Pengaruh analisis fundamental teknikal dan makroekonomi terhadap perilaku saham sektor pertanian

Artha, Danika Reka (2013) Pengaruh analisis fundamental teknikal dan makroekonomi terhadap perilaku saham sektor pertanian. Masters thesis, Institut Pertanian Bogor.

[img]
Preview
Text
R47-01-Danika-Cover.pdf - Published Version

Download (178kB)
[img]
Preview
Text
R47-02-Danika-Summary.pdf - Published Version

Download (165kB)
[img]
Preview
Text
R47-03-Danika-Ringkasan.pdf - Published Version

Download (166kB)
[img]
Preview
Text
R47-04-Danika-Daftarisi.pdf - Published Version

Download (177kB)
[img]
Preview
Text
R47-05-Danika-Pendahuluan.pdf - Published Version

Download (292kB)
[img] Text
Tesis.pdf
Restricted to Registered users only

Download (2MB)

Abstract

Krisis ekonomi global yang terjadi pada triwulan IV tahun 2008 ditandai dengan melambatnya pertumbuhan ekonomi global sebagai dampak dari peningkatan harga komoditas dunia, terutama harga minyak dan pangan, diperparah dengan krisis keuangan hebat yang melanda Amerika Serikat mengakibatkan luluhnya industri keuangan global. Khusus untuk harga minyak sempat menyentuh $ 133.930/barel yang merupakan rekor tertinggi sepanjang masa. Selain itu krisis ini menyebabkan terjadinya kenaikan suku bunga dan nilai tukar US dolar. Nilai rata-rata kurs US dolar per bulannya meningkat sebanyak 6,94 persen. Naiknya kurs US dolar ini, kemudian diikuti pula oleh naiknya tingkat suku bunga BI rate sebanyak 0,07 persen menjadi 9,25 persen pada tahun 2008 Pasar modal di Indonesia memiliki prospek yang sangat baik dan menjanjikan, hal tersebut dapat dilihat dari semakin meningkatnya nilai IHSG dari tahun ke tahun. Hal tersebut dapat dilihat dari perkembangan sektor-sektor didalam IHSG yang terus mencapai peningkatan namun dengan terjadi krisis pada tahun 2008 peningkatannya menjadi melambat. Analisis fundamental, fundamental perusahaan di sektor pertanian didominasi oleh PT Astra Agro Lestari Tbk ( AALI ) diikuti oleh PT London Sumatra Tbk PT Sinar Mas Agro Tbk tiga perusahaan memiliki nilai positif dapat dilihat dari nilai EPS pada perusahaan ini memiliki nilai tinggi artinya bahwa perusahaan dapat memberikan manfaat yang besar kepada investor dalam bentuk dividen atau keuntungan. Hal tersebut dapat terjadi mengingat komoditas ekspor utama dari tiga perusahaan mengalami peningkatan terutama produksi CPO dan ekspor CPO terutama ke negara-negara Eropa dan Amerika. Selain itu dapat dilihat dari faktor fundamental lainya seperti, Book Value Pershare, Price Earning Ratio, Return on Asset, Return on Equity, Price Book Value, dan Debt Equity Ratio memiliki nilai positif menunjukkan fundamental yang kuat di perusahaan tersebut . Analisis Teknikal dilihat dari tren harga saham. Dapat dilihat dari trend harga saham PT Astra Agro Lestari, Tbk PT London Sumatera,Tbk PT Sinar Mas Agro,Tbk dan kelima perusahaan lainna dimna trend harga saham perusahaan pertanian memperlihatkan kondisi yang fluktuatif. Pada tahun 2007 rata-rata perusahaan sektor pertanian mengalami lonjakan kenaikan pada harga saham namun kenaikan tersebut tidak dapat bertahan pada tahun 2008 dimna krisis global menyebabkan volume perdagangan pada perusahaan sektor pertanian. Perlambatan pertumbuhan ekspor disebabkan oleh menurunnya permintaan dunia yang disebabkan oleh resesi perkonomian, menyebabkan perlambatan laju ekspor pertanian, anjloknya harga komoditas dunia dan meningkatnya tingkat pengangguran global yang akan mempengaruhi jumlah produksi komoditi ekspor