Formulasi strategi pengembangan usaha clothing: studi kasus robinet clothing

Rhezandy, Muhammad Tiggy (2008) Formulasi strategi pengembangan usaha clothing: studi kasus robinet clothing. Masters thesis, Institut Pertanian Bogor.

[img]
Preview
PDF
R35-01-Tiggy-Cover.pdf - Published Version

Download (325kB)
[img]
Preview
PDF
R35-02-Tiggy-Abstract.pdf - Published Version

Download (313kB)
[img]
Preview
PDF
R35-03-Tiggy-Ringkasaneksekutif.pdf - Published Version

Download (328kB)
[img]
Preview
PDF
R35-04-Tiggy-Daftarisi.pdf - Published Version

Download (322kB)
[img]
Preview
PDF
R35-05-Tiggy-Pendahuluan.pdf - Published Version

Download (625kB)
Official URL: http://elibrary.mb.ipb.ac.id

Abstract

Perkembangan cara pandang dan persepsi konsumen Indonesia tentang mode dan cara berpakaian mendukung perkembangan pasar pakaian jadi yang cukup pesat. Adanya kebutuhan masyarakat dan kondisi lingkungan yang meliputi berbagai hal, seperti gaya hidup, ekonomi, sosial, politik dan budaya, ikut mendorong sekaligus mempengaruhi munculnya mode baru. Perubahan tren juga pasar merupakan faktor yang mempengaruhi permintaan pasar terhadap jenis pakaian dan mode yang diinginkan masyarakat. Hanya dalam waktu tiga sampai empat bulan, tren sudah berganti dengan yang baru. Pengaruh teknologi canggih, seperti internet dan saluran tv satelit, memudahkan orang memperoleh informasi yang luas dan cepat, termasuk mengenai mode. Konsumen didorong untuk menyesuaikan diri dengan tren yang berlaku saat itu dan menghindar dari sebutan ketinggalan mode. Masyarakat Indonesia senang memperhatikan tren busana. Gaya hidup seperti ini berakibat pada tingginya permintaan terhadap produk fashion. Keadaan tersebut mendorong para desainer yang sebelumnya hanya bekerja untuk memenuhi pesanan para pelanggan kelas atas, kini mencoba mengembangkan bisnisnya secara massal. Perilaku masyarakat Indonesia yang mudah menyerap tren busana terbaru ini merupakan peluang lebar bagi para pelaku bisnis fashion. Industri clothing merupakan bagian dari industri fashion yang berawal dari aktivitas kultural yang menjadi gaya hidup anak muda Bandung (Handayani, 2007), kemudian melahirkan produk-produk penunjang aktivitas tersebut untuk komunitasnya sendiri. Secara perlahan saat produk-produk tersebut dapat diserap oleh pasar, pelaku-pelaku baru bermunculan dengan motivasi bisnis dan kesiapan modal yang lebih jelas. Robinet sebagai salah satu usaha clothing di Jakarta merupakan clothing yang mengkhususkan diri sebagai clothing penghasil jeans. Robinet mengalami banyak kendala dalam menjalankan usahanya. Menjamurnya clothing sekarang ini merupakan salah satu kendala dalam persaingan memperebutkan pasar. Pada saat ini Robinet Clothing juga mengalami penurunan penjualan yang berakibat pada penurunan keuntungan yang diterima. Untuk megatasi masalah-masalah tersebut, Robinet Clothing memerlukan suatu formulasi strategi untuk menjamin dan menjaga kestabilan usaha serta perkembangan perusahaan ke arah yang lebih baik. Hal tersebut dapat ditunjang dengan menggali keuntungan potensial yang dihasilkan melalui strategi pengembangan usaha clothing Robinet. Penelitian ini bertujuan untuk : (1) menganalisis kondisi persaingan di lingkungan industri clothing jeans yang dihadapi oleh ”Robinet Clothing”, (2) menganalisis faktor-faktor eksternal dan internal yang mempengaruhi “Robinet Clothing” dalam pengembangan usahanya serta menghadapi persaingan industri fashion di Indonesia, (3) merumuskan berbagai alternatif strategi yang sebaiknya diterapkan “Robinet Clothing” dalam pengembangan usahanya serta menghadapi persaingan industri fashion di Indonesia, dan (4) menganalisis prioritas strategi untuk diimplementasikan oleh ”Robinet Clothing” dalam pengembangan usahanya serta menghadapi persaingan industri fashion di Indonesia. Penelitian ini dilakukan dalam ruang lingkup manajemen strategi, menyusun dan merumuskan strategi