Kajian manajemen teknologi pada kawasan sentra industri keripik kota bandar lampung, propinsi lampung

Octavia, Melly (2010) Kajian manajemen teknologi pada kawasan sentra industri keripik kota bandar lampung, propinsi lampung. Masters thesis, Institut Pertanian Bogor.

[img]
Preview
Text
R41-01-Melly-Cover.pdf - Published Version

Download (486kB)
[img]
Preview
Text
R41-02-Melly-Abstrak.pdf - Published Version

Download (332kB)
[img]
Preview
Text
R41-03-Melly-RingkasanEksekutif.pdf - Published Version

Download (395kB)
[img]
Preview
Text
R41-04-Melly-DaftarIsi.pdf - Published Version

Download (350kB)
[img]
Preview
Text
R41-05-Melly-Pendahuluan.pdf - Published Version

Download (152kB)
[img] Text
Tesis.pdf
Restricted to Registered users only

Download (1MB)
Official URL: http://elibrary.mb.ipb.ac.id

Abstract

Pengembangan agribisnis dengan menempatkan petani sebagai pelaku agribisnis merupakan perwujudan dari pengembangan ekonomi kerakyatan. Hal ini dikarenakan pelaku ekonomi pertanian adalah berjuta pengusaha kecil yang merupakan basis dari ekonomi kerakyatan, sebagai penopang ekonomi perdesaan dan sumber penghasilan bagi sebagian besar masyarakat perdesaan. Dalam pengembangan sistem agribisnis sebagai wujud pengembangan ekonomi kerakyatan perlu dipertimbangkan keberadaan potensi lokal. Potensi yang dikembangkan oleh masyarakat di suatu wilayah dapat mendorong berkembangnya agroindustri di wilayah tersebut, dimana pengembangan agroindustri tidak hanya ditujukan dalam rangka peningkatan jumlah pangan dan jenis produk yang tersedia di pasar, tetapi meningkatkan pendapatan ekonomi masyarakat melalui peningkatan produksi bahan baku dan nilai tambah, sekaligus peningkatan ekonomi daerah. Selain itu pengembangan agroindustri turut menciptakan lapangan pekerjaan dan pengembangan pasar. Pemerintah Daerah Kota Bandar Lampung telah mengembangkan suatu Kawasan Sentra Industri Keripik di mana pembangunan kawasan tersebut bertujuan sebagai tempat wisata kuliner, sekaligus kawasan berkumpulnya industri-industri rumah tangga yang mengolah dan memasarkan makanan olahan berupa keripik yang menjadi unggulan Propinsi Lampung. Pengusaha keripik di kawasan tersebut telah mengembangkan keripik pisang dan keripik ubi kayu menjadi keripik aneka rasa, diantaranya rasa jagung bakar, rasa coklat, rasa strowberi, rasa keju, rasa manis dan rasa asin. Penerapan manajemen teknologi pada industri pengolahan keripik tidak terlepas dari faktor-faktor yang mempengaruhi usaha tersebut, antara lain perangkat teknologi yang digunakan (technoware), perangkat sumberdaya manusia (humanware), perangkat teknologi informasi (infoware) dan perangkat organisasi perusahaan (orgaware). Pengkajian indikator transformasi teknologi dilakukan untuk menilai tingkat kecanggihan perangkat teknologi (technoware) perangkat manusia (humanware), perangkat informasi (infoware) dan perangkat organisasi (orgaware). Selain itu pengkajian indikator transformasi teknologi untuk mengetahui kesenjangan teknologi yang dimiliki oleh usaha kecil menengah produsen keripik sehingga diharapkan dapat merencanakan upaya-upaya yang harus dilaksanakan untuk pengembangan usahanya. Penilaian terhadap perangkat teknologi (technoware) yang digunakan rata-rata responden produsen keripik pada Kawasan Sentra Industri Keripik Lampung menunjukkan median (nilai tengah) 2,0 yang mengindikasikan bahwa perangkat teknologi yang dimiliki oleh pengusaha untuk memproduksi keripik tergolong pada peralatan manual (manual facilities). Sementara itu nilai perangkat teknologi yang diharapkan pengusaha dalam menghasilkan keripik menunjukkan median 3,8 yang berarti bahwa responden produsen keripik pada Kawasan Sentra Industri Keripik Lampung menginginkan untuk dapat menggunakan peralatan serbaguna (general facilities). Berdasarkan hasil kajian terhadap perangkat manusia pada rata-rata responden usaha kecil menengah produsen keripik saat ini berada pada median 2,4 yang berarti tingkat kemampuan perangkat manusia yang dimiliki oleh pengusaha untuk memproduksi keripik masih tergolong antara kemampuan mengoperasikan (operating abilities) dan kemampuan menyetel (setting-up abilities) Sementara itu tingkat kemampuan manusia yang diharapkan pengusaha dalam menghasilkan keripik menunjukkan median 5,6 yang berarti bahwa responden pengusaha keripik menginginkan tingkat kemampuan perangkat manusianya berada pada kemampuan mereproduksi (reproducing abilities) dan kemampuan mengadaptasi (adapting abilities). Dengan memperhatikan nilai probabilitas yang diperoleh sebesar 0,0304 dengan taraf nyata α = 5% berarti hipotesa nol (H0) ditolak dan terima H1. Ini berarti tingkat kecanggihan kemampuan perangkat manusia yang dikuasai oleh responden produsen keripik di Kawasan Sentra Industri Keripik Lampung saat ini dianggap berbeda secara nyata dengan tingkat kecanggihan manusia yang diharapkan perusahaan untuk dimiliki. Kemampuan perangkat