Analisis Penetapan Harga Pokok Produksi Benih dengan Metode Kultur Jaringan Menggunakan Activity-Based Costing pada PT Dafa Teknoagro Mandiri

Setyo Raharjo, Donny (2001) Analisis Penetapan Harga Pokok Produksi Benih dengan Metode Kultur Jaringan Menggunakan Activity-Based Costing pada PT Dafa Teknoagro Mandiri. Masters thesis, IPB.

[img]
Preview
PDF
R19-01b-Donny_Setyo_Rahardjo-Lembar_Pengesahan.pdf - Published Version

Download (471kB)
[img]
Preview
PDF
R19-01-Donny_Setyo_Rahardjo-Cover.pdf - Published Version

Download (266kB)
[img]
Preview
PDF
R19-02-Donny_Setyo_Rahardjo-Abstract.pdf - Published Version

Download (310kB)
[img]
Preview
PDF
R19-03-Donny_Setyo_Rahardjo-Ringkasan_Eksekutif.pdf - Published Version

Download (582kB)
[img]
Preview
PDF
R19-04-Donny_Setyo_Rahardjo-Daftar_Isi.pdf - Published Version

Download (570kB)
[img]
Preview
PDF
R19-05-Donny_Setyo_Rahardjo-Pendahuluan.pdf - Published Version

