Analisis pengaruh variabel makroekonomi dan harga minyak dunia terhadap indeks harga saham energi

Dermawan, Harrizt (2012) Analisis pengaruh variabel makroekonomi dan harga minyak dunia terhadap indeks harga saham energi. Masters thesis, Institut Pertanian Bogor.

[img]
Preview
Text
R43-01-Harritz-Cover.pdf - Published Version

Download (381kB)
[img]
Preview
Text
R43-02-Harritz-Abstrak.pdf - Published Version

Download (364kB)
[img]
Preview
Text
R43-03-Harritz-RingkasanEksekutif.pdf - Published Version

Download (376kB)
[img]
Preview
Text
R43-04-Harritz-DaftarIsi.pdf - Published Version

Download (401kB)
[img]
Preview
Text
R43-05-Harritz-Pendahuluan.pdf - Published Version

Download (740kB)
[img] Text
Tesis.pdf
Restricted to Registered users only

Download (1MB)
Official URL: http://elibrary.mb.ipb.ac.id

Abstract

Energi akan menjadi isu penting pada saat ini dan masa mendatang. Perannya dalam berbagai sektor mulai dari rumah tangga, industri, transportasi dan perdagangan, mendorong pembangunan suatu negara. Sektor energi selalu memberikan kontribusi pada penerimaan negara yaitu sekitar 25-30% baik itu dari pajak maupun non pajak.. Pada pasar saham saham-saham energi cukup diminati. Saham dari Bumi Resources Tbk (BUMI), PT. Tambang Batubara Bukit Asam Tbk (PTBA), Energi Mega Persada Tbk (ENRG), Medco Energi International Tbk (MEDC), Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) adalah contoh saham-saham energi yang laris diperdagangkan di bursa. Harga minyak dunia yang mencapai lebih dari US$100/barel pada tahun 2008, menjadikan permintaan akan saham energi meningkat akibat perkiraan bahwa pendapatan perusahaan juga turut bertambah, dan berdampak pada pembagian deviden. Permintaan saham yang meningkat menyebabkan harga saham pun meningkat. Kondisi tersebut menyebabkan saham-saham energi yang memiliki nilai kapitalisasi yang besar menjadi penggerak dari Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan indeks saham sektoral pertambangan. Pentingnya energi dalam pembangunan serta menariknya statistik saham energi menjadikan sektor tersebut cukup menarik diteliti di pasar saham. Saham merupakan instrumen investasi cukup popular di kalangan investor. Ada dua keuntungan yang diperoleh investor ketika bermain di pasar saham yaitu capital gain dan deviden. Seorang investor yang bermain di pasar saham membutuhkan berbagai informasi agar terhindar dari kerugian. Informasi awal yang dapat menuntun seorang investor bermain di pasar saham adalah indeks harga saham. Indeks harga saham merupakan cerminan dari pergerakan harga-harga saham. Investor perlu memperhatikan pergerakan dari indeks pasar karena nilai portofolionya tergantung kepada pergerakan dari indeks pasar tersebut. Dengan memantau indeks, investor dapat mengetahui tren pasar apakah sedang baik atau buruk kinerjanya sehingga dapat memudahkan dalam pembentukan portofolio. Di samping itu, dalam penilaian sekuritas dikenal dengan metode top down atau three step approach yaitu penilaian saham dengan mempertimbangkan kondisi ekonomi dan pasar terlebih dahulu, kemudian akan dilanjutkan kepada analisis industri dan perusahaan. Peristiwa ekonomi memberikan pengaruh sangat besar terhadap seluruh industri dan perusahaan didalamnya sehingga faktor tersebut sangat perlu dipertimbangkan sebelum menganalisis industri. Tujuan dari penelitian adalah menyusun indeks harga saham sektor energi. Indeks harga saham sektoral mengenai sektor energi belum pernah ada disajikan di BEI ataupun dilakukan pada penelitian-penelitian lain. Dengan adanya indeks harga saham sektor energi diharapkan dapat mencerminkan pergerakan dari sebagian besar harga-harga saham energi sekaligus menjadi sinyal baik atau buruknya kondisi saham. Sehingga ada baiknya bila disusun indeks harga saham energi (IHSE) yang dapat memenuhi kebutuhan tersebut. Tujuan kedua adalah melihat perkembangan harga saham energi yang tercermin dalam indeks dan melihat pengaruh variabel makroekonomi dan harga minyak dunia terhadap pergerakan IHSE. Penelitian dilakukan dalam rentang waktu tiga tahun yaitu sejak Januari 2008 hingga Desember 2010. Objek dari penelitian adalah emiten-emiten yang tergabung dalam kelompok usaha energi, yang nantinya akan dibuat ke dalam indeks. Pemilihan objek tersebut dilakukan secara purposive (sengaja). Sedangkan teknik pengumpulan data untuk menyusun indeks tersebut dilakukan dengan sensus. Metode perhitungan indeks adalah market value weighted average index