Analisis manajemen modal kerja dan dampaknya terhadap profitabilitas dan nilai perusahaan (studi kasus pada industri logam di bei)

Valentina, Astrid Harera (2014) Analisis manajemen modal kerja dan dampaknya terhadap profitabilitas dan nilai perusahaan (studi kasus pada industri logam di bei). Masters thesis, Institut Pertanian Bogor.

[img]
Preview
Text
R48-01-Astrid-Cover.pdf - Published Version

Download (367kB)
[img]
Preview
Text
R48-02-Astrid-Summary.pdf - Published Version

Download (315kB)
[img]
Preview
Text
R48-03-Astrid-Ringkasan.pdf - Published Version

Download (317kB)
[img]
Preview
Text
R48-04-Astrid-Daftarisi.pdf - Published Version

Download (313kB)
[img]
Preview
Text
R48-05-Astrid-Pendahuluan.pdf - Published Version

Download (403kB)
[img] Text
Tesis.pdf
Restricted to Registered users only

Download (726kB)
Official URL: http://elibrary.mb.ipb.ac.id

Abstract

Setiap perusahaan dalam melakukan kegiatannya selalu membutuhkan dana. Dana yang dibutuhkan oleh perusahaan untuk membelanjai operasi sehari-hari disebut modal kerja. Manajemen modal kerja yang dirancang dan diimplementasikan dengan baik diharapkan dapat memberikan kontribusi positif terhadap profit dan penciptaan nilai perusahaan. Penelitian ini bertujuan (1) Menganalisis siklus konversi kas serta komponennya (umur persediaan, umur piutang usaha, umur hutang usaha) dan rasio keuangan perusahaan, (2) Menganalisis kebijakan modal kerja perusahaan dan dampaknya terhadap profitabilitas perusahaan, (3) Menganalisis pengaruh siklus konversi kas serta komponennya (umur persediaan, umur piutang usaha, umur hutang usaha), rasio lancar, rasio hutang dan tingkat pengembalian aktiva periode sebelumnya, serta ukuran perusahaan terhadap profitabilitas perusahaan, dan (4) Menganalisis pengaruh perputaran total aktiva, rasio lancar, rasio hutang, ukuran perusahaan, dan profit perusahaan terhadap nilai perusahaan. Metode analisis yang digunakan yaitu analisis statistik deskriptif, cross tabulation, kebijkan modal kerja, Du Pont, dan regresi data panel. Jenis data yang digunakan adalah data sekunder berupa Laporan Keuangan Tahunan yang sudah diaudit dan Laporan Tahunan perusahaan tahun 2010, 2011 dan 2012 yang merupakan data publikasi perusahaan yang dapat diakses di situs Bursa Efek Indonesia (www.idx.co.id). Objek penelitian ini mencakup 15 perusahaan terbuka yang termasuk ke dalam industri logam di BEI. Hasil penelitian menunjukkan bahwa periode rata-rata penagihan piutang pada industri logam di BEI adalah 68 hari, rata-rata perputaran persediaan adalah 108 hari, periode rata-rata pembayaran utang adalah 42 hari, dan siklus konversi kas adalah 134 hari. Industri logam di BEI memiliki rata-rata Net Operating Profit (NOP) yang rendah (8%). Hal ini dilihat dari rata-rata Cash Coversion Cycle (CCC) 134 hari dan bernilai positif, artinya perusahaan memiliki umur piutang usaha lebih besar dibandingkan dengan umur utang usahanya. Dengan kata lain, industri logam di BEI cenderung konservatif dalam pengelolaan modal kerjanya. Nilai CCC terendah (-14 hari) dan bernilai negatif menunjukkan bahwa menunjukkan umur utangnya lebih besar umur piutangnya. Dalam hal ini, perusahaan mampu menegosiasi jangka waktu atau jatuh tempo pembayaran hutang dengan pihak kreditur. Kemudian Financial Debt Ratio (FDR) tertinggi sebesar 243% atau memiliki jumlah hutang yang lebih besar dibandingkan jumlah aktivanya. Kekurangan modal tersebut direncanakan akan dihilangkan melalui program Debt to Equity Swap. Sebagian besar perusahaan logam di BEI menganut kebijakan modal kerja konservatif. Hal ini diindikasikan oleh modal kerja bersih bernilai positif dan nilai rata-rata CCC yang ada dimana nilainya adalah positif serta sumber pendananaanya sebagian besar dari ekuitas untuk mendanai seluruh aktiva tetapnya