Analisis kompetensi finansial perbankan menghadapi penerapan arsitektur perbankan indonesiakasus bank-bank go public di indonesia

Martius, - (2007) Analisis kompetensi finansial perbankan menghadapi penerapan arsitektur perbankan indonesiakasus bank-bank go public di indonesia. Masters thesis, Institut Pertanian Bogor.

[img]
Preview
PDF
R33-01-Martius-Cover.pdf - Published Version

Download (331kB)
[img]
Preview
PDF
R33-02-Martius-Abstract.pdf - Published Version

Download (310kB)
[img]
Preview
PDF
R33-02-Martius-Ringkasaneksekutif.pdf - Published Version

Download (326kB)
[img]
Preview
PDF
R33-04-Martius-Daftarisi.pdf - Published Version

Download (318kB)
[img]
Preview
PDF
R33-05-Martius-Pendahuluan.pdf - Published Version

Download (329kB)
Official URL: http://elibrary.mb.ipb.ac.id

Abstract

Kondisi perekonomian yang semakin terbuka membuat persaingan dalam dunia perbankan semakin ketat. Tantangan di dunia perbankan akan semakin sulit dengan diterapkannya API (Arsitektur Perbankan Indonesia). Berdasarkan laporan keuangan perbankan di Indonesia, laba perbankan dari tahun 2000 sampai tahun 2004 terus mengalami peningkatan, tetapi pada tahun 2005 laba perbankan mengalami penurunan sebesar 23.56% dan NPL (kredit macet) mengalami peningkatan. Informasi tentang tingkat kesehatan keuangan suatu bank dapat diketahui dari analisis rasio keuangan. Bank Indonesia sebagai pengawas dan pembina bank nasional telah menetapkan metode CAMEL (Capital, Assets, Management, Earnings, Liquidity) yang dapat menghitung tingkat kesehatan suatu bank. Hal ini dilakukan pemerintah agar bank tetap menjaga kehati-hatiannya dalam melaksanakan fungsinya. Implementasi CAMEL diharapkan dapat menuntut keterbukaan dari pihak bank terhadap debitur dan krediturnya dalam mengelola modal dan resiko yang ada. Berdasarkan latar belakang yang diuraikan, maka rumusan masalah yang akan dikaji adalah bagaimana tingkat kesehatan keuangan perbankan yang berstatus go public di Indonesia, bagaimana peta perbankan yang berstatus go public di Indonesia berdasarkan tingkat kesehatan keuangan, dan bagaimana kesiapan perbankan dalam menghadapi penerapan API (Arsitektur Perbankan Indonesia). Dari perumusan masalah yang ada, maka penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kesehatan perbankan yang berstatus go public di Indonesia, mengetahui peta perbankan yang berstatus go public di Indonesia berdasarkan tingkat kesehatan keuangan, dan menganalisis kesiapan perbankan dalam menghadapi penerapan API. Penelitian ini dilaksanakan dengan menganalisis laporan keuangan perbankan yang telah berstatus go public selama tahun 2005 dan terdaftar di Bank Indonesia. Dari laporan keuangan yang didapatkan, selanjutnya dihitung rasio keuangan berdasarkan metode CAMEL. Pemetaan perbankan berdasarkan kinerja keuangan dilakukan untuk mengidentifikasi posisi kinerja keuangan bank yang diketahui dengan analisa Biplot. Analisis tingkat kesiapan perbankan dalam menghadapi penerapan API dilakukan secara deskriptif dengan membandingkan data-data dan kondisi perbankan yang ada terhadap ketentuan API yang telah ditetapkan oleh Bank Indonesia. Dari data yang didapat menunjukkan bahwa jumlah bank di Indonesia terus mengalami penurunan setelah terjadinya krisis ekonomi pada tahun 1997. Pengurangan jumlah bank dilakukan pemerintah karena hampir sebagian besar bank yang berada di Indonesia tidak sehat, karena nilai CAR (Capital Adequacy Ratio) di bawah 8%. Berdasarkan laporan keuangan bank tahun 2005, kinerja perbankan di Indonesia pada tahun 2005 mengalami penurunan yang sangat signifikan. Hal ini dikarenakan terjadi penurunan laba perbankan sebesar 23,56% dan terjadi peningkatan nilai NPL (Non Performance Loan) dari 5,75% pada tahun 2004 menjadi 7,56% pada tahun 2005. Hasil analisis menunjukkan bahwa berdasarkan tingkat kesehatan keuangan perbankan, dari 25 bank yang telah go public di Indonesia pada tahun 2005 terdapat 21 bank yang termasuk dalam kategori bank sehat, tiga