ANALISIS PREFERENSI KONSUMEN TERHADAP PRODUK DODOL GARUT (STUDI KASUS PADA PD. CITRA)

Sunarya, Sri Yuliawati (2000) ANALISIS PREFERENSI KONSUMEN TERHADAP PRODUK DODOL GARUT (STUDI KASUS PADA PD. CITRA). Masters thesis, IPB.

[img]
Preview
PDF
R16-01b-Srie_Yuliawaty_Soenarya-Lembar_Pengesahan.pdf - Published Version

Download (455kB)
[img]
Preview
PDF
R16-01-Srie_Yuliawaty_Soenarya-Cover.pdf - Published Version

Download (281kB)
[img]
Preview
PDF
R16-03-Srie_Yuliawaty_Soenarya-Ringkasan_Eksekutif.pdf - Published Version

Download (572kB)
[img]
Preview
PDF
R16-04-Srie_Yuliawaty_Soenarya-Daftar_Isi.pdf - Published Version

Download (491kB)
[img]
Preview
PDF
R16-05-Srie_Yuliawaty_Soenarya-Pendahuluan.pdf - Published Version

Download (703kB)
Official URL: Http://elibrary.mb.ipb.ac.id

Abstract

SRIE YULIAWATY SOENARYA. Analisis Preferensi Konsumen Terhadap Produk Dodol Garut (Studi Kasus Pada PD. CITRA). Dibawah bimbingan UJANG SUMARWAN dan ANNY RATNAWATI. Dodol Garut adalah salah satu jenis produk makanan ringan semi basah khas dari daerah Garut di propinsi Jawa Barat. Jenis makanan ringan ini diolah secara ekstrusi terbuat dari bahan-bahan alami tanpa bahan pengawet seperti karbohidrat dan protein, bernutrisi tinggi, mempunyai tekstur yang halus, sifat produk yang liat, lunak, bentuknya unik, cita rasa dan aroma yang beragam serta dapat disimpan untuk jangka waktu tiga sampai empat bulan. Dodol Garut tidak dikonsumsi sebagai makanan utama atau lauk pauk, namun dikonsumsi sebagai produk makanan ringan praktis yang dapat dimakan setelah makan makanan utama, bekal di sekolah, di pejalanan, dan lain sebagainya. PD. CITRA adalah sebuah perusahaan yang bergerak di bidang pengolahan dodol Garut. Perusahaan ini sudah hampir 50 tahun menjalankan bisnisnya dalam memproduksi dan memasarkan produk dodol Garut dengan merek Citra, Manda, dan Fantasi. Namun demikian, perusahaan menilai bahwa produknya belum sepenuhnya dapat dipasarkan secara optimal. Salah satu penyebabnya adalah pola pemasaran yang saat ini dilakukan dirasakan masih kurang efektif. Perusahaan juga mengakui bahwa produk-produk yang dihasilkannya kurang dikenal dengan baik oleh konsumen dodol Garut, sementara persaingan di industri makanan ringan ini semakin ketat. Selain itu, perkembangan pemasaran produk dodol Garut dirasakan sangat lambat apabila dibandingkan dengan dengan jenis makanan ringan lainnya seperti biskuit, permen, coklat, dan snack. Dengan kondisi seperti ini, timbul suatu keinginan dari pihak manajemen PD. CITRA untuk menelaah masalah pemasaran dodol Garut yang diproduksinya. Permasalahan pemasaran tersebut menyangkut bagaimana sebenarrnya konsep produk dodol Garut yang sesuai dengan kebutuhan konsumen, pola membeli dan mengkonsumsi, serta strategi pemasaran yang tepat untuk jenis makanan ringan ini. Untuk membantu perusahaan dalam memecahkan permasalah ini,dilakukan suatu penelitian langsung berupa survai sikap pada konsumen dan pedagang dodol Garut. Tujuannya adalah untuk menganalisis sikap atau persepsi atas pilihan konsumen dalam membeli dan atau mengkonsumsi produk dodol Garut serta penilaian persepsi positif atau negatif terhadap atribut yang melekat pada produk tersebut. Selain itu, penelitian