Analisis pergerakan dan volatilitas beberapa saham LQ-45 pada periode krisis ekonomi global

Asgar, Yadi Padlinuryayi (2010) Analisis pergerakan dan volatilitas beberapa saham LQ-45 pada periode krisis ekonomi global. Masters thesis, Institut Pertanian Bogor.

[img]
Preview
PDF
E28-01-Yadi-Cover.pdf - Published Version

Download (331kB)
[img]
Preview
PDF
E28-02-Yadi-Abstrak.pdf - Published Version

Download (310kB)
[img]
Preview
PDF
E28-03-Yadi-RingkasanEksekutif.pdf - Published Version

Download (382kB)
[img]
Preview
PDF
E28-04-Yadi-DaftarIsi.pdf - Published Version

Download (320kB)
[img]
Preview
PDF
E28-05-Yadi-Pendahuluan.pdf - Published Version

Download (180kB)
Official URL: http://elibrary.mb.ipb.ac.id

Abstract

Pada awal tahun 2008 terjadi krisis energi yang membayangi perekonomian global, ditandai dengan meningkatnya harga minyak dunia sampai menyentuh harga tertinggi $170 per barrel yang kemudian mengakibatkan kenaikan inflasi yang cukup tinggi. Memasuki kuartal ketiga tahun 2008 terjadi krisis keuangan global. Krisis keuangan global dimulai dari Amerika. Berbeda dari krisis keuangan tahun 1997 yang berdampak lokal, krisis tahun 2008 meluas ke hampir seluruh belahan dunia. Krisis global ini membuat perekonomian dunia terganggu, harga-harga komoditas merosot, akibat dunia mengurangi produksinya. Dengan terganggunya perekonomian dunia, mempengaruhi perdagangan luar negeri Indonesia. Menurut data yang dikeluarkan oleh Departemen Keuangan selama kurun waktu Januari sampai September 2008, nilai ekspor Indonesia stabil di angka USD 11,5 milliar. Tetapi mulai bulan Oktober 2008 nilai ekspor Indonesia terus menurun. Di bulan Oktober nilai ekpor turun menjadi USD 10,7 milliar, dilanjutkan di bulan November USD 9,6 milliar, bulan Desember sebesar USD 8,7 milliar dan di bulan Januari 2009 turun menjadi USD 7,1 milliar. Krisis global yang mengganggu perekonomian di dunia ini sangat besar pengaruhnya terhadap perekonomian Indonesia. Dilihat dari indikator Makroekonomi di Indonesia, inflasi year on year mencapai 12,14% di tanggal 30 September 2008, Suku bunga Bank Indonesia (SBI) mencapai 11,14% di 5 November 2008, nilai tukar rupiah dilihat dari kurs tengah Bank Indonesia mencapai Rp 12.400 per 1 dollar Amerika dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dari nilai 2800 di awal tahun 2008 turun mencapai 1.111 point di tanggal 28 Oktober 2008. Berdasarkan latar belakang diatas, maka dirumusakan masalah sebagai berikut 1) Apakah krisis global mempengaruhi pergerakan harga beberapa saham yang masuk ke dalam indeks LQ-45? 2) Apakah ada perbedaan volatilitas dan tingkat risiko dari beberapa saham LQ-45, antara yang rentan terhadap pengaruh krisis global dengan yang kurang rentan terhadap pengaruh krisis global? Tujuan penelitian ini adalah untuk 1 )Menganalisis apakah krisis global mempengaruhi pergerakan harga beberapa saham yang masuk ke dalam indeks LQ-45. 2) Membandingkan volatilitas dan tingkat risiko dari beberapa saham LQ-45, antara yang rentan terhadap pengaruh krisis global dengan yang kurang rentan terhadap pengaruh krisis global. Penelitian dilakukan selama dua bulan dengan menganalisa data time series return periode Januari 2004 sampai dengan Desember 2008. data time series tersebut didapatkan dari jaringan informasi Bloomberg dan website www.finance.yahoo.com . Juga beberapa informasi lain dari laporan keuangan masing-masing saham. Penelitian ini diolah dalam beberapa langkah, yaitu 1) Mengetahui pergerakan harga saham dari masing-masing saham periode data Januari 2008 sampai Desember 2009. 