Analisis kinerja pemasaran kartu kredit dan strategi peningkatannya dalam rangka akuisisi satu juta kartu di PT Bank Niaga Tbk

Ully, B. Roma (2009) Analisis kinerja pemasaran kartu kredit dan strategi peningkatannya dalam rangka akuisisi satu juta kartu di PT Bank Niaga Tbk. Masters thesis, Institut Pertanian Bogor.

[img]
Preview
PDF
R39-01-Maria-Cover.pdf - Published Version

Download (132kB)
[img]
Preview
PDF
R39-02-Maria-Abstrak.pdf - Published Version

Download (27kB)
[img]
Preview
PDF
R39-03-Maria-RingkasanEksekutif.pdf - Published Version

Download (39kB)
[img]
Preview
PDF
R39-04-Maria-DaftarIsi.pdf - Published Version

Download (40kB)
[img]
Preview
PDF
R39-05-Maria-BabIPendahuluan.pdf - Published Version

Download (120kB)
Official URL: http://library.mb.ipb.ac.id

Abstract

Sekolah lapangan merupakan salah satu metode yang diterapkan dalam aktifitas penyuluhan pertanian. Metode ini merupakan suatu cara belajar yang memadukan teori dan praktek melalui pengalaman petani atau kelompok tani yang ada dalam usaha tani. Prinsip dari metode ini adalah pendidikan bagi orang dewasa yang menekan pada aktifitas peserta dalam mengembangkan dirinya sebagai orang dewasa yang memiliki potensi untuk maju dan berkembang, termasuk dalam mempelajari teknologi baru. Sekolah Lapangan Pengendalian Hama Terpadu (SLPHT) merupakan metode penyuluhan untuk mengimplementasikan Pengendalian Hama Terpadu. Sekolah Lapangan (i) mempunyai peserta dan pemandu lapangan, (ii) merupakan sekolah di lapangan dan peserta mempraktekkan/menerapkan secara langsung apa yang dipelajari, (iii) mempunyai kurikulum, evaluasi dan sertifikat tanda lulus. Pada sisi lain metode ini memiliki kurikulum yang rinci dalam satu siklus tertentu. Untuk mendukung program Perlindungan Tanaman maka Pemerintah Provinsi Maluku melalui Anggaran Proyek baik yang bersumber dari Anggaran Pendapatan dan belanja Negara (APBN) maupun Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD), telah melaksanakan SLPHT sejak tahun 1994. Permasalahan yang muncul di lapangan adalah masih ditemukan musuh alami yang mati di lahan petani, hal ini dicurigai sebagai akibat dari penggunaan pestisida yang belum memenuhi kriteria 6 (enam) tepat, petani masih menggunakan sistem penanaman yang tidak sesuai dengan prinsip PHT dan ketergantungan petani pada petugas pengamat Hama dan Penyakit. Untuk itu timbul berbagai pertanyaan untuk diteliti antara lain bagaimana pelaksanaan SLPHT yang meliputi; bagaimana proses seleksi peserta, materi, waktu pelatihan, metode yang digunakan, kemampuan pemandu dan fasilitas pelatihan, sejauhmana manfaat SL-PHT dalam meningkatkan pengetahuan, ketrampilan dan kesadaran/ sikap petani dalam menerapkan PHT di lahannya serta bagaimana Dampak SL-PHT terhadap penggunaan Pestisida kimiawi. Untuk mengetahui efektif tidaknya suatu progam pelatihan, perlu dilakukan evaluasi secara menyeluruh. Evaluasi tersebut perlu dilakukan untuk melihat apakah kegiatan pelatihan tersebut telah sesuai dengan harapan dan efektif dalam meningkatkan pengetahuan, ketrampilan dan sikap peserta pelatihan. Selain itu untuk mengetahui apakah dengan pelatihan yang efektif berdampak pada peningkatan kinerja dan perubahan perilaku peserta pelatihan. Evaluasi terhadap Pelaksanan Sekolah Lapangan Pengendalian Hama Terpadu di Kabupaten Seram Bagian Barat sejak persiapan pelatihan, efektifitas pelatihan dan dampak pelatihan belum pernah dilaksanakan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pelaksanaan pelatihan, efektifitas pelatihan dan dampaknya terhadap penggunaan pestisida kimiawi serta merumuskan rekomendasi pelaksanaan SL-PHT di masa yang akan datang. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan pendekatan studi kasus yang dilaksanakan dari bulan Desember 2008 sampai dengan Januari 2009. Pengumpulan data primer dilakukan melalui kuesioner dan wawancara, sedangkan data sekunder diperoleh dari studi literatur dan data pendukung lainnya. Hasil penilaian dari reponden dianalisis menggunakan rentang kriteria, Uji Wilcoxon dan Rank Spearman. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa Pelaksanaan Sekolah Lapangan Pengendalian Hama Terpadu pada tanaman Padi di Kabupaten Seram Bagian Barat Tahun 2007 mulai dari pemilihan peserta, materi, kurikulum dan kepemanduan telah berjalan sesuai harapan. Pencapaian sasaran pelatihan ditandai dengan meningkatnya pengetahuan dan ketrampilan peserta serta adanya perubahan sikap peserta kearah yang lebih baik. Pengetahuan tentang petani sebagai ahli PHT, Agroekosistem dan Penggunaan Teknologi PHT perlu mendapat perhatian karena berdasarkan hasil penelitian ini instrumen tersebut masih berada pada kriteria cukup. Kemampuan petani untuk mengambil keputusan dan menindaklanjuti proses pengamatan masih berada pada kriteria cukup artinya instrumen ini masih perlu ditingkatkan lagi. Sementara itu Sikap petani untuk melaksankan prinsip PHT masih berada pada kriteria kurang untuk itu aspek ini perlu mendapat perhatian khusus. Terdapat perbedaan yang nyata antara sebelum dan sesudah mengikuti pelatihan terhadap aspek pengetahuan, sikap maupun ketrampilan peserta serta dampaknya pada penggunaan pestisida kimiawi. Pelatihan memberikan dampak positif terhadap frekuensi penyemprotan pestisida Kimiawi, namun tidak berdampak pada kebiasaan petani mengoplos/mengcampur pestisida. Sementara itu dasar aplikasi pestisida tidak mengalami perubahan. Pelaksanaan pelatihan mempunyai hubungan yang nyata dengan peningkatan pengetahuan, ketrampilan dan sikap peserta pelatihan. Keengganan melaksanakan prinsip PHT menurut petani adalah karena banyaknya aktifitas pengendalianyang harus dilakukan dalam sistem PHT, juga disebabkan langka dan mahalnya sarana produksi di lokasi mereka. Sementara itu Petugas PHP yang tidak berdomisili bersama petani di desa tersebut menyebabkan proses pembelajaran menjadi terhambat. Kesimpulan yang diperoleh dari penelitian ini adalah Pelaksanaan Sekolah Lapangan Pengendalian Hama Terpadu pada tanaman Padi di Kabupaten Seram Bagian Barat Tahun 2007 dinilai baik dan cukup sesuai dengan pedoman yang diberikan oleh Direktorat Perlindungan Tanaman Pangan Departemen Pertanian. Sekolah Lapangan Pengendalian Hama Terpadu (SL-PHT) terbukti efektif ditandai dengan meningkatnya pengetahuan dan ketrampilan petani serta adanya perubahan sikap petani kearah yang lebih baik dalam pelaksanaan Pengendalian Hama Terpadu (PHT). Pelaksanaan SLPHT memberikan dampak positif terhadap perubahan perilaku petani dalam Penggunaan Pestisida Kimiawi. Terdapat perbedaan yang signifikan antara