Strategi Pengembangan Agribisnis Sapi Potong di Kawasan Sentra Produksi Koto Hilalang, Kabupaten Agam, Propinsi Sumatera Barat

Noer TA, Firman (2002) Strategi Pengembangan Agribisnis Sapi Potong di Kawasan Sentra Produksi Koto Hilalang, Kabupaten Agam, Propinsi Sumatera Barat. Masters thesis, Institut Pertanian Bogor.

[img]
Preview
PDF
r21-01-firman_noer-cover.pdf

Download (362kB)
[img]
Preview
PDF
r21-02-firman_noer-abstrak.pdf

Download (252kB)
[img]
Preview
PDF
r21-03-firman_noer-ringkasan_eksekutif.pdf

Download (407kB)
[img]
Preview
PDF
r21-04-firman_noer-daftar_isi.pdf

Download (324kB)
[img]
Preview
PDF
r21-05-firman_noer-pendahuluan.pdf

Download (436kB)
[img] PDF
img-210114212.pdf
Restricted to Repository staff only

Download (1MB)
[img] PDF
img-210114417.pdf
Restricted to Repository staff only

Download (1MB)
[img] PDF
img-210114620.pdf
Restricted to Repository staff only

Download (1MB)

Abstract

Pelaksanaan Undang Undang Otonomi Daerah dan Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah merupakan proses desentralisasi pembangunan yang berlaku sejak tahun 2001. Sesuai dengan tuntutan kedua undang-undang tersebut, maka pelaksanaan pembangunan yang diserahkan dan dikelola oleh daerah kabupatenlkota perlu terus ditingkatkan dengan pendekatan pengembangan wilayah secara efisien dan efektif dalam memanfaatkan sumberdaya dan sumber dana pembangunan. Propinsi Sumatera Barat sudah lama melaksanakan otonom dalam pembangunan dengan sistem Pemerintahan Nagari sebelum diberlakukan pemerintahan desa/kelurahan tahun 1979. Sejak diberlakukan otonomi daerah tahun 2001, maka seluruh kabupaten di Sumatera Barat menindaklanjuti ketetapan Peraturan Daerah Nomor 9 Tahun 2000 tentang Ketentuan Pokok Pemerintahan Nagari. Gubemur Sumatera Barat pada tahun 1974 telah mengukuhkan sebanyak 73 nagari di Kabupaten Agam. Sekarang dengan kebijakan otonomi daerah Pemerintah Kabupaten Agam menindaklanjuti kembali Pemerintahan Nagari dan tercantum pada Lembaran Daerah Kabupaten Agam Nomor 31 Tahun 2001 dan diundangkan tanggal 13 Agustus 2001. Sebagai suatu masyarakat hukum yang memiliki kewenangan untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat berdasarkan asal usul dan adat istiadat setempat yang diakui dalam Sistem Pemerintahan Nasional dan berada di daerah Kabupaten, dalam ha1 ini khusus bagi Sumatera Barat nama yang cocok dan dipakai adalah disebut dengan Nagari. Nagari mempakan wadah untuk menampung dan mewujudkan aspirasi masyarakat dalam mengembangkan kehidupan masyarakat sesuai dengan "Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah". Propinsi Sumatera Barat dengan keterbatasan sumber daya lahan, diperlukan penataan dan perencanaan lahan yang baik, serta pemanfaatan sumberdaya lahan lainnya untuk lahan pertanian tanaman pangan, peternakan dan perikanan dijadikan sebagai sentra komoditi unggulan daerah setempat dapat meningkatkan perekonomian masyarakat dalam rangka pemberdayaan ekonomi rakyat. Pembangunan di sektor pertanian, tentu akan memberikan dampak terhadap keseimbangan pembangunan .di sektor lainnya. Untuk mengimbangi dampak negatif akibat perkernbangan sub sektor tersebut dengan sektor lainnya dalam penggunaan ruang perlu .perenCanaan yang strategi yang saling mendukung dan.memberikan identitas unggulan dari suatu wilayah. Salah satu bentuk perencanaan ruang strategis yang diharapkan