2) Membagi saham-saham tersebut kedalam dua kelompok yang didasarkan kepada besaran nilai ekspor masing-masing perusahaan. Patokan nilai ekspor yang dipakai adalah 30%, sehingga kelompok A adalah kelompok dengan perusahaan yang mempunyai nilai ekspor kurang dari 30% dan kelompok B adlah perusahaan yang mempunyai nilai ekspor lebih dari 30%. 3) Menghitung nilai risiko dari masing-masing saham periode krisis (tahun 2008) dengan menggunakan Microsoft Excell untuk mengetahui standar deviasi. 3) Data time series return dilakukan pengujian sebelum masuk kepada metode ARCH-GARCH, yaitu dengan melakukan Uji Stasioneritas Return, Uji Kenormalan Data, Uji Autokorelasi. 4) Dengan metode Box-Jenkins akan diketahui model tentative ARIMA lalu dilanjutkan kepada model ARCH-GARCH. 5) Setelah model ARCH-GARCH terbentuk maka dilakukan peramalan ragam dilanjutkan dengan menghitung tingkat risiko (value at risk) dari masing-masing saham. Dari seluruh saham yang masuk Indeks LQ-45 sejak tahun 2004 sampai tahun 2009, didapatkan hanya dua belas saham yang konsisten berada dalam indeks LQ-45. Keduabelas saham tersebut dilihat nilai produksinya apakah mempunyai nilai ekspor kurang dari 30% maka akan dimasukkan ke dalam kategori kelompok A. Dihasilkan ada tujuh saham yang masuk dalam kategori kelompok A yaitu saham ASII, BBCA, INDF, ISAT, AALI, TLKM, UNTR. Ada lima saham yang masuk ke dalam kelompok B karena mempunyai nilai ekspor lebih dari sama dengan 30%, yaitu SMCB, ANTM, INCO, INKP dan PTBA. Hasil analisis didapatkan bahwa pergerakan harga saham dari seluruh saham yang masuk objek penelitian ternyata mempunyai pola pergerakan harga yang berbeda-beda pada saat terjadinya krisis global tahun 2008. Didapatkan empat pola pergerakan yaitu A) Stabil, seperti pada pergerakan harga saham BBCA. B) Menurun secara halus (perlahan-lahan), seperti pada pergerakan harga saham ISAT dan TLKM. C) Menurun tajam, seperti pada pergerakan harga saham ASII, INDF, UNTR, SMCB dan PTBA. Pergerakan harga ini relatif mirip dengan pergerakan IHSG dan Indeks LQ-45 untuk periode Agustus sampai November 2008. D) Menurun sangat tajam, seperti pada pergerakan harga saham AALI, ANTM, INCO dan INKP. Dilihat dari tingkat risiko yang dihitung dengan mencari standar deviasi untuk data time series return periode Januari 2008 sampai Desember 2008 didapatkan bahwa saham BBCA, ISAT dan TLKM mempunyai tingkat risiko yang sangat kecil, sedangkan ANTM, AALI dan INCO mempunyai tingkat risiko sangat besar. Berikut urutan tingkat risiko dari saham dimulai dengan tingkat risiko terendah yaitu dimulai dari BBCA, ISAT, TLKM, PTBA, ASII, INDF, SMCB, UNTR, INKP, ANTM, AALI dan terakhir INCO. Dari hasil pengujian data time series return diketahui bahwa seluruh data sudah stasioner, seluruh data tidak normal dan seluruh data mempunyai autokorelasi. Dilanjutkan dengan mencari model ARIMA tentatif. Model ARIMA yang terpilih didasarkan dari nilai AIC/SC, memiliki koefisien yang signifikan, dan nilai koefisiennya tidak lebih besar dari 1. Uji Heteroskedastisitas bertujuan untuk mengetahui apakah varian dari return bersifat konstan atau