Analisa kinerja keuangan perusahaan dengan menggunakan economic value added (eva) di pabrik pmks luwu I, ptpn xiv sulawesi selatan

Nurhayati, Erni (2008) Analisa kinerja keuangan perusahaan dengan menggunakan economic value added (eva) di pabrik pmks luwu I, ptpn xiv sulawesi selatan. Masters thesis, Institut Pertanian Bogor.

[img]
Preview
PDF
E26-01-Erni-Cover.pdf - Published Version

Download (329kB)
[img]
Preview
PDF
E26-02-Erni-Abstract.pdf - Published Version

Download (317kB)
[img]
Preview
PDF
E26-03-Erni-Ringkasaneksekutif.pdf - Published Version

Download (323kB)
[img]
Preview
PDF
E26-04-Erni-Daftarisi.pdf - Published Version

Download (318kB)
[img]
Preview
PDF
E26-05-Erni-Pendahuluan.pdf - Published Version

Download (625kB)
Official URL: http://elibrary.mb.ipb.ac.id

Abstract

Perkebunan kelapa sawit memiliki makna strategis bagi perluasan lapangan kerja, dimana kebun seluas 10.000 ha dapat menyerap tenaga kerja sekitar 3.000 orang (Indef,2007). Untuk luasan perkebunan kelapa sawit selama lima tahun terakhir terus meningkat, dibarengi dengan peningkatan produksi CPO. Luas areal kebun masih di dominasi oleh perkebunan swasta, selanjutnya perkebunan rakyat dan perkebunan negara. Salah satu perkebunan milik negara yang berada di propinsi Sulawesi Selatan adalah PTPN XIV. PTPN XIV memiliki beberapa lokasi perkebunan diantaranya di Luwu I, Malili, Tomata, Keera, Asera dan Masamba. Proyek tanam dimulai tahun 1983. Pada tahun 1986 untuk melengkapi proyek perkebunan kelapa sawit dioperasikan pabrik pengolahan minyak kelapa sawit (PMKS) di Luwu I, dengan kapasitas terpasang sebesar 30 ton TBS/jam. Dari tahun 2002 sampai 2006 luas tanaman kelapa sawit dan produksi CPO di PTPN XIV terus mengalami peningkatan. Tahun 2006 produksi CPO di PTPN XIV adalah 32.618 ton dengan total luas areal kelapa sawit 21.011 Ha Peningkatan Produksi CPO hingga Tahun 2006 di PMKS Luwu I, PTPN XIV tidak dibarengi dengan peningkatan nilai Rendemen CPO dan Kernel. Seharusnya Rendemen CPO rata-rata untuk jenis kelapa Tenera adalah 21% dari TBS yang masuk. Sedangkan untuk Rendemen Kernel 5%.(Vademicum kelapa sawit,1998) Nilai Rendemen CPO dan kernel pada pabrik PMKS Luwu I, PTPN XIV masih dibawah nilai standart mutu yang seharusnya. Penyebabnya adalah kualitas TBS dan produktivitas TBS masih rendah. Hal ini dikarenakan usia tanaman yang sudah tua dan sudah memasuki masa replanting. Kondisi ini membuat biaya pemeliharaan tanaman meningkat sehingga meningkatkan biaya produksi. Permasalahan lain yang ada di PMKS LUWU I, PTPN XIV adalah kapasitas produksi sekitar 23 ton TBS/jam masih dibawah kapasitas terpasang 30 ton TBS/jam ekstensi 45 ton TBS/jam, hal ini dikarenakan kondisi mesin yang mulai aus dan biaya pemeliharaan mesin yang terbatas. Melihat kondisi permasalahan yang dialami perkebunan dan pabrik PMKS Luwu I, PTPN XIV serta diketahuinya pendapatan,biaya produksi, laporan neraca dan laporan rugi laba periode 2003-2007 maka penelitian ini akan mengungkap pertanyaan-pertanyaan sebagai berikut : 1. Apakah hasil produksi perusahaan sudah mencapai titik impas? 2. Berapa besar kemampulabaan pabrik PMKS Luwu I, PTPN XIV ? 3. Berapa besar nilai tambah ekonomis pabrik PMKS Luwu I, PTPN XIV ? 