Rancangan pengukuran kinerja berbasis balanced scorecard pada kantor pertanahan kota manado

Mocodompis, Horison (2008) Rancangan pengukuran kinerja berbasis balanced scorecard pada kantor pertanahan kota manado. Masters thesis, Institut Pertanian Bogor.

[img]
Preview
PDF
7EK-01-Harison-Cover.pdf - Published Version

Download (1MB)
[img]
Preview
PDF
7EK-02-Harison-Abstract.pdf - Published Version

Download (445kB)
[img]
Preview
PDF
7EK-03-Harison-Ringkasaneksekutif.pdf - Published Version

Download (432kB)
[img]
Preview
PDF
7EK-04-Harison-Daftarisi.pdf - Published Version

Download (427kB)
[img]
Preview
PDF
7EK-05-Harison-Pendahuluan.pdf - Published Version

Download (780kB)
Official URL: http://elibrary.mb.ipb.ac.id

Abstract

Meningkat pesatnya kegiatan pembangunan serta laju pertumbuhan penduduk yang tinggi, mendorong kebutuhan atas tanah yang terus meningkat, sementara luas tanah yang ada relatif tetap. Tidak paralelnya persediaan tanah baik dari segi fisik maupun yuridis dengan kecenderungan meningkatnya kebutuhan atas tanah, seringkali menimbulkan benturan bahkan konflik kepentingan atas tanah. Kantor Pertanahan Kota Manado adalah unit kerja di jajaran Kantor Wilayah Badan Pertanahan Nasional yang sesuai dengan Peraturan Kepala Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia No.4 Tahun 2006 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kantor Wilayah Badan Pertanahan Nasional dan Kantor Pertanahan, memiliki tugas pokok yaitu melaksanakan tugas pemerintahan dibidang pertanahan dalam ruang lingkup Kota dan Kabupaten dalam hal ini Kota Manado. Untuk memenuhi tugas pokok dan fungsinya tersebut Kantor Pertanahan Kota Manado memerlukan suatu perencanaan strategik yang dapat membentuk kinerja pelayanan dibidang pertanahan dengan optimal. Salah satu pendekatan yang dapat digunakan untuk menyusun suatu sistem manajemen strategik yang komprehensif adalah dengan menggunakan metode balanced scorecard (BSC). Metode BSC adalah sebuah metode didalam ilmu manajemen strategik yang mengkaji rancangan indikator kinerja organisasi dalam empat persepektif, yaitu persepektif keuangan, perspektif pelanggan, perspektif proses internal bisnis dan perspektif pertumbuhan dan pembelajaran organisasi. Diharapkan metode ini bisa melakukan rancangan desain indikator kinerja Kantor Pertanahan Kota Manado dalam keempat perspektif tersebut. Dari hasil rumusan masalah, maka tujuan penelitian adalah: (1) Menjabarkan komponen strategik Kantor Pertanahan Kota Manado kedalam sasaran-sasaran strategik pada keempat perspektif BSC, (2) Menentukan indikator kinerja kunci (KPI), target dan inisiatif strategis dalam rancangan balanced scorecard Kantor Pertanahan Kota Manado, (3) Menentukan bobot perspektif dan indikator kinerja kunci (KPI) Kantor Pertanahan Kota Manado, (4) Merancang peta strategi (strategy map) Kantor Pertanahan Kota Manado dengan melakukan analisis hubungan sebab-akibat antar sasaran strategis, (5) Mengintegrasikan kerangka BSC kedalam kerangka pengukuran kinerja SAKIP dan merumuskan rekomendasi penggunaan kerangka kerja berbasis balanced scorecard kepada Kantor Pertanahan Kota Manado untuk mengukur kinerjanya. (6) Mengevaluasi perancangan BSC Kantor dan membandingkan pengukuran kinerja Balanced Scorecard dengan pengukuran kinerja dengan kerangka SAKIP. Penelitian dilaksanakan di Kota Manado dengan objek penelitian adalah Kantor Pertanahan Kota Manado pada bulan Januari 2008 sampai dengan bulan Maret 2008, dengan melibatkan unsur-unsur internal dan eksternal Kantor Pertanahan Kota Manado, yaitu manajemen dan pegawai kantor dan stakeholders Kantor Pertanahan Kota Manado. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif dengan pendekatan studi kasus, dengan menggunakan data primer dan sekunder. Data primer diperoleh melalui Focus Group Discussion (FGD) dari unsur manajemen serta wawancara terstruktur dengan panduan kuesioner, dan data sekunder diperoleh melalui kajian literatur, laporan-laporan dan studi putaka. Responden adalah stakeholders dan manajemen Kantor untuk keperluan FGD, wawancara terstruktur dengan panduan kuesioner kuesioner, dan pembobotan serta pengisian kuesioner ditetapkan dengan metode purposive sampling dengan asumsi bahwa responden terpilih adalah memiliki kompetensi yang relevan dan sama untuk masing-masing keperluan dipandang dari sisi teknis, pengalaman, dan keterampilan. Analisis kualitatif dilaksanakan untuk menjabarkan visi, misi, tujuan dan strategi Kantor melalui perspektif Balanced Scorecard. Analisis kuantitatif dengan pembobotan indikator kinerja kunci (lag indicator) dengan metode paired comparison dalam menentukan tingkat kepentingan setiap perspektif dan bobot kinerja setiap indikator kinerja junci (lag indicator). Selain itu, digunakan analisis skala Likert untuk persepsi kepuasan kerja pegawai, dan kepuasan stakeholders Kantor Pertanahan Kota Manado. Berdasarkan Visi dan Misi, sasaran strategis Kantor yang ditentukan oleh FGD adalah sebanyak lima belas yang masing-masing memiliki satu indikator kinerja kunci. Sasaran strategis yang ditetapkan adalah (1) pada perspektif financial, yaitu tercapainya target pemasukan ke kas negara, tercapainya target kontribusi ke kas daerah (PAD), teralokasinya dana dalam DIPA secara tepat dan optimal dan pengendalian biaya operasional; (2) pada perspektif stakeholders, yaitu citra Kantor Pertanahan Kota Manado, meningkatnya volume kegiatan pendaftaran tanah melalui sertifikasi tanah, meningkatnya partisipasi dan pemberdayaan masyarakat dan kepuasan stakeholders Kantor Pertanahan Kota Manado; (3) pada perspektif internal business process yaitu terlaksananya kegiatan pengaturan dan penataan penguasaan, pemilikkan, penggunaan dan pemanfaatan tanah (P4T) yang seimbang dan adil, kegiatan-kegiatan yang mendukung P4T, mewujudkan penyelesaian sengketa, konflik dan perkara pertanahan di Kota Manado serta terpenuhinya standar prosedur operasional pelayanan pertanahan (SPOPP); (4) pada perspektif employees and organization capacity yaitu terpenuhinya kepuasan pegawai dalam bekerja, meningkatnya peran dan penggunaan sistem informasi dalam pelayanan di Kantor Pertanahan Kota Manado serta peningkatan ketrampilan, kompetensi dan pendidikan pegawai kantor. Hasil pembobotan terhadap empat perspektif Balanced Scorecard menunjukkan bahwa FGD lebih memilih perspektif stakeholders sebagai perspektif yang paling penting yang ditandai dengan nilai tertinggi yaitu sebesar 32,15% terhadap kinerja Kantor, kemudian diikuti oleh perspektif financial sebesar 25%, perspektif internal business process sebesar 24,56%, dan yang terakhir adalah perspektif employees and organization capacity sebesar 18,31%. Berdasarkan pembobotan yang dilakukan oleh FGD maka Indikator Kinerja Kunci pada Perspektif Stakeholders, yaitu Jumlah Hak Atas Bidang Tanah yang terdaftar diseluruh bidang tanah