Perencanaan strategik direktorat perlindungan hortikultura kementrian pertanian republik indonesia

Karyatiningsih, Ripah (2012) Perencanaan strategik direktorat perlindungan hortikultura kementrian pertanian republik indonesia. Masters thesis, Institut Pertanian Bogor.

[img]
Preview
Text
E37-01-Ripah-Cover.pdf - Published Version

Download (336kB)
[img]
Preview
Text
E37-02-Ripah-Abstrak.pdf - Published Version

Download (326kB)
[img]
Preview
Text
E37-03-Ripah-RingkasanEksekutif.pdf - Published Version

Download (337kB)
[img]
Preview
Text
E37-04-Ripah-Daftarisi.pdf - Accepted Version

Download (341kB)
[img]
Preview
Text
E37-05-Ripah-Pendahuluan.pdf - Published Version

Download (637kB)
[img] Text
Tesis.pdf
Restricted to Registered users only

Download (1MB)
Official URL: http://elibrary.mb.ipb.ac.id

Abstract

Perlindungan tanaman merupakan bagian penting, baik di on farm maupun off farm kaitannya dengan sistem dan usaha agribisnis. Peran perlindungan tanaman dalam mendukung keberhasilan pengembangan hortikultura sangat besar, terutama dalam mempertahankan produktivitas melalui upaya penekanan kehilangan hasil akibat serangan organisme pengganggu tumbuhan (OPT) dan dampak perubahan iklim (DPI), meningkatkan kualitas hasil produk yang aman konsumsi, berdaya saing sesuai standar yang dipersyaratkan dalam perdagangan, serta menciptakan suatu sistem produksi yang ramah lingkungan dan berkelanjutan. Berdasarkan tugas pokok Direktorat Perlindungan Hortikultura yang tertuang dalam Peraturan Menteri Pertanian No. 61/Permentan/OT.140/10/2010 Tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Pertanian, dan dengan memperhatikan visi Direktorat Perlindungan Hortikultura yaitu terwujudnya kemandirian petani dan masyarakat pertanian lainnya dalam penerapan pengendalian hama terpadu (PHT) pada komoditas hortikultura dalam sistem pertanian berkelanjutan dan berwawasan agribisnis, maka perlu dilakukan analisis perencanaan strategik dengan meninjau kembali perencanaan strategik tahun 2010–2014 untuk menyusun program dan kegiatan-kegiatan perlindungan hortikultura yang dapat mewujudkan visi yang akan dicapai. Penelitian dilakukan dengan menggunakan pendekatan kuantitatif dan deskriptif, yaitu menjawab permasalahan yang dihadapi dengan metode studi kasus. Hal tersebut diperoleh melalui wawancara dengan alat bantu kuesioner terhadap responden internal yaitu pegawai lingkup Direktorat Jenderal Hortikultura, dan berbagai stakeholder sebagai responden eksternal yaitu pegawai yang berada di luar Direktorat Jenderal Hortikultura. Wawancara dan alat bantu kuesioner dilakukan untuk mengidentifikasi harapan-harapan stakeholder, mengevaluasi visi dan misi, mengidentifikasi faktor internal dan eksternal. Untuk membahas hasil kuesioner dan menentukan strategi berdasarkan analisis SWOT, dilakukan Focus Group Discussion (FGD) dengan melibatkan manajemen internal dan beberapa pakar perlindungan hortikultura. Jawaban dari kuesioner yang dilakukan kemudian dianalisis berdasarkan metode yang telah ditentukan yaitu dengan menggunakan matriks Evaluasi Faktor Eksternal (EFE), Evaluasi Faktor Internal (EFI), Strengths Weaknesses Opportunities Threats (SWOT), dan Quantitative Strategic Planning Matrix (QSPM). Pengambilan contoh dalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakan pendekatan nonprobability sampling (pengambilan contoh tanpa peluang) melalui teknik purposive sampling (pengambilan contoh secara sengaja). Teknik ini digunakan karena pertimbangan pada responden yang dipilih memiliki pengetahuan, keahlian, dan kompetensi dalam bidang yang akan dikaji. Berdasarkan hasil pembahasan yang melibatkan tim manajemen dan pakar perlindungan hortikultura, maka dengan memperhatikan masukan-masukan dari responden dan pakar perlindungan