Analisis pengembangan model agrowisata di kabupaten bangkalan

Masluhah, - (2010) Analisis pengembangan model agrowisata di kabupaten bangkalan. Masters thesis, Institut Pertanian Bogor.

[img]
Preview
PDF
R41-01-Masluhah-Cover.pdf - Published Version

Download (400kB)
[img]
Preview
PDF
R41-02-Masluhah-Abstrak.pdf - Published Version

Download (318kB)
[img]
Preview
PDF
R41-03-Masluhah-RingkasanEksekutif.pdf - Published Version

Download (327kB)
[img]
Preview
PDF
R41-04-Masluhah-DaftarIsi.pdf - Published Version

Download (322kB)
[img]
Preview
PDF
R41-05-Masluhah-Pendahuluan.pdf - Published Version

Download (695kB)
Official URL: http://elibrary.mb.ipb.ac.id

Abstract

Pasca beroperasinya Jembatan Surabaya-Madura (Suramadu) tingkat kunjungan masyarakat ke Bangkalan mengalami peningkatan. Fenomena ini mendorong masyarakat tidak hanya berkunjung untuk melihat secara langsung Jembatan Suramadu tapi juga untuk berwisata di Bangkalan. Tidak adanya wahana wisata yang bagus untuk dinikmati, mengakibatkan banyak masyarakat yang kecewa. Mengacu pada fakta tersebut, seandainya terdapat kawasan wisata yang menarik dan atraktif di Kabupaten Bangkalan, kemungkinan besar tujuan kedua selain melihat Jembatan Suramadu adalah bertamasya di Kabupaten Bangkalan. Hal ini akan meningkatkan pendapatan Kabupaten Bangkalan dan masyarakat. Akan tetapi karena tidak adanya wahana wisata, kesempatan untuk meningkatkan pendapatan menjadi hilang. Kabupaten Bangkalan sendiri memiliki potensi pariwisata yang cukup prospektif. Jenis wisata yang telah berkembang dan terus dilestarikan adalah wisata alam, wisata budaya dan sejarah, serta wisata minat khusus. Antisipasi yang dapat dilakukan dalam peningkatan merebut peluang pasar dapat dilakukan melalui dua pendekatan secara simultan, yaitu: (a) upaya meningkatkan pasar dengan konsep "universal" dan (b) pengembangan pasar berdasarkan konsep "uniqueness". Pada konsep universal dapat ditempuh melalui diversifikasi dan peningkatan kualitas sesuai dengan persyaratan yang diminta konsumen dan pasar global. Pada konsep uniqueness, konsumen ditawarkan kepada produk spesifik lokalita yang bersifat unik, seperti agrowisata. Sesuai dengan potensinya bidang usaha agrowisata belum tergarap secara baik dan prospektif sebagai salah satu sumber pertumbuhan baru sektor pertanian. Sementara di sisi lain, ada kecenderungan para wisatawan ingin menikmati suasana alami. Mengacu pada permasalahan tersebut, penelitian ini diarahkan untuk merancang suatu model pengembangan agrowisata yang tepat dan strategis di Kabupaten Bangkalan dengan memanfaatkan potensi dan peluang yang ada untuk membangkitkan dan menarik wisatawan ke Madura. Tujuan dari penelitian ini adalah: 1. Menganalisis arah pengembangan dan menentukan lokasi untuk pengembangan agrowisata di Kabupaten Bangkalan, 2. Mengidentifikasi potensi dan kendala pengembangan agrowisata di Kabupaten Bangkalan, 3. Membuat desain awal (desain nonfisik) dari pengembangan agrowisata di Kabupaten Bangkalan. Penelitian dilaksanakan di Kabupaten Bangkalan, Provinsi Jawa Timur, selama bulan Desember 2009 sampai bulan Februari 2010. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif dengan penelitian survei melalui wawancara menggunakan kuesioner. Teknik pengambilan data dan informasi dilakukan dengan wawancara mendalam (in-depth interview) kepada responden ahli yang ditentukan secara sengaja (purposive sampling) dan juga pembagian kuesioner kepada responden umum yang ditentukan secara convenience. Penentuan visi dan misi, model agrowisata yang akan dikembangkan ditentukan dengan Metode Perbandingan Eksponensial (MPE), dan lokasi pengembangan agrowisata menggunakan Analysis Hierarchy Process (AHP). Studi potensi dan kendala pengembangan dengan analisis Strengths, Weaknesses, Opportunity dan Threat (SWOT). Penentuan fasilitas-fasilitas yang akan ada di agrowisata diperoleh dari penyebaran kuisioner kepada responden umum. Tahap selanjutnya adalah membuat desain nonfisik dari agrowisata dengan menggunakan alat bantu perangkat lunak komputer Autocard 2006. Hasil penelitian menunjukkan untuk visi dari agrowisata yang akan dikembangkan yaitu “Menjadi kawasan agrowisata yang menarik, atraktif dan digemari oleh warga Madura dan luar Madura”. Misi agrowisata adalah: 1. Meningkatkan kompetensi lokasi agrowisata, 2. Memberikan nilai tambah bagi usaha pertanian untuk meningkatkan pendapatan, 3. Membangun agrowisata yang inovatif, menarik dan meningkatkan pengetahuan serta pengalaman bagi wisatawan. Pernyataan misi agrowisata yang dikembangkan akan tetap melestarikan nilai-nilai budaya dan lingkungan alam setempat, menciptakan lapangan kerja dan kesempatan berusaha di wilayah usaha selain pertanian seperti akomodasi, souvenir, pemandu serta akan menciptakan iklim usaha yang baik pada pengusaha bidang agro dan pariwisata di dalam penyelenggaraan pelayanan wisata. Model pengembangan kawasan agrowisata adalah dengan model cluster satu wilayah. Keuntungan model terpusat adalah: 1. Terkonsentrasinya aktivitas usaha agrowisata dalam satu wilayah, 2. Memudahkan dalam perencanaan, pelaksanaan dan pengawasan, 3. Terintegrasinya suatu aktivitas dan fasilitas yang ditawarkan kepada wisatawan sehingga daya tarik agrowisata menjadi tinggi, 4. Pengelolaan lebih efisien dan efektif, 5. Koordinasi lebih mudah, 6. Dampak ekonomi pada masyarakat lebih menyebar dengan baik dan merata, 7. Terwujudnya usaha agrowisata yang berkelanjutan, 8. Berfungsi untuk pembangunan dan penempatan sarana atau fasilitas yang kelak akan dinikmati oleh wisatawan. Analisis pendapat gabungan para responden menunjukkan bahwa potensi lokasi (nilai bobot 0,234) merupakan aspek paling penting yang perlu diperhatikan dalam menentukan lokasi pengembangan agrowisata di Bangkalan. Aspek berikutnya yang perlu diperhatikan adalah sosial budaya (nilai bobot 0,173); ekonomi menjadi aspek kriteria nomer tiga (nilai bobot 0,137) yang juga menjadi perhatian dalam pengembangan agrowisata, dan aspek produk (nilai bobot 0,105). Hasil analisis menunjukkan bahwa daerah Socah dengan bobot 0,225 merupakan lokasi yang paling potensial dijadikan pusat pengembangan agrowisata di Kabupaten Bangkalan, kedua adalah Kecamatan Bangkalan dengan bobot 0,216, dan daerah Burneh menjadi daerah ketiga dengan bobot sebesar 0,148. Strategi pengembangan agrowisata di Kabupaten Bangkalan dari hasil analisis penggabungan faktor internal dan eksternal melalui matriks TOWS adalah: 1. Memperluas pasar target wisatawan luar Madura, 2. Strategi unggul mutu produk dan pelayanan yang ditawarkan, 3. Strategi optimalisasi kegiatan pemasaran dalam menawarkan produk dan jasa yang berkualitas, 4. Strategi sistem manajemen yang profesional dalam pengelolaan SDA yang dimiliki Bangkalan, 5. Inovasi produk agar lebih dapat memiliki daya saing 6. Pengembangan agrowisata yang kreatif dan teknik budi daya tanaman, 7. Mengembangkan sumberdaya manusia baik di level pemerintahan maupun masyarakat. Fasilitas dan atraksi yang sebaiknya ada di lokasi pengembangan agrowisata diperoleh dari hasil olah pendapat 302 orang responden. Responden terdiri dari 65 orang Madura yang bertempat tinggal di