Peningkatan efisiensi manajemen rantai pasok melalui pengendalian persediaan filler dan bahan kemasan roti manis di pt. nippon indosari corpindo

Purnamasari, Hikmah (2011) Peningkatan efisiensi manajemen rantai pasok melalui pengendalian persediaan filler dan bahan kemasan roti manis di pt. nippon indosari corpindo. Masters thesis, Institut Pertanian Bogor.

[img]
Preview
PDF
R42-01-Hikmah-Cover.pdf - Published Version

Download (406kB)
[img]
Preview
PDF
R42-02-Hikmah-Abstrak.pdf - Published Version

Download (315kB)
[img]
Preview
PDF
R42-03-Hikmah-RingkasanEksekutif.pdf - Published Version

Download (332kB)
[img]
Preview
PDF
R42-04-Hikkmah-DaftarIsi.pdf - Published Version

Download (334kB)
[img]
Preview
PDF
R42-05-Hikmah-Pendahuluan.pdf - Published Version

Download (648kB)
Official URL: http://elibrary.mb.ipb.ac.id

Abstract

Untuk dapat memenangkan persaingan, tidak hanya inovasi yang perlu dilakukan oleh suatu perusahaan, tetapi juga bagaimana agar bisnis yang dijalankan dapat berjalan secara efektif dan efisien (low cost). Industri roti merupakan salah satu perusahaan yang memerlukan inovasi, efektifitas serta efisiensi dalam aktivitas perusahaan. PT. Nippon Indosari Corpindo z(PT. NIC) merupakan perusahaan pertama dan terbesar di Indonesia yang memproduksi roti secara massal dengan merek Sari Roti. Dari dua jenis roti yang dipasarkan PT. NIC, roti manis memiliki tingkat penjualan yang jauh lebih tinggi dibandingkan jenis roti tawar. Dalam hal persediaan, roti manis memiliki tingkat kompleksitas yang tinggi dalam penyediaan bahan baku. Selain bahan baku utama terdapat bahan kemasan dan bahan pendukung yang menjadi penentu dalam menghasilkan roti manis yaitu filler. Tingkat permintaan roti manis yang sangat berfluktuatif mengharuskan perusahaan untuk selalu menyediakan persediaan dalam jumlah yang cukup besar guna mengatasi lonjakan permintaan. Pengendalian persediaan yang baik akan mendukung performa Supply Chain Management (SCM) yang juga menjadi salah satu faktor pendukung keberhasilan suatu perusahaan. Untuk itu, fenomena rantai pasokan ini penting untuk dikaji guna mengatasi permasalahan yang terjadi didalam rantai pasokan, khususnya pada pengendalian persediaan yang diterapkan perusahaan. Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisis model persediaan bahan pelengkap (filler) dan bahan kemasan pada roti manis, serta memberikan rekomendasi model persediaan filler dan bahan kemasan untuk meningkatkan kinerja rantai pasok di PT. NIC. Dalam identifikasi permasalahan di sepanjang rantai pasok serta upaya peningkatan kinerja rantai pasok, maka dilakukan analisis SCM dengan menggunakan metode SCOR. Melalui analisis SCM tersebut, ditemukan permasalahan di bagian Production, Planning, and Inventory Control (PPIC) yaitu terdapat sisa stok yang cukup besar pada filler dan bahan kemasan yang mengakibatkan meningkatnya biaya simpan pada total biaya persediaan. Hal ini menyebabkan ketidakefisienan dalam rantai pasok, oleh karenanya untuk meningkatkan efisiensi tersebut, dilakukan upaya pengendalian persediaan dengan menggunakan metodel pengendalian persediaan berdasarkan service level yang dapat meminimumkan total biaya persediaan. Penelitian ini dilakukan di PT. NIC pada bulan Juli 2010 sampai Agustus 2010. Lingkup penelitian ini adalah hanya pada persediaan filler dan bahan kemasan roti manis yang secara berkelanjutan diproduksi. Dari pengkajian fenomena model rantai pasok roti di PT. NIC, pada umumnya telah memiliki peforma kinerja rantai pasok yang cukup baik hanya saja teridentifikasi permasalahan dalam hal pengendalian persediaan yaitu pada roti manis dalam pengendalian persediaan filler dan bahan