bank masuk ke dalam kategori cukup sehat, dan satu bank masuk ke dalam kategori tidak sehat. Total nilai kredit CAMEL tertinggi untuk tahun 2005 dicapai oleh Bank Central Asia dengan nilai 99,9% dan nilai terendah dialami oleh Bank Eksekutif Internasional dengan nilai 62,2%. Bank-bank pemerintah seperti Bank BNI dan Bank Mandiri menempati peringkat ke-23 dan ke-24 dan sekaligus termasuk dalam kategori cukup sehat. Rendahnya kinerja keuangan kedua bank tersebut diakibatkan oleh nilai kredit macet atau NPL yang dialami cukup tinggi yaitu sebesar 16,14% untuk Bank Mandiri dan 8,36% untuk Bank BNI. Tingginya nilai NPL tersebut menyebabkan kebutuhan akan dana untuk Penyisihan Penghapusan Aktiva Produktif (PPAP) semakin tinggi. Hal ini ditunjukkan oleh besar kecilnya nilai BDR. Buruknya kinerja Bank BNI dan Bank Mandiri dalam mengelola kredit pada tahun 2005 berdampak sangat besar pada kinerja keuangan perbankan secara umum, mengingat kedua bank tersebut merupakan bank yang memiliki modal besar dan volume pemberian kredit yang cukup tinggi. Bank Artha Graha dan Bank Agro Niaga memiliki total nilai kredit CAMEL yang sama yaitu sebesar 85,43% dan masuk ke dalam kategori Bank Sehat. Walaupun memiliki total nilai kredit CAMEL yang sama tetapi Bank Artha Graha memiliki nilai bobot CAMEL untuk BDR sebesar 18% sedangkan Bank Agro Niaga sebesar 12,29%, karena bobot CAMEL untuk BDR memiliki pengaruh terbesar dibandingkan dengan rasio lain selain CAR yaitu sebesar 25%, maka Bank Artha Graha menempai peringkat ke-15 dan Bank Agro Niaga menempati peringkat ke-16. Hal ini dikarenakan Bank Artha Graha memiliki nilai bobot CAMEL untuk BDR lebih besar dari Bank Agro Niaga. Berdasarkan ketentuan API, nilai NPL maksimum adalah sebesar 5%. Dari seluruh bank go public yang ada terdapat lima bank yang memiliki nilai NPL lebih besar dari 5%, yaitu : Bank Mandiri (16,14%), Bank Kesawan (11,07%), Bank Eksekutif Internasional (10,54%), Bank BNI (8,36%), dan Bank Victoria Internasional (6,03%). Bank Rakyat Indonesia (BRI) dengan strateginya yang lebih fokus memberikan kredit pada sektor UKM seharusnya memberikan dampak yang positif terhadap kualitas kredit yang diberikan dan dapat mengantarkan BRI ke peringkat atas. Kualitas kredit memiliki pengaruh yang cukup besar dalam perhitungan dengan metode CAMEL dan sektor UKM memberikan resiko kredit yang relatif lebih kecil dibandingkan dengan sektor lainnya. Tetapi pada tahun 2005 BRI hanya berada pada peringkat ke-14 dibawah Bank Danamon yang berada pada peringkat ke-13. Dari analisis Biplot, rasio keuangan yang memiliki hubungan positif adalah ROA dengan CAR atau LDR dan NPL dengan BDR atau CAD. Rasio keuangan yang memiliki hubungan negatif adalah rasio NPL, BDR, atau CAD dengan rasio ROA, dan rasio LDR atau CAR dengan rasio NCM atau BOPO. Sedangkan vektor yang tidak saling mempengaruhi adalah aset dengan vektor BOPO atau LDR. Berdasarkan posisi objek (bank), sebagian besar bank memiliki karakteristik rasio keuangan yang cenderung sama. Bank-bank yang memiliki karakteristik keuangan yang berbeda adalah Bank Mandiri, Bank BNI, Bank Ekpor Indonesia, dan Bank Eksekutif Internasional. Bank Mandiri dan Bank BNI memiliki modal yang relatif lebih besar dibandingkan dengan bank-bank lain dan mimiliki tingkat kredit bermasalah untuk tahun 2005 yang cukup tinggi. Bank Ekspor Indonesia searah dengan vektor LDR. Hal ini menunjukkan Bank Ekspor Indonesia memiliki nilai LDR yang sangat tinggi dan tingkat efisiensi yang sangat tinggi. Bank-bank go public di Indonesia secara umum telah siap menghadapi penerapan API, khususnya implementasi pilar pertama dalam pemenuhan modal minimum dan nilai CAR sebesar 8%. Penerapan pilar kedua yang lebih fokus pada implementasi BASEL II mendapat dukungan dari bank-bank go public dengan harapan implementasi diterapkan secara bertahap. Pilar ke enam API yang lebih fokus kepada perlindungan konsumen, mensyaratkan semua bank khususnya bank-bank go public wajib menjadi angggota