Kajian Manajemen Teknologi dan Bisnis Usaha Pembesaran Ikan Kerapu Tikus, Studi Kasus Budidaya Ikan Kerapu dengan Keramba Jaring Apung oleh Nelayan Pasir Putih-Situbondo

Suswandi, Eddy (2001) Kajian Manajemen Teknologi dan Bisnis Usaha Pembesaran Ikan Kerapu Tikus, Studi Kasus Budidaya Ikan Kerapu dengan Keramba Jaring Apung oleh Nelayan Pasir Putih-Situbondo. Masters thesis, Institut Pertanian Bogor.

[img]
Preview
PDF
E3K-01-Eddy_Suswandy-cover.pdf

Download (1MB)
[img]
Preview
PDF
E3K-03-Eddy_Suswandy-RE.pdf

Download (2MB)
[img]
Preview
PDF
E3K-04-Eddy_Suswandy-DaISi.pdf

Download (1MB)
[img]
Preview
PDF
E3K-05-Eddy_Suswandy-Bab1.pdf

Download (2MB)
[img] PDF
E3K-06-Eddy_Suswandy-Bab2DST.pdf
Restricted to Repository staff only

Download (27MB)

Abstract

Wilayah laut dewasa ini mendapat perhatian cukup besar dari Pemerintah dan masyarakat, ha1 tersebut karena potensi laut diyakini dapat memberikan kontribusi dalam peningkatan ekonomi rakyat. Pembangunan sektor kelautan memerlukan dukungan teknologi, sumber daya manusia yang trampil dan ketersediaan dana. Pemanfaatan wilayah laut tidak saja dimonopoli oleh usaha besar akan tetapi termasuk usaha kecil, dimana nelayan masuk dalam kategori tersebut. Masyarakat nelayan sebagai kelompok yang paling dekat dengan laut masih kurang mendapat keuntungan maksimal dan bahkan pada umumnya berada pada garis kemiskinan. Identifikasi masalah dari penelitian ini adalah kondisi ekonomi nelayan yang pada umumnya tertinggal, disebabkan : (1) Kurangnya pengetahuan yang dimiliki, (2)Lemahnya akses informasi, (3) Teknologi yang belum banyak menyentuh usaha nelayan, (4) Lemahnya akses kepada sumber dana (modal). Berdasarkan identifikasi tersebut, maka rurnusan masalah adalah : (a) Bagaimana memanfaatkan sumber daya alam yang tersedia secara maksimal dan berkesinambungan melalui usaha kecil dengan menggunakan strategi teknologi yang dapat diusahakan oleh nelayan serta memberikan keuntungan ekonomi melalui pemilihan komoditi, (b) Menghitung besaran dukungan serta model pembiayaan yang sesuai dengan kondisi usaha nelayan sehingga memberikan manfaat bagi semua pihak. Tujuan penelitian ini adalah pengkajian usaha pembesaran ikan Kerapu oleh nelayan Pasir Putih-Situbondo, antara lain : (1) Melakukan peuilaian aspek teknologi terhadap budidaya pembesaran ikan kerapu di keramba jaring apung, (2) Merumuskan besaran minimal usaha budidaya yang dapat diusahakan nelayan, (3) Altematif pemenuhan pembiayaan. Manfaat penelitian diharapkan dapat digunakan oleh nelayan dengan kemampuan pemanfaatan teknologi yang tepat, melalui pemilihan jenis komoditi yang memiliki nilai ekonomis tinggi serta memberikan gambaran dan keyakinan usaha bagi lembaga pembiayaan ataupun investor yang tertarik mengembangkan usaha ini sekaligus memberdayakan nelayan. Ruang lingkup penelitian adalah kajian terhadap usaha pembesaran ikan Kerapu Tikus dengan teknologi keramba jaring apung serta hitungan dukungan pembiayaan dan alternatif pembiayaan pada nelayan di Pasir Putih Situbondo. Penelitian dilakukan di Pasir Putih-Situbondo, dari bulan Juni sampai dengan Juli 2001, dengan melakukan wawancara dan kuisioner kepada pembeli (ekportir) pada saat panen raya 15 Juli 2001 dan pendalaman masalah bersama staf dari Balai Budidaya Air Payau Situbondo. Data yang digunakan terdiri dari data primer hasil kuisioner dan wawancara serta pengamatan langsung dan data sekunder dari instansi terkait. Analisis data mencakup analisa internal dan eksternal , dengan memberi nilai terhadap faktor penentu menggunakan metode comparaison " (Kinnear and Taylor, 1991), selanjutnya ditentukan ranking dan skoring. Analisa komponen teknologi dilakukan terhadap indikator transformasi teknologi meliputi Technoware, Humanware, Infoware