dimana merupakan metode perhitungan indeks yang banyak digunakan pada bursa dunia Penenlitian menggunakan teknik analisis regresi berganda, dimana variabel terikat adalah indeks harga saham energi (IHSE) sedangkan variabel bebas meliputi Indeks Produksi Industri (IPI), tingkat inflasi, suku bunga SBI, kurs Rupiah terhadap Dolar Amerika, dan harga minyak dunia. Hasil penyusunan IHSE didapatkan terjadi beberapa kali penyesuaian nilai dasar akibat adanya corporate action dari emiten. Secara keseluruhan diketahui peningkatan pencatatan saham di bursa dan indeks sektoral pertambangan terjadi pada periode 2008 hingga 2010. Komponen terbesar dari penyusunan IHSE terdapat pada sektor pertambangan batubara dengan memiliki emiten sebanyak 15 emiten diikuti dengan emiten sektor pertambangan minyak dan gas bumi sebanyak enam emiten dan emiten sektor infrastruktur energi sebanyak dua emiten. Secara umum terlihat bahwa perkembangan IHSE menunjukkan pola yang mirip dengan IHSG. Kemiripan terlihat jelas sejak tahun 2004 dimana IHSG mengalami kenaikan tajam dari level 969,42 pada Januari 2004 menjadi 1.561,27 pada Desember 2004. Sedangkan IHSE juga mengalami kenaikan yang tajam yaitu dari level 752,39 pada Januari 2004 menjadi 1.000,23 pada Desember 2004. Tren peningkatan ini terus terjadi. Namun pertumbuhan tersebut sedikit terganggu setelah Januari 2008, dimana IHSG mengalami penurunan hingga 51,17 persen dari tahun sebelumnya (2007). Bergitu juga halnya pada IHSE yang mencapai peningkatan tertinggi pada Februari 2008 pada level 2.721,94 dan menurun pada akhir tahun 2008 mencapai level 1.355,41. Penurunan tersebut merupakan efek dari krisis finansial global yang hampir mengenai seluruh bursa di dunia. Berdasarkan pengamatan selama proses penyusunan, hampir seluruh emiten penyusun IHSE mengalami penurunan harga saham. Penurunan harga saham terjadi karena semakin melemahnya harga minyak dunia pada tahun tersebut. Menurunnya harga minyak dunia disertai dengan menurunnya harga-harga saham energi menguatkan hipotesis alternatif yang diajukan dalam penelitian ini yaitu harga minyak dunia berpengaruh positif dan signifikan terhadap perubahan IHSE. Pertumbuhan IHSG dan IHSE yang terjadi selama ini menggambarkan bahwa pasar saham Indonesia termasuk saham-saham energi cukup diminati. Meskipun terjadi penurunan pada tahun 2008, kenaikan kembali terjadi pada tahun berikutnya. Hasil uji asumsi klasik menunjukkan bahwa model regresi layak dibunakan. Dari uji multikolinearitas terlihat bahwa tidak ada hubungan linier yang kuat antar variabel. baik shubungan secara individual maupun kombinasi. koefisien korelasi menunjukkan tidak ada satupun hubungan antar variabel yang memiliki koefisien korelasi lebih besar dari 0,8. Di samping itu tidak ada satupun nilai VIF yang lebih besar dari 10 dan nilai TOL yang lebih kecil dari 0,1. Pada uji heteroskedastisitas, bila dilihat baik dari grafik maupun uji White, diketahui tidak ada masalah heteroskedastisitas pada model. uji Autokrelasi dengan metode Durbin-Watson dan Lagrange Multiplier (LM) juga menunjukkan tidak ada masalah autokorelasi pada model. Hasil regresi menunjukkan variabel indeks produksi industri, inflasi, sukubunga SBI, kurs dan harga minyak dunia secara bersama-sama berpengaruh terhadap perubahan IHSE. Secara parsial variabel makroekonomi yang mempengaruhi perubahan IHSE adalah suku bunga SBI, kurs dan harga minyak dunia. Implikasi manajerial yang dapat diambil dari penelitian adalah investor sebaiknya mencermati tingkat suku bunga SBI satu bulanan, pergerakan dari harga minyak dunia dan pergerakan dari kurs. Indikasi tingkat suku bunga SBI satu bulanan yang tinggi akan menaikkan indeks harga saham energi, dan begitu juga sebaliknya. Sedangkan menurunnya harga minyak dunia dan melemahnya kurs Rupiah terhadap Dollar Amerika pada tahun 2008 menjadikan indeks harga saham energi mengalami penurunan. Sebaliknya ketika harga minyak dunia kembali meningkat dan kurs Rupiah terhadap Dolar Amerika kembali menguat pada Tahun 2009 dan 2010, indeks harga saham energi juga mengalami peningkatan.

Item Type: Thesis (Masters)
Uncontrolled Keywords: indeks harga saham energi, market value weighted index, regresi berganda, makroekonomi, harga minyak dunia
Subjects: Manajemen Keuangan
Depositing User: SB-IPB Library
Date Deposited: 03 Jul 2014 03:48
Last Modified: 23 Jun 2020 04:47
URI: http://repository.sb.ipb.ac.id/id/eprint/1964

Actions (login required)

View Item View Item