ANALISIS SYSTEM PENGADAAN BERAS DI PASAR INDUK BERAS CIPINANG JAKARTA TERHADAP PENGEMBANGAN STRATEGY BISNIS UNIT PT FOOD STATION TJIPINANG JAYA

Christianti, . (2000) ANALISIS SYSTEM PENGADAAN BERAS DI PASAR INDUK BERAS CIPINANG JAKARTA TERHADAP PENGEMBANGAN STRATEGY BISNIS UNIT PT FOOD STATION TJIPINANG JAYA. Masters thesis, IPB.

[img]
Preview
PDF
R16-01b-Christianti-Lembar_Pengesahan.pdf - Published Version

Download (178kB)
[img]
Preview
PDF
R16-01-Christianti-Cover.pdf - Published Version

Download (55kB)
[img]
Preview
PDF
R16-03-Christianti-Ringkasan_Eksekutif.pdf - Published Version

Download (178kB)
[img]
Preview
PDF
R16-04-Christianti-Daftar_Isi.pdf - Published Version

Download (168kB)
[img]
Preview
PDF
R16-05-Christianti-Pendahuluan.pdf - Published Version

Download (197kB)
Official URL: Http://elibrary.mb.ipb.ac.id

Abstract

CHRISTIANTI. Analisis Sistem Pengadaan Beras di Pasar Induk Beras Cipinang Jakarta terhadap Pengembangan Strategy Business Unit PT Food Station Tjipinang Jaya. Dibawah bimbiigan SRI HARTOYO dan ABDUL BASITH. Komoditi beras merupakan bahan pangan pokok yang sampai saat ini mash merupakan salah satu "komoditas politik". Argumen yang berkembang di tengah masyarakat adalah salah satu penyebab utama distorsi distribusi bahan pangan tersebut adalah kesalahan atau penyimpangan suatu rangkaian kebijakan intervensi pasar yang dilakukan oleh pemerintah, kebijakan stabilisasi harga, manajemen stok dan manajemen distribusi bahan pangan oleh Badan Urusan Logistik (BULOG) dan segenap Depot Logistik (DOLOG)dan Sub-Dolog di daerah. Peranan dan sentralisasi Bulog dalarn memonopoli komoditi pokok beras memang sudah pupus, selanjutnya melalui Keppres No 29 bulan Maret 2000 ditekankan bahwa Bulog bukan kg lembaga stabilisasi melainkan lebih mengarah sebagai lembaga logistik dengan tugas sebagai pengendali harga beras, penyedia cadangan pangan masyarakat dan pelaksana operasi khusus (OPK) beras. Selanjutnya penanganan penyuplaian beras diserahkan sepenuhnya kepada distdbusi pasar masing-masing wilayah, dan diharapkan beras dapat diperoleh masyarakat dengan harga dan kualitas yang bersaing. Pengadaan dan distribusi beras ataupm komoditi pangan lainnya di pasar bebas sebagian besar banyak terjadi di pasar-pasar induk daerah. Seperti halnya di wilayah DKI Jakarta yang merupakan pusat pemerirntahan dan kebijakan, memiliki banyak pasar induk yang baas mengatur dan menjalankan proses distribusi dan pengadaan berbagai komoditi kebutuhan pokok. Salah satunya adalah Pasar Induk Beras Cipinang yang dikelola oleh PT Food Station Tjipinang Jaya untuk pemenuhan kebutuhan bem masyarakat DKI Jakarta. Dengan kondisi tersebut, pihak manajemen perusahaan perlu perencanaan strategi dalam pengembanganStrategy Business Unit (SBU) di perusahaan. Permasalahan tersebut perlu mendapatkan perhatian yang serius bagi pihak PT Food Station Tjipinang Jaya dalam mengelola system pengadaan dan distribusi bem di Pasar Induk Beras Cipinang, karena akan mengakibatkan antaralain: 1.Kesulitan memenuhi kuantitas dan kualitas beras yang harus disediakan di Pasar Induk Bems Cipinang dalam pemenuhan kebutuhan permintaan beras di wilayah DKI Jakarta. 2.Timbulnya kesenjangan antara kuantitas dan kualitas beras yang harus disediakan dengan yang dibutuhkan. 3.Sistem pengadaan dan distribusi bems yang berubah-ubah akan mengakibatkan harga beras berfluktuasi dan cenderung meningkat sehingga kemungkinan akan diikuti pula oleh peningkatan harga komoditi lain. 4.Meningkatnya biaya pengadaan dan distribusi (biaya operasi) beras dari waktu ke waktu. Pada geladikarya fi diterapkan penggunaan analisis kuantitatif dan kualitatif. Analisis kuantitatif pada sistem pengadaan dan distribusi beras perusahan dilakukan dengan perhitungan waktu pemesanan kembali (reorder point), metode Economic Order Quantity (ElOQ), dan persediaan pengaman(safety stock). Selanjutnya permasalahan atau kendala dalam proses distribusi dan pengadaan beras di perusahaan dianalisis dengan Linier Programming. Dari hasil analisis kuantitatif terhadap system pengadaan dan distribusi beras di perusahan tersebut akan dijadikan bahan pertimbangan dalam analisis kualitatif pengembangan SBU yang ada di PT Food Station Tjipinang Jaya dengan analisis portofolio GE's matriks. PT Food Station Tjipinang Jaya dalam meningkatkan kualitas usahanya, Unit Bisnis Strateginya (SBU) menjadi empat, yaitu SBU perdagangan, penyewaan gudang dan perkantoran, Pasar Induk Beras Cipinang (PIBC), dan angkutan. Dari hasil anahis portopolio GE's matriks diketahui secara jelas kondisi dan posisi tiap SBU sekarang dan peluangnya di masa yang akan datang, serta