4. Apa saran perbaikan untuk meningkatkan kinerja keuangan perusahaan ? Tujuan penelitian secara umum adalah menganalisis kinerja keuangan pabrik PMKS Luwu I, PTPN XIV. Secara rinci bertujuan untuk : 1. Menentukan kondisi titik impas pabrik PMKS Luwu I,PTPN XIV 2. Menganalisis kemampulabaan pabrik kelapa sawit Luwu I,PTPN XIV 3. Menganalisa nilai tambah ekonomis pabrik PMKS Luwu I, PTPN XIV 4. Merumuskan saran perbaikan untuk meningkatkan kinerja keuangan pabrik PMKS Luwu I, PTPN XIV. Penelitian ini dilaksanakan pada Pabrik PMKS LUWU I, PTPN XIV Sulawesi Selatan, sebagai salah satu perusahaan negara yang salah satu unit usahanya adalah pengolahan Kelapa Sawit menjadi CPO dan kernel. Pemilihan tempat dilakukan secara sengaja (purposive) berdasarkan pertimbangan bahwa PTPN XIV merupakan salah satu BUMN yang bergerak dibidang pertanian dan memegang peranan penting dalam produksi CPO. Waktu penelitian selama 2 bulan, bulan April dan Mei. Hasil penelitian diperoleh bahwa produksi TBS PMKS Luwu I berfluktuasi selama periode 2003 – 2007. Hal ini menyebabkan CPO yang dihasilkannya pun mengalami fluktuasi masing-masing sebesar 26.551 ton, 31.103 ton, 26.565 ton, 32.618 ton, 22.421 ton. Fluktuasi produksi TBS dikarenakan fluktuasi produktivitas TBS/ha, akibat produktivitas tanaman yang cenderung menurun akibat dari umur tanaman yang sudah tua dan memasuki masa replanting, pemeliharaan tanaman dikebun kurang optimal. Biaya produk CPO dan kernel cenderung berfluktuatif, begitu pula dengan biaya variabelnya. Untuk produk CPO periode (2003 – 2007) masih memberikan nilai positif pada selisih antara produksi nyata dan titik impasnya, sementara produk kernel selisih positif hanya terjadi tahun 2004 dan 2005. Artinya produksi masih diatas titik impasnya sementara tahun 2003, 2006, 2007 selisih produk nyata dan titik impas adalah negatif. Pada tahun-tahun tersebut produksi/penjualan kernel dibawah titik impas artinya perusahaan mengalami kerugian. Profitabilitas PMKS Luwu I untuk produk CPO periode 2003 -2007 menunjukkan nilai positif yang masing-masing sebesar 14.96%, 23.10%, 7.25%, 16.45% dan 20.4%. Profitabilitas paling besar terjadi pada tahun 2004 ,di karenakan nilai MOS dan MIR adalah terbesar yaitu 55% dan 42% sehingga profitabilitas naik sebesar 54,41% dari tahun 2003. Pada tahun 2005 profitabilitas turun kembali sebesar 64,61%dari tahun 2004. Profitabilitas PMKS Luwu I untuk produk kernel menunjukkan nilai positif di tahun 2004 dan 2005 saja yaitu sebesar 28,5% dan 22,5%. Sedangkan tahun 2003, 2006, 2007 perusahaan tidak mampu memperoleh laba karena produksi/penjualannya dibawah titik impas. Akibatnya perusahaan rugi. Dari hasil regresi yang dilakukan terhadap biaya tetap, hasil analisa terhadap titik impas,profitabilitas pun tidak jauh berbeda terhadap.baik itu dalam memproduksi CPO maupun Kernel. Perusahaan mencapai kondisi impas semua produk,kecuali produk kernel di tahun 2003,2006, dan 2007. Melihat Kondisi Profitabilitas Pabrik Pihak manajemen PMKS Luwu I dapat lebih meningkatkan profitabilitasnya dengan menekan biaya tetap dan kenaikan margin kontribusi pada titik impas.Penurunan biaya variabel pabrik terutama pembelian bahan baku TBS akan memberikan kemampuan yang lebih besar lagi bagi PMKS untuk dapat menutupi biaya tetap dan laba yang diinginkan. Selain itu peningkatan profitabilitas dapat dilakukan dengan menambah produksi/ penjualan CPO dan kernel dengan cara meningkatkan kualitas TBS dengan cara pemeliharaan tanaman pada saat tanam, olah dan angkut. Sehingga TBS yang masuk berkualitas baik. Selain itu pemeliharaan mesin-mesin olah dipabrik terus dilakukan