Strategi pengembangan teknologi dan investasi usaha pengolahan sagu di pulau ambon

Atapary, Ketsia CH (2010) Strategi pengembangan teknologi dan investasi usaha pengolahan sagu di pulau ambon. Masters thesis, Institut Pertanian Bogor.

[img]
Preview
PDF
R40-01-Ketsia-Cover.pdf - Published Version

Download (1MB)
[img]
Preview
PDF
R40-02-Ketsia-Abstrak.pdf - Published Version

Download (312kB)
[img]
Preview
PDF
R40-03-Ketsia-RingkasanEksekutif.pdf - Published Version

Download (322kB)
[img]
Preview
PDF
R40-04-Ketsia-DaftarIsi.pdf - Published Version

Download (330kB)
[img]
Preview
PDF
R40-05-Ketsia-Pendahuluan.pdf - Published Version

Download (695kB)

Abstract

Sektor pertanian/kehutanan menjadi harapan terbesar bagi bangsa Indonesia dalam upaya menghadapi krisis pangan dan krisis ekonomi yang terjadi saat ini. Dalam rangka menciptakan ketahanan pangan yang berkelanjutan (sustainable), perlu diiringi upaya diversifikasi pangan bahan baku domestik. Salah satu komoditas non beras yang berpotensi untuk menghasilkan pangan (karbohidrat) adalah sagu. Provinsi Maluku mempunyai potensi sagu yang cukup besar, namun potensi yang besar tersebut masih belum optimal mengangkat perekonomian masyarakat di daerah tersebut, khususnya para petani. Sebuah pendekatan yang besifat multidisiplin, dalam usaha menciptakan terobosan untuk membangun usaha agribisnis yang berbasis komoditi unggulan daerah yang dapat meningkatkan kualitas dan nilai tambah (value added) dari komoditi sagu, dapat dilakukan melalui diversifikasi produk, terutama untuk meningkatkan kesejahteraan dan pendapatan masyarakat petani. Hal ini sejalan dengan visi dan misi Pemerintah daerah Maluku. Data yang ada menunjukkan bahwa luas areal tanaman sagu untuk Provinsi Maluku sekitar 94.949 ha, dan yang potensial berkisar 31.360 ha. Namun demikian, hasil komoditi sagu belum optimal dalam memenuhi permintaan pasar domestik. Melihat potensi daerah dan sumber daya yang dimiliki serta terbukanya kesempatan untuk merebut peluang pasar, maka pengembangan teknologi dan inovasi usaha pengolahan sagu memiliki prospek yang baik untuk dikembangkan dan dijadikan andalan dalam struktur perekonomian daerah Maluku, khususnya Pulau Ambon. Di Maluku khususnya pulau Ambon usaha sagu banyak dilakukan oleh kelompok masyarakat ataupun perorangan yang merupakan usaha kecil skala rumah tangga, untuk kelompok pengolah sagu terdapat kurang lebih sekitar 42 kelompok. Untuk itu diperlukan suatu strategi yang tepat untuk melaksanakan usaha pengolahan sagu khususnya yang dilakukan oleh kelompok masyarakat di Pulau Ambon, mengingat areal tanaman sagu di Pulau Ambon luasnya ± 2.490 ha. Dari kondisi ini, maka masalah yang dirumuskan dalam penelitian ini adalah: 1) Bagaimanakah pemanfaatan komponen teknologi dan kemampuan inovasi pada unit-unit usaha pengolahan sagu di Pulau Ambon, 2) Faktor-faktor apakah yang paling berpengaruh dalam mengoptimalkan perkembangan usaha kelompok pengolah sagu di Pulau Ambon, 3) Bagaimana merumuskan alternatif strategi teknologi dan inovasi pada kelompok pengolah sagu di Pulau Ambon. Tujuan dari penelitian ini adalah: 1) Menetapkan status teknologi serta kemampuan inovasi proses dan produk yang dimiliki oleh unit-unit usaha pengolah sagu di Pulau Ambon, 2) Menentukan faktor-faktor yang paling berpengaruh terhadap pengembangan usaha pengolahan sagu di Pulau Ambon, 3) Merumuskan alternatif strategi pengembangan teknologi dan inovasi usaha pengolahan sagu yang harus dikembangkan oleh kelompok pengolah sagu, untuk memaksimalkan kinerja usaha pengolahan sagu di Pulau Ambon. Penelitian ini menggunakan metode penelitian studi kasus yang merupakan jenis penelitian deskripsi. Adapun jenis data yang diambil terdiri dari data primer dan data sekunder dengan teknik memperoleh data melalui wawancara, observasi dan studi pustaka. Teknik pengambilan responden menggunakan metode purposive sampling yaitu dengan menentukan atau memilih secara sengaja responden yang akan diteliti. Adapun tahap yang dilakukan dalam analisa data adalah; 1) analisis lingkungan internal dan eksternal, 2) menyusun pilihan strategi dengan menggunakan alat bantu matrik TOWS, dan 3) penentuan strategi prioritas dengan menggunakan QSPM. Berdasarkan identifikasi faktor lingkungan internal yang mempengaruhi pengembangan teknologi dan inovasi usaha pengolahan sagu di Pulau Ambon, diperoleh faktor kekuatan dan kelemahan. Perolehan bobot dari hasil evaluasi pada matrik IFE menunjukan urutan dari faktor kekuatan dan kelemahan tersebut. Untuk faktor kekuatan: 1) kemampuan motivasi petani dalam pengolahan sagu (0.124), 