Pengaruh Business Model Sistem Inkubasi Terhadap Kinerja Inkubator Bisnis

Irawan Saban, Candra (2011) Pengaruh Business Model Sistem Inkubasi Terhadap Kinerja Inkubator Bisnis. Masters thesis, Institut Pertanian Bogor.

[img]
Preview
PDF
R42-01-Candra-Cover.pdf

Download (157kB)
[img]
Preview
PDF
R42-02-Candra-Abstrak.pdf

Download (76kB)
[img]
Preview
PDF
R42-03-Candra-RE.pdf

Download (98kB)
[img]
Preview
PDF
R42-04-Candra-Daftar_Isi.pdf

Download (88kB)
[img]
Preview
PDF
R42-05-Candra-Pendahuluan.pdf - Published Version

Download (108kB)
Official URL: http://elibrary.mb.ipb.ac.id

Abstract

CANDRA IRAWAN SABAN, 2011. Pengaruh Business Model Sistem Inkubasi Terhadap Kinerja Inkubator Bisnis. Di bawah bimbingan HADI K. PURWADARIA dan IDQAN FAHMI. Indonesia sebagai salah satu negara berkembang, sebagian besar perekonomiannya ditopang oleh sektor Usaha Kecil dan Menengah (UKM) serta Usaha Besar. Jumlah UKM Indonesia jauh lebih besar dibandingkan dengan Usaha Besar. Demikian pula tenaga kerja yang terlibat juga jauh lebih besar, sehingga peran UMKM sangat penting dalam menggerakkan ekonomi bangsa. UKM seringkali mengalami kendala didalam memulai suatu usaha atau mengembangkan usahanya terkait dengan kendala permodalan, akses pemasaran, teknologi. Inkubator Bisnis dan Teknologi (IBT) merupakan salah satu model alternatif pengembangan usaha melalui sistem inkubasi yang dapat membantu permasalahan yang dihadapi oleh pengusaha dalam rangka menciptakan dan menumbuhkan dunia usaha yang kuat, efisien, terutama bagi Usaha Kecil dan Menengah. Setiap inkubator bisnis dan teknologi di Indonesia memiliki business model sistem inkubasi yang berbeda-beda, dimana pengertian dari business model sistem inkubasi yaitu tahapan-tahapan yang dilakukan oleh pihak inkubator dalam merekrut kliennya, kemudian dilanjutkan proses pendampingan terhadap kliennya, hingga proses kelulusan terhadap kliennya. Sebagai contoh business model yang diterapkan pada Inkubator A dalam merekrut kliennya, dimana pihak klien yang menentukan programnya terlebih dahulu baru setelah itu pihak inkubator melihat keadaan pasarnya. Selain itu, Inkubator A juga menyediakan program pasca inkubasi yaitu layanan-layanan yang diberikan oleh pihak inkubator kepada klien yang telah lulus. Sedangkan Inkubator E menentukan programnya terlebih dahulu baru setelah itu mengundang klien untuk masuk ke dalam inkubator. Dari dua business model sistem inkubasi yang ada menunjukan tingkat keberhasilannya pun berbeda-beda, ada program yang bagus untuk diterapkan tapi tidak dilaksanakan di tempat lain. Berdasarkan hal tersebut, untuk menentukan business model sistem inkubasi ideal perlu diketahui business model sistem inkubasi yang digunakan inkubator dalam mengembangkan UKM klien inkubator. Selain itu perlu diketahui bagaimana kinerja setiap business model sistem inkubasi yang diterapkan inkubator dalam mengembangkan UKM klien inkubator. Penelitian ini bertujuan: 1) Mengidentifikasi dan mengelompokkan business model sistem inkubasi yang digunakan inkubator dalam mengembangkan UKM Klien inkubator. 2) Menganalisis kinerja tiap business model sistem inkubasi dalam mengembangkan UKM klien inkubator. 3) Merumuskan rekomendasi business model sistem inkubasi yang dapat menjadi acuan bagi Inkubator di Indonesia. Sedangkan ruang lingkup dari penelitian ini adalah: 1) Penelitian dilakukan terhadap manajemen IBT dan UKM yang menjadi klien inkubator. 2) Metode penelitian yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif. 3) Pengelompokkan inkubator hanya didasarkan pada kemiripan business model sistem inkubasi. 4) Hasil penelitian berupa kajian, sedangkan penerapannya dapat menjadi masukan bagi manajemen IBT untuk pengembangan IBT selanjutnya. Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian deskriptif dengan jenis penelitian survei, yang dilakukan menggunakan kuesioner dan melakukan wawancara. Tahap pertama penelitian dimulai dengan identifikasi business model sistem inkubasi untuk membuat kerangka dan alur business model pada tiap inkubator yang dimulai dari pra inkubasi, inkubasi, sampai dengan pasca inkubasi, tahap selanjutnya dilakukan pengelompokkan business model sistem inkubasi yang hampir serupa. Kemudian dilakukan analisis kinerja untuk mengetahui kinerja setiap business model sistem inkubasi. Hasil dari kinerja dijadikan perumusan business model sistem inkubasi ideal yang dapat menjadi acuan bagi Inkubator di Indonesia. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa Business Model Sistem Inkubasi 1 di Inkubator A dapat dibagi menjadi tiga tahap inkubasi yaitu tahap pra inkubasi bisnis, inkubasi bisnis, dan pasca inkubasi. Business model Sistem Inkubasi 2 di Inkubator B dapat dibagi menjadi tiga tahap inkubasi yaitu tahap pra inkubasi bisnis, inkubasi bisnis, dan pasca inkubasi. Business model Sistem Inkubasi 3 di Inkubator C dapat dibagi menjadi tiga tahap inkubasi yaitu tahap pra inkubasi bisnis, inkubasi bisnis, dan pasca inkubasi. Business Model Sistem Inkubasi 4 di Inkubator D dapat dibagi menjadi dua tahap inkubasi yaitu tahap pra inkubasi bisnis dan inkubasi bisnis. Business Model Sistem Inkubasi 5 di Inkubator E dapat dibagi menjadi dua tahap inkubasi yaitu tahap pra inkubasi bisnis dan inkubasi bisnis. Pada tahap pra inkubasi bisnis selain terdapat perekutan klien dan talent serta juga terdapat program mentoring. Parameter persentase keberhasilan inkubasi yang dimaksud dalam penelitian ini merupakan persentase jumlah klien yang lulus dibandingkan dengan jumlah klien yang mengikuti inkubasi yang mendekati 100 %. Dari analisis kinerja yang dilakukan maka diperoleh hasil bahwa Business Model Sistem Inkubasi Tipe 3 mempunyai nilai keberhasilan inkubasi terbesar yaitu sebesar 50%, Business Model Sistem Inkubasi Tipe 2 memiliki nilai keberhasilan inkubasi terkecil yaitu sebesar 31,3 %. Sedangkan Business Model Sistem Inkubasi Tipe 1 memiliki nilai keberhasilan inkubasi yaitu sebesar 46,5 % per tahun. Perhitungan parameter kedua yaitu persentase survival rate diketahui bahwa Business Model Sistem Inkubasi Tipe 1 mempunyai nilai survival rate terbesar yaitu sebesar 43,3 %. Business Model Sistem Inkubasi Tipe 2 memiliki nilai survival rate terkecil yaitu sebesar 20 %. Sedangkan Business Model Sistem Inkubasi Tipe 3 belum memiliki klien yang telah lulus setelah 3 tahun. Pada parameter ketiga yaitu peningkatan omset, didapatkan hasil bahwa Business Model Sistem Inkubasi Tipe 3 memiliki nilai peningkatan omset terbesar yaitu sebesar 146,5 % pertahun. Business Model Sistem Inkubasi Tipe 2 memiliki nilai peningkatan omset terkecil yaitu sebesar 20,2 % per tahun. Sedangkan Business Model Sistem Inkubasi Tipe 1 memiliki nilai peningkatan omset yaitu sebesar 30,9 % per tahun. Untuk menentukan business model sistem inkubasi ideal maka disusun berdasarkan tahapan business model sistem inkubasi. Agar memiliki tingkat keberhasilan yang tinggi sebaiknya setiap business model menerapkan program mentoring hal ini dibuktikan oleh besarnya persentase tingkat keberhasilan inkubasi business model sistem inkubasi tipe 3 yang menggunakan program mentoring. Dengan diterapkannya program mentoring maka pada saat klien memasuki tahapan inkubasi dapat lebih fokus untuk penjualan maupun pengembangan produknya. Untuk mendapatkan nilai survival rate yang tinggi sebaiknya business model juga memiliki layanan pasca inkubasi bagi klien yang telah lulus dari inkubator. Hal ini dibuktikan oleh besarnya persentase tingkat survival rate Business Model Sistem Inkubasi Tipe 1 yang memiliki layanan pasca inkubasi. Business Model Sistem Inkubasi Ideal yaitu yang memiliki program mentoring pada tahap pra inkubasi dan memiliki layanan pasca inkubasi. Secara umum business model sistem inkubasi di Indonesia terbagi menjadi tiga tahap. Perbedaan mendasar dari business model tersebut berupa ada tidaknya program mentoring pada tahapan pra inkubasi dan ada tidaknya layanan pasca inkubasi. Business Model Sistem Inkubasi Tipe 3 baru berjalan selama 2 tahun sedangkan Business Model Sistem Inkubasi Tipe 1 dan 2 sudah berjalan sekitar 15 tahun. Persentase survival rate klien inkubator yang terbesar dihasilkan oleh Business Model Sistem Inkubasi Tipe 1. Persentase keberhasilan inkubasi dan persentase peningkatan omset klien inkubator yang terbesar dihasilkan oleh Business Model Sistem Inkubasi Tipe 3. Business Model Sistem Inkubasi Tipe 2 memperlihatkan persentase keberhasilan layanan inkubasi, persentase survival rate klien inkubator, dan persentase nilai peningkatan omset yang rendah. Business Model Sistem Inkubasi Ideal yaitu yang memiliki program mentoring pada tahap pra inkubasi, adanya tahapan inkubasi dan memiliki layanan pasca inkubasi. Business Model Sistem Inkubasi Ideal yang memiliki program mentoring dan layanan pasca inkubasi dapat dicoba oleh inkubator bisnis dan teknologi di Indonesia. Masih diperlukan evaluasi Business Model Sistem Inkubasi Tipe 3 karena baru berjalan selama 2 tahun. Business Model Sistem Inkubasi Tipe 3 memiliki potensi untuk menjadi Business Model Sistem Inkubasi Ideal jika terbukti kinerja survival rate nya lebih tinggi dibandingkan dengan kinerja survival rate Business Model Sistem Inkubasi Tipe 1.

Item Type: Thesis (Masters)
Uncontrolled Keywords: Inkubator Bisnis, Business Model Sistem Inkubasi Ideal, Mentoring, Inkubasi, Pasca Inkubasi
Subjects: Manajemen Teknologi
Depositing User: Staff-1 Perpustakaan
Date Deposited: 23 Jul 2012 09:49
Last Modified: 23 Jul 2012 09:49
URI: http://repository.sb.ipb.ac.id/id/eprint/1480

Actions (login required)

View Item View Item