait dalam agribisnis lada di Kabupaten Lampung Tengah. Sehubungan dengan permasalahan tersebut diatas, Pemerintah Daerah dan para pelaku agribisnis lada perlu mengupayakan pengembangan agribisnis lada di Kabupaten Lampung Tengah dengan melakukan kajian tentang perencanaan strategik pengembangan agribisnis lada di Kabupaten Lampung Tengah. Dalam kegiatan kajian ini dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut : (1) Faktor apa saja yang menjadi hambatan dalam pengembangan agribisnis lada di Kabupaten Lampung Tengah, (2) Bagaimana kekuatan dan kelemahan (internal) serta peluang dan ancaman (eksternal) dalam mengembangkan agribisnis lada di Kabupaten Lampung Tengah, (3) Bagaimana alternatif strategi yang tepat dan efektif dalam mengembangkan agribisnis lada yang dapat dilakukan oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Lampung Tengah, (4) Bagaimana koordinasi dan keterpaduan program yang dapat dilakukan oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Lampung Tengah, (5) Program atau kegiatan apa yang dapat dilakukan oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Lampung Tengah dalam upaya mengembangkan agribisnis lada,. Sedangkan tujuan penelitian yang hendak dicapai adalah; (1) mengindentifikasikan faktor-faktor yang merupakan elemen dalam pengembangan agribisnis lada, (2) merumuskan berbagai alternatif perencanaan strategik pengembangan agribisnis lada, (3) menyusun urutan prioritas atau memilih strategi yang akan dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten Lampung Tengah dalam mengembangkan agribisnis lada. Pendekatan penelitian yang dilakukan adalah deskriptif dengan model studi kasus dan menggunakan analisis SWOT dan tehnik AHP. Berdasarkan indentifikasi dan analisis SWOT dapat diketahui faktor-faktor yang merupakan elemen dalam pengembangan agribisnis lada di Kabupaten Lampung Tengah, yaitu (1) faktor kekuatan seperti: ketersediaan lahan, ketersediaan sumber daya manusia petani lada, ketersediaan dan kelancaran transportasi, citra yang baik sebagai penghasil lada, sistem pemasaran (tataniaga) yang efisien dan adanya AELI, konstribusinya yang tinggi dalam struktur ekspor dan ekonomi daerah, dan adanya penangkaran bibit lada, (2) faktor kelemahan seperti keterbatasan modal kerja, manajemen usahatani yang masih relatif rendah, bimbingan dan penyuluhan yang belum optimal, belum berkembangnya kelompok tani lada, informasi pasar dan posisi tawar menawar petani yang masih rendah, produktivitas tanaman yang fluktuatif bahkan cenderung menurun, koordinasi dinaslinstansi terkait belum optimal, (3) faktor peluang seperti meningkatnya permintaan ekspor lada, meningkatnya harga jual, berkembangnya teknologi dan informasi, kebijakan dan komitmen pemerintah terhadap agribisnis, dan adanya globalisasi dan perdagangan bebas, (4) faktor ancaman seperti meningkatnya tingkat suku bunga dan inflasi, pertumbuhan ekonomi yang masih rendah, kondisi politik dan keamanan, alih fungsi lahan, dan serangan hama penyakit. Berdasarkan visi dan misi yang dikembangkan serta hasil analisis SWOT, maka sasaran yang diharapkan dapat tercapai untuk 5 (lima) tahun yang akan datang dalam pengembangan agribisnis lada yaitu : (1) meningkatkan produktivitas rata-rata hasil agribisnis lada menjadi 1 tonlhektar, (2) meningkatkan luas areal tanam seluas 2500 hektar menjadi * 10.254 hektar, (3) meningkatkan mutu SDM melalui peningkatan mutu kelompok tani, dimana 60% kelompok tani lada sudah masuk kategori kelompok tani madya dan 30% sudah berkembang menjadi kelompok tani utama, (4)meningkatkan pendapatan petani lada sebesar F 60% menjadi Rp.25.000.0001hektar/tahun, (5) 90% petani lada sudah menggunakan bibit unggul dan tanaman yang secara agronomis berstruktur baik, (6) mengupayakan mempertahankan dan meningkatkan harga pada kisaran Rp.30.000-Rp.50.000 per kilogram, (7) meningkatkan sebesar 90% peran dan fungsi kelembagaan terkait serta kemampuan petugaslaparatur khususnya PPL komoditi lada, (8) membentuk 1 (satu) unit pusat pelayanan informasi pasar, teknologi, dan standarisasi mutu komoditi lada. Berdasarkan visi, misi, analisis SWOT, dan sasaran yang ditetapkan, maka dapat dikembangkan berbagai alternatif strategi melalui matriks SWOT, sehingga didapatkan alternatif strategi sebagai berikut, (1) Strategi SO, yaitu melakukan perluasan areal tanaman dan � pemasaran ekspor, serta strategi meningkatkan pengembangan sistem informasi teknologi dan pemasaran agribisnis lada, (2) Strategi ST, yaitu strategi melakukan penetapan sentra budidaya dan pembinaan kemandirian serta efisiensi usahatani lada, serta strategi meningkatkan kerjasarna penelitian dan pengembangan kornoditi lada dengan lembaga penelitian dan perguruan tinggi, (3) Strategi WO, yaitu strategi meningkatkan pernberian bantuan modal (kredit murah), bimbingan, dan