kemasannya. Hasil penelitian untuk analisis pada model rantai pasok dengan menggunakan metode SCOR dilakukan hanya sampai pada matriks level 1. Permasalahan utama dalam pengendalian persediaan filler dan bahan kemasan adalah persediaan yang berlebih yang disebabkan karena perusahaan tidak ingin terjadinya kekurangan dalam pemenuhan permintaan roti, sehingga dengan menggunakan analisis model persediaan dengan service level perusahaan dapat menyediakan persediaan yang dibutuhkan sesuai dengan service level yang diinginkan. Service level yang diinginkan oleh perusahaan adalah sebesar 99,9% dengan 0,01% kemungkinan terjadinya kekurangan persediaan. Hasil dari model persediaan service level tersebut adalah berapa unit yang sebaiknya dipesan (Q optimal), persediaan cadangan, reorder point, dan frekuensi pemesanan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat inefisiensi di dalam penerapan pengendalian persediaan, dimana perbandingan antara jumlah permintaan pembelian menggunakan model persediaan service level dengan permintaan pembelian perusahaan secara keseluruhan menunjukkan adanya potensi penghematan sebesar 47% untuk filler dan 46% untuk kemasan. Dengan menggunakan model persediaan service level, perusahaan dapat melakukan penghematan biaya penyimpanan persediaan cadangan sebesar 69% dari rata-rata penghematan lima macam filler dan penghematan sebesar 83% untuk rata – rata penghematan persediaan cadangan dari 17 bahan kemasan yang diteliti. Adanya penurunan terhadap total biaya persediaan pada periode I menghasilkan rata penghematan sebesar 58% pada total biaya persediaan filler dan 57% pada keseluruhan bahan kemasan. Pada periode II penghematan total biaya persediaan untuk filler dan bahan kemasan pada adalah sama yaitu sebesar 60%. Untuk rata-rata penghematan jumlah total biaya persediaan filler dan bahan kemasan pada periode I dan II masing-masing adalah sebesar 62% dan 59%. Dari perbandingan antara total biaya persediaan diperoleh rasio sensitivitas yang menunjukkan bahwa model persediaan service level jauh lebih efisien dibandingkan model persediaan yang digunakan perusahaan yang ditunjukkan dengan rata-rata rasio sensitivitas yang lebih dari satu, kecuali untuk bahan kemasan coklat keju yang memiliki rasio sensitivitas sama dengan satu. Dari penelitiaan ini dapat disimpulkan bahwa total biaya persediaan untuk filler dan bahan kemasan pada roti manis dengan menggunakan metode perusahaan lebih besar dibandingkan dengan metode usulan yaitu model persediaan service level. Tingginya total biaya persediaan berdasarkan metode perusahaan disebabkan karena perusahaan melakukan pemesanan dalam kuantitas yang besar sehingga terjadi penumpukan filler dan bahan kemasan serta menyebabkan biaya penyimpanan juga menjadi besar. Implementasi model persediaan service level menunjukkan bahwa perusahaan memiliki potensi untuk menghemat total biaya marjinal atau biaya tambahan yang harus ditanggung oleh perusahaan akibat penanganan dalam persediaan yang belum optimal adalah sebesar Rp. 238 juta. Akhirnya, demi kesempurnaan dan memperkaya hasil penelitian selanjutnya yang berkaitan dengan topik pengendalian persediaan dapat dilakukan dengan menganalisis keseluruhan rangkaian dari bahan roti manis yang meliputi bahan baku utama, bahan pelengkap dan bahan kemasan.

Item Type: Thesis (Masters)
Uncontrolled Keywords: Filler, Packing Material, Supply Chain, SCOR, SCM, Inventory Cost. Inventory Cost.
Subjects: Manajemen Produksi dan Operasi
Depositing User: SB-IPB Library
Date Deposited: 24 Mar 2014 07:26
Last Modified: 11 Jul 2014 01:40
URI: http://repository.sb.ipb.ac.id/id/eprint/1743

Actions (login required)

View Item View Item