Download (658kB)
Official URL: http://elibrary.mb.ipb.ac.id

Abstract

A � RINGKASAN EKSEKUTIF DONNY.SETY0 RAHARJO, 2001. Analisis Penetapan Harga Pokok Produksi Benih dengan Metode Kultur Jaringan Menggunakan Activity-Based Costing pada PT Dafa Teknoagro Mandiri. Di bawah bimbingan HAMDANI M. SYAH dan BUNASOR SANIM. Usaha perbanyakan tanaman dengan menggunakan kultur jaringan merupakan usaha perbanyakan vegetatif tanaman yang dapat dikatakan masih baru. Kegunaan utama dari kultur jaringan adalah untuk mendapatkan tanaman baru dalam jumlah banyak dalam waktu yang relatif singkat, yang memiliki sifat fisiologi dan morfologi sama persis dengan tanaman induknya. Dari teknik kultur jaringan ini diharapkan akan diperoleh tanaman baru yang bersifat unggul. Perbanyakan tanaman secara besar-besaran sudah dibuktikan keberhasilannya pada perkebunan kelapa sawit dan tebu. Dengan cara kultur jaringan dapat dihasilkan klon suatu komoditas tanaman dalam waktu yang relatif cepat. PT Dafa Teknoagro Mandiri (PT DTM) merupakan salah satu perusahaan penghasil kultur jaringan yang dilakukan secara komersial. Sebagai perusahaan yang bergerak di dalam sistem agribisnis, terutama subsektor hulu, yaitu sarana produksi, PT DTM harus mampu untuk menyediakan bibit unggul dari tanaman yang berkualitas unggul. Penetapan harga pokok produksi dengan menggunakan pendekatan activity-based costing dilakukan untuk meningkatkan efisiensi dalam mengelola sumberdaya-sumberdaya maupun aktivitas-aktivitas yang berbeda- beda dalam tiap-tiap produknya. Produk yang dihasilkan oleh PT DTM terdiri dari berbagai jenis bibit tanaman yang berbeda, fase pertumbuhan yang berbeda, sehingga berdampak pada harga jual, keuntungan dan volume permintaan pasar terhadap masing- masing produk. PT DTM sebagai perusahaan yang berorientasi kepada komersialisasi teknik kultur jaringan, membutuhkan penentuan harga pokok produksi yang tepat agar mampu untuk tetap bersaing dan memperoleh laba. PT DTM selama ini memiliki permasalahan dalam menentukan harga pokok produksi dengan lebih akurat dan lebih tepat. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran umum aktivitas proses produksi PT DTM sebagai dasar perhitungan harga pokok dengan menggunakan metode activity based costing dan meninjau penetapan harga pokok produksi yang dilakukan oleh perusahaan dan menghitung harga pokok produksi dengan menggunakan metode activity-based costing serta membandingkannya dengan penentuan harga pokok yang dilakukan oleh perusahaan. Selain itu diharapkan berguna sebagai bahan masukan manajemen perusahaan, membantu perusahaan menyediakan informasi untuk menunjang upaya efisiensi produksi dan meningkatkan kemampuan dalam persaingan. Ruang lingkup penelitian dalam merencanakan proses produksi di PT DTM dibatasi pada kelompok tanaman anggrek, jati, kentang dan pisang. Kelompok tanaman ini merupakan produk utarna perusahaan yang dianggap mampu menghasilkan keuntungan optimal. Pembibitan tanaman anggrek dan kentang diperbanyak untuk dijual sampai pada tingkat planlet. Sedangkan jati dan pisang dijual sudah dalam bentuk bibit yang siap untuk ditanam. Analisis yang akan dilakukan dibatasi pada penentuan harga pokok, baik dengan menggunakan metode activity-based costing dan membandingkannya dengan metode yang selama ini digunakan oleh perusahaan, memberikan analisis � penentuan tarif yang tepat agar perusahaan dapat mengefisienkan usaha produksinya. Metode analisis data menggunakan data historis perusahaan. Dari data yang dikumpulkan akan dilakukan pengorganisasian, inventarisasi dan tabulasi untuk kemudian dilakukan analisis aktivitas dengan metode activity-based costing. Penelitian yang dilakukan berdasarkan metode activity-based costing akan mengalokasikan biaya overhead atau biaya tidak langsung berdasarkan banyak pemacyu biaya (cost driver). Penentuan harga pokok produksi berdasarkan activity-based costing melibatkan dua tahap, tahap pertama akan menghasilkan penentuan tarif kelornpok (pool rate) yang disirnbolkan dengan tarif per per pemacu biaya, pada tahap kedua akan dihasilkan biaya yang dibebankan dengan mengalikan tarif kelompok dengan unit-unit pemacu biaya yang digunakan. Dengan menggunakan data tahun 2000, ternyata produksi anggrek adalah 625 plantlet atau 125 botol, jati 18.500 plantlet atau 3.700 botol, kentang 108.000.plantlet atau 18.000 botol dan pisang 13.500 plantlet atau 4.500 botol. Proses produksi yang dilakukan dibagi menjadi 4 tahap, tahap 1 adalah tahap persiapan dengan aktivitas formulasi media, pemasakan, penuangan, sterilisasi media dan sterilisasi botol, tahap 2 adalah tahap subkultur dengan aktivitas inisiasi dari mother plant, sterilisasi bahan tanam, penanaman dan pertumbuhan awal, tahap 3 adalah tahap optimalisasi dengan aktivitas optimalisasi dan pemindahan ke media baru, dan tahap 4 adalah tahap aklimatisasi dengan aktivitas aklimatisasi dan nursery. Untuk tenaga kerja langsung, digunakan tenaga kerja pembuat media, tenaga kerja sterilisasi, asisten laboratorium, staf laboran dan petugas aklimatisasi. Sedangkan yang termasuk tenaga kerja tidak langsung adalah direktur utama, kepala laboratorium, staf ahli, petugas kebersihan, akuntan dan staf umum kantor. Dengan menggunakan metode penentuan harga pokok yang digunakan oleh perusahaan, maka harga pokok produksi per