dun Orgaware (THIO) yang bertujuan untuk menilai kesenjangan teknologi saat ini dengan yang diharapkan dapat dicapai nelayan Kerapu. Analisa indikator kamampuan teknologi untuk menilai kemampuan Operatif, Pendukung Teknologi, Akuisitive dan Inovatif, dengan peringkat penilaian : (5) terbaik di Indonesia untuk usaha sejenis, (4) Sebanding dengan usaha sejenis di Indonesia, (3) Terbaik di Jawa Timur untuk usaha sejenis, (2) Sebanding dengan usaha sejenis di Jawa Timur, (1) Dibawah rata-rata usaha sejenis (0) Tidak memiliki kemampuan (Nawaz Sharif & Ramanathan, 1993). Selain itu dilakukan penghitungan terhadap kebutuhan modal kerja dan investasi yang dinilai ekonomis untuk skala usaha kecil. Analisa faktor internal , menunjukkan bahwa usaha pembesaran Kerapu oleh nelayan Pasir Putih-Situbondo merespon kekuatan (1.544) lebih besar dari kelemahan (1.326). Identifikasi variabel kekuatan antara lain : (a) Lokasi usaha (0.712), (b) Nilai komoditas (0.342), (c) Dukungan dan penerapan teknologi (0.231) serta (d) Ketersediaan SDM, ha1 tersebut menunjukkan bahwa usaha pembesaran ini didukung oleh lokasi usaha yang baik, dekat dengan akses jalan raya, dekat dengan lokasi penelitian Kerapu serta daya tarik nilai jual Kerapu yang relatif tinggi. Identifikasi variabel kelemahan terdiri dari : (a) Sarana & Kapasitas Produksi (0.304), (b) Pembinaan & Pengembangan Usaha (0.274) (c) Modal Kerja & Investasi (0.512), (d) Kemampuan Teknis Pekerja (0.235), kelemahan usaha pembesaran oleh nelayan ini terletak pada ketersediaan dana yang secara langsung mempengaruhi sarana dan kapasitas produksi, disamping pembinaan dan pengembangan usaha yang lemah. Analisa faktor eksternal , menunjukkan bahwa usaha pembesaran Kerapu merespon peluang (1.342) lebih besar dari ancaman (1.339). Identifikasi variabel peluang antara lain : (a) Pasar ekspor (0.508), (b) Jaringan pasar dalam negeri (0.263), (c) Perkembangan Teknologi (0.332) dan (d) kebijakan Pemerintah (0.239), ha1 tersebut mennjukkan bahwa usaha ini memiliki peluang terutama adanya permintaan pasar ekspor, jaringan pasar dalam negeri sehingga tidak kesulitan bagi nelayan untuk memasarkan, perkembangan teknologi melalui berbagai penelitian dan forum serta kebijakan pemerintah dalam pembangunan sektor kelautan. Identifikasi variabel ancaman meliputi : (a) Stabilitas harga (0.223), (b) Harga benih dan pakan (0.351), (c) Pencemaran laut (0.439) dan (d) Kondisi Pol-Sos-Kam yang tidak menentu, terlihat bahwa ancaman usaha ini datang dari adanya pencemaran laut, hal ini sangat wajar karena pembesaran Kerapu membutuhkan kondisi air laut yang baik, disamping itu ancaman lain adalah dari kondisi sosial dan keamanan yang belum sepenuhnya stabil serta kekhawatiran meningkatnya harga benih dan pakan. Pengkajian perangkat Teknologi (technoware), hasil yang didapat dengan menggunakan Program Minitab Ver. 1.1 untuk pengujian Mann-Whitney menunjukkan bahwa perangkat teknologi nelayan pembesaran Kerapu di Pasir Putih Situbondo memiliki median 3 yang berarti kecanggihan perangkat teknologi berkisar antara manual dan serbaguna, sedangkan nilai harapan adalah 4 yaitu mengharapkan adanya mesin khusus. Dengan probabilitas 0.0135 pada taraf nyata 0.05 maka kondisi tingkat kecanggihan perangkat teknologi nelayan pembesaran Kerapu tidak sama dengan kondisi yang diharapkan. Pengkajian perangkat Manusia (Humanware), hasil yang didapat dengan menggunakan Program Minitab Ver. 1.1 untuk pengujian Mann- Whitney menunjukkan bahwa perangkat manusia nelayan pembesaran Kerapu di Pasir Putih Situbondo memiliki median 3.4 yang berarti kemampuan perangkat manusia sampai pada taraf memperbaiki, setting dan mengoperasikan, sedangkan nilai harapan adalah 5.5 yaitu mengharapkan perangkat