hortikultura dapat disimpulkan perlunya perubahan baik visi dan misi Direktorat Perlindungan Hortikultura. Hal tersebut dilakukan dengan pertimbangan adanya perubahan tugas dan fungsi Direktorat Perlindungan Hortikultura berdasarkan Peraturan Menteri Pertanian Nomor : 61/Permentan/OT.140/10/2010 Tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Pertanian. Misalnya tugas dan fungsi yang terkait dampak perubahan iklim belum tercakup dalam visi sebelumnya, sedangkan mengenai PHT sebaiknya tidak dicantumkan dalam visi, tetapi disampaikan di dalam misi Direktorat Perlindungan Hortikultura. Visi Direktorat Perlindungan Hortikultura yang disepakati dalam pembahasan tersebut adalah :”Menjadi institusi direktorat yang mampu memandirikan pelaku usaha hortikultura untuk pengelolaan organisme pengganggu tumbuhan dan dampak perubahan iklim dalam sistem pertanian berkelanjutan”. Untuk mencapai visi tersebut, telah ditetapkan misi Direktorat Perlindungan Hortikultura sebagai berikut : 1. Menyediakan regulasi, fasilitasi dan motivasi dalam penerapan pengendalian hama terpadu, pengelolaan dampak perubahan iklim, pemenuhan persyaratan teknis perdagangan, serta pengembangan sistem informasi dan manajemen perlindungan hortikultura. 2. Meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan kemampuan pelaku usaha hortikultura tentang pengendalian hama terpadu. 3. Meminimalkan pencemaran lingkungan dan mempertahankan keanekaragaman hayati di ekosistem pertanian. 4. Meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan petani dari usaha taninya. Faktor-faktor internal dan eksternal yang penting dari Direktorat Perlindungan Hortikultura adalah untuk faktor kekuatan terdiri dari : (1) motivasi SDM yang tinggi, (2) tersedia dasar hukum yang kuat, (3) fasilitas dan sarana kerja memadai, (4) posisi penting dalam keberhasilan produksi dan pasca panen, (5) jejaring kerjasama yang luas. Kelemahannya terdiri dari : (1) kapasitas SDM belum memadai dalam kompetensi teknis dan manajerial, (2) ada kelemahan dalam sistem kerja, (3) kelemahan dalam sistem informasi dan pemanfaatannya, (4) penyediaan dan pemanfaatan norma, standar, prosedur, kriteria (NSPK) belum memadai, (5) sistem monitoring evaluasi masih lemah. Peluang yang dapat dimanfaatkan adalah : (1) kelembagaan perlindungan hortikultura di daerah tersedia, (2) ada trend produk aman konsumsi dan ramah lingkungan, (3) penerapan program perlindungan hortikultura terbuka luas, (4) ketersediaan keanekaragaman hayati yang bisa dimanfaatkan untuk perlindungan hortikultura, (5) informasi tersedia (dalam dan luar negeri). Sedangkan ancamannya adalah : (1) terbatasnya tenaga teknis spesialis karena otonomi daerah, (2) tuntutan konsumen akan produk bermutu dan aman konsumsi serta meningkatnya tuntutan persyaratan teknis, (3) masuknya dan tersebarnya organisme pengganggu tumbuhan karantina (OPTK) dan semakin banyaknya jenis OPT hortikultura, (4) peredaran pestisida sintetis yang tidak terkendali, (5) perubahan Iklim semakin komplek dan luas. Berdasarkan hasil analisis faktor internal menunjukkan bahwa kekuatan berupa tersedia dasar hukum yang kuat menunjukkan skor yang tertinggi yaitu 0.548, diikuti oleh fasilitas sarana kerja memadai, motivasi SDM yang tinggi, jejaring kerjasama yang luas, dan posisi penting dalam keberhasilan produksi dan pasca panen. Kelemahan yang paling tinggi skornya adalah kapasitas SDM belum memadai dalam kompetensi teknis dan manajerial sebesar 0.274, diikuti oleh adanya kelemahan sistem kerja, penyediaan dan pemanfaatan NSPK belum memadai, sistem monitoring evaluasi masih lemah, serta kelemahan dalam sistem informasi dan pemanfaatannya. Nilai total skor tertimbang sebesar 2,638 menunjukkan bahwa posisi atau kekuatan internal Direktorat Perlindungan