Diseconomies integrasi vertikal usaha budidaya ikan gurame

Pertamawati, Lelly Hasni (2006) Diseconomies integrasi vertikal usaha budidaya ikan gurame. Masters thesis, Institut Pertanian Bogor.

[img]
Preview
Text
R29-01-Lelly-Cover.pdf - Published Version

Download (329kB) | Preview
[img]
Preview
Text
R29-02-Lelly-Abstract.pdf - Published Version

Download (312kB) | Preview
[img]
Preview
Text
R29-03-Lelly-Ringkasaneksekutif.pdf - Published Version

Download (318kB) | Preview
[img]
Preview
Text
R29-04-Lelly-Daftarisi.pdf - Published Version

Download (316kB) | Preview
[img]
Preview
Text
R29-05-Lelly-Pendahuluan.pdf - Published Version

Download (320kB) | Preview

Abstract

Usaha budidaya perikanan merupakan salah satu sektor ekonomi yang mempunyai potensi dan peranan penting bagi perekonomian Indonesia. Pembangunan perikanan merupakan bagian integral dari pembangunan nasional. Peranan sektor perikanan dalam pembangunan nasional dapat dilihat dari fungsinya sebagai penyedia bahan baku pendorong agroindustri, penyumbang devisa melalui penyedia ekspor hasil perikanan, penyedia kesempatan kerja, sumber pendapatan nelayan atau petani ikan dan pembangunan daerah, serta pendukung kelestarian sumberdaya perikanan dan lingkungan hidup. Pemanfaatan sumberdaya perikanan budidaya telah banyak dikembangkan karena perikanan budidaya diharapkan dapat menjadi salah satu andalan utama dalam produksi ikan. Salah satu sektor perikanan yang memiliki peluang pasar yang cukup baik adalah budidaya ikan gurame. Ikan Gurame merupakan salah satu komoditi perikanan air tawar yang banyak diminati oleh masyarakat, baik oleh konsumen maupun para pembudidaya. Oleh konsumen, ikan Gurame banyak disukai karena rasanya yang lezat dan gurih, sedangkan oleh para pembudidaya, ikan Gurame disukai karena memiliki harga jual yang lebih tinggi dibandingkan dengan komoditi perikanan air tawar lainnya. Namun demikian, jumlah pembudidaya ikan Gurame di desa Barengkok jumlahnya masih belum banyak. Hal ini terkait dengan masa pemeliharaan ikan Gurame yang lebih lama dibandingkan dengan masa pemeliharaan ikan air tawar lainnya. Akibatnya, pengembalian terhadap modal investasi pada usaha budidaya ikan Gurame menjadi lebih lama dibandingkan dengan pada usaha budidaya ikan Mas atau ikan air tawar lainnya. Berdasarkan uraian di atas, penelitian bertujuan untuk mengidentifikasi aspek teknis produksi budidaya ikan Gurame di berbagai tahapan produksi, menganalisis kelayakan investasi budidaya ikan Gurame di berbagai tahapan produksi, dan menganalisis alternatif pilihan pengembangan usaha budidaya ikan Gurame di masa yang akan datang. Dalam penelitian ini, aspek pemasaran serta teknis dan produksi dianalisis secara deskriptif. Sedangkan aspek finansial dianalisis dengan menggunakan analisis usaha (analisis pendapatan, R/C ratio, dan payback period), analisis kelayakan finansial (NPV, Net B/C, dan IRR), serta analisis sensitivitas. Dari penelitian yang dilakukan terhadap usaha budidaya ikan Gurame di desa Barengkok kecamatan Leuwiliang kabupaten Bogor, dapat disimpulkan bahwa usaha budidaya ikan Gurame layak untuk diusahakan dan dikembangkan dilihat secara teknis dan produksi, pemasaran serta finansial. Berdasarkan analisis usaha pada tahap Pendederan didapatkan keuntungan tunai sebesar Rp. 4.767.000,00, R-C ratio sebesar 1,18, dan payback period selama 1,16 tahun. Pada tahap Pembesaran I didapatkan keuntungan tunai sebesar Rp. 5.795.697,00, R-C ratio sebesar 1,12, dan payback period selama 1,08 tahun. Pada tahap Pembesaran II didapatkan