Kebutuhan pelatihan berbasis kompetensi kepala sekolah dasar di kota bau-bau propinsi sulawesi tenggara

Asniar, - (2012) Kebutuhan pelatihan berbasis kompetensi kepala sekolah dasar di kota bau-bau propinsi sulawesi tenggara. Masters thesis, Institut Pertanian Bogor.

[img]
Preview
Text
E36-01-Asniar-Cover.pdf - Published Version

Download (346kB)
[img]
Preview
Text
E36-02-Asniar-Abstrak.pdf - Published Version

Download (328kB)
[img]
Preview
Text
E36-03-Asniar-Ringkasan.pdf - Published Version

Download (331kB)
[img]
Preview
Text
E36-04-Asniar-DaftarIsi.pdf - Published Version

Download (338kB)
[img]
Preview
Text
E36-05-Asniar-BabIPendahuluan.pdf - Published Version

Download (649kB)
[img] Text
Tesis.pdf
Restricted to Registered users only

Download (1MB)
Official URL: http://elibrary.mb.ipb.ac.id

Abstract

Undang-Undang Dasar Negara Republik Pasal 31 mengamanatkan bahwa setiap warga Negara Indonesia berhak mendapatkan pengajaran dan pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pengajaran nasional yang diatur dengan undang-undang. Pengembangan unsur sumberdaya manusia pendidikan terutama kepala sekolah merupakan salah satu misi pendidikan yang dapat dilakukan dengan cara pemberian pelatihan. Pengangkatan kepala sekolah sejak berlakunya Undang-Undang Otonomi Daerah menjadi kewenangan Kepala Daerah sehingga seringkali tidak mengikuti syarat kualifikasi yang dibutuhkan bagi jabatan tersebut. Hal ini berakibat pada rendahnya penguasaan kompetensi yang dibutuhkan sehingga mempunyai dampak terhadap akreditasi, kualitas dan kinerja sekolah. Standar pendidik dan tenaga kependidikan merupakan salah satu standar yang ditetapkan dalam 8 (delapan) standar pendidikan nasional yang menjadi dasar bagi penilaian akreditasi sekolah. Bertolak dari hal tersebut maka penelitian ini dilakukan untuk mengetahui bagaimana kebutuhan pelatihan bagi kepala sekolah dasar dengan menganalisis persepsi kepala sekolah terhadap pelatihan yang pernah diikuti dan peningkatan kinerja setelah pelatihan; menganalisis kebutuhan pelatihan berdasar kesenjangan antara kemampuan kerja jabatan dan kemampuan kerja pribadi kepala sekolah berdasarkan uraian deskripsi tugas kompetensi yang disyaratkan dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 13 tahun 2007; serta menganalisis hubungan antara pelatihan yang telah diikuti dengan peningkatan kinerja setelah pelatihan. Penelitian dilakukan di Kota Bau-Bau Provinsi Sulawesi Tenggara yang menjadi daerah otonom sejak tahun 2001. Responden adalah kepala sekolah yang berasal dari 4 (empat) jenjang akreditasi sekolah dasar yaitu akreditasi A, B, C dan Tidak Terakreditasi berjumlah 46 orang yang diambil berdasarkan teknik Disproportianate Stratified Random Sampling. Metode yang digunakan adalah metoda deskriptif melalui penyebaran kuesioner yang mencakup persepsi responden terhadap variabel pelatihan yang dibagi dalam sub-variabel analisa kebutuhan pelatihan, pelaksanaan pelatihan dan evaluasi pelatihan serta variabel peningkatan kinerja setelah pelatihan. Data yang digunakan bersumber dari data primer dan sekunder. Wawancara dan observasi lapang dilakukan untuk menunjang hasil penelitian. Persepsi responden terhadap pelatihan yang telah diikuti serta peningkatan kinerja setelah pelatihan dianalisis dengan teknik rataan skor. Analisis korelasi Rank Spearman digunakan untuk menganalisis hubungan antara pelatihan yang telah diikuti dengan peningkatan kinerja setelah pelatihan. Hasil analisis dengan teknik rataan skor memperlihatkan