Madura, 113 orang luar Madura yang bertempat tinggal di luar Madura dan 124 anak usia sekolah yang di Madura (40 orang Sekolah Dasar, 47 orang Sekolah Menengah Pertama dan 37 orang Sekolah Menengah Umum). Karekteristik dari responden adalah sebagian besar responden melakukan wisata bersama keluarga 55, 65% (responden anak usia sekolah) 61,54% (responden orang Madura) dan 68,97% (respoden orang luar Madura). Frekuensi melakukan wisata rata-rata sebanyak dua kali dalam setahun. Obyek wisata yang digemari adalah wisata alam (agrowisata). Keinginan responden untuk berkunjung ke kawasan agrowisata tergolong cukup tinggi. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya responden menyatakan ingin (90,86 %), ragu-ragu (9,14%%), dan yang menyatakan tidak ingin adalah nol. Hasil penelitian menunjukkan untuk fasilitas pokok yang harus ada di kawasan agrowisata adalah kamar kecil, restoran, papan keterangan/petunjuk arah, Mushola. Fasilitas yang sering digunakan/disewa jasanya adalah restoran, pusat oleh-oleh, playground, kolam pemancingan dan picnick untuk fasilitas yang ingin mereka gunakan adalah pusat oleh-oleh, playground dan mini garden, kolam pemancingan, camping ground, outbond. Pandangan responden terhadap manajemen pengelolaan dikawasan agrowisata yang perlu diperhatikan dalam menyediakan fasilitas dan atraksi adalah harganya terjangkau, menambah pengalaman dan wawasan, menyenangkan. Perencanaan tata letak dari masing-masing unit usaha di dalam kawasan agrowisata dibuat sesuai dengan desain yang akan ditetapkan. Desain kawasan pengembangan didapatkan dengan melakukan analisis penentuan lokasi pengembangan agrowisata, kemudian dilakukan analisis lokasi terpilih dengan melakukan identifikasi di lokasi pengembangan. Saran dalam penelitian ini adalah: 1. Para stakeholder Pemerintah Bangkalan membuat rancangan strategi pengembangan pariwisata yang lebih atraktif dan unik yaitu dengan tidak hanya fokus pada kawasan wisata religi dan budaya sehingga di Bangkalan terdapat kawasan wisata yang bisa dinikmati semua kalangan (usia, agama, dan suku,); 2. Perlunya dibuatkan SK Tim pengembangan kawasan menjadi wahana wisata agro dan Business Plan agrowisata Bangkalan; 3. Pihak pemerintah perlu memberikan kemudahan dalam birokrasi dan perijinan usaha; 4. Lokasi terpilih harus terus mengembangkan potensi wilayah yang ada, agar hasil yang telah ada dapat ditingkatkan dan berkelanjutan. 5. Perlu dilakukan suatu penataan kawasan terintegrasi dengan kondisi di daerah tersebut baik pada aspek sosial budaya masyarakat maupun penggunaan lahan; 6. Melakukan benchmarking terhadap kawasan agrowisata yang banyak dikunjungi oleh masyarakat seperti Agro Kusuma, Agrowisata Turi, Jatim Park; 7. Perlu dilakukan kajian lebih lanjut untuk melihat implementasi dari kawasan pengembangan agrowisata dengan menggunakan prinsip-prinsip manajemen seperti monitoring dan evaluasi agar tujuan yang ingin dicapai dapat terlaksana; 8. Penelitian hanya menentukan beberapa aspek dalam mengembangkan suatu kawasan agrowisata sehingga sangat diperlukan suatu penelitian lebih lanjut dan mendalam mengenai analisis tapak, analisis persepsi masyarakat di lokasi terpilih.

Item Type: Thesis (Masters)
Uncontrolled Keywords: Agrowisata, Visi, MPE, Lokasi, AHP, SWOT, Fasilitas, Desain Agrotourism, MPE, Vision, Location, AHP, SWOT, Facility
Subjects: Manajemen Strategi
Depositing User: Staff-1 Perpustakaan
Date Deposited: 26 Jul 2012 08:11
Last Modified: 29 Aug 2014 01:30
URI: http://repository.sb.ipb.ac.id/id/eprint/1500

Actions (login required)

View Item View Item