Analisis kelayakan pendapatan investasi usaha pembesaran lele di wilayah parung, bogor serta implementasinya, terhadap strategi pengembangan

Yoesdiarti, Arti (2010) Analisis kelayakan pendapatan investasi usaha pembesaran lele di wilayah parung, bogor serta implementasinya, terhadap strategi pengembangan. Masters thesis, Institut Pertanian Bogor.

[img]
Preview
Text
R39-01-Arti-Cover.pdf - Published Version

Download (463kB) | Preview
[img]
Preview
Text
R39-02-Arti-Abstract.pdf - Published Version

Download (363kB) | Preview
[img]
Preview
Text
R39-03-Arti-Ringkasaneksekutif.pdf - Published Version

Download (392kB) | Preview
[img]
Preview
Text
R39-04-Arti-Daftarisi.pdf - Published Version

Download (746kB) | Preview
[img]
Preview
Text
R39-05-Arti-Pendahuluan.pdf - Published Version

Download (570kB) | Preview

Abstract

Jumlah penduduk Indonesia di tahun 2008 diperkirakan sebesar 227.779.100 orang dan akan mencapai 247.572.400 orang pada tahun 2015. Tingginya jumlah penduduk adalah indikasi urgensi pemenuhan kebutuhan pangan sebagai kebutuhan manusia yang paling mendasar, diantaranya ikan sebagai penyedia protein yang cukup tinggi. Salah satu produk perikanan air tawar adalah lele. Lele mudah dibudidayakan, dapat dipelihara dengan padat tebar yang tinggi dan dapat dibudidayakan di kawasan marjinal dan hemat air. Lele memiliki pertumbuhan yang cepat sehingga dalam 2 – 3 bulan dapat dipanen. Hal ini menjadikan peternak lebih mudah mengatur aliran kas. DKP RI menargetkan pertambahan luas areal untuk budidaya lele sebesar 38,19% per tahun. Dirjen P2HP menjadikan lele sebagai salah satu komoditas unggulan. Kabupaten Bogor adalah salah satu sentra perikanan lele di Jawa Barat selain Indramayu. Produksi lele di Kabupaten Bogor mencapai 8.149,6 ton di tahun 2008, meningkat 27,86% dibandingkan tahun 2007, yaitu 6.373,5 ton. Budidaya lele di Kabupaten Bogor menghadapi pasar yang berkembang. Populasi penduduk di Jawa Barat dan Jakarta, semakin meningkat dan perkembangan lapak warung tenda pecel lele di Jakarta, Bogor, Depok, Bekasi dan Tangerang. Sentra produksi lele terbesar di Kabupaten Bogor adalah Wilayah Parung yang membawahi empat kecamatan, yaitu Parung, Ciseeng, Gunung Sindur dan Rumpin. Kontribusi Wilayah Parung terhadap produksi lele tahun 2008 adalah 81,66% dari total produksi lele Kabupaten Bogor. Tingginya peluang pasar komoditas lele diikuti oleh ancaman berupa kenaikan harga bahan baku. Data awal dari PT Central Proteinaprima, Tbk (2009) menyatakan bahwa kenaikan harga pakan yang terjadi di tahun 2008 mencapai 26% dan harga benih meningkat sekitar 8% sampai 16% sejak bulan Desember 2008 hingga Maret 2009. Bulan Juli 2009 harga pakan diperkirakan meningkat lagi 3%. Sementara harga jual tingkat peternak berfluktuasi hingga Rp 1300/kg. Kondisi harga input output tersebut menjadikan pendapatan peternak tidak menentu. Sementara sistem bagi hasil yang berlaku di Parung mensyaratkan tingkat bagi hasil yang cukup tinggi. Penelitian bertujuan untuk : (1) Mengidentifikasi kondisi dan karakteristik peternak pembesaran lele di Wilayah Parung, Kabupaten Bogor, (2) Menganalisis kelayakan usaha pembesaran lele yang tengah berjalan, (3)Mengidentifikasi skala usaha yang dapat memenuhi kelayakan biaya hidup sesuai standar internasional ($2/kapita/hari dengan asumsi jumlah tanggungan 4 orang dan nilai tukar rupiah untuk 1 Dollar Amerika adalah Rp 10.000), (4) Memformulasikan strategi untuk meningkatkan kelayakan usaha dan (5) Menganalisis kelayakan investasi usaha pembesaran lele. Penelitian dilakukan di tiga kecamatan, yaitu Kecamatan Ciseeng, Kecamatan Gunung Sindur dan Kecamatan Parung. Penelitian dilakukan pada Bulan April 2009 – Juni 2009. Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian kasus melalui riset deskriptif. Data yang dikumpulkan adalah data primer cross section (Januari dan April) dan data sekunder. Data primer diperoleh dari hasil wawancara dengan menggunakan kuesioner kepada peternak. Penelitian dibagi dalam tiga skala usaha berdasarkan luas kolam yang dimiliki, yaitu skala 1 (< 2500 m2) sebanyak 17 responden, skala 2 (2500 m2 sampai 5000 m2) sebanyak 10 responden dan skala 3 (> 5000 m2) sebanyak 3 responden. Metode pengambilan dilakukan dengan cara proportional convenience sampling berdasarkan tingkat homogenitas di setiap skala. Analisis yang dilakukan meliputi : (1) Analisis deskriptif mengenai karakter peternak dan usaha ternak, (2) Analisis usaha yang terdiri dari analisis biaya produksi, penerimaan dan analisis pendapatan usaha, (3) Analisis skala usaha minimum dengan simulasi dan Break Event Point (4) Analisis strategi fokus melalui analisis economic of scale dan faktor-faktor budidaya yang dapat meningkatkan R/C Ratio dengan regresi berganda, (5) Analisis kelayakan investasi secara finansial pendekatan cash flow untuk menghitung NPV, IRR dan PBP dan dilanjutkan dengan Analisis Sensitivitas, (6) Perumusan alternatif strategi untuk meningkatkan kelayakan peternak berdasarkan analisis deskriptif, finansial dan statistik. Pengolahan data menggunakan SPSS Versi 11.0. Analisis kelayakan investasi melalui pengolahan data dan simulasi dengan Microsot Excell 2003. Hasil analisis deskriptif menunjukkan bahwa secara keseluruhan, semakin besar skala usaha, maka usia, tahun pendidikan, pengalaman responden, dan biaya hidup responden semakin tinggi. Lahan yang digunakan untuk usaha 50% milik pribadi dan 50% menyewa. Luas kolam skala 1 lebih kecil dari skala 2, sementara skala 2 lebih besar dari skala 3. Rata-rata jumlah kolam di skala 1 adalah 13 kolam, skala 2 adalah 28 kolam dan skala 3 70 kolam. Secara keseluruhan, rata-rata kolam yang dimiliki oleh responden adalah 24 kolam. Jumlah kolam yang dipanen per bulan rata-rata adalah 11 kolam per periode dengan luas 1546,08 m2. Jenis kolam responden 90% adalah kolam tanah dan 10% kolam semen. Dari sisi teknologi, peralatan budidaya yang digunakan tidak berbasis mesin. Pada administrasi, 10 orang responden dilakukan komputerisasi, 15 orang mencatat dalam buku dan 5 orang lainnya di skala 1 tidak memiliki catatan. Sejumlah 90% responden telah melakukan teknik budidaya dengan baik sesuai panduan. 76,67% responden telah menggunakan probiotik. FCR pelet paling efisien adalah skala 3 (1,09), sementara FCR paling tidak efisien adalah skala 2 (1,137). Pada lele, harga tertinggi adalah pada ukuran daging, sementara ukuran big size dan sortir harganya lebih rendah sekitar 1500 sampai dengan 2000 rupiah per kilogramnya. Pada periode Januari, lele yang diproduksi rata-rata mencapai 13.752 kg/orang, sementara periode April, 11.780 kg/orang. Survival rate di Bulan Januari lebih tinggi daripada di Bulan April. Panen dijual ke pedagang pengumpul dan peternak inti. Harga jual lele berfluktuasi. Peternak plasma memperoleh pinjaman berupa benih dan atau pakan dari peternak inti. Peternak inti memperoleh pinjaman dari pabrik pakan berupa pakan yang dapat dibayar dengan tempo. Tidak ada responden yang dibiayai oleh lembaga keuangan. Berdasarkan analisis pendapatan, rata-rata usaha pembesaran lele yang tengah berlangsung pada ketiga skala usaha layak dijalankan karena memiliki laba positif dan R/C Ratio yang lebih dari satu. Hasil analisis pendapatan yang diuji untuk memenuhi biaya hidup menyimpulkan bahwa usaha ini dapat memenuhi kebutuhan hidup responden berdasarkan standar internasional. Pada seluruh skala usaha ini layak didanai modal kerjanya oleh bank umum namun jika dihitung dengan biaya hidup maka skala 2 dan 3 yang layak untuk didanai. Pendanaan dengan sistem bagi hasil inti plasma layak dilakukan semua skala, namun jika menghitung biaya hidup hanya skala 2 dan 3 yang layak. Analisis sensitivitas menunjukkan peningkatan harga pakan lebih dari 15,74% dan penurunan harga jual lebih dari 10,34% akan