Analisis Kebutuhan Dan Pengembangan Pelatihan Dalam Rangka Pembedayaan Usaha Kecil Di Propinsi Timor Timur

Djemy, Fary (1998) Analisis Kebutuhan Dan Pengembangan Pelatihan Dalam Rangka Pembedayaan Usaha Kecil Di Propinsi Timor Timur. Masters thesis, IPB.

[img]
Preview
PDF
R12-01b-Fary_Djemy-Lembar_Pengesahan.pdf - Published Version

Download (323kB)
[img]
Preview
PDF
R12-01-Fary_Djemy-Cover.pdf - Published Version

Download (241kB)
[img]
Preview
PDF
R12-03-Fary_Djemy-Ringkasan_Eksekutif.pdf - Published Version

Download (376kB)
[img]
Preview
PDF
R12-04-Fary_Djemy-Daftar_isi.pdf - Published Version

Download (322kB)
[img]
Preview
PDF
R12-05-Fary_Djemy-Pendahuluan.pdf - Published Version

Download (503kB)
Official URL: http://elibrary.mb.ac.id

Abstract

Fary Djemy, 1998. Analisis Kebutuhan Dan Pengembangan Pelatihan Dalam Rangka Pembedayaan Usaha Kecil Di Propinsi Timor Timur. Dibawah Bimbingan M. Syamsul Ma'arif dan Wahyudi. Dimensi kemanusiaan dalam GBHN 1993 menegaskan arah kebijaksanaan pembangunan untuk mendukung dan menunjang berkembangnya potensi masyarakat melalui peningkatan peran serta, produktivitas rakyat dan efisiensi, dan menjadi pangkal tolak untuk membangun ekonomi yang kukuh ,mandiri dan berkeadilan. Ekonomi nasional yang kukuh dan mandiri hanya dapat dibangun melalui suatu transformasi kemampuan usaha nasional berawal dari usaha kecil yang meningkat ke usaha menengah dan kemudian menjadi usaha besar. Proses transformasi tersebut perlu disiapkan secara sistematis, dan harus sejalan dengan tingkat kemampuan, serta perkembangan kelembagaan sosial ekonomi yang berlangsung dalam masyarakat. Ini berarti pengembangan usaha kecil bersifat strategis, potensial dan mempunyai tataran yang luas bagi penguatan ekonomi bangsa. Dalam rangka ini GBHN 1993 menegaskan bahwa pembinaan dan pengembangan usaha kecil perlu lebih diberikan perhatian. Potensi usaha kecil yang demikian besar tersebut, ternyata belum secara optimal teraktualisasi sebagaimana yang diharapkan, khususnya pengembangan usaha kecil di propinsi Timor Timur . Belum optimalnya pengembangan Usaha Kecil di propinsi Timor Timur tersebut bersumber karena sejumlah kendala yang dihadapi pengusaha kecil , kendala tersebut meliputi (1) kelemahan dari segi akses pasar, (2) terbatasnya akses terhadap sumber modal, (3) keterbatasan penguasaan teknologi yang berakibat pada rendahnya mutu hasil produksi, (4) rendahnya tingkat ketrampilan dan profesionalisme sumberdaya manusia serta (5) rendahnya kemampuan organisasi dan manajemen. Tjakrawerdaya (1997) , mengemukakan bahwa lahir, tumbuh, dan berkembangnya usaha kecil akan sangat tergantung pada peranan dan kualitas pengusaha kecil itu sendiri , untuk itu pengusaha kecil mesti memiliki kompetensi yang dicirikan oleh ; (1) memiliki kemampuan manajerial, (1) memiliki etos kerja yang tinggi, (2) tanggap dan dinamis, (3) berani mengambil resiko , (4). memiliki daya saing kuat dalam berusaha, ; (5) memiliki kemampuan manajerial, (6). memiliki ketrampilan teknis, (7) kreatif mencari dan menciptakan peluang pasar. Pada dasarnya, untuk membentuk ketujuh kompetensi