yang ada memiliki kontribusi sebesar 28,57% terhadap perspektif dan 9,19% terhadap kinerja Kantor, Jumlah Sertifikasi PRONA, UMK/PMK, RAN memiliki kontribusi sebesar 27,68% terhadap perspektif dan 8,90% terhadap kinerja Kantor, Persentase kepuasan stakeholders memiliki kontribusi sebesar 22,77% terhadap perspektif dan 7,32% terhadap kinerja Kantor, Indeks Kinerja Kantor memiliki kontribusi sebesar 20,98% terhadap perspektif dan 6,75% terhadap kinerja Kantor. Indikator kinerja kunci pada Perspektif Keuangan (Financial), yaitu Tercapainya target realisasi anggaran dalam DIPA memiliki kontribusi sebesar 29,02% terhadap perspektif dan 7,26% terhadap kinerja Kantor, Jumlah pemasukan ke kas negara dari sektor pertanahan memiliki kontribusi sebesar 28,13% terhadap perspektif dan 7,03% terhadap kinerja Kantor, Efisiensi Biaya Operasional Kantor memiliki kontribusi sebesar 23,66% terhadap perspektif dan 5,92% terhadap kinerja Kantor, dan Jumlah Pemasukan ke kas daerah (PAD) dari sektor pertanahan memiliki kontribusi sebesar 19,20 terhadap perspektif dan 4,80% terhadap kinerja Kantor. Indikator kinerja kunci pada Perspektif Proses Bisnis Internal, yaitu Jumlah lokasi, daerah atau wilayah pendataan dan inventarisasi P4T memiliki kontribusi sebesar 28,13% terhadap perspektif dan 6,91% terhadap kinerja Kantor, Jumlah peta-peta bidang tanah, peta tematik dan peta potensi tanah untuk mendukung tertib P4T memiliki kontribusi sebesar 25% terhadap perspektif dan 6,14% terhadap kinerja Kantor, Waktu dan Tahapan Prosedur Layanan memiliki kontribusi sebesar 24,11% terhadap perspektif dan 5,92% terhadap kinerja Kantor, dan Jumlah Sengketa, konflik dan perkara pertanahan di Kota Manado memiliki kontribusi sebesar 22,77% terhadap perspektif dan 5,59% terhadap kinerja Kantor. Indikator kinerja kunci pada Perspektif Pegawai dan Kapasitas Organisasi (Employees and Organization Capacity), yaitu Jumlah pegawai yang mengikuti Diklat teknis dan struktural maupun pendidikan formil memiliki kontribusi sebesar 36,51% terhadap perspektif dan 6,68% terhadap kinerja Kantor, Persentase Kepuasan pegawai memiliki kontribusi sebesar 34,13% terhadap perspektif dan 6,25% terhadap kinerja Kantor, dan Persentase Kepuasan stakeholders terhadap tekhnologi sistem informasi memiliki kontribusi sebesar 29,36% terhadap perspektif dan 5,38% terhadap kinerja Kantor. Hasil pengukuran kinerja Kantor Pertanahan Kota Manado melalui indikator kinerja kunci (lag indicator) menunjukkan hasil sebagai berikut : (1) jumlah target pemasukan ke kas negara dari sektor pertanahan menghasilkan indeks kinerja 80,20%, skor 3 dengan kategori Baik, dan skor terbobot sebesar 0,2109; (2) Jumlah pemasukan ke kas daerah (PAD) dari sektor pertanahan menghasilkan indeks kinerja 89,83%, skor 4 dengan kategori Sangat Baik dan skor terbobot sebesar 0,1920; (3) Target realisasi anggaran dalam DIPA menghasilkan indeks kinerja 99,48%, skor 4 dengan kategori Sangat Baik dan skor terbobot sebesar 0,2904; (4) Efisiensi biaya operasional kantor menghasilkan indeks kinerja 95%, skor 4 dengan kategori Sangat Baik dan skor terbobot sebesar 0,2368; (5) Indeks kinerja kantor menghasilkan indeks kinerja 99,48%, skor 4 dengan kategori Sangat Baik dan skor terbobot sebesar 0,2700; (6) Jumlah hak atas bidang tanah yang terdaftar dari seluruh bidang tanah yang ada menghasilkan indeks kinerja 314,04%, skor 4 dengan kategori Sangat Baik dan skor terbobot sebesar 