Kinerja bank umum syariah dan keterkaitannya dengan perusahaan induk bank konvensional

Nurwati, Etty (2014) Kinerja bank umum syariah dan keterkaitannya dengan perusahaan induk bank konvensional. Doctoral thesis, Institut Pertanian Bogor.

[img]
Preview
Text
5DM-01-Etty-Cover.pdf - Published Version

Download (938kB)
[img]
Preview
Text
5DM-02-Etty-Summary.pdf - Published Version

Download (396kB)
[img]
Preview
Text
5DM-03-Etty-Ringkasan.pdf - Published Version

Download (395kB)
[img]
Preview
Text
5DM-04-Etty-Daftarisi.pdf - Published Version

Download (462kB)
[img]
Preview
Text
5DM-05-Etty-Pendahuluan.pdf - Published Version

Download (1MB)
[img] Text
Disertasi.pdf
Restricted to Registered users only

Download (4MB)
Official URL: http://elibrary.mb.ipb.ac.id

Abstract

Perbankan syariah di Indonesia dimulai pada tahun 1992 dan mulai berkembang pada tahun 1999 dengan adanya kebijakan dual banking system melalui UU No 10/1998, yang mengijinkan bank konvensional untuk mendirikan perusahaan anak Bank Umum Syariah (BUS) dan membuka Unit Usaha Syariah (UUS) pada bank konvensional. Sampai dengan tahun 2012 di Indonesia terdapat 11 Bank Umum Syariah (BUS) dan 24 Unit Usaha Syariah (UUS). Diantara 11 BUS tersebut, 4 BUS berasal dari hasil spin-off UUS (BRI Syariah, BNI Syariah, BJB Syariah dan Bukopin Syariah), 6 BUS dari hasil akusisi dan konversi bank konvensional (Bank Syariah Mandiri, Bank Mega Syariah, Bank Panin Syariah, BCA Syariah, Maybank Syariah dan Victoria Syariah), serta 1 BUS pembentukan sendiri (Bank Muamalat Indonesia). Diantara 11 BUS tersebut terdapat 9 BUS yang merupakan perusahaan anak bank konvensional di Indonesia (perusahaan induk Bank Mandiri, Bank Mega, BRI, Bukopin, BCA, BNI, BJB, Bank Panin, dan Bank Victoria). Beberapa alasan suatu perusahaan membentuk suatu perusahaan anak, diantaranya adalah (1) perusahaan induk menginginkan adanya lini bisnis baru (diversifikasi) dalam hal ini adalah perbankan syariah; dan (2) meningkatkan pendapatan yang ada, atau yang diproyeksikan dapat diperoleh dengan adanya lini kegiatan bisnis baru yang substansial. Keberhasilan diversifikasi jangka panjang tergantung pada transfer knowledge (marketing knowledge, technological knowledge dan experience),dan adanya komitmen sumber daya (sumber daya manusia, permodalan, infrastruktur) dari perusahaan induk kepada perusahaan anak (Barney, 1991; Luo, 2003; Knott, 2003; Fang, 2007). Faktor lain yang dapat mempengaruhi kinerja perusahaan anak adalah struktur pasar, regulasi dan struktur kepemilikan perusahaan. Perusahaan anak BUS menunjukan adanya pertumbuhan kinerja, namun demikian secara rata-rata kinerja keuangan (ROA, ROE, BOPO, NPL) dan jumlah aset lebih rendah dibandingkan induknya. Pangsa pasar aset perbankan syariah sekitar 4.3%, sedangkan pangsa pasar aset bank induk lebih dari 50% total aset perbankan nasional (2012). Kondisi ini menunjukan bahwa perkembangan perbankan syariah di Indonesia saat ini belum optimal dan ada beberapa faktor yang menghambat perkembangan tersebut. Tujuan penelitian ini untuk mengkaji faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan dan kinerja BUS keterkaitannya dengan perusahaan induk, struktur pasar, struktur kepemilikan dan regulasi. Penelitian ini menggunakan data primer dan data sekunder dari statistik Bank Indonesia, periode 1999-2011, dengan menggunakan metode analisis model regresi data panel dan Structural Equation Modeling (SEM). Ukuran kinerja BUS yang digunakan berupa adalah rasio keuangan profitabilitas (ROA, ROE), likuiditas (FDR), efisiensi (BOPO), pertumbuhan aset, laba, dana pihak ketiga (DPK) dan pembiayaan. Hasil penelitian menunjukkan: 