yang tepat untuk mengembangkan usaha yang telah dilakukan oleh Robinet Clothing. Teknik pengolahan dan analisis data yang digunakan adalah analisis deskriptif, Porter’s Five Forces Model, evaluasi faktor eksternal (EFE), evaluasi faktor internal (IFE), matriks SWOT, dan QSPM. Berdasarkan hasil analisis terhadap intensitas persaingan pasar clothing jeans khususnya pasar celana jeans yang ada di lingkungan perusahaan Robinet Clothing, didapat informasi bahwa baik ancaman pendatang baru, ancaman kekuatan tawar menawar pemasok, ancaman kekuatan tawar menawar pembeli, dan ancaman persaingan dari pesaing memiliki intensitas yang tinggi (dalam range skor 3,01-4,00), sedangkan ancaman tantangan produk subsitusi memiliki intensitas yang sedang (2,01-3,00). Ancaman yang paling menonjol dalam persaingan pasar yang dihadapi oleh Robinet Clothing adalah ancaman dari datangnya pendatang baru (skor 3,47), lalu diikuti ancaman persaingan dari pesaing (3,14), ancaman kekuatan tawar menawar pembeli (skor 3,07), ancaman kekuatan tawar menawar pemasok (skor 3,04), dan ancaman tantangan produk subsitusi (skor 2,75). Pada variabel ancaman pendatang baru, differensiasi produk merupakan parameter tertinggi yang mempengaruhi variabel tersebut. Parameter yang mempengaruhi intensitas persaingan berdasarkan variabel ancaman persaingan dari pesaing adalah biaya produksi. Parameter informasi yang dimiliki pembeli merupakan parameter tertinggi yang mempengaruhi intensitas ancaman kekuatan tawar menawar pembeli. Parameter tetinggi pada intensitas ancaman kekuatan tawar menawar pemasok adalah jumlah pemasok. Pada faktor ancaman tantangan produk subsitusi, parameter yang tertinggi adalah parameter tingkat harga produk subsitusi tersebut. Analisis faktor eksternal perusahaan menunjukkan hasil faktor-faktor strategis lingkungan eksternal yang telah direspon oleh Robinet Clothing di pasar berdasarkan faktor peluang (opportunities) adalah trend penggunaan jeans yang masih tinggi, eksklusivitas produk, harga jeans pabrikan/impor yang cukup mahal, isu menggunakan produk dalam negeri, ketersediaan penyedia bahan baku (pemasok), ketersediaan tenaga penjahit di lingkungan perusahaan, perkembangan distro yang tumbuh di wilayah Bandung dan DKI Jakarta, dan pola jaringan pemasaran berbasis komunitas. Faktor strategis peluang yang memiliki kepentingan relatif tertinggi adalah trend penggunaan jeans yang masih tinggi. Faktor strategis peluang ini juga direspon secara luar biasa oleh perusahaan sehingga faktor strategis peluang ini memiliki skor tertinggi diantara faktor-faktor strategis peluang lainnya. Skor total pada faktor strategis peluang adalah sebesar 1,462. Sedangkan berdasarkan faktor ancaman (threats), faktor-faktor yang diantisipasi adalah penjiplakan desain, kemudahan memasuki pasar yang menimbulkan daya tarik untuk masuk pasar, daya beli masyarakat melemah, penggunaan garmen impor yang cenderung tinggi, perubahan teknologi yang cepat dan sulit diikuti, kemudahan dalam melakukan impor produk pakaian jadi, dan kurang dukungan dari pemerintah terhadap industri clothing. Faktor strategis ancaman yang memiliki kepentingan relatif tertinggi adalah penjiplakan desain. Sedangkan faktor strategis ancaman yang direspon secara luar biasa yaitu penggunaan garmen impor yang cukup tinggi. Faktor strategis ancaman yang memiliki skor tertinggi adalah penggunaan garmen impor yang cenderung tinggi. Skor total pada faktor strategis ancaman adalah sebesar 1,236. Skor total untuk faktor strategis eksternal (peluang dan ancaman) adalah sebesar 2,698. Analisis faktor internal perusahaan menunjukkan hasil faktor-faktor lingkungan internal yang mempengaruhi daya saing Robinet Clothing berdasarkan kekuatan (strengths) yang dimiliki yaitu kualitas produk yang dapat bersaing, desain produk yang menarik, kemampuan refreshing produk per tiga bulan, harga produk yang relatif lebih terjangkau, dan