orang yang berkemampuan menjalankan usaha kecil tersebut diatas dapat dilakukan dengan pelatihan. Untuk itu, program-program pelatihan perlu dirancang dengan baik sehingga dapat memecahkan sejumlah kendala yang masih dihadapi oleh pengusaha kecil . Dalam hubungannya dengan pelatihan usaha kecil di propinsi Timor Timur, masih dirasakan adanya kesenjangan antara materi pelatihan dengan kebutuhan pengusaha kecil. Seringkali ketidaksesuain harapan pengusaha kecil dengan visi pembina menimbulkan keengganan untuk mengikuti pernbinaan � serupa pada waktu berikutnya. Dengan belum ditemukan sistem pelatihan usaha kecil yang dapat dipakai sebagai acuan dalam pembinaan pengusaha kecil di propinsi Timor Timur , mengakibatkan program pelatihan yang dilakukan oleh instansi pembina usaha kecil seringkali tidak secara optimal teraktualisasi sesuai dengan harapan. Salah satu faktor kunci dalam rangka pemberdayaan usaha kecil yang bertujuan menumbuhkan dan meningkatkan kemampuan usaha kecil menjadi usaha tangguh dan mandiri serta dapat berkembang menjadi usaha menengah adalah diperlukan Training Needs Assessment (TNA), karena dengan TNA diharapkan akan diperoleh suatu gambaran mengenai kebutuhan pelatihan yang diperlukan oleh setiap pengusaha kecil, sehingga dapat dikembangkan sistem pelatihan yang lebih sesuai dengan kebutuhan pengusaha kecil. Untuk itu, perlu dilakukan penelitian terhadap analisis kebutuhan dan pengembangan pelatihan dalam rangka pemberdayaan usaha kecil di Timor Timur. Metode penelitian yang dilakukan dengan menggunakan metode deduktif, dimana sistem pelatihan usaha kecil yang dibutuhkan disusun berdasarkan analisis terhadap sistem pelatihan ideal dibandingkan dengan kondisi nyata. Dari hasil analisis dan sintesis terhadap sistem pelatihan dalam rangka pemberdayaan usaha kecil di propinsi Timor Timur, secara umum dapat dinyatakan bahwa sistem pelatihan yang digunakan masih menggunakan sistem tradisionil, dimana landasan, filosofi, tujuan, serta prinsip- prinsip pelatihan dan pengembangan dirumuskan terlalu umum, kurang jelas batasannya dan kurang dekat dengan kebutuhan pelatihan yang sebenarnya. Hal ini ditunjukkan dari hasil beberapa analisis yang menggambarkan perlunya perbaikan-perbaikan pada sistem pelatihan agar didapatkan bentuk pelatihan yang tepat dan menyentuh kebutuhan pengusaha kecil. Bebarapa ha1 yang masih perlu ditingkatkan adalah kegiatan analisis kebutuhan pelatihan (nilai rata-rata = 2,66) dan metode pelatihan yang digunakan (nilai rata-rata = 2,51). Analisis ini diperkuat dengan uji peringkat ganda wilcoxon dengan hipotesa Ho :p1 -p2 = pb = do = 0,66 dan HI :,ul -,u2 z 0,66, dengan ct = 95% diperoleh kesimpulan tolak Ho {w+ = 50 > Wtabel-21). Artinya ada pengaruh terhadap pemberian pelatihan yang diberikan dalam rangka pengembangan usaha kecil . Dari hasil analisis terhadap pelayanan tindak lanjut pasca pelatihan , sebagian besar responden menyatakan tidak ada pelayanan tindak lanjut (61,25 %) ,ha1 ini menunjukkan bahwa pelatihan yang dilaksanakan selama ini hanya terkonsentrasi pada kegiatan pelatihan saja, belum melaksanakan pelatihan secara