LPS (Lembaga Penjamin Simpanan). Sebagai anggota LPS, bank akan dapat mengganti jumlah dana masyarakat yang disimpan di bank dengan ketentuan yang telah dibuat. Kenaikan nilai NPL yang sangat besar dari tahun 2004 ke tahun 2005 yang dialami Bank Mandiri dan Bank BNI menjadikan kedua bank tersebut ada pada peringkat bawah diantara semua bank go public. Bank Mandiri dan Bank BNI perlu melakukan langkah-langkah restrukturisasi perbankan, diantaranya adalah melakukan penurunan tingkat suku bunga kredit, perpanjangan jangka waktu tempo pembayaran kredit, pengurangan tunggakan bunga, penambahan fasilitas kredit, dan melakukan konversi kredit menjadi modal penyertaan sementara. Bank Century dan Bank Permata memiliki nilai CAR masing-masing sebesar 8,08% dan 9,8%. Nilai tersebut hampir tidak dapat memenuhi syarat minimum CAR yang ditentukan oleh BI sebesar 8%. Nilai CAR kedua bank tersebut selama tiga tahun terakhir cenderung menurun. Walaupun masuk ke dalam kategori bank yang sehat, kedua bank tersebut perlu melakukan strategi untuk mengantisifasi turunnya kembali nilai CAR untuk tahun 2006. Peningkatan CAR tidak harus selalu diatasi dengan melakukan merger dengan bank lain, tetapi juga dapat langsung dijual jika bank tersebut benar-benar lagi tidak dapat menambah modalnya. Hal ini dilakukan untuk menekan kerugian pemerintah seminimal mungkin. Jika bank terpaksa dijual, maka harus diyakinkan terlebih dahulu bahwa pembeli bank harus diberikan dua pilihan, pertama : jika tujuan pembelian bank untuk meneruskan bisnis bank (going concern) maka pembeli tersebut dalam waktu singkat (misalnya maksimum tiga bulan) wajib menyetorkan modal untuk memenuhi CAR minimum. Tetapi jika tujuan pembelian bank untuk melikuidasi maka diharapkan kinerja perbankan akan meningkat. Masyarakat sebagai pihak ketiga yang menyimpan dananya pada bank pada umumnya belum mengetahui secara jelas cara memilih bank yang baik. Banyak contoh bank yang tidak dapat mengembalikan simpanan masyarakat karena mengalami kebangkrutan. Nasabah harus dapat memilih bank yang sehat berdasarkan tingkat kesehatan keuangannya. Keterbatasan informasi yang didapat juga merupakan faktor yang menjadi hambatan masyarakat dalam mengetahui bank yang sehat. Bank yang baik dapat diketahui dari profil pimpinan bank yang mempunyai reputasi baik di bidang bisnis dan perbankan, penerapan GCG dalam manajemen operasional bank yang ditunjukkan dari implementasi indikator GCG, kualitas rasio keuangan yang baik (CAR, ROA, BOPO, NPL,dan LDR). Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa : dari 25 bank go public di Indonesia: berdasarkan metode CAMEL, 21 bank masuk dalam kategori Bank Sehat, 3 bank masuk dalam kategori Bank Cukup Sehat, dan 1 bank yang masuk dalam kategori Bank Kurang Sehat. Berdasarkan posisi objek (bank), sebagian besar bank memiliki karakteristik rasio keuangan yang cenderung sama. Bank-bank yang memiliki karakteristik keuangan yang berbeda adalah Bank Mandiri, Bank BNI, Bank Ekpor Indonesia, dan Bank Eksekutif Internasional. Bank-bank go public di Indonesia secara umum telah siap menghadapi penerapan API, khususnya implementasi pilar pertama dalam pemenuhan modal minimum dan nilai CAR sebesar 8%. Implementasi BASEL II dapat diterapkan secara bertahap (2005-2012). Berdasarkan hasil penelitian, maka disarankan untuk dilakukan penelitian lebih lanjut untuk memprediksi peluang kebangkrutan suatu bank dengan menggunakan metode CAMEL berdasarkan data rasio keuangan dan perlu penelitian lebih lanjut untuk tahun berikutnya, sehingga informasi kompetensi finansial dunia perbankan tetap akurat sesuai dengan kondisi keuangan perbankan yang terbaru.

Item Type: Thesis (Masters)
Uncontrolled Keywords: API, Bank, CAMEL, Finansial, Go Public, Kompetensi
Subjects: Manajemen Keuangan
Depositing User: Library
Date Deposited: 24 Dec 2011 05:40
Last Modified: 29 Dec 2014 04:38
URI: http://repository.sb.ipb.ac.id/id/eprint/130

Actions (login required)

View Item View Item