kuantitas per item yang terbatas (kesan eksklusif dan tidak pasaran), yang mana kelima faktor tersebut merupakan kekuatan primer perusahaan, sedangkan model produk yang lebih beragam, dan merek yang telah dikenal, kedua faktor tersebut merupakan kekuatan sekunder perusahaan. Untuk faktor strategis kekuatan yang memilki kepentingan relatif tertinggi adalah kuantiti per item yang terbatas (kesan eksklusif dan tidak pasaran) dan model produk yang lebih beragam. Faktor strategis kekuatan yang memiliki skor tertinggi adalah harga produk yang relatif lebih terjangkau. Skor total pada faktor strategis kekuatan adalah sebesar 2,169. Dari sisi kelemahan (weaknesses), faktor yang mempengaruhi daya saing Robinet Clothing adalah penyesuaian skedul produksi dengan permintaan, penggunaan teknologi dalam pengembangan produk dan desain, keterbatasan ukuran produk yang dihasilkan, fokus pemasaran perusahaan masih berfokus pada distro kota-kota besar, dan tenaga penjual yang kurang memiliki keterampilan yang spesifik. , yang mana semua faktor-faktor strategis tersebut merupakan kelemahan sekunder perusahaan. Faktor strategis kelemahan yang memiliki kepentingan relatif tertinggi adalah penggunaan teknologi dalam pengembangan produk dan desain. Faktor strategis kelemahan yang memiliki skor tertinggi adalah penggunaan teknologi dalam pengembangan produk dan desain. Skor total pada faktor strategis kelemahan adalah sebesar 0,840. Skor total untuk faktor strategis internal (kekuatan dan kelemahan) adalah sebesar 3,009. Dengan melihat total skor terboboti dari evaluasi faktor strategis eksternal dan evaluasi faktor strategis internal (2,698 dan 3,009), menunjukkan posisi Robinet Clothing berada pada kuadran IV. Skor yang ditunjukkan oleh matriks IE memposisikan kondisi Robinet Clothing berada pada tingkat Grow and build atau area di mana perusahaan sudah berada dalam kondisi kinerja rata-rata, artinya perusahaan membutuhkan upaya pengembangan untuk meningkatkan kinerja secara keseluruhan untuk bertahan dipasar. Dengan menggunakan matriks SWOT (dengan mempertimbangkan posisi perusahaan dalam matriks IE dan intensitas persaingan digambarkan Porter’s Five Forces Model), diidentifikasi alternatif strategi yang dapat dilakukan oleh Robinet Clothing yaitu : (1) mempertahankan differensiasi produk dan keunggulan relatif produk yang dihasilkan, (2) overall cost leadership, dengan menekan biaya bahan baku dan biaya produksi, (3) memperluas cakupan pasar dengan cara memanfaatkan peluang perkembangan dan pertumbuhan retail distro di wilayah Bandung dan Jakarta serta melakukan pemasaran berbasis komunitas, (4) kemampuan dan penggunaan teknologi yang tepat guna bagi Robinet Clothing (yaitu dalam pengembangan produk dan desain), dan pembuatan web perusahaan yang didukung sistem pemasaran melalui web, (5) perencanaan produksi yang terintegrasi, (6) dan menciptakan bagian khusus untuk pengembangan desain produk. Dari hasil analisis matriks SWOT, diolah lebih lanjut untuk mendapatkan prioritas strategi dengan menggunakan QSPM. Dari hasil QSPM didapat strategi yang memiliki prioritas pertama untuk diimplementasikan oleh Robinet Clothing adalah menerapkan strategi kelemahan/peluang (WO2), yaitu memperluas cakupan pasar dengan cara memanfaatkan peluang perkembangan dan pertumbuhan retail distro di wilayah Bandung dan Jakarta serta melakukan pemasaran berbasis komunitas untuk mengurangi kelemahan berupa fokus retail-retail yang hanya dikota-kota besar saja.

Item Type: Thesis (Masters)
Uncontrolled Keywords: Robinet Clothing, Clothing Jeans, Porter’s Five Forces Model, Evaluasi Faktor Eksternal (EFE), Evaluasi Faktor Internal (IFE), Matriks IE, Matriks SWOT, QSPM.
Subjects: Manajemen Strategi
Depositing User: SB-IPB Library
Date Deposited: 18 Nov 2014 03:29
Last Modified: 18 Nov 2014 03:29
URI: http://repository.sb.ipb.ac.id/id/eprint/2056

Actions (login required)

View Item View Item