bahwa sub-variabel AnalisaKebutuhan Pelatihan (AKP), Pelaksanaan Pelatihan (PP), dan peningkatan Kinerja (K) setelah pelatihan, dianggap oleh responden telah dilaksanakan dengan baik terlihat dari hasil rataan skor yaitu berturut-turut adalah 3,8 untuk AKP; 4,1 untuk PP; dan 4,1 untuk Kinerja pada rentang skala setuju. Bagi sub-variabel Evaluasi Pelatihan (EP), nilai rataan skor responden adalah 4,3 pada skala sangat setuju yang berarti bahwa evaluasi pelatihan telah dilaksanakan dengan sangat baik. Korelasi antara pelatihan yang telah diikuti dengan peningkatan kinerja setelah pelatihan menghasilkan korelasi yang positif dan signifikan dengan derajat keeratan hubungan yang kuat pada taraf kepercayaan 99 persen dengan nilai korelasi 0,726. Sedangkan untuk masing-masing sub-variabel pelatihan yaitu analisa kebutuhan pelatihan mempunyai nilai korelasi 0,656 dengan derajat keeratan hubungan yang kuat, pelaksanaan pelatihan mempunyai nilai korelasi 0,541 dengan derajat keeratan hubungan yang sedang, serta evaluasi pelatihan mempunyai nilai korelasi 0,679 dengan derajat keeratan hubungan yang kuat. Derajat keeratan hubungan yang kuat mengindikasikan bahwa semakin baik suatu pelatihan maka akan berhubungan dengan semakin baiknya peningkatan kinerja setelah pelatihan dengan derajat keeratan hubungan yang kuat. Analisis kesenjangan kemampuan kerja jabatan dan kemampuan kerja pribadi yang dilakukan dengan menggunakan metoda TNAT memperlihatkan hasil adanya kesenjangan untuk responden sekolah akreditasi A sebanyak 4 item deskripsi tugas kompetensi, responden sekolah akreditasi B sebanyak 6 item deskripsi tugas kompetensi, responden sekolah akreditasi C sebanyak 7 item deskripsi tugas kompetensi dan responden sekolah tidak terakreditasi sebanyak 20 item deskripsi tugas kompetensi. Kesenjangan nilai tertinggi antara KKJ dan KKP dari seluruh responden adalah pada kompetensi kewirausahaan kemudian kompetensi manajerial, kompetensi supervisi dan kompetensi kepribadian. Semakin rendah tingkat akreditasi sekolah maka semakin banyak terjadi kesenjangan nilai KKP dan KKJ pada deskripsi tugas dalam kompetensi yang membutuhkan pelatihan walaupun tidak mendesak (berada pada zona B). Implikasi manajerial berupa rekomendasi pelatihan bagi kepala sekolah yaitu pada pelatihan berdasar pada kesenjangan kompetensi yang berbeda menurut tingkat akreditasi sekolah asal responden. Pelatihan yang direkomendasikan bagi kepala sekolah dari seluruh tingkat akreditasi sekolah adalah: Diklat terintegrasi berbasis kompetensi, pelatihan manajemen sekolah, pelatihan motivasi diri dan kepemimpinan, pelatihan kewirausahaan, serta pelatihan penggunaan perangkat teknologi dan informasi. Pelatihan dapat dilaksanakan dengan menggunakan metoda pembelajaran orang dewasa (andragogi) dengan proses Experiencial Learning Cycle (ELC) yang mendasarkan pengalaman peserta dan instruktur/pengajar dalam proses pembelajaran. Pelatihan dapat dilaksanakan dengan cara on the job maupun off the job training serta waktu dan durasi pelatihan dapat disesuaikan dengan kepadatan materi yang diberikan.

Item Type: Thesis (Masters)
Uncontrolled Keywords: kepala sekolah, kompetensi, persepsi, kinerja, pelatihan principal, perception, job performance, competencies, training
Subjects: Manajemen Sumber Daya Manusia
Depositing User: Staff-8 Perpustakaan -
Date Deposited: 18 Sep 2012 01:45
Last Modified: 23 Jun 2020 07:49
URI: http://repository.sb.ipb.ac.id/id/eprint/1536

Actions (login required)

View Item View Item