manusia yang berada pada taraf mengadaptasi dan mereproduksi teknologi budidaya Kerapu. Dengan probabilitas 0.0408 pada taraf nyata 0.05 menunjukkan kemampuan manusia berbeda nyata dengan kemampuan yang diharapkan. Pengkajian perangkat Informasi (Infoware), hasil yang didapat dengan menggunakan Program Minitab Ver. 1.1 untuk pengujian Mann- Whitney menunjukkan bahwa perangkat informasi nelavan pembesaran Kerapu di Pasir Putih Situbondo memiliki median 3.4 yang berarti nelayan Kerapu telah mampu untuk mengenal, menerangkan dan menspesifikasikan fakta, sedangkan nilai harapan adalah 5 yaitu mengharapkan perangkat informasi yang dapat menggunakan dan memahami fakta untuk digunakan dalam peningkatan usaha. Dengan probabilitas 0.0256 pada taraf nyata 0.05 menunjukkan kemampuan perangkat informasi nelayan berbeda nyata dengan kemampuan yang diharapkan. Pengkajian perangkat Organisasi (orgaware), hasil yang didapat dengan menggunakan program Minitab Ver. 1.1 pengujian Mann-Whitney menunjukkan bahwa perangkat organisasi nelayan pembesaran Kerapu di Pasir Putih Situbondo memiliki median 3.4 yang berarti bahwa pola kerja nelayan Kerapu berada pada tingkatan menetapkan dan menciptakan pola kerja baru, sedangkan nilai harapan adalah 6 yaitu organisasi yang melindungi dan mestabilkan pola kerja. Dengan probabilitas 5.0228 pada taraf nyata 0.05 menunjukkan bahwa organisasi nelayan berbeda nyata dengan organisasi yang diharapkan. Kemampuan Teknologi. Hasil penilaian kemampuan teknologi nelayan Kerapu Pasir Putih Situbondo menunjukkan kemampuan memiliki nilai median 2,9 yang berarti usaha pembesaran yang ada mendekati kemampuan terbaik di daerah Jawa Timur, sedangkan nilai yang diharapkan adalah 4.5 atau sebanding dengan usaha sejenis dan menuju kepada terbaik di Indonesia. Dari hasil pengujian Mann-Whitney diperoleh probabilitas 0.0275 pada taraf nyata 0.05 sehingga kemampuan teknologi yang dimiliki tidak sesuai dengan hasil yang diharapkan. Disamping itu dilakukan juga pengujian Chi-Square yang melihat keterkaitan antara indikator transformasi dan kemampuan teknologi, dengan menghasilkan nilai hitung XZ hitung = 0.157 sedangkan nilai X2 tabel pada derajad bebas (df)=9 sebesar 16,919, maka indikator transformasi teknologi dan indikator kemampuan teknologi nelayan Kerapu Pasir Putih Situbondo bersifat bebas (independent) tidak saling mempengaruhi. Kemampuan Operatif (operative capability), pengkajian didasarkan pada kemampuan nelayan dalam menyiapkan keramba jaring apung, benih dan pakan, pemeliharaan dan panen serta penyediaan sarana pendukung. Penilaian kemampuan operatif nelayan Kerapu berada pada posisi 3,6 yang berarti terbaik di Jawa Timur dan mendekati sebanding dengan usaha sejenis di Indonesia, dengan daerah pembanding adalah usaha sejenis di Banyuwangi, Lampung dan Serang, sedangkan nilai yang diharapkan adalah 5 atau terbaik di Indonesia. Kemampuan Akuisitif (Acquisitive Capability) bertujuan untuk melihat kemampuan nelayan Kerapu melakukan studi rekayasa, mengidentifikasi sumber teknologi secara mandiri, mengkaji parameter proses dan penawaran teknologi serta kemampuan negosiasi teknologi. Penilaian terhadap kemampuan akuisitif adalah 2,8 atau mendekati kemampuan terbaik di Jawa Timur sedangkan nilai yang diharapkan adalah 4, ha1 ini diharapkan dapat terwujud dengan bantuan Balai Budidaya Air payau Situbondo. Kemampuan Suportif (Supportive Capability), didasarkan pada kemampuan usaha, pengembangan sumberdaya manusia, mendapatkan dana dan mengidentifikasi pasar bagi produk yang dihasilkan. Penilaian terhadap kemampuan suportif nelayan Kerapu dinilai 2,8 yang berarti mengarah kepada kondisi terbaik di Jawa Timur, sedangkan nilai yang diharapkan adalah 4 sebanding dengan usaha