strategi apa saja yang dapat djlakukan dalam jangka waktu panjang. Penggunaan Matriks GE's dilakukan dengan system pembobotan dari kuisioner yang dibagikan pada 11 pakar yang berada pada tingkat manajemen. Berdasarkan hasil analisis operasional terhadap system pengadaan beras perusahaan yang terjadi di PIBC, maka dapat diketahui: Perdagangan beras yang efektif dan ekonomis yang harus dilakukan oleh pihak perusahaan dalam salah satu usahanya di SBU perdagangannya, sebaiknya pihak perusahaan hanya perlu melakukan pemesanan rata-rata satu kali dalam satu bulan atau sekitar 13 sampai 15 kali pesan dalam satu tahun (berdasarkan jumlah permintaan selama tahun 1996 sampai 1999) dengan menggunakan armada angkutan yang berkapasitas lebih dari 35 ton seperli truck tronton atau fuso dan sebesar jumlah pesanan ekonomisnya. Lalu dingan persentase pemenuhan permintaan ke konsumen rata- rata 95% setiap tahunnya maka perusahaan perlu melakukan persediaan/stok pengaman rata:rata 68 ton setiap tHhunnya ata; sekitar 6 ton perbulannya atau rata-rata sebesar 4,672 sampai 4,948 ton setiap kali pesannya. Dan,dengan expected demand rata-rata 41 ton per bulannya (tahun 1996 sampai 1999), maka ditentukan saat pemesanan kembali beras untuk pemenuhan permintaan pasar pada saat persediaan sebesar mta-mta 104 ton per tahun atau rata-rata sebesar 7,080 sampai 7,596 ton setiap kali pesan. Berdasarkan model analisis program linier yang telah dilakukan pada system pengadaan beras di Pasar induk Beras Cipinang, maka pemesanan beras untuk perdagangan beras di SBU perdagangan yang optimum sebaiknya dipesan pasokan beras dari asal daerah sekitar Kerawang, Cirebon, Jakarta, Jawa Tengah, Jawa Tirnur, dan sebagian dari Bandung. Walaupun dapat pula dilakukan pemesanan dariluar pulau Jawa, tetapi sebaiknya dalam jumlah yang sangat kecil. Terjadinya penambahan biaya angkutan pasokan beras sebesar Rp. 15,- per kg dari asal daerah sekitar Kerawang (asal daerah pemasok beras terbesar di PIBC), ha1 ini tidak merubah variabel solusi optimasi lainnya tetapi hanya menurunkan maksimasi keuntungan per tahunnya saja. Analis portofolio SBU dengan GE's matrks yang dilakukan pada PT Food Station Tjipinang Jaya berdasarkan dimensi daya tarik industri dan kekuatan bisnis perusahaan. Berdasarkan metode hi, maka didapatkan semua SBU pada PT Food Station Tjipinang Jaya berada pada penilaian sedang untuk dua dimensi penilaian. Dimensi penilaian ini memberikan informasi bahwa SBU- SBU yang ada berada pada posisi selektif. SBU perdagangan memiliki peringkat penilaian pada dimensi daya tarik industri sebesar 2,845 dan dimensi kekuatan bisnisnya 2,780. Pada SBU penyewaan gudang dan perkantoran dalam dimensi daya tarik industri sebesar 3,370 (paling tinggi) dan dimensi kekuatan bisnis sebesar 2,970. SBU Pasar Induk Beras Cipinang (PIBC) merniliki peringkat penilaian pada dimensi daya tar&industri sebesar 2,935 dan peringkat penilaian dimensi kekuatan bisnis sebesar 3,205 (paling tinggi). Dan, untuk SBU angkutan memiliki peringkat penilaian pada dimensi daya tarik industri sebesar 2,525 (paling rendah) dan peringkat penilaian kekuatan bisnis sebesar 2,545 (paling rendah). Selanjutnya, pendekatan strategi yang dapat dilakukan pada masing- masing SBU dalam mencapai prospek portopolio SBU, yaitu: (1) pada SBU perdagaqgn dapat dengan melakukan pendekatan strategi diantaranya: melakukan strategi pertumbuhan secara selem melakukan pengembangan produk dengan menanamkan kekuatan produk image dan brand image yang belum ada, dan memperhatikan strategi fokus pada pemasaran. (2) Pendekatan strategis untuk SBU penyewaan gudang dan perkantoran anha lain adalah: melakukan spesialisasi pada kekuatan tertentu, mengelola secara selektif untuk mendapatkan pendapatan yang lebih besar, dan melindungi pangsa pasar yang ada. (3) SBU Pasar Induk Beras Cipinang (PIBC), sebaiknya melakukan pendekatan strategi sepertr': melakukan strategi penetrasi pasar, untuk meningkatkan pangsa pasar yang sudah ada dan pasar yang akan dimasuki oleh SBU PIBC, mengkonsentrasikan pada kekuatan pemeliharaan, dan mengelola dengan selektif untuk mendapatkan pendapatan yang besar. Dan (4) SBU Angkutan dalam pendekatan strategisnya dapat melakukan strategi seperti: melakukan strategi fokus pada salah satu kekuatan, mengelola secara selektif untuk meningkatkan pendapatan, dan melakukan strategi pengembangan produk bisnis.

Item Type: Thesis (Masters)
Subjects: Manajemen Strategi
Depositing User: Staff-2 Perpustakaan
Date Deposited: 24 Mar 2014 08:13
Last Modified: 24 Mar 2014 08:13
URI: http://repository.sb.ipb.ac.id/id/eprint/1281

Actions (login required)

View Item View Item