penyuluhan usahatani, dan strategi meningkatkan peran dan fungsi kelembagaan petani, pemerintah, dan swasta terkait, (4) Strategi WT, yaitu strategi melakukan diversifikasi usahatani, dan strategi rnengalihkan sebagian usahatani lada ke usahatani lainnya. Selanjutnya untuk melihat prioritas atau kepentingan alternatif strategi yang dapat dikembangkan dilakukan rnelalui tehnik AHP yang juga diharapkan memberikan gambaran keterkaitan strategi dengan faktor penentu, pelaku, dan tujuan ingin dicapai. Dari 5 (lima) responden yang digunakan dalam tehnik AHP, didapatkan hasil sebagai berikut ; (I)strategi yang diprioritaskan adalah melakukan peningkatan pemberian modal (kredit murah), bimbingan, dan penyuluhan usahatani (24,5%), strategi lainnya yang dapat dikembangkan adalah meningkatkan peran dan fungsi kelembagaan petani, pemerintah, swasta terkait (16,5%) , melakukan penetapan sentra budidaya dan pembinaan kemandirian serta efisiensi usahatani lada (16,4%), rneningkatkan kerjasama penelitian dan pengembangan komoditi lada dengan lembaga penelitian dan perguruan tinggi (13,7%), meningkatkan pengembangan sistem informasi teknologi dan pernasaran agribisnis lada (11,4%), melakukan perluasan areal tanam dan pemasaran ekspor (8,5%), melakukan diversifikasi usahatani (6,2%), dan mengalihkan sebagian usahatani lada ke usahatani lain (2,8%), (2) tujuan yang diprioritaskan yaitu meningkatkan pendapatan petani (31,0%), meningkatkan produktivitas tanarnan lada (26%), meningkatkan dan membuka kesempatan kerja (17%), meningkatkan pertumbuhan ekonomi daerah (15,O %), dan meningkatkan pendapatan asli daerah (11,0%), (3) pelaku atau aktor utama dalam rnengembangkan strategi untuk rnencapai tujuan yang diprioritaskan tersebut, maka Bappeda merupakan pelaku utama (20,7%), diikuti Dinas Perkebunan (20,4%), Balai lnformasi Penyuluhan Pertanian (18,2%), Petani Lada (12,5%), Perbankan dan Lembaga Keuangan Daerah Maupun Nasional (10,3%), Dinas Perdagangan (9,3%), dan Asosiasi Eksportir Lada Indonesia (AELI) propinsi Lampung (8,6%), (4) faktor yang terpenting untuk diprioritaskan adalah ketersediaan sarana produksi dan modal kerja (26,8%), ketersediaan sumberdaya manusia (14,7%), ketersediaan sarana dan prasarana (13,5%), ketersediaan sumber daya alam (12,5%), teknologi dan informasi (1 1,3%), lingkungan sosial (6,7%), keterkaitan antar sektor (5,9%), deregulasi dan debirokratisasi (4,6%), dan rencana umum tata ruang (4,1%). � Berdasarkan prioritas strategi, tujuan, pelaku, dan faktor penentu serta analisis faktor eksternal dan internal yang berpengaruh dalam pengembangan agribisnis lada di Kabupaten Lampung Tengah, maka dapat dibuat perencanaan program dan rencana tindakan (action plan) seperti (1) program peningkatan produksi dan produktivitas dengan kegiatan melakukan pemberian bantuan modal dan sarana produksi melalui pola revolving fund (perguliran dana), membentuk wadah kemitraan antara petani lada dengan pengusaha (eksportir), sentra pengembangan agribinsis komoditi unggulan (SPAKU) lada, membentuk dan memperluas kelompok penangkaran bibit lada, dan menjalin kerjasama penelitian tanaman lada dengan perguruan tinggi, dan memperluas areal tanaman lada, (2) program pengembangan SDM kegiatannya melakukan bimbingan dan penyuluhan intensif, mengadakan pendidikan dan latihan SDM penyuluh, sekolah lapang, magang dan studi banding bagi petani lada, (3) program pengembangan sumberdaya kelembagaan, kegiatannya membentuk dan membina kelompok tani melalui kelompok usaha bersama agribisnis (KUBA) lada, dan membentuk forum koordinasi agribisnis lada di daerah sentra dan Kabupaten, (4) program pengembangan pemasaran, kegiatannya membentuk pusat pelayanan informasi pasar, teknologi, dan standarisasi mutu komoditi lada, dan melakukan deregulasi peraturan daerah untuk membentuk struktur pasar yang lebih efisien. Perencanaan strategik akan dapat diimplementasikan dan berhasil apabila ada komitmen dari berbagai pihak terkait terutama Pemerintah Kabupaten Lampung Tengah seperti mengalokasikan anggaran pembangunan untuk menciptakan faktor yang menentukan atau mempengaruhi agribisnis lada, sehingga sistem agribisnis lada di Kabupaten Lampung Tengah dapat tangguh seperti yang diharapkan. Selanjutnya perlu pengkajian lebih larijut mengenai mekanisme penyaluran dana bantuan modal. Bimbingan dan penyuluhan lebih diarahkan pada pengembangan budaya atau jiwa kewirausahaan para petani lada, sehingga dapat efektif untuk mencapai tujuan dan sasaran yang diharapkan.

Item Type: Thesis (Masters)
Subjects: Manajemen Strategi
Divisions: Sekolah Bisnis > Perpustakaan
Depositing User: Staff-2 Perpustakaan
Date Deposited: 24 Mar 2014 08:14
Last Modified: 24 Mar 2014 08:14
URI: http://repository.sb.ipb.ac.id/id/eprint/1260

Actions (login required)

View Item View Item