sebelum dan sesudah mengikuti pelatihan, baik aspek pengetahuan, sikap maupun ketrampilan peserta serta dampaknya pada penggunaan pestisida kimiawi. Terdapat Hubungan yang kuat antara pelaksanaan SLPHT dengan peningkatan pengetahuan, Ketrampilan, sikap dan dampaknya terhadap penggunaan pestisida kimiawi. Berdasarkan hasil analisis yang dilakukan dengan menggunakan korelasi Rank Spearman menunjukan bahwa pelaksanaan SL-PHT yang baik memberikan pengaruh terhadap peningkatan pengetahuan, ketrampilan dan perubahan sikap peserta pelatihan. Demikian pula pengetahuan dan ketrampilan memiliki hubungan yang sangat kuat dengan sikap petani dalam penerapan PHT dan penggunaan pestisida kimiawi. Materi yang mendapat perhatian khusus dari peserta yaitu pengamatan berkala, pelestarian musuh alami, pengendalian dengan agens hayati dan penggunaan pestisida secara bijaksana. Untuk itu materi ini harus tetap dipertahankan karena mampu membuat petani termotivasi untuk mempelajarinya. Ditinjau dari segi materi pelatihan, menurut persepsi peserta materi yang diberikan sudah memadai dan sesuai dengan kebutuhan dilahan usaha mereka, namun materi khusus yang berhubungan dengan permasalah lain yang belum ada pada pedoman pelaksanaan, belum semuanya dapat didiskusikan untuk dicari solusinya. Pemberian materi melalui teori dan praktek pada setiap pertemuan dinilai sangat membantu dalam meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan peserta. Petani yang terlibat dalam SL-PHT setelah kembali ke lahan mereka masing - masing masih menemui masalah hama dan penyakit baru dalam usaha tani mereka, untuk itu pengetahuan baru selalu dibutuhkan. Materi yang tersedia perlu ditambahkan disesuaikan dengan kebutuhan peserta pada masing-masing lokasi pelatihan agar SL-PHT menjadi lebih optimal. SL-PHT juga memberi dampak positif terhadap penurunan penggunaan pestisida kimiawi, hal ini ditunjukan dengan semakin berkurangnya frekuensi penyemprotan pestisida kimiawi, ini adalah dampak dari pengetahuan petani tentang penggunaan pestisida secara bijaksana yang semakin meningkat. Walaupun frekuensi penyemprotan pestisida mengalami penurunan namun kebiasaan petani mencampur pestisida tidak mengalami perubahan. Hal ini bisa berakibat pada munculnya permasalahan baru, yaitu terjadi resurjensi dan eksplosi serangan hama dan penyakit pada tanaman padi. Alasan pengcampuran/pengoplosan pestisida menurut petani adalah untuk menghemat waktu dan tenaga dalam proses pengendalian. Untuk itu dalam pelaksanaan SL-PHT, pelaksana perlu terus mempertahankan materi menyangkut penggunaan pestisida secara bijaksana. Pelaksanaan SL-PHT perlu didasari atas hasil analisis kebutuhan pelatihan, agar materi yang diberikan sesuai dengan kebutuhan petani di lapangan. Walaupun kurikulum ini sudah melalui proses yang panjang dan mengalami beberapa kali revisi namun kebutuhan untuk tiap wilayah yang lebih spesifik lokasi perlu diperhatikan termasuk aspek sosial budaya. Pelaksanaan SL - PHT perlu didasari atas hasil analisis kebutuhan pelatihan, agar materi yang diberikan sesuai dengan kebutuhan petani peserta. Walaupun kurikulum ini sudah melalui proses yang panjang dan mengalami beberapa kali revisi namun kebutuhan untuk tiap wilayah yang lebih spesifik lokasi perlu diperhatikan termasuk