Strategi pengembangan agribisnis komoditas kelapa di provinsi sulawesi utara

Sangadi, Son Buang (2009) Strategi pengembangan agribisnis komoditas kelapa di provinsi sulawesi utara. Masters thesis, Institut Pertanian Bogor.

[img]
Preview
PDF
R39-01-Son-Cover.pdf - Published Version

Download (350kB)
[img]
Preview
PDF
R39-02-Son-Abstract.pdf - Published Version

Download (313kB)
[img]
Preview
PDF
R39-03-Son-Ringkasan.pdf - Published Version

Download (326kB)
[img]
Preview
PDF
R39-04-Son-Daftarisi.pdf - Published Version

Download (338kB)
[img]
Preview
PDF
R39-05-Son-Pendahuluan.pdf - Published Version

Download (642kB)
Official URL: http://elibrary.mb.ipb.ac.id

Abstract

Otonomi Daerah dengan sistem desentralisasi diimplikasikan di Indonesia sejak tahun 2001 berdasarkan UU RI Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintah Daerah, yang selanjutnya telah dibuah menjadi UU RI Nomo 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah. Yang mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan menurut asas otonomi dan tugas pembantuan, diarahkan untuk mempercepat terwujudnya kesejahteraan masyarakat melalui peningkatan pelayanan, pemberdayaan, dan peran serta masyarakat, serta peningkatan daya saing daerah. Pemerintah daerah untuk memanfaatkan segala potensi daerahnya sesuai dengan kepentingan dan aspirasi masyarakat. Kemudian ditetapkan dengan PP Nomor 7 Tahun 2005 tentang Perencanaan Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN). Setiap daerah diharapkan dapat mengelola dengan baik dan memberdayakan serta mengembangkan semua potensi daerah dalam upaya mencapai kemandirian daerah. Kewenangan yang diberikan pada daerah ini harus mendapat dukungan sepenuhnya dari pemerintah pusat, pemerintah daerah (Provinsi dan Kabupaten/Kota), swasta, Perguruan Tinggi, LSM, organisasi sosial politik serta lapisan masyarakat. Dalam rangka pencapaian kesuksesan pelaksanaan Pemerintahan Daerah diperlukan adanya komitmen dalam setiap tindakan yang akan ditempuh. Seiring dengan penetapan Pemerintah Daerah yang berdampak pada adanya tuntutan kemandirian daerah. Upaya pengembangan optensi daerah dapat ditempuh melalui pengembangan agribisnis daerah, dengan melibatkan seluruh subsistem yang ada pada sistem agribisnis termasuk lembaga penunjang. Alasan agribisnis dipilih sebagai satu alternatif yang dapatdigunakan untuk pengembangan daerah adalah agribisnis merupakan cara yang tepat dalam menghadapi berbagai perkembangan yang terjadi saat ini dan dimasa yang akan datang, baik dalam lingkup nasional maupun internasional. Berdasarkan pendekapatan agribisnis maka komoditi kelapa di Provinsi Sulawesi Utara, mempunyai potensi yang sangat besar untuk menjadi penggerak pembangunan ekonomi lokal maupun nasional. Peluang ini diharapkan dapat meningkatkan pendapatan petani dan kesejahteraan petani. Oleh karena itu, dibangun sistem agribisnis komoditas kelapa yang tangguh melalui perencanaan yang matang. Salah satu langkah yang harus dilakukan yaitu membuat perencaaan strategis pengembangan agribisnis komoditas kelapa yang tepat. Adanya perencaaan dapat menjadi acuan bagi pemerintah daerah untuk melaksanakan peranannya dalam pengembangan subsektor perkebunan khususnya pengembangan agribisnis komoditas kelapa. Dari rumusan masalah, maka tujuan penelitian adalah (1) mengidentifikasi dan menganalisa faktor internal dan eksternal yang mempengaruhi pengembangan agribisnis