dapat mendorong perepatan produksi di sektor .pertanian dengan pengembangan wilayah adalah Pengembangan Kawasan Sentra Produksi (P-KSP) yang mampu menjadi wadah dalam aspek keterpaduan fungsional yang memadukan berbagai kegiatan dan antar sektor secara fungsional dari hulu ke hilir. Pemerintah Propinsi Sumatera Barat telah mengembangkan salah satu kawasan pada tahun 2000 berlokasi di Koto Hilalang, Kabupaten Agam yang diidentifikasi sebagai kawasan sentra pembibitan sapi Simmental yang terletak di Kecamatan IV Angkat Candung. Secara fungsional kawasan tersebut telah berkembang ke daerah sekitamya yang menjadi daerah pengembangan agribisnis sapi potong yaitu ke Kecamatan Tilatang Kamang dan Kecamatan Baso, dan bahkan merambat ke Bukittinggi, Kecamatan Salimpaung Kabupaten Tanah Datar serta sampai ke Batu Hampar Payakumbuh. Tidak tertutup kemungkinan secara fungsional meluas perkembangannya ke daerahdaerah lain. Jumlah sapi potong yang sempat menurun populasinya di Kabupaten Agam akhir tahun tahun 1999 dari 22.941 ekor, pada tahun 2000 kembali meningkat menjadi 24.655 ekor. Dari 11 kecamatan yang ada di Kabupaten Agam terdapat 3 kecamatan yang berdekatan dengan tingkat populasi sapi melebihi dari kecamatan lainnya, yaitu Kecamatan IV Angkat Candung, Tilatang Kamang dan Baso yang dijadikan pengembangan agribisnis sapi potong kawasan sentra produksi Koto Hilalang. Jumlah sapi potong di kawasan ini juga meningkat pada tahun 2000 tercatat 9.728 ekor, dimana tahun 1999 berjumlah 8.949 ekor. Otonomi daerah memberikan kewenangan kepada Pemerintah Kabupaten Agam terhadap kesinambungan pengembangan agribisnis sapi potong baik sebagai sentra pembibitan maupun penggemukan sapi di sentra produksi Koto Hilalang. Di kawasan pengembangan sentra produksi Koto Hilalang yang meliputi 3 kecamatan: Kecamatan IV Angkat Candung, Tilatang Kamang dan Baso terdapat 21 nagari. Untuk itu perlu perencanaan strategis yang perlu diteliti sejalan dengan kebijakan diberlakukan Pemerintah Nagari dari engembangan agribisnis sapi potong di kawasan sentra produksi Koto Hilalang. Dengan adanya perkembangan dunia usaha dan era perdagangan bebas, kawasan sentra produksi Koto Hilalang dituntut untuk dapat kompetitif di tengah persaingan yang ketat, dan sesuai dengan standar mutu internasional serta mampu beradaptasi terhadap perubahan lingkungan, oleh sebab itu perlu disusun formulasi strategi yang baik, sehingga mampu meningkatkan daya saing dan memberikan kesejahteraan bagi petani ternak kawasan yang berkelanjutan dalam jangka panjang. Tujuan penelitian ini adalah (1) Mengetahui tingkat keberhasilan peran pemerintah daerah dalam pengembangan kawasan Sentra Produksi Koto Hilalang Kabupaten Agam dijadikan sentra produksi sapi potong, (2) Mengetahui dan mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi pengembangan agribisnis sapi potong di Kawasan Sentra Produksi Koto Hilalang Kabupaten Agam, dan (3) Merumuskan dan merekomendasi irnplikasi strategi pengembangan agri isnis sapi potong yangcocok dan efektif serta diprioritaskan untuk diterapkan, dilihat dari berbagai aspek. Ruang lingkup pembahasan penelitian ini dibatasi penyusunan dan perumusan implikasi strategi yang tepat bagi kawasan sentra produksi Koto Hilalang. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah rnetode deskriptif dengan model pendekatan studi kasus. Penelitian ini menggunakan data-data primer dan sekunder yang dikategorikan menjadi datadata internal lingkungan dan eksternalrdi kawasan sentra produksi Koto Hilalang. Data lingkungan internal meliputi keadaan umum kawasan, potensi dan situasi perkembangan agribisnis sapi potong kawasan, kekuatan dan kelemahan fungsional kawasan, serta budaya setempat. Sedangkan data lingkungan ekstemal meliputi peran pemerintah, penggunaan dan pemanfaatan teknologi, demografi, ekonomi dan sosial budaya serta kondisi persaingan kawasan. Teknik pengambilan responden dilakukan melalui pengambilan sampel secara sengaja (purposive sampling), yaitu menentukan atau memilih secara sengaja sampel atau responden yang diminta untuk memberikan pendapat atau masukan. Responden yang dipilih adalah para pakar atau ahli, akademisi yang berkaitan atau berpengalarnan serta mernpunyai kemampuan memberikan penilaian terhadap elemen yang berpengaruh dalam pengembangan agribisnis sapi potong di kawasan sentra produksi Koto Hilalang. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan cara observasi langsung, wawancara, penyebaran kuisioner, dan studi pustaka. Tahapan yang dilakukan dalam analisis data adalah: (1) Analisis Gap untuk rnemperoleh perkembangan agribisnis sapi potong di kawasan, (2) Analisis Faktor Internal dan Eksternal untuk mengidentifikasi faktor-faktor internal dan eksternal yang berpengaruh bagi kawasan, (3) Analisis Matriks Evaluasi Faktor Internal dan Eksternal (IFE-EFE) untuk mengatahui faktor-faktor strategi internal dan eksternal yang paling berpengaruh, (4) Analisis Matrik SWOT untuk mengetahui alternatif-altematif strategi pengembangan agribisnis sapi potong di kawasan sentra produksi Koto Hilalang, (5). Analisis AHP untuk mengetahui peringkat alternatif strategi pengembangan agnb~sniss api potong di kawasan sentra produksi Koto Hilalang. Kawasan sentra produksi Koto Hilalang yang masuk dalam Kabupaten Agam, sesuai visi menjadi "Agam mandiri dan berprestasi yang madani" dan misi mengembangkan usaha ekonomi kerakyatan di sektor pertanian dan perkebunan yang bewawasan agribisnis dan agroindustri serta industri kecil (home industly) dengan basis komoditi unggulan yang rarnah lingkungan dan beronentasi pasar seiring dengan perubahan lingkungan kawasan dengan mengoptimalkan keunggulan yang dimiliki dan sejalan dengan rnisinya. Hasil analisis lingkungan internal mengidentifikasikan bahwa yang menjadi kekuatan kawasan sentra pengembangan produksi sapi potong Koto Hilalang adalah: (1) Ketersediaan pos IB, petugas inseminator dan besarnya minat peternak dengan IB, (2) Tersedia rumput unggul, lahan yang subur dan hasil sampingan produk tanaman pangan, (3) Kawasan dikenal sebagai sentra pembibitan sapi dan produksi sapi potong, (4) Tersedia sarana dan prasarana infrastruktur pendukung. Peluang-peluang yang dapat dimanfaatkan kawasan sentra produksi Koto Hilalang dalam mengembangkan agribisnis sapi potong dalarn analisis lingkungan ekstemal adalah: (1) Sinergi dengan program lain dan kebijakan pemerintahan nagari, (2) lnovasi teknologi pemotongan dan pengawetan hijauan makanan temak, (3) Terjaminnya tenaga kesehatan dan obat-obatan, (4) Akses langsung pada BIB, bibit sapi unggul dan inseminator dari kelompok peternak sapi, (5) Kemampuan peternak menaksir berat sapidan kuat dalam pemasaran, dan (6) Tambahan jumlah ternak sapi. Dengan mengkombinasikan