0,3676; (7) Jumlah sertifikasi Prona, UMK/PMK dan RAN menghasilkan indeks kinerja 400%, skor 4 dengan kategori Sangat Baik dan skor terbobot sebesar 0,3560; (8) Persentase kepuasan stakeholders menghasilkan indeks kinerja 65,93%, skor 2 dengan kategori Sedang dan skor terbobot sebesar 0,1464; (9) Jumlah bidang, lokasi atau wilayah kegiatan P4T menghasilkan indeks kinerja 21,67%, skor 1 dengan kategori Buruk dan skor terbobot sebesar 0,0691; (10) Jumlah peta bidang tanah, temati dan potensi tanah menghasilkan indeks kinerja 240%, skor 4 dengan kategori Sangat Baik dan skor terbobot sebesar 0,2456; (11) Jumlah sengketa, konflik dan perkara pertanahan menghasilkan indeks kinerja 57,53%, skor 2 dengan kategori Sedang dan skor terbobot sebesar 0,1118; (12) Waktu dan tahapan prosedur pelayananan menghasilkan indeks kinerja 100%, skor 4 dengan kategori Sangat Baik dan skor terbobot sebesar 0,2368; (13) Persentase kepuasan pegawai menghasilkan indeks kinerja 80,70%, skor 3 dengan kategori Baik dan skor terbobot sebesar 0,1875; (14) Persentase kepuasan stakeholders terhadap sistem informasi menghasilkan indeks kinerja 44,16%, skor 1 dengan kategori Buruk dan skor terbobot sebesar 0,0538; (15) Jumlah pegawai yang mengikuti diklat teknis, struktural dan tugas belajar menghasilkan indeks kinerja 50%, skor 1 dengan kategori Buruk dan skor terbobot sebesar 0,0668. Dengan demikian maka, capaian kinerja Kantor Pertanahan Kota Manado secara keseluruhan diketahui dari penjumlahan dari seluruh skor terbobot setiap indikator kinerja kunci, yaitu total skor terbobot adalah sebesar 3,0415 dengan kategori Baik. Proses pengintegrasian antara kerangka BSC dengan SAKIP dapat dilakukan karena penyusunan keempat elemen didalam SAKIP yaitu Perencanaan Strategis, Perencanaan Kinerja, Pengukuran Kinerja dan Pelaporan Kinerja dilakukan dengan pendekatan BSC sehingga indikator-indikator kinerja kunci yang digunakan dalam BSC adalah juga beberapa indikator kinerja kunci yang digunakan LAKIP yaitu indikator kinerja kunci yang sifatnya teknis pertanahan dimana kerangka BSC kemudian melengkapinya dengan indikator kinerja kunci lainnya yang lebih bersifat non teknis namun dapat memicu tercapainya indikator-indikator kinerja lainnya maupun sasaran strategis bagi pencapaian visi, misi dan tujuan kantor. Penerapan kerangka kerja dimaksud secara spesifik memberikan implikasi manajerial bagi kantor melalui indikator kinerja yang telah ditetapkan, yaitu meningkatkan indikator kinerja kunci yang memiliki kategori Buruk dan Sedang, serta minimal mempertahankan indikator kinerja kunci yang memiliki kategori Sangat Baik dan Baik. Rekomendasi yang dapat diberikan dari penelitian bagi kantor adalah penerapan kerangka kerja yang telah dirancang dengan metode BSC oleh manajemen yang kemudian diintegrasikan didalam komponen pelaporan AKIP Kantor Pertanahan Kota Manado sebagai bagian dari LAKIP. Hasil evaluasi terhadap perancangan kerangka pengukuran kinerja berbasis BSC di Kantor Pertanahan Kota Manado menunjukkan bahwa beberapa hal yang harus disesuaikan oleh FGD agar visi dan misi organisasi dapat secara tepat dijabarkan kedalam keempat perspektif BSC antara lain melakukan artikulasi dan pembobotan yang lebih tepat lagi terhadap perspektif keuangan terhadap perspektif lainnya serta bagaimana peta strategi harus menggambarkan sasaran strategik pada perspektif stakeholders sebagai top perspektif. Perbandingan