kelapa di Provinsi Sulawesi Utara, (2) merumuskan alternatif-alternatif strategi yang dapat dilakukan untuk pengembangan agribisnis kelapa di Provinsi Sulawesi Utara, (3) menentukan prioritas strategi untuk pengembangan agribisnis kelapa di Provinsi Sulawesi Utara. Penelitian ini dilaksanakan di Provinsi Sulawesi Utara dengan obyek penelitian adalah Dinas Perkebunan Provinsi Sulawesi Utara pada bulan Maret 2009 sampai dengan bulan Juni 2009, dengan melibatkan unsur-unsur internal yaitu Dinas Perkebunan Provinsi Sulawesi Utara dan eksternal yaitu Bappeda Provinsi Sulawesi Utara, Dinas Perindag Provinsi Sulawesi Utara, Balitka Manado, dan Asosiasi Petani Kelapa Sulawesi Utara. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif dengan pendekatan studi kasus, menggunakan data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh melalui kuisioner dan wawancara langsung dengan menggunakan program expert choice 2000, dan data sekunder diperoleh melalui kajian literatur, laporan-laporan studi pustaka. Responden adalah stakeholders dan Dinas Perkebunan untuk keperluan menentukan alternatif strategi pengembangan agribisnis komoditas kelapa di Provinsi Sulawesi Utara, metode pengambilan sampel secara sengaja (purposive sampling),dengan asumsi bahwa responden yang diambil merupakan pakar/ahli yang berkaitan atau berpengalaman serta mempunyai kemampuan memberi penilaian terhadap faktor-faktor yang berpengaruh terhadap pengembangan agribisnis komoditas kelapa di Provinsi Sulawesi Utara. Alat Analisa yang digunakan adalah analisis faktor internal, analisis faktor eksternal, matriks SWOT dan AHP. Hasil analisis faktor internal Dinas Perkebunan Provinsi Sulawesi Utara yang mempengaruhi pengembangan agribisnis komoditas kelapa, yaitu faktor kekuatan (1) telah dirumuskan rencana strategis Dinas Perkebunan, (2) sarana dan prasarana Disbun cukup memadai, (3) alokasi dana cukup tersedia; faktor kelemahan yaitu struktur organisasi Dinas Perkebunan belum optimal, (2) penguasaan konsep agribisnis masih rendah, (3) kualitas SDM Dinas Perkebunan masih rendah. Hasil analisis faktor eksternal yang mempengaruhi pengembangan agribisnis komoditas kelapa, yaitu faktor peluang (1) jenis produk kelapa dan turunan banyak, (2) pasar ekspor kelapa masih terbuka, (4) telah terbentuk asosiasi petani kelapa, (4) teknologi tepat guna dan Litbang telah tersedia; faktor kelemahan yaitu suplai bahan baku kelapa masih kurang, (2) tanaman kelapa sudah tua, (3) serangan hama dan penyakit, (4) egoisme antar dinas dan (5) alih fungsi pertanaman kelapa menjadi lahan non pertanian. Alternatif strategi yang diperoleh berdasarkan hasil pencocokan pada matriks SWOT adalah 4 strategi yaitu : (1) pengembangan sentra agribisnis kelapa, (2) pemberdayaan petani kelapa, (3) revitalisasi tanaman kelapa, (4) koordinasi pengembangan agribisnis kelapa di daerah. Berdasarkan hasil pengolahan matriks perbandingan berpasangan dengan alat analisis AHP menggunakan program expert choice 2000, diperoleh proses hiraki sistem prioritas kepentingan menurut group faktor, faktor-faktor SWOT dan alternatif strategi untuk pengembangan agribisnis komoditas kelapa di Propinsi Sulawesi Utara. Urutan kepentingan prioritas menurut group faktor yaitu : faktor peluang dengan nilai bobot 0,400, kekuatan dengan nilai bobot 0,261, ancaman dengan nilai bobot 0,185, dan kelemahan dengan nilai bobot 0,154, group faktor yang menjadi prioritas