manusia dalam proses produksi keripik dianggap masih dibawah harapan pengusaha. Kajian terhadap perangkat informasi rata-rata responden produsen keripik saat ini berada pada median 1,3. Ini berarti perangkat informasi yang dimiliki berada pada tahapan kemampuan mengenal fakta (familiarizing facts). Sementara nilai kondisi perangkat informasi yang diharapkan dimiliki oleh pengusaha berada pada median 3,3 yang berarti pengusaha keripik membutuhkan perangkat informasi yang digunakan sampai pada tahapan mengenal fakta (familiarizing facts), menjelaskan fakta (describing facts) hingga menspesifikasikan fakta (specifying facts) yang ada. Kajian terhadap kondisi kemampuan organisasi rata-rata responden produsen keripik saat ini berada pada median 3,0 yang berarti perangkat organisasi yang dimiliki berada pada tahapan mencari pola kerja (striving framework) dan menetapkan pola kerja (time-up framework). Sementara nilai kondisi perangkat organisasi yang diharapkan dimiliki oleh pengusaha berada pada median 5,6 yaitu memiliki kemampuan pada tahapan melindungi pola kerja (protecting framework) dan menstabilkan pola kerja (stabilizing framework). Pengkajian terhadap indikator kemampuan teknologi dalam penerapan manajamen teknologi menunjukkan bahwa kemampuan yang dimiliki oleh rata-rata responden usaha kecil menengah produsen keripik saat ini berada pada median 2,0 yang berarti kemampuan teknologi yang dimiliki oleh responden pengusaha keripik sebanding dengan usaha produksi keripik yang sama-sama menjadi mitra binaan di Kawasan Sentra Industri Keripik Lampung. Sementara nilai kondisi kemampuan teknologi yang diharapkan dapat dimiliki oleh perusahaan adalah berada pada median 4,5 yang berarti bahwa usaha kecil menengah produsen keripik membutuhkan kemampuan teknologi paling tidak terbaik diantara pengusaha produsen keripik yang sama-sama menjadi mitra binaan di Kawasan Sentra Industri Keripik Lampung, atau jika memungkinkan mampu sebanding dengan usaha produksi keripik yang tidak menjadi mitra binaan di luar Kawasan Sentra Industri Keripik Lampung. Untuk mengkaji keterkaitan antara komponen transformasi teknologi dan komponen kemampuan teknologi dilakukan penilaian dengan uji Chi-square. Dari hasil perhitungan diperoleh nilai khi kuadrat hitung sebesar 0,9000. Dengan derajat bebas 9, nilai khi kuadrat tabel sebesar 1,000. Dengan demikian khi kuadrat hitung lebih kecil dari khi kuadrat tabel maka antara indikator transformasi teknologi dengan indikator kemampuan teknologi bersifat bebas (independent) atau kedua indikator tidak saling mempengaruhi. Alternatif strategi teknologi dan strategi bisnis yang dapat dilakukan usaha kecil menengah produsen keripik di Kawasan Sentra Industri Keripik adalah strategi pemanfaatan teknologi (technology exploiter strategy), yakni tetap menggunakan teknologi standar dalam proses produksinya dengan strategi bisnis unggul harga. Dalam jangka menengah dan panjang, pengusaha keripik dapat memilih alternatif strategi teknologi untuk pengikuti teknologi (technology follower strategy) melalui adaptasi pemanfaatan teknologi yang paling sesuai dengan skala usaha, sedangkan strategi bisnis yang dapat dipilih adalah strategi unggul mutu dimana pengusaha keripik harus proaktif untuk memenuhi kepuasan konsumen dalam hal peningkatan dan penjaminan mutu produk yang berlanjutan dan terus melakukan upaya pengembangan produk keripik sesuai dengan keinginan konsumen. Untuk menghadapi perkembangan usaha yang semakin meningkat, pengusaha keripik di Sentra Industri Keripik perlu membentuk jalinan kerjasama dan kemitraan diantara pelaku usaha, dengan berbagai pengetahuan dan keterampilan, membentuk asosiasi usaha untuk bergabung dalam jaringan pemasaran bersama, melakukan promosi melalui pameran atau gelar produk pada berbagai kesempatan, bila memungkinkan menyampaikan informasi produk melalui iklan di media massa, melakukan pendekatan kelembagaan dengan media informasi (media massa) dalam menunjang pemasaran produk. Diversifikasi produk bahan baku pisang sehingga dihasilkan berbagai jenis atau macam makanan misalnya pisang oven, bolu pisang, sale pisang dan dodol pisang. Pemberian tampilan produk yang lebih baik melalui kemasan dan cara penyajian yang menarik selera konsumen serta mendaftarkan produk ke lembaga standarisasi/registrasi produk sehingga memberikan jaminan atas kualitas produk yang dihasilkan.

Item Type: Thesis (Masters)
Uncontrolled Keywords: technology management, technology strategy, business strategy, crackers industry , bananas, cassava. Manajemen Teknologi, Strategi Teknologi, Strategi Bisnis, Industri Keripik, Pisang, Ubi Kayu
Subjects: Manajemen Teknologi > Manajemen Teknologi Agribisnis
Manajemen Teknologi
Depositing User: Staff-1 Perpustakaan
Date Deposited: 26 Jul 2012 07:30
Last Modified: 21 Mar 2023 01:59
URI: http://repository.sb.ipb.ac.id/id/eprint/1498

Actions (login required)

View Item View Item