terhadap penyusunan BSC dengan SAKIP antara lain menemukan bahwa: Penyusunan SAKIP hanya melibatkan satu atau dua orang pejabat yang biasanya adalah Kepala Sub Bagian Tata Usaha yang diberikan tanggung jawab untuk menyusun dan melaporkan AKIP Kantor Pertanahan Kota Manado (LAKIP) hal ini membuat partisipasi aktif dari seluruh komponen kantor (pejabat maupun pegawai) yang menjadi syarat dalam penyusunan AKIP tidak berjalan dengan baik, dengan mekanisme kerangka kinerja BSC keterlibatan seluruh unsur manajemen dan Sub Bagian serta Seksi bahkan seluruh pegawai yang ada bisa lebih dimaksimalkan; Capaian indeks kinerja dalam SAKIP Kantor Pertanahan Kota Manado secara keseluruhan tidak dapat menjelaskan hubungan sebab akibatnya (koheren). Sedangkan peta strategi (Strategy Map) yang dirumuskan dalam BSC adalah hipotesis yang mampu menjelaskan hubungan sebab-akibat dari pencapaian indikator-indikator kinerja baik keberhasilan maupun kegagalannya; Indikator kinerja yang digunakan dalam SAKIP selama ini hanya indikator kinerja teknis pertanahan saja, tidak memperhatikan indikator non teknis sebagai pemicu kinerja. Indikator kinerja dalam BSC telah memperhatikan indikator kinerja pemicu kinerja kantor seperti: jumlah pemasukan ke kas negara, jumlah penerimaan PAD Provinsi, tingkat kepuasan stakeholders, tingkat kepuasan kerja pegawai, jumlah pegawai yang mengikuti diklat atau tugas belajar, dan penggunaan dan kualitas sistem informasi yang menunjang pelayanan yang diberikan; Indikator kinerja yang digunakan dalam SAKIP cenderung tidak konsisten karena antara indikator kinerja didalam komponen perencanaan strategik dengan indikator kinerja didalam komponen pengukuran kinerja ada perbedaan, karena indikator kinerja dalam komponen pengukuran kinerja dalam SAKIP lebih memuat hal-hal operasional dalam masing-masing program sehingga hal ini akan berpotensi membelokkan fokus organisasi dari pencapaian visi, misi, tujuan dan sasaran yang telah ditentukan dalam rencana strategis (RENSTRA). Sedangkan indikator kinerja BSC bersifat lebih konsisten dengan perencanaan strategik yang telah dilakukan sebelumnya sehingga antara indikator kinerja yang direncanakan dengan yang diukur merupakan poin-poin yang sama; Target kinerja yang ada dalam SAKIP Kantor Pertanahan Kota Manado adalah target kinerja yang disesuaikan dengan anggaran kegiatan melalui BPN Pusat yang disahkan oleh DPR. Hal ini menyebabkan pencapian visi, misi, tujuan, dan strategi Kantor bahkan BPN RI secara keseluruhan menjadi sangat tergantung kepada pengesahan anggaran oleh DPR. Target kinerja dalam BSC merupakan akumulasi dari kondisi kantor yang sebenarnya untuk pencapaian sasaran strategis kantor dalam keempat perspektif BSC. Hal-hal yang disarankan dalam penelitian ini adalah : perlunya manajemen melakukan evaluasi yang rutin terhadap sasaran strategik, penjabarannya kedalam program dan kegiatan serta penerapan metode kuantitatif bagi penelitian selanjutnya dalam menganalisis hubungan sebab akibat pada peta strategi.

Item Type: Thesis (Masters)
Uncontrolled Keywords: Balanced Scorecard, SAKIP/LAKIP, Kantor Pertanahan Kota Manado, Lag Indicator, Paired Comparison, Peta Strategi, Pengukuran Kinerja.
Subjects: Manajemen Strategi
Depositing User: SB-IPB Library
Date Deposited: 25 Nov 2014 06:18
Last Modified: 25 Nov 2014 06:18
URI: http://repository.sb.ipb.ac.id/id/eprint/2071

Actions (login required)

View Item View Item