keuntungan tunai sebesar Rp. 7.162.101,00, R-C ratio sebesar 1,07, dan payback period selama 1,16 tahun. Berdasarkan hasil analisis kelayakan finansial didapatkan tahapan usaha budidya yang paling layak untuk dikembangkan, yaitu tahap Pembesaran II. Pada tahap Pendederan didapatkan NPV sebesar Rp. 9.341.882,00, net B/C ratio sebesar 2,69, dan IRR sebesar 80,50%. Pada tahap Pembesaran I didapatkan NPV sebesar Rp. 11.688.191,00, net B/C ratio sebesar 2,86, dan IRR sebesar 86,85%. Pada tahap Pembesaran II didapatkan NPV sebesar Rp. 14.063.439,00, net B/C ratio sebesar 2,70, dan IRR sebesar 80,93%. Alternatif pengembangan usaha budidaya ikan Gurame yang dapat dilakukan oleh para pembudidaya adalah sebagai berikut: (a) pemeliharaan Gurame ukuran kuku hingga mencapai 500 gram per ekor dengan panen pada setiap tahapan produksi (Alternatif II), (b) pemeliharaan Gurame dari ukuran kuku hingga mencapai ukuran 200 gram per ekor dengan panen pada setiap tahapan produksi (Alternatif III), dan (c) pemeliharaan Gurame dari ukuran 200 gram per ekor hingga mencapai ukuran 500 gram per ekor dengan panen pada setiap tahapan produksi (Alternatif IV). Alternatif IV merupakan alternatif pengembangan usaha budidaya Gurame yang paling menguntungkan karena memiliki nilai NPV yang paling besar yaitu Rp. 32.522.403,00 dengan nilai Net B/C ratio 1,88 dan IRR 42,95%. Urutan pilihan alternatif lainnya yang menguntungkan adalah Alternatif III dan Alternatif II. Alternatif III memiliki nilai NPV sebesar Rp. 31.726.939,00 dengan nilai Net B/C ratio 2,60 dan IRR 64,85%. Alternatif II memiliki nilai NPV sebesar Rp. 7.898.375,00 dengan nilai Net B/C ratio 1,15 dan IRR 22,72%. Faktor perubahan terhadap penurunan harga jual merupakan faktor yang paling peka (sensitif) terhadap kelayakan usaha budidaya ikan Gurame dan tahapan Pembesaran II merupakan tahapan yang memiliki tingkat kepekaan yang paling tinggi. Untuk menghindari tingginya pasokan ikan Gurame yang akan mengakibatkan turunnya harga ikan Gurame di pasaran, sebaiknya para pembudidaya dapat mengatur pola panen dengan cara mengatur waktu tanam (menabur benih) secara tidak bersamaan antara satu pembudidaya dengan pembudidaya lainnya. Hal ini juga bertujuan untuk menjaga kekontinuan pasokan ikan Gurame di pasar. Para pembudidaya dapat memilih tahapan budidaya ikan Gurame yang sesuai dengan kemampuan finansial yang dimiliki. Namun demikian sebaiknya dalam suatu wilayah usaha budidaya ikan Gurame terdapat suatu kerjasama yang erat antara satu tahapan budidaya dengan tahapan budidaya lainnya untuk menjaga kekontinuitasan produksi ikan Gurame. Hal ini karena tahapan-tahapan budidaya ikan Gurame saling berkaitan. Para pembudidaya ikan Gurame dapat mengembangkan usahanya dengan menggunakan sistem pemeliharaan secara langsung dari tahap Pendederan hingga tahap Pembesaran II yang menghasilkan ikan Gurame ukuran konsumsi atau kombinasi dari beberapa tahapan produksi dengan syarat sebaiknya para pembudidaya menjual sebagian dari produksinya pada setiap tahapan untuk memperlancar aliran kas. Perlunya penelitian lanjutan mengenai skala usaha yang optimal yang dapat memberikan keuntungan maksimum bagi pengembangan usaha budidaya Gurame di desa Barengkok

Item Type: Thesis (Masters)
Uncontrolled Keywords: Gurame, Analisis Finansial, Pengembangan Usaha, Kabupaten Bogor
Subjects: Manajemen Keuangan
Depositing User: Library
Date Deposited: 24 Mar 2014 08:10
Last Modified: 10 Aug 2016 07:47
URI: http://repository.sb.ipb.ac.id/id/eprint/151

Actions (login required)

View Item View Item