matriks IFE, EFE dan matriks SWOT, maka dalam pengembangan agribisnis sapi potong di kawasan sentsa produksi Koto Hilalang diperoleh beberapa alternatif strategi, yaitu: strategi investasi/modal yang terus dikembangkan, strategi kerjasama memperkuat kelompok petemak sapi kawasan, strategi peningkatan teknologi peternak sapi di kawasan, strategi peningkatan posisi (bargaining position) peternak dan pemasaran sapi, dan strategi diversifikasi lahan rumput/HMT. Rekomendasi prioritas strategi dalam pengembangan agribisnis sapi potong di kawasan sentra produksi Koto Hilalang dari analisis AHP terhadap faktor-faktor prioritas penentu adalah: (1) Penguatan modal kelompok peternak, (2) Jarninan ketersediaan bibit sapi (18) yang diinginkan peternak, (3) Perbaikan pemasaran Zernak sapi yang tejamin. Faktor pelakulaktor prioritas yang berperan adalah: (1) Pihak lembaga keuangan, (2) Pihak pengusaha swasta, (3) lnstansi teknis terkait. Yang menjadi tujuan prioritas dilaksanakannya pengembangan agribisnis sapi potong di kawasan sentra produksi Koto Hilalang adalah: (1) Pengembangan dan perluasan usaha sapi potong, (2) Penguatan kelompok petemak sapi. Strategi yang prioritas dalam pengembangan agribisnis sapi potong di KSP Koto Hilalang adalah: (1) Investasi/modal usaha terus dikembangkan, (2) Ke rjasamalmemperkuat kelompok peternak sapi di kawasan sentra produksi Koto Hilalang. lmplikasi kebijakan prioritas strategi terhadap pengembangan invedasilmodal usaha adalah dengan melakukan pengembangan modal dalam usaha ternak sapi secara efisien dan efektif, promosi sebagai kawasan sentra produksi sapi bibit maupun potong, kerjasarna dengan pihak investorlpengusaha swasta dengan pola kemitraan. Sedangkan implikasi kebijakan prioritas strategi kerjasamalmemperkuat kelompok peternak sapi di kawasan sentra produksi Koto Hilalang adalah dengan mempersiapkan manajemen kelompok peternak sapi agar mandiri dan mempunyai badan usaha berbadan hukum. Saran bagi pengembangan agribisnis sapi potong di KSP Koto Hilalang hasil penelitian adalah: (1) Dalarn era otonomi daerah ini perlu koordinasi antara instansi di lingkungan Pemda Kabupaten Agam, khususnya Dinas Petemakan, Perikanan dan Kelautan (Dinas Pepeda) dengan Pemda Propinsi Sumatera Barat (Bappeda dan BKPMD Propinsi) sehubungan dengan beberapa kebijakan yang telah ditetapkan dalam mengembangkan komoditi unggulan, supaya ada kesamapandangan (satu visi) terhadap kawasan-kawasan yang betul-betul merupakan sentra produksi komoditi unggulan di suatu daerah, (2) Peran Pemerintahan Nagari di kawasan juga diikutsertakan dalam pengembangan agribisnis sapi potong, karena sebagian besar status tanah di kawasan adalah milik kaum (tanah ulayat), (3) Dalarn menghadapi persaingan dan pasar bebas pedu mengkaji lebih dalam dari potensi daerah lain yang memproduksi komoditi yang sama dari dalam dan luar propinsi.

Item Type: Thesis (Masters)
Uncontrolled Keywords: sapi potong, Kawasan Sentra Produksi Koto Hilalang, manajemen strategi, strategi pengembangan, analisis gap, Internal, eksternal, matrik IFE, EFE, SWOT, dan analisis AHP.
Subjects: Manajemen Strategi
Divisions: Sekolah Bisnis > Perpustakaan
Depositing User: Staff-7 Perpustakaan
Date Deposited: 09 Feb 2012 02:21
Last Modified: 09 Feb 2012 02:21
URI: http://repository.sb.ipb.ac.id/id/eprint/1402

Actions (login required)

View Item View Item