ini juga mengkaji faktor-faktor yang mempengaruhi konsumen dalam mengkonsumsi dodol Garut atau bagi pedagang dalam menjual produk tersebut. Hasil yang diperoleh dari penelitian ini direkomendasikan untuk pengembangan bauran pemasaran PD. CITRA. Metode penelitian yang digunakan adalah metode pendekatan deskriptif melalui studi kasus untuk bauran pemasaran perusahaan dan metode survai untuk menganalisis preferensi konsumen dan pedagang terhadap produk yang sedang diteliti. Sampel yang diambil untuk penelitian ini bejumlah 163 responden yang terdiri dari 49 responden pedagang dan 114 responden konsumen akhir. Jenis kelamin responden laki-laki dan perempuan, berusia antara 15-55 tahun, berpendidikan dari sekolah dasar hingga perguruan tinggi, dan berasal dari seluruh tingkatan kelas sosial, yaitu kelas bawah, menengah, dan atas. Penghasilan yang diperoleh pedagang berkisar antara Rp.500.000,- hingga Rp. 5.000.000,- setiap bulannya, sementara itu penghasilan untuk konsumen akhir berkisar antara Rp.250.000,-hingga lebih dari Rp. 1.000.000,-. Lokasi pengambilan sampeldilakukan di dua kota, yaitu Jakarta dan daerah sekitar kabupaten Garut. Jenis dan sumber data yang digunakan adalah data kuantitatif dan data kualitatif. Data kuantitatif terdiri dari kapasitas dan jumlah produksi dodol Garut,jumlah permintaan pasar, jumlah penjualan, jumlah biaya produksi, perhitungan laba, dan tingkat harga produk. Sedangkan data kualitatif yang dipakai berupa pernyataan perusahaan tentang misi dan tujuan, struktur perusahaan, strategi dan kegiatan pemasaran, daerah penjualan, spesifikasi dan atribut produk, serta data umum responden. Sesuai dengan tujuan penelitian, data responden dianalisis berdasarkan data demografi, dan penilaian atas preferensi konsumen serta pedagang menurut analisis Fishbein dan analisis Biplot. Dari data demografi diketahui bahwa sebagian besar pedagang dodol Garut yaitu 61.2% adalah laki-laki. Usia pedagang berkisar antara 33-50 tahun (69.4%), berpendidikan minimal SMU atau sederajat (46.9%), dan mempunyai penghasilan rata-rata lebih dari Rp.1.000.000,-per bulan (53.1%). Sementara itu, konsumen dodol Garut lebih banyak didominasi oleh konsumen berjenis kelamin perempuan (57.9%). Sebagian besar konsumen produk ini berusia antara 15-28 tahun (64%), berpendidikan minimal SiW atau sederajat (86%), dan responden berprofesi sebagai pelajar mahasiswa (47.4%), ibu rumah tangga (21. I%), dan pegawai (3 1.5%). Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi pedagang untuk menjual dodol Garut adalah produk dodol Garut itu sendiri, tingkat penjualan, dan tingkat keuntungan yang diperoleh cukup besar (penghasilan yang diperoleh minimal Rp 500.000). Sedangkan konsumen memutuskan untuk membeli atau mengkonsumsi dodol Garut karena produk tersebut memang menjadi salah satu makanan ringan yang dibutuhkan. Meskipun frekuensi pembelian dodol Garut tidak sesering makanan ringan lainnya seperti keripik, permen, snack, dan lain sebagainya, namun demikian produk dodol Garut akan tetap dicari oleh konsumen dan bahkan bagi konsumen loyal, produk dodol Garut ini sulit digantikan dengan produk makanan ringan lain. Selanjutnya, hasil pengolahan data dengan analisis Fishbein menunjukkan