tidak. Apabila varian dari return adalah konstan (homoskedastis) maka perhitungan volatilitas return cukup dengan menggunakan persamaan standar deviasi biasa, namun jika tidak konstan (heteroskedastic) maka perhitungan volatilitas return dilakukan dengan pendekatan ARCH-GARCH. Untuk mengetahui apakah varian return heteroskedastis atau homoskedastis, maka dilakukan pengujian dengan ARCH LM Test dengan menggunakan software Eviews 5.1 Dihasilkan bahwa seluruh saham sudah bersifat heteroskedastis. Hasil model ARCH-GARCH didapatkan bahwa saham ASII mempunyai model GARCH (1,1), BBCA mempunyai model GARCH (2,1), INDF mempunyai model GARCH (1,1), ISAT mempunyai model GARCH (2,2), AALI mempunyai model GARCH (2,1), TLKM mempunyai model GARCH (2,1), UNTR mempunyai model GARCH (1,1), SMCB mempunyai model GARCH (2,1), ANTM mempunyai model GARCH (1,2), INCO mempunyai model GARCH (2,2), INKP mempunyai model GARCH (2,1) dan PTBA mempunyai model GARCH (1,1). Untuk mengetahui kecukupan model dilakukan pemeriksaan terhadap galat terbakukan dengan mengamati nilai statistic uji Jarque Bera (JB) untuk memeriksa asumsi kenormalan. Diketahui seluruh data tidak normal, maka untuk menghitung tingkat risiko tidak menggunakan α 1.65 dengan tingkat kepercayaan 95%. Maka dilakukan perhitungan Cornish Fisher untuk mendapatkan α’. Perhitungan tingkat risiko dapat dihasilkan dengan berbagai cara. Hasil dari menghitung tingkat risiko menggunakan standar deviasi dengan data hanya pada waktu krisis (2008) menghasilkan tingkat risiko sedikit berbeda dengan menggunakan model ARCH-GARCH dengan data dari tahun 2004 sampai dengan tahun 2009. Secara umum dilihat dari tingkat risiko menggunakan metode ARCH-GARCH, saham-saham yang masuk kelompok B mempunyai tingkat risiko yang lebih tinggi dibandingkan dengan saham-saham yang masuk dalam kelompok A. Saham yang masuk dalam kelompok B mayoritas merupakan saham sektor pertambangan, saham-saham ini sangat diminati oleh investor terutama pada periode 2004-2008, diakibatkan salah satunya oleh tingginya harga minyak bumi yang mempunyai pengaruh terhadap komoditi pertambangan lain seperti nikel dan batubara yang mengikuti harga minyak bumi. Saham yang masuk kelompok yang kurang rentan terhadap pengaruh krisis global ternyata menempati 4 peringkat pertama saham dengan tingkat resiko terendah yaitu saham ISAT, TLKM, BBCA dan INDF. Saham-saham ini merupakan saham unggulan karena kinerja perusahaannya yang sangat baik. Saham yang masuk kelompok yang rentan terhadap pengaruh krisis global ternyata menempati 4 peringkat terakhir saham dengan tingkat resiko tertinggi yaitu saham PTBA, INCO dan ANTM. Tiga dari empat saham tersebut merupakan saham yang masuk dalam sektor pertambangan. Informasi mengenai nilai ekspor dari seluruh perusahaan yang terdaftar di bursa Efek Indonesia diharapkan dapat diakomodir oleh Bapepam. Nilai ekspor itu perlu sebagai bahan pertimbangan investor dalam membeli saham suatu perusahaan, apalagi jika terjadi kembali krisis ekonomi global.

Item Type: Thesis (Masters)
Uncontrolled Keywords: Krisis Global, Saham, ARCH-GARCH, Tingkat Risko, Indeks LQ-45.
Subjects: Manajemen Keuangan
Depositing User: SB-IPB Library
Date Deposited: 08 Mar 2014 08:08
Last Modified: 29 Aug 2014 08:02
URI: http://repository.sb.ipb.ac.id/id/eprint/1688

Actions (login required)

View Item View Item