utama adalah group faktor peluang dengan nilai bobot 0,400. Urutan kepentingan prioritas menurut faktor-faktor SWOT adalah : S3 (alokasi dana cukup tersedia) mendapat jumlah bobot sebesar 0,477, faktor W3 (kualitas sumber daya manusia Dinas Perkebunan masih rendah) dengan jumlah bobot sebesar 0,393, W1 (struktur organisasi Dinas Perkebunan belum berfungsi optimal) jumlah bobot sebesar 0,3359, faktor S2 (sarana dan prasarana Dinas Perkebunan cukup memadai) dengan jumlah bobot sebesar 0,315, O2 (pasar ekspor kelapa masih terbuka) dengan jumlah bobot 0,291, O3 (telah terbentuk asosiasi petani kelapa) dengan jumlah bobot 0,284, T2 (tanaman kelapa sudah tua) dengan jumlah bobot sebesar 0,252, O4 (teknologi tepat guna dan Litbang telah tersedia) dengan jumlah bobot 0,239, W2 (penguasaan konsep agribisnis kelapa masih rendah) dengan jumlah bobot 0,248, T3 (serangan hama dan penyakit) dengan jumlah bobot 0,226, S1 (telah dirumuskan renstra Dinas Perkebunan) dengan jumlah bobot 0, 208, T5 (Alih fungsi lahan pertanaman kelapa menjadi lahan nono kering) dengan jumlah bobot 0,188, O1 (jenis produk kelapa dan turunan masih rendah) dengan jumlah bobot 0,186, T4 (egoisme antar dinas) dengan jumlah bobot 0,169, dan T1 (suplai bahan baku kelapa masih kurang) dengan jumlah bobot 0,165. Berdasarkan prioritas kepentingan group faktor, faktor-faktor SWOT dan alternatif strategi, maka dalam pengembangan agribisnis komoditas kelapa di Propinsi Sulawesi Utara, group faktor prioritas yang harus diperhatikan adalah faktor peluang, faktor-faktor SWOT prioritas yang harus diperhatikan adalah cukup tersedia alokasi dana dan prioritas strategi yang harus dilaksanakan adalah revitalisasi tanaman kelapa. Dalam merumuskan kebijakan pembangunan daerah pada subsektor perkebunan khususnya perkelapaan, ada 4 strategi pengembangan agribisnis komoditas kelapa yang harus dilaksanakan yaitu (1) revitalisasi tanaman kelapa; (2) pemberdayaan petani kelapa; (3) koordinasi pengembangan agribisnis kelapa di daerah; dan (4) pengembangan sentra agribisnis kelapa. Dinas Perkebunan (Provinsi dan Kabupaten/Kota) dalam melaksanakan program revitalisasi tanaman kelapa harus menggunakan benih unggul kelapa dalam dari hasil penelitian Balai Penelitian Tanaman Kelapa dan Palma Lain (Balitka) Manado yaitu (1) kelapa Dalam Mapanget (DMT), mulai berbuah 5 tahun, produksi optimal 3,5 ton kopra per hakter per tahun, kadar minyak 62,95%; (2) kelapa Dalam Tenga (DTA), mulai berbuah umur 5 tahun, produksi optimal 3 ton kopra per hakter per tahun, kadar minyak 69,31%; (3) kelapa Dalam Bali (DBI), mulai berbuah umur 5 tahun, produksi optimal 3 ton kopra per hakter per tahun, kadar minyak 65,52%; (4) kelapa Dalam Palu (DPU), mulai berbuah umur 5 tahun, produksi optimal 2,8 ton kopra per hakter per tahun, kadar minyak 69,28%; (5) kelapa Dalam Sawarna (DSA), mulai berbuah umur 4 tahun, produksi optimal 3,5 ton kopra per hakter per tahun, kadar minyak 66,26%.

Item Type: Thesis (Masters)
Uncontrolled Keywords: Coconut Commodity Agribusiness, Development Strategy, Internal and External, Factors, SWOT-AHP. Agribisnis Komoditas Kelapa, Strategi Pengembangan, Faktor Internal dan Faktor Eksternal, SWOT-AHP.
Subjects: Manajemen Strategi
Depositing User: SB-IPB Library
Date Deposited: 08 Apr 2014 07:41
Last Modified: 22 Oct 2014 04:10
URI: http://repository.sb.ipb.ac.id/id/eprint/1830

Actions (login required)

View Item View Item