tentang preferensi konsumen dan pedagang terhadap atribut, evaluasi tingkat kepentingan atribut, dan kekuatan kepercayaaan terhadap atribut produk dodol Garut. Untuk responden pedagang, diketahui bahwa evaluasi tingkat kepentingan atribut yang dinilai tinggi adalah tingkat keuntungan (1.39), merek (1,37),tingkat penjualan (1.41), dan kemasan (1.29). Penilaian evaluasi ini ternyata berpengaruh positif dalam mendukung sikap dan kekuatan kepercayaan pedagang terhadap atribut-atribut tersebut. Dengan atribut-atribut pilihan seperti ini, para pedagang yakin untuk dapat terus menjual dodol Garut. Seperti halnya responden pedagang, evaluasi tingkat kepentingan keseluruhan atribut produk dodol Garut menurut konsumen adalah positif, namun konsumen lebih menekankan pada atribut cita rasa (1.58), kemasan (1.44), merk(1.39) kekenyalan (1.07), dan aroma (1.04) sebagai atribut terpenting yang harus melekat pada produk. Menurut konsumen, kelima atribut ini hams ada pada setiap produk dodol Garut, karena dengan atribut-atribut tersebut, produk dodol Garut dapat menyentuh rasa keinginan konsumen untuk mengkonsumsi produk ini. Produk dodol Garut yang dinilai paling populer baik oleh pedagang maupun konsumen adalah produk Picnic. Sedangkan tiga produk PD. CITRA yaitu Citra, Manda, dan Fantasi dinilai belurn dapat sepenuhnya mendobrak kepuasan konsumeii &dim1 mengkonsumsi, padahal kualitas produknya dinilai sudah cukup baik (skala penilaiannya berkisar antara 0 hingga +1). Hasil analisis Biplot pada umumnya mendukung pembahasan yang diperoleh dari analisis Fishbein. Pada analisis Biplot ini dijelaskan posisi relatif produk, atribut, dan kaitan diantara keduanya. Hasil penilaian matriks rataan data pedagang dan konsumen terhadap atribut-atribut pada produkpun serupa dengan hasil perhitungan Fishbein. Kedekatan atribut dengan produknya menunjukkan bahwa kekuatan dan keunggulan produk tersebut ada pada atribut didekatnya. Untuk produk Picnic, atribut yang menjadi keunggulan produk ini adalah cita rasa dan tekstur produk. Sedangkan posisi relatif produk PD. CITRA yaitu Citra, Manda, dan Fantasi lebih mendekati atribut harga, sehingga dapat dikatakan bahwa atribut harga untuk produk PD. CITRA adalah keunggulan dari produk yang dapat dipakai sebagai salah satu cara untuk memasarkan produknya. Dari keseluruhan hasil analisis responden baik dengan analisis demografi, analisis Fishbein, maupun analisis Biplot, diperoleh suatu gambaran keadaan produk dodol Garut PD. CITRA di mata konsumen dan pedagang. Kesan terhadap produk-produk tersebut memang belum tertanam dengan baik di benak konsumen. Untuk itu perusahaan perlu menanamkan kembali citra dan kesadaran konsumen terhadap produk-produk yang dihasilkannya. Berdasarkan hasil analisis ini pula, maka dibuat suatu rekomendasi strategi bauran pemasaran terutama yang menyangkut pengembangan produk, penetapan harga baru, cara promosi, dan sistem distribusi.

Item Type: Thesis (Masters)
Subjects: Manajemen Pemasaran
Divisions: Sekolah Bisnis > Perpustakaan
Depositing User: Staff-2 Perpustakaan
Date Deposited: 17 Mar 2012 15:09
Last Modified: 17 Mar 2012 15:09
URI: http://repository.sb.ipb.ac.id/id/eprint/1335

Actions (login required)

View Item View Item