mengakibatkan kerugian pada rata-rata peternak Parung. Strategi ekstensifikasi layak dilakukan oleh peternak di skala 1 dan skala 2 karena hubungan antara laba rata-rata/kg lele dan R/C Ratio per kilogram lele menunjukkan nilai yang semakin meningkat di skala 2, namun menurun di skala 3. Biaya rata-rata per kg lele menurun di skala 2 namun meningkat di skala 3. Oleh karena itu skala 3 sebaiknya tidak melakukan strategi ekstensifikasi mengingat dampak kerugian yang sangat besar jika terjadi penurunan harga. Strategi intensifikasi dapat dilakukan semua skala. Berdasarkan kelulusan uji asumsi dasar dan uji kebaikan model, diperoleh persamaan terbaik yaitu : R/C = 1.222 + 1.57x10-7 Qty benih – 0.07 Hari – 0.01 Padat + 0.016 Ukuran + 0.011 Pak.kg Hari panen dan padat tebar berkorelasi negatif dengan R/C Ratio, sehingga hari panen dan padat tebar harus diperhatikan. Kuantitas benih dan ukuran benih berkorelasi positif terhadap peningkatan R/C Ratio. Kelayakan usaha di setiap skala disimpulkan layak untuk dijalankan. PBP seluruh skala dapat diperoleh dalam jangka waktu kurang dari satu tahun. Analisis sensitifitas dengan menggunakan switching value menunjukkan bahwa usaha pembesaran lele sangat sensitif terhadap perubahan harga pakan dan harga jual. Sementara, harga jual lele sangat dipengaruhi kondisi penawaran dan permintaan dengan komoditi substitusi yang cukup banyak dan berpengaruh, seperti lele yang dijual oleh peternak di Indramayu dan Jawa Tengah, komoditas ikan air tawar lain, komoditas ikan air laut dan ternak non ikan terutama ayam sebagai pelengkap menu di warung tenda. Harga pakan juga dipengaruhi oleh fluktuasi nilai tukar karena bahan baku pakan pelet yang diproduksi oleh pabrik pakan berasal dari luar negeri. Hal ini juga diperkuat dengan adanya standar deviasi yang sangat tinggi pada laba baik di skala 1, 2 maupun 3, yang menunjukkan adanya fluktuasi yang sangat tinggi. Implementasi strategi yang dirumuskan berdasarkan analisis usaha pembesaran lele layak dijalankan jika: (1) peternak melakukan diversifikasi bulan panen (membagi panen dalam dua bulan) sehingga terjadi diversifikasi resiko untuk fluktuasi harga jual, (2) Peternak di skala 1 dan 2 sebaiknya meningkatkan skala usaha sampai skala produksi 40.000 kg/bulan, karena sampai skala tersebut biaya menurun dan laba meningkat. Selain itu diversifikasi resiko lebih tersebar jika kolam yang ditebar bervariasi waktu tanamnya. (3) Pada skala 3, usaha lebih dari 40.000 kg/bulan sebaiknya dilakukan diversifikasi produk dengan usaha non perikanan konsumsi. Hal ini untuk mengurangi dampak kerugian jika terjadi kondisi ekstrim. (5) Ekstensifikasi dapat dilakukan dengan sistem inti plasma karena menguntugnkan bagi kedua pihak dan terjadi pembagian resiko, (6) Peternak harus memperhatikan hari panen dan padat tebar karena akan menurunkan R/C Ratio. Ukuran dan pemberian pakan akan meningkatkan R/C Ratio jika dilakukan lebih baik. Adapun strategi pembiayaan modal kerja dapat dilakukan melalui bank umum untuk minimal skala usaha 6 kolam, namun yang terbaik adalah minimal 8 kolam karena dapat memenuhi biaya hidup. Pembiayaan melalui BPR dapat dilakukan pada peternak yang memiliki 8 kolam namun akan lebih baik pada peternak yang memiliki kolam lebih dari 8. Pembiayaan dengan inti plasma layak dilakukan pada semua skala, namun untuk memenuhi biaya hidup sebaiknya plasma adalah peternak yang memiliki usaha pada skala 2.

Item Type: Thesis (Masters)
Uncontrolled Keywords: Budidaya Pembesaran Lele, Parung Kabupaten Bogor, Manajemen Keuangan, Strategi Peningkatan Kelayakan Usaha, Analisis kelayakan, Analisis Skala Ekonomi, Analisis regresi, studi kasus
Subjects: Manajemen Keuangan
Depositing User: SB-IPB Library
Date Deposited: 05 Mar 2014 05:59
Last Modified: 14 Jun 2016 06:48
URI: http://repository.sb.ipb.ac.id/id/eprint/1663

Actions (login required)

View Item View Item