unit plantlet anggrek adalah Rp 4.900,- untuk harga pokok produksi per unit bibit jati adalah Rp 7.100,- harga pokok produksi per unit plantlet kentang adalah Rp 500,- dan harga pokok produksi per unit bibit pisang adalah Rp 1.900,-. Perhitungan harga pokok produksi berbasis aktivitas di PT DTM ditetapkan berdasarkan pemacu biaya jam peralatan yang digunakan, jam kerja karyawan langsung, konsumsi kilowatt hour, unit yang diproduksi, jumlah karyawan, luas bangunan dan jam konsumsi gas. Biaya bahan baku yang digunakan adalah bahan kimia, bahan penanaman dan bahan penolong. Bahan kimia adalah larutan kimia yang dipergunakan sebagai media pertumbuhan plantlet, namun dengan pertimbangan kerahasiaan formula oleh perusahaan, maka komposisi bahan kimia tersebut tidak dapat ditampilkan dalam tulisan ini. Bahan penanaman yang digunakan adalah spiritus, alkohol dan amoxylin. Bahan penolong yang digunakan adalah plastik, karet, gas dan kertas pH. Biaya bahan baku anggrek Rp 500,- jati Rp 1.788,- kentang Rp 413,- dan pisang Rp 934,-. Biaya tenaga kerja per produk untuk anggrek adalah Rp 97,- untuk jati Rp 162,- untuk kentang Rp 95,- dan untuk pisang Rp 167,-. Sedangkan untuk biaya overhead per unit produk yang dibebankan menggunakan metode activity-based costing untuk anggrek adalah Rp 18.795,- untuk jati Rp 1.657,- untuk Rp 336,- dan untuk pisang adalah Rp 2.028,-. Sehingga total harga pokok produksi per produk dengan menggunakan metode activity-based costing untuk anggrek Rp 19.392,- untuk jati Rp 3.607,- untuk kentang Rp 844,- dan untuk pisang Rp 3.129,-. PT DTM berproduksi atas dasar pesanan dan perhitungan harga pokok produksi perusahaan berdasarkan perbandingan antara bahan kimia dan upah tenaga kerja langsung terhadap listrik. Pembebanan yang dilakukan oleh � perusahaan terhadap biaya overhead terlalu rendah karena perusahaan hanya menghitung biaya energi listrik saja sebagai komponen biaya overhead. Dengan menggunakan metode activity-based costing, biaya overhead yang dibebankan menjadi jauh lebih besar karena komponen biaya overhead yang diperhitungkan rnenjadi lebih banyak. Beberapa harga pokok produk yang selama ini dibebankan oleh perusahaan ternyata ternyata lebih rendah daripada perhitungan dengan menggunakan metode berbasis aktivitas. Perusahaan banyak tidak menghitung a biaya-biaya yang tidak dikeluarkan secara tunai, terutama biaya penyusutan alat- alat laboratorium dan biaya penyusutan bangunan gedung laboratorium yang mengkonsumsi sumber daya tidak langsung yang besar. Pada proposal pendirian perusahaan biaya penyusutan memang disebutkan, akan tetapi biaya ini oleh perusahaan tidak dibebankan sebagai bagian dari biaya operasional, melainkan sebagai bagian dari biaya periodik yang dibebankan dalam perhitungan laporan rugi laba pada setiap akhir periode. Selain biaya penyusutan, biaya yang tidak diperhitungkan oleh perusahaan sebagai bagian dari harga pokok adalah biaya tenaga kerja tidak langsung. Dalam perhitungan harga pokok produksi metode perusahaan, biaya yang diperhitungkan hanya biaya tenaga kerja langsung yang diasumsikan biayanya per botol. Sedangkan dalam perhitungan harga pokok berbasis aktivitas biaya tenaga kerja tidak langsung ini juga dihitung sebagai bagian dari harga pokok produksi. Berdasarkan hasil perhitungan harga pokok produksi berbasis aktivitas sebagai tolok ukur, maka diketahui bahwa perhitungan dengan menggunakan metode perusahaan terdapat tiga produk yang diproduksi yaitu anggrek, kentang dan pisang dibebankan terlalu rendah (undercost) dan untuk jati dibebankan terlalu tinggi (overcost). Secara umum produk-produk yang undercost berdasarkan perhitungan dengan menggunakan metode perusahaan akan menghasilkan laba kotor yang lebih besar daripada hasil dari perhitungan dengan berbasis aktivitas. Laba kotor ini sebenarnya bukan merupakan laba yang sebenarnya atau laba semu, karena dalam perhitungan akhir periode akan terlihat bahwasanya biaya-biaya yang tidak diperhitungkan secara langsung dalam perhitungan harga pokok produksi oleh perusahaan akan membebankan biaya yang besar pada perusahaan. Perusahaan berproduksi berdasarkan pesanan, oleh karena itu disarankan agar dalam melakukan pencatatan atau pembukuan dilakukan berdasarkan pesanan. Dengan demikian perusahaan dapat mengetahui dan memantau harga pokok produksi, tingkat pembebanan biaya dan barang dalam proses setiap pesanan. Perhitungan dengan menggunakan metode activity- based costing ini disarankan untuk dilakukan oleh perusahaan untuk masa-masa yang akan datang, ha1 ini mengingat perusahaan saat ini belum lama berdiri dan masih mencari pasar dengan harga yang kompetitif, selain itu penggunaan metode ini juga disarankan untuk jangka panjang perusahaan. Penggunaan metode activity-based costing sebaiknya dilakukan sebagai kontrol atas penetapan harga pokok yang selama ini dilakukan oleh perusahaan. �

Item Type: Thesis (Masters)
Uncontrolled Keywords: Kata Kunci harga pokok produksi, kultur jaringan, activity-based costing, plantlet, Dafa Teknoagro Mandiri, aktivitas.
Subjects: Manajemen Pemasaran
Divisions: Sekolah Bisnis > Perpustakaan
Depositing User: Staff-2 Perpustakaan
Date Deposited: 24 Mar 2014 07:56
Last Modified: 24 Mar 2014 07:56
URI: http://repository.sb.ipb.ac.id/id/eprint/1322

Actions (login required)

View Item View Item