dan sebagian aktiva lancarnya. Secara teoritis, kebijakan konservatif ini memiliki risiko rendah, biaya tinggi dan hasil rendah. Namun tidak demikian halnya yang terjadi pada industri logam di BEI. Perusahaan yang menganut kebijkan konservatif justru memiliki net operating profit yang lebih tinggi dibandingkan perusahaan yang menganut pendekatan agresif dengan komposisi pendanaannya sebagian besar berasal dari pinjaman jangka pendek. Hal ini dikarenakan faktor resiko yang dihadapi industri logam dalam negeri digolongkan menjadi 2, yaitu resiko sisi mikro dan makro. Resiko sisi mikro, antaralain risiko kredit, risiko mata uang, risiko suku bunga, risiko likuiditas dan risiko harga. Resiko sisi makro, meliputi harga pasar, tingkat harga BBM dan gas, nilai tukar valas, pertumbuhan ekonomi, dan kestabilan pasokan bahan baku. Selain itu, dari segi struktur biaya, Harga Pokok Penjualan (HPP) berkontribusi sebesar 90% terhadap total biaya. Meningkatnya beban pokok penjualan tersebut sejalan dengan peningkatan rata-rata volum penjualan. Komponen besar pembentuk HPP adalah biaya bahan baku. Kenaikan pada komponen biaya bahan baku ini berkontribusi sebesar 79% terhadap total kenaikan beban pokok penjualan. Meningkatnya biaya bahan baku terutama disebabkan oleh meningkatnya harga pengadaan bahan baku impor. Karakter bisnis industri logam merupakan business to business (B2B). Hal ini terlihat dari komponen kas, piutang usaha, dan persediaan yang besar pada komposisi aset lancarnya. Industri logam dikategorikan sebagai high margin industries karena perputaran asetnya cenderung lambat dan leverage-nya pun lelatif rendah sehingga profit margin merupakan faktor dominan bagi tingginya ROE pada industri logam. Hasil regresi menunjukkan hubungan yang negatif signifikan antara periode pengumpulan piutang, siklus konversi kas, rasio lancar, rasio utang, dan aset tetap untuk rasio total aset pada profitabilitas operasi bersih dan adanya hubungan positif signifikan antara ukuran perusahaan dan net operating profit. Selanjutnya, penelitian ini tidak menemukan perbedaan yang signifikan antara perputaran persediaan dalam hari dan rata-rata periode pembayaran utang terhadap laba operasional. Studi ini juga menemukan hubungan negatif yang signifikan antara current ratio dan nilai perusahaan dan positif yang signifikan antara laba operasi bersih dan nilai perusahaan. Hasil ini menunjukkan bahwa sebaiknya industri logam di BEI menganut kebijakan agresif dalam pengelolaan modal kerjanya. Hal ini bertujuan untuk meningkatkan net operating profit dengan cara memperpendek siklus konversi kas. Namun demikian, pada kebijakan agresif ini perusahaan dihadapkan pada risiko likuiditas karena sumber dana jangka pendek mempunyai jatuh tempo yang singkat, sehingga perusahaan tidak memiliki keleluasaan dalam pelunasan kembali artinya perusahaan mempunyai tingkat keamanan (margin of safety) yang kecil. Pada pendekatan agresif ini, perusahaan berani menanggung resiko yang cukup besar, sedangkan trade-off yang diharapkan adalah memperoleh profit yang lebih besar. Selain itu, karena sebagian besar perusahaan logam mengimpor bahan baku dari luar negeri maka untuk mengantisipasi risiko kurs pada biaya pendanaan tersebut adalah dengan melakukan hedging untuk melindungi sebuah perusahaan dari exposure terhadap nilai tukar.

Item Type: Thesis (Masters)
Additional Information: 5(48)Val a
Uncontrolled Keywords: manajemen modal kerja, siklus konversi kas, profitabilitas, nilai perusahaan working capital management, cash conversion cycle, profitability, firm’s value
Subjects: Manajemen Keuangan
Depositing User: SB-IPB Library
Date Deposited: 09 May 2014 04:38
Last Modified: 14 Nov 2019 05:28
URI: http://repository.sb.ipb.ac.id/id/eprint/1877

Actions (login required)

View Item View Item