sejenis di Indonesia. Kemampuan inovatif (lnnovative capability), didasarkan pada kemampuan mengadaptasi, menduplikasi, melaksanakan pembahan kecil dan inti yang bertujuan untuk pengembangan usaha. Penilaian inovatif nelayan masih cukup lemah namun apabila dibandingkan dengan usaha sejenis di Jawa Timur maka nelayan Kerapu Pasir Putih Situbondo memiliki nilai 3 atau terbaik di Jawa Timur, hal ini adalah dampak pembinaan dari Balai Budidaya Air Payau, sedangkan nilai yang diharapkan adalah 4,5. Analisa besaran usaha pembesaran Kerapu Tikus yang minimal dapat diusahakan oleh nelayan dengan asumsi harga Jual Rp. 320.000 / kg, survival rate 40 %, tingkat bunga 18 % dan lainnya, diperoleh hasil perhitungan : (1) Jumlah benih 2500 ekor (2) Investasi keramba Rp. 27.597.500, (3) Biaya tetap Rp. 49.459.750 Biaya tidak tetap Rp. 39.760.000 (5) Hasil panen Rp. 160.000.000 (6) Pinjaman Rp. 120.000.000 (7) Laba bersih/siklus Rp. 41.401.238 ,- (8) pay back period 0.78 tahun (9) Pengembalian pinjaman 3,4 tahun (10) Net Present value (18%) Rp. 41.018.227 (11) Interest rate of return 29,31 %. Berdasarkan identifikasi faktor internal dan eksternal , analisa manajemen teknologi serta analisa dukungan pembiayaan, maka penerapan strategi teknologi dan bisnis berada pada Strategi pemanfaatan teknologi (technology exploiter strategy) dan strategi unggul harga dengan pertimbangan (a) Teknologi keramba jaring apung adalah teknologi standar, (b) Dukungan alam memungkinkan usaha ini berjalan, (c) Ketersediaan benih dapat diatasi dengan adanya budidaya benih di sekitar lokasi, (d) Kualitas hasil panen Kerapu baik. Dalam jangka pendek nelayan Kerapu perlu mengupayakan perbaikan metode pembesaran yang baik sehingga dapat meningkatkan mutu dan berada pada strategi bisnis unggul mutu, sedangkan dalam jangka panjang diusahakan untuk menyempurnakan tehnologi sehingga dapat menghasilkan Kerapu yang terbaik dan unggul pada segmen pasar. Berdasarkan analisa pembiayaan, maka altematif pemenuhan pembiayaan sebagi modal investasi dan kerja dapat diperoleh dari lembaga pembiayaan, ventura atau dana usaha kecil dan koperasi, namun dengan pertimbangan kondisi nelayan dan lokasi, maka sumber yang kemungkinan besar dapat dimanfaatkan adalah dana usaha kecil & koperasi yang berasal dari BUMN. Dalam pelaksanaan pembiayaan perlu dijalin kerjasama antara lembaga pendamping, nelayan dan BUMN, ha1 ini dimaksudkan untuk memperoleh manfaat sebesar-besarnya bagi semua pihak yang terkait. Berlandaskan semangat memberdayakan nelayan dan usaha kecil, maka saran yang diajukan antara lain : (1) Lembaga pembina, Eksportir dan Lembaga pembiayaan/BUMN bekerja sama untuk melakukan pembinaan kepada nelayan (2) Lembaga pembina melakukan seleksi terhadap nelayan yang memiliki potensi usaha ' (3) Lembaga pembina bersama lembaga pembiayaan/BUMN melaksanakan pelatihan awal yang berkaitan dengan usaha tersebut (4) Nelayan yang layak dapat dibiayai dengan pembinaan dari lembaga pembina. (5) Eksportir menjamin pembelian dan memasarkan hasil pembesaran yang dilakukan oleh nelayan. Dengan adanya kejasama dari semua pihak dan menciptakan saling ketergantungan positip maka usaha ini dapat dikembangkan sekaligus menjadi lapangan kerja baru nelayan.

Item Type: Thesis (Masters)
Uncontrolled Keywords: Kerapu tikus, Nelayan Pasir Putih Situbondo, Balai Budi Daya Air Payau Situbondo, Manajemen Teknologi, Identifikasi Faktor Internal - Eksternal, Studi kasus, Pembinaan usaha kecil & koperasi.
Subjects: Manajemen Teknologi
Divisions: Sekolah Bisnis > Perpustakaan
Depositing User: Staff-1 Perpustakaan
Date Deposited: 27 Jan 2012 02:16
Last Modified: 27 Jan 2012 02:16
URI: http://repository.sb.ipb.ac.id/id/eprint/1379

Actions (login required)

View Item View Item