2) adanya potensi lahan sagu (0.116), 3) program kerja dinas pertanian (0.109), 3) keberadaan petugas penyuluh (0.120). Untuk faktor kelemahan: 1) mahalnya harga alat dan mesin pengolahan (0.099), 2) keterbatasan modal (0.120), 3) kurangnya koordinasi antar lembaga terkait (0.116), 4) tingginya biaya transportasi dan sarana jalan yang kurang memadai (0.095) dan 5) kurang tersedianya mesin/peralatan di pasar lokal (0.101). Berdasarkan identifikasi faktor-faktor lingkungan eksternal diperoleh peluang dan ancaman. Perolehan bobot dari hasil evaluasi pada matrik EFE menunjukan urutan dari faktor peluang dan ancaman tersebut. Untuk faktor peluang: 1) dukungan pemerintah daerah (0.165), 2) peluang diversifikasi untuk produk olahan masih besar (0.137), 3) faktor adanya lembaga penunjang (pemerintah/swasta/ BUMN) (0.148), 4) tersedianya pasar (0.122). Untuk faktor ancaman: 1) ketersediaan air di lokasi pengolahan (0.103), 2) fluktuasi harga (0.100), 3) kurangnya informasi pasar (0.114) dan 4) stabilitas ekonomi (0.111). Hasil evaluasi matrik IFE untuk peringkat, pada faktor kekuatan terlihat bahwa perolehan peringkat 4 untuk faktor kemampuan dan motivasi petani dalam pengolahan sagu menjelaskan bahwa faktor ini merupakan kekuatan utama dalam mengembangkan teknologi dan inovasi usaha pengolahan sagu. Sedangkan pada faktor kelemahan perolehan peringkat 1 untuk faktor kurang tersedianya mesin/peralatan di pasar lokal, menjelaskan bahwa faktor ini merupakan faktor kelemahan utama yang dimiliki dalam mengembangkan teknologi dan inovasi usaha pengolahan sagu di pulau Ambon. Hasil evaluasi matrik EFE untuk peringkat, pada faktor peluang terlihat faktor dukungan pemerintah daerah dengan skor peringkat 3 direspon dengan baik, pada faktor ancaman telihat faktor stabilitas ekonomi dan fluktuasi harga memperoleh peringkat 1 yang menjelaskan bahwa faktor ini kurang mendapat respon. sedangkan untuk faktor kurangnya informasi pasar dan ketersediaan air di lokasi mengolahan mendapat respon yang cukup baik dengan memperoleh peringkat 2. Total skor tertimbang untuk faktor lingkungan internal adalah 2.608 artinya kondisi internal daerah berada pada kondisi yang cukup kuat, ini ditunjukan oleh total skor tertimbang berada di atas total skor rata-rata 2,5. Total skor tertimbang untuk faktor lingkungan eksternal adalah 2.241 artinya untuk pengembangan teknologi dan inovasi usaha pengolahan sagu di pulau Ambon, Provinsi Maluku belum mampu memanfaatkan peluang dan belum dapat menghindari ancaman, ini ditunjukan dengan total skor tertimbang yang berada di bawah total skor rata-rata 2,5. Penggabungan kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman kedalam matrik TOWS menghasilkan 4 (empat) pilihan strategi serta berdasarkan hasil analisis QSPM diperoleh urutan prioritas strategi tersebut yaitu: 1) Pengembangan teknologi pengolahan hasil (total TAS 6.222); 2) Peningkatan kapasitas SDM petani dan aparatur (total TAS 6.127); 3) Pengembangan kemitraan antar pelaku usaha (total TAS 6.000); dan 4) Pengembangan ketersediaan fasilitas penunjang (total TAS 5.788). Adanya keterkaitan diantara keempat strategi yang dihasilkan, disarankan dalam pelaksanaannya keempat strategi tersebut sebaiknya dilakukan secara bersama-sama atau apabila tidak memungkinkan, dilaksanakan dalam rentang waktu yang tidak terlalu lama. Dalam rangka pengembangan kemitraan antar pelaku usaha pemerintah daerah dapat bekerja sama dengan instansi terkait lainnya baik instansi pemerintah, swasta atau BUMN, dengan tetap menempatkan diri sebagai koordinator sehingga koordinasi antar instansi terkait dapat lebih terpadu dan harmonis. Dalam rangka pelaksanakan strategi peningkatan kapasitas SDM petani dan aparatur, strategi pengembangan teknologi pengolahan hasil dan strategi pengembangan ketersediaan fasilitas penunjang dapat dilakukan melalui pemberian pelatihan-pelatihan dan penyuluhan baik kepada aparatur dinas maupun petani guna meningkatkan pengetahuan dan membentuk budaya kerja yang lebih baik serta menambah wawasan dan meningkatkan pengetahuan petani sehingga diharapkan petani dapat lebih mudah menyerap teknologi.

Item Type: Thesis (Masters)
Uncontrolled Keywords: technology, innovation, Ambon Island, strategi, sago, IFE-EFE, TOWS, QSPM. teknologi, inovasi, Pulau Ambon, strategi, sagu, matrik IFE dan EFE, matrik TOWS, QSPM.
Subjects: Manajemen Teknologi > Manajemen Teknologi Agribisnis
Depositing User: SB-IPB Library
Date Deposited: 08 Mar 2014 03:17
Last Modified: 14 Jun 2016 02:49
URI: http://repository.sb.ipb.ac.id/id/eprint/1678

Actions (login required)

View Item View Item