sehingga kapasitas olah bisa optimal. Melihat hasil analisa terhadap titik impas dan profitabilitas pabrik, pihak manajemen PMKS Luwu I untuk dapat menurunkan titik impas dan meningkatkan profitabilitasnya dengan cara : Pertama dengan menurunkan biaya tetap, pos biaya tetap yang diturunkan adalah biaya pimpinan dan tata usaha dengan cara mengurangi biaya perjalanan dinas dan training. Kedua dengan menurunkan pos biaya variabel, dilakukan dengan mengadakan sortasi yang ketat pada saat membeli TBS (di petani plasma) dipilih TBS berkualitas baik (tidak lewat matang dan buah bertangkai tidak panjang) sehingga meningkatkan rendemen dan mutu CPO dan kernel dan menurunkan biaya pembelian bahan baku TBS (biaya Variabel). Ketiga dengan meningkatkan produksi CPO dan Kernel dengan cara efisiensi produksi di kebun dan di pabrik. Efisiensi produksi di kebun inti dan plasma dapat dilakukan dengan cara pemeliharaan tanaman yang baik (pemupukan dengan tepat waktu dan tepat cara, peningkatan rotasi kerja pemeliharaan piringan dan pengendalian gulma) serta perlakuan yang tepat pada saat panen, olah dan angkut. Panen yang benar adalah pada tanaman berumur > 8 tahun sebanyak 40-48 pelepah pohon yang ditinggal, < 8 tahun 48-56 pelepah. Efisiensi produksi di pabrik dilakukan dengan cara pemeliharaan terhadap mesin-mesin olah pabrik sehingga kapasitas olah maksimal serta dengan meningkatkan kebersihan pabrik sehingga meningkatkan semangat kerja. Nilai NOPAT, Invested, cenderung berfluktuasi. Untuk NOPAT meningkat hingga tahun 2004, tahun 2005 menurun lalu meningkat kembali ditahun 2006 dan 2007. sedangkan untuk invested capital meningkat hingga tahun 2004. kemudian ditahun 2005 – 2007 cenderung menurun. Untuk sumber modal perusahaan hanya menggunakan hutang jangka panjang, sehingga WACC menggunakan nilai kredit investasi. Hasil perhitungan EVA memberikan nilai positif pada PMKS Luwu I, PTPN XIV. Selama periode 2003 – 2007, masing-masing sebesar Rp. 7.100,25 juta, Rp. 20.783,54 Juta, Rp. 4.050,15 juta, Rp. 5.111,30 Juta, Rp. 22.860,56 juta. Hal ini menunjukkan tolak ukur kinerja keuangan PMKS Luwu I, PTPN XIV menghasilkan penciptaan nilai (value creation) terhadap biaya modal dari hutang (lost of debt) walaupun besarnya berfluktuasi dengan nilai EVA tertinggi terjadi ditahun 2007. Atas dasar hasil analisa EVA periode 2003-2007 manajemen PMKS Luwu I, untuk dapat meningkatkan penciptaan nilai tambah ekonomis (Value creation) perlu melakukan peningkatan penjualan, dengan cara : meningkatkan ekspor dan penjualan lokal dan menurunkan biaya variabel (dengan cara : melakukan sortasi yang ketat dalam membeli TBS di petani plasma sehingga didapat TBS yang berkualitas ) akhirnya akan meningkatkan NOPAT. Selain itu investasi harus memberikan kontribusi terhadap laba dan masa yang akan datang dengan mempertimbangkan suku bunga pinjaman atau memilih pinjaman yang mengeluarkan biaya modal sedikit.

Item Type: Thesis (Masters)
Uncontrolled Keywords: Efisiensi, Data Envelopment Analysis (DEA), BRI, BTN. kinerja keuangan, pabrik pmks luwu i ptpn xiv, economic value added (eva), cpo, konsep titik impas, adjustment, deferred tax, goodwill, restructuring charges, konsep kemampulabaan
Subjects: Manajemen Keuangan
Depositing User: Library
Date Deposited: 18 Aug 2011 08:35
Last Modified: 05 Nov 2014 09:24
URI: http://repository.sb.ipb.ac.id/id/eprint/192

Actions (login required)

View Item View Item