terpadu dengan memasukkan program pelayanan tindak lanjut pasca pelatihan. Menurut responden bentuk pelayanan tindak lanjut pelatihan yang dibutuhkan pengusaha kecil di propinsi Timor Timur, berdasarkan prioritas adalah modal usaha konsultasi lanjutan dan pelatihan lanjutan . Dari hasil analisis terhadap kompetensi yang dibutuhkan dalam rangka pemberdayaan usaha kecil di Propinsi Timor Timur, mayoritas responden (76,67%) setuju dengan pendapat bahwa terdapat 7 (tujuh) kompetensi yang harus dimiliki oleh Pengusaha kecil di Timor Timur, yaitu; (1) memiliki kemampuan manajerial, (1) memiliki etos kerja yang tinggi, (2) tanggap dan � dinamis, (3) berani mengambil resiko , (4). memiliki daya saing kuat dalam berusaha, ; (5) memiliki kernampuan manajerial, (6). memiliki ketrampilan teknis, (7)kreatif rnencari dan menciptakan peluang pasar. Dari analisis kernarnpuan kerja yang diharapkan (KKD) dan kemampuan kerja saat ini (KKS) dapat dijelaskan bahwa terdapat 8 (delapan) ciri-ciri kornpetensi Pengusaha kecil tangguh (PKT) yang sangat mendesak ldi- prioritaskan untuk dimasukkan dalam program pelatihan dalam rangka pemberdayaan usaha kecil , kedelapan ciri kompetensi tersebut adalah : (1) kompetensi mengambil inisiatif dalam usahanya, (2) kompetensi rnemiliki keinginan bebasl tidak tergantung pada orang lain, (3) kompetensi rnenerima perubahan dengan cepat, (4) kompetensi berinteraksi dengan orang lain, (5) kompetensi mernbuat dan- mengembangkan perencanaan usahanya, (6) kompetensi mengawasi kegiatan usahanya, (7) kompetensi tentang manajemen pembukuan dan administrasi keuangan , (8) kompetensi membaca dan mernanfaatkan peluang pasar. Program pelatihan bagi Pengusaha kecil rnandiri (PKM) dapat dijelaskan bahwa terdapat 7 (tujuh) ciri-ciri kornpetensi yang sangat rnendesakfdi- prioritaskan untuk dimasukkan dalam program setiap pelatihan dalam rangka pemberdayaan usaha kecil , ketujuh ciri kompetensi tersebut adalah : (1) kompetensi untuk mengambil inisiatif dalam usahanya, (2) kompetensi menerima perubahan dengan cepat, (3) kompetensi berinteraksi dengan orang lain, (4) kompetensi bersaing dengan usaha sejenisnya, (5) kompetensi tentang manajemen pembukuan dan administrasi keuangan, (6) kompetensi menemukan ide-ide baru dalam usaha, (7) kompetensi membaca dan memanfaatkan peluang pasar. implementasi dari pengembangan sistem pelatihan yang disesuaikan dengan kebutuhan Pengusaha kecil di propinsi Timor Timur, perlu disiapkan tahap-tahap pelatihan terdiri dari ; (1) tahap persiapan pelatihanlpre-training (administrasi pelatihan, seleksi peserta, sarana, lnstruktur dan kepanitiaan), (2) tahap pelaksanaan pelatihan ( orientasi pelatihan, proses pelatihan), (3) tahap evaluasi dan tindak lanjut pelatihanl post-training (evaluasi persiapan, evaluasi proses dan bentuk tindak lanjut). �

Item Type: Thesis (Masters)
Subjects: Manajemen Strategi
Divisions: Sekolah Bisnis > Perpustakaan
Depositing User: Staff-2 Perpustakaan
Date Deposited: 24 Mar 2014 08:16
Last Modified: 24 Mar 2014 08:16
URI: http://repository.sb.ipb.ac.id/id/eprint/1266

Actions (login required)

View Item View Item