aspek sosial budaya. Dalam pemilihan peserta dianjurkan untuk memilih peserta dengan kriteria antara lain berusia antara 30 - 55 tahun dengan pengalaman berusaha tani antara 20 - 40 tahun. Hal ini didasarkan pada hasil penelitian ini yang memberikan gambaran bahwa, petani yang masuk dalam kriteria tersebut menunjukan perubahan perilaku dalam pelaksanaan PHT lebih baik dibandingkan dengan yang lainnya. Untuk merubah perilaku petani dalam pelaksanaan sistem PHT maka Direktorat Perlindungan Tanaman dan Dinas Pertanian Provinsi Maluku perlu memberikan stimulus (ransangan) berupa reward (penghargaan) kepada petani maupun kelompok tani yang melaksanakan Pengendalian Hama Terpadu (PHT) secara baik dan berkesinambungan. Penghargaan tersebut dapat diberikan melalui lomba PHT bagi petani dan kelompoktani di tingkat Provinsi. Pemerintah melalui Balai Proteksi Tanaman Pangan perlu memberikan informasi yang sangat diperlukan oleh petani dengan media informasi yang bersifat visual melalui leaflet bergambar tentang hama dan penyakit tanaman. Untuk mengsukseskan pelaksanan sistem PHT maka Stakeholder yang mampu bekerjasama dalam menyiapkan sarana produksi, termasuk bahan - bahan agens hayati yang diperlukan dalam Pengendalian Hama Terpadu perlu dilibatkan dalam pelaksanaan PHT. Evaluasi secara menyeluruh dan berkala perlu dilakukan terutama terhadap dampak pelatihan yaitu penggunaan pestisida kimiawi agar petani dapat menggunakan pestisida secara bijaksana sekaligus mencegah pengoplosan pestisida dan penggunaan pestisida yang tidak terdaftar. Dinas Pertanian Kabupaten Seram Bagian Barat perlu dilibatkan dalam pelaksanan PHT terutama untuk melibatkan PPL dalam pelatihan Pemandu Lapang baik yang diselenggarakan di tingkat pusat maupun daerah agar dapat membantu tugas dari PHP yang jumlahnya terbatas. Untuk lebih meningkatkan efektifitas SLPHT maka beberapa saran yang dapat dilakukan oleh pihak terkait yaitu: (1) perencanaan pelatihan perlu dilakukan melalui Analisis Kebutuhan Pelatihan, (2) dalam proses pemilihan peserta, diutamakan adalah orang yang memiliki motivasi yang tinggi terhadap sistem Pengendalian Hama Terpadu (PHT) agar pelaksanaan pelatihan dapat memberikan dampak yang positif pada perilaku petani, (3) perlu ditambahkannya topik khusus tentang pengcampuran pestisida agar petani memahami dampak negatif dari pengcampuran pestisida. (4) evaluasi secara berkala terhadap efektifitas SLPHT dan dampaknya perlu terus dilakukan oleh Instansi yang terkait dalam pelaksanaan Pengendalian Hama Terpadu, agar bisa dilakukan perbaikan terhadap berbagai kekurangan dalam proses pelatihan maupun faktor eksternal lainnya terutama ketersediaan sarana produksi pertanian di tingkat lapangan dan (5) perlu dilakukan penelitian lanjutan, tentang evaluasi pelatihan sampai ke level Return On Training Investment (ROTI).

Item Type: Thesis (Masters)
Uncontrolled Keywords: Sekolah Lapangan Pengendalian Hama terpadu (SLPHT), Padi, Kabupaten Seram Bagian Barat Provinsi Maluku, Uji Peringkat Bertanda Wilcoxon, Uji Rank Spearman
Subjects: Manajemen Sumber Daya Manusia
Depositing User: SB-IPB Library
Date Deposited: 16 Apr 2014 06:57
Last Modified: 16 Apr 2014 06:57
URI: http://repository.sb.ipb.ac.id/id/eprint/1858

Actions (login required)

View Item View Item