terutama cpo yang menjadi sumber utama ekspor perusahaan sektor pertanian Dari sisi makroekonomi posisi tertinggi Bi rate pada bulan Desember 2005 yaitu pada posisi 12,75 persen dan terjadi penurunan yang sangat singnifikan pada akhir tahun 2011 hal ini disebabkan Bank Indonesia mewaspadai tingginya risiko dan ketidakpastian di pasar keuangan global serta kecenderungan menurunnya kinerja perekonomian global akibat permasalahan utang dan fiskal di Eropa dan AS. Level tertinggi tingkat suku bunga Bank Indonesia yaitu di level 12,75 persen dan mengalami penurunan pada triwulan pertama tahun 2006. Tingkat suku bunga yang tinggi tersebut bertujuan untuk menekan kenaikan inflasi yang terjadi pada triwulan awal tahun 2006 hingga triwulan kedua tahun 2006 yaitu 17,92 persen pada triwulan pertama tahun 2006 dan 15,4 persen pada triwulan kedua tahun 2006. Posisi kurs US dolar terhadap rupiah pada Maret 2009 yang merupakan level tertinggi sepanjang periode penelitian terjadi sebagai respon dari krisis ekonomi global yang terjadi yang turut berimbas pula terhadap perekonomian nasional. Tingkat inflasi yang tinggi sebagai respon awal dari krisis ini yaitu berada di level 11,68 persen pada triwulan keempat tahun 2008 mengakibatkan turunnya nilai mata uang rupiah sehingga daya tukarnya terhadap mata uang asing seperti mata uang US dolar juga ikut melemah.pada level Rp 11.575 per US dolar pada Maret 2009. Posisi harga minyak dunia mencapai nilai tertinggi pada Juni 2008 mencapai 133,930 per barel ini merupakan rekor tertinggi sepanjang massa dikarennakan krisis global pada tahun 2008. Meningkatnya konsumsi didasarkan pada rendahnya tingkat suku bunga Bank Sentral Amerika Serikat yang mengakibatkan tersedianya sumber pendanaan dengan biaya yang murah sehingga mendorong perusahaan untuk melakukan ekspansi bisnisnya. Karena kenaikan harga minyak didasarkan pada meningkatnya permintaan, bukan berkurangnya penawaran, maka kenaikan harga minyak sendiri baik secara langsung maupun tidak langsung mendorong kenaikan harga saham khusnya sektor pertanian. Hasil Penelitian model pertama menunjukan bahwa faktor Book Value Pershare (BVS), Price Book Value (PBV), Debt Equity Ratio (DER), Trend Harga Saham, Bi Rate, Harga Minyak Dunia, dan Kurs Rupiah secara bersama-sama memberikan pengaruh terhadap harga saham sektor pertanian sementara faktor Earning Per Share (EPS), Price Earning Rasio (PER), Return On Asset (ROA) Return On Equity (ROE) dan Dummy Krisis tidak memberikan pengaruh terhadap harga saham Sektor Pertanian. Hasil Penelitian model kedua menunjukan faktor Debt Equity Ratio (DER) dan Trend Harga Saham memberikan pengaruh terhadap Return Saham sektor pertanian sementara faktor faktor Earning Per Share (EPS), Book Value Pershare (BVS), Price Earning Rasio (PER), Return On Asset (ROA), Return On Equity (ROE), Trend Harga Saham, Bi Rate, Harga Minyak Dunia, Kurs Rupiah dan Dummy Krisis tidak memberikan pengaruh terhadap return saham Sektor Pertanian

Item Type: Thesis (Masters)
Uncontrolled Keywords: harga saham pertanian, return saham, faktor fundamental, faktor teknikal, faktor makroekonomi, metode regresi panel agriculture 's share price, stock returns, fundamental factors, teknikal factors, macroeconomic factors, panel regression method
Subjects: Manajemen Keuangan
Depositing User: Staff-8 Perpustakaan -
Date Deposited: 25 Feb 2014 08:02
Last Modified: 28 Nov 2019 11:04
URI: http://repository.sb.ipb.ac.id/id/eprint/1649

Actions (login required)

View Item View Item