Hortikultura pada saat ini cukup kuat karena nilai lebih besar dari 2,5. Kekuatan utama yang mendukung tingginya posisi internal direktorat adalah tersedianya dasar hukum yang kuat, sedangkan kelemahan dalam sistem informasi dan pemanfaatannya merupakan kelemahan internal yang memberikan skor tertimbang terkecil. Berdasarkan hasil analisis faktor eksternal menunjukkan bahwa skor setiap faktor eksternal peluang kelembagaan perlindungan hortikultura di daerah tersedia, penerapan program perlindungan hortikultura terbuka luas, dan ada trend produk aman konsumsi dan ramah lingkungan menempati urutan tertinggi yaitu sebesar 0,339. Dilihat dari segi faktor ancaman, masuknya dan tersebarnya OPTK dan semakin banyaknya jenis OPT hortikultura merupakan faktor yang mempunyai skor tertinggi yaitu 0,500, sedangkan yang berikutnya terpenting adalah perubahan Iklim semakin komplek dan luas, peredaran pestisida sintetis yang tidak terkendali, otonomi daerah dan terbatasnya tenaga teknis spesialis, dan tuntutan konsumen akan produk bermutu dan aman konsumsi, serta meningkatnya tuntutan persyaratan teknis. Total skor tertimbang faktor eksternal adalah 2,789 yang menunjukkan bahwa kemampuan Direktorat Perlindungan Hortikultura dalam merespon faktor-faktor eksternal berupa peluang dan ancaman berada pada tingkat yang responsif, yaitu mampu merespon peluang dan ancaman tersebut. Tujuan dan sasaran Direktorat Perlindungan Hortikultura telah dievaluasi dengan mempertimbangkan visi, misi yang baru, harapan stakeholder, analisis internal, dan analisis eksternal. Sasaran jangka panjang dalam kurun waktu Renstra Direktorat Perlindungan Hortikultura Tahun 2013-2017 yang menjelaskan tujuan instansi tersebut adalah : proporsi luas serangan OPT utama hortikultura terhadap total luas panen. Proporsi luas serangan OPT utama hortikultura terhadap total luas panen Tahun 2013-2017 maksimal 5 %. Faktor-faktor internal dan eksternal kemudian dianalisis dengan menggunakan matriks SWOT, dan menghasilkan alternatif-alternatif strategi. Kemudian altrnatif-alternatif strategi tersebut ditentukan prioritasnya dengan menggunakan matriks QSPM. Urutan prioritas strategi berdasarkan matriks QSPM adalah : (1) meningkatkan penerapan PHT melalui Sekolah Lapang Pengendalian Hama Terpadu (SLPHT) dengan skor 9,129, (2) memperkuat sistem informasi dan manajemen perlindungan hortikultura dengan skor 7,552, (3) meningkatkan kapasitas SDM perlindungan hortikultura dengan skor 7,499, (4) menyediakan norma, standar, prosedur, kriteria (NSPK) untuk merespon tuntutan produk hortikultura yang berdaya saing dengan skor 7,214, (5) memperkuat sistem monitoring dan evaluasi untuk mendukung penerapan program perlindungan hortikultura dengan skor 6,913, (6) meningkatkan peran kelembagaan perlindungan hortikultura dengan skor 6,721, (7) meningkatkan sosialisasi PHT dengan skor 6,352, (8) meningkatkan pengelolaan OPT dan DPI dengan skor 6,315, (9) meningkatkan pemanfaatan sarana perlindungan ramah lingkungan dengan skor 5,991, dan (10) menerapkan pemenuhan ketentuan-ketentuan SPS dengan skor 5,917. Penetapan tujuan, sasaran, dan strategi akan menghasilkan kebijakan, sehingga dapat disusun program dan kegiatan-kegiatan Direktorat Perlindungan Hortikultura lima tahun mendatang. Dalam penelitian ini rancangan kegiatan-kegiatan secara rinci untuk tahun 2013 juga telah disusun.

Item Type: Thesis (Masters)
Uncontrolled Keywords: Perencanaan strategik, matriks EFI, matriks EFE, matriks SWOT, QSPM Strategic planning, IFE matrix, EFE matrix, SWOT matrix, QSPM
Subjects: Manajemen Strategi
Depositing User: SB-IPB Library
Date Deposited: 29 Mar 2014 01:06
Last Modified: 24 Jun 2020 08:22
URI: http://repository.sb.ipb.ac.id/id/eprint/1773

Actions (login required)

View Item View Item