1) Struktur pasar perbankan syariah menunjukan ciri-ciri pasar persaingan oligopolistik dengan nilai Herfindahl–Hirschman Index (HHI) 2705 (pada tahun 2011), pangsa pasar terkonsentrasi pada dua bank, dan menunjukan adanya hubungan signifikan antara konsentrasi pasar dengan kinerja Return on Equity (ROE) dan Financing to Deposit Rasio (FDR) BUS. Namun demikian, dari aspek harga dan barrier to entry, menunjukan persaingan yang lebih terbuka, karena adanya kebijakan pembatasan suku bunga (margin bagi hasil) maksimum yang dapat diberikan kepada nasabah, serta kurangnya barrier to entry, dengan adanya kemudahan perijinan untuk mendirikan BUS dan UUS baru. 2) Pertambahan jumlah BUS tidak menunjukan pengaruh signifikan terhadap kinerja profitabilitas (ROA dan ROE) BUS, namun mempunyai pengaruh signifikan negatif terhadap jumlah laba, DPK dan pembiayaan. Pertumbuhan jumlah UUS menunjukan pengaruh positif terhadap kinerja ROA, ROE dan BOPO, laba dan pembiayaan BUS, namun menunjukan pengaruh negatif terhadap pertumbuhan jumlah DPK BUS. 3) Dimensi hubungan perusahaan induk – anak berupa transfer knowledge dan komitmen sumber daya, tidak menunjukan pengaruh signifikan terhadap kinerja perusahaan anak BUS. Regulasi mempunyai pengaruh positif terhadap kinerja BUS. Hal ini menunjukan bahwa belum optimalnya proses transfer knowledge dan komitmen sumber daya dari perusahaan induk kepada perusahaan anak, namun demikian dengan adanya regulasi dapat mendorong meningkatnya dimensi hubungan perusahaan induk-anak, sehingga dapat mempunyai pengaruh positif terhadap kinerja. 4) Kinerja perusahaan induk menunjukan pengaruh terhadap kinerja perusahaan anak BUS. Adanya peningkatan profitabilitas (ROA) pada perusahaan induk mengindikasikan pengaruh negatif terhadap pertumbuhan laba, aset, dana pihak ketiga maupun pembiayaan dari perusahaan anak BUS. Peningkatan kredit pada perusahaan induk mempunyai pengaruh positif terhadap profitabilitas (ROA, ROE), pertumbuhan aset, DPK dan pembiayaan BUS. Hal ini menunjukan adanya persaingan dalam memperebutkan pangsa pasar aset dan DPK. 5) Pengalaman perusahaan sebagai BUS mempunyai pengaruh yang lebih signifikan terhadap kinerja, dibandingkan dengan pengalaman sebagai UUS sebelum spin-off. Hal ini menunjukan bahwa pengalaman merupakan akumulasi pengetahuan, perusahaan dari waktu ke waktu belajar dan menemukan apa yang baik dan bagaimana meningkatnya kinerjanya. 6) BUS milik pemerintah menunjukan kinerja yang lebih baik dibandingkan BUS milik swasta, dalam hal FDR, efisiensi (BOPO), pertumbuhan aset, pembiayaan dan permodalan. Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa pertumbuhan kinerja Bank Umum Syariah belum optimal, karena dipengaruhi beberapa faktor yaitu 1) struktur pasar dan perilaku perusahaan, 2) kurangnya transfer knowledge dan komitmen sumber daya dari perusahaan induk – bank konvensional kepada perusahaan anak Bank Umum Syariah, terutama bank swasta; 3) adanya persaingan dengan perusahaan induk dalam memperebutkan pangsa pasar DPK. Namun demikian adanya regulasi dapat meningkatkan dimensi hubungan perusahaan induk bank konvensional – perusahaan anak Bank Umum Syariah, sehingga dapat meningkatkan Kinerja Bank Umum Syariah.

Item Type: Thesis (Doctoral)
Uncontrolled Keywords: Bank Konvensional, Kinerja BUS, Perusahaan Anak, Perusahaan Induk, UUS Conventional Banks, Islamic Bank Performance, Parent Company, Subsidiaries, Sharia Business Unit (UUS),
Subjects: Manajemen Keuangan
Depositing User: SB-IPB Library
Date Deposited: 22 Aug 2014 03:27
Last Modified: 19 Nov 2019 09:37
URI: http://repository.sb.ipb.ac.id/id/eprint/1975

Actions (login required)

View Item View Item