Analisis perilaku konsumen terhadap film nasional

Huda, Inna Nurul (2008) Analisis perilaku konsumen terhadap film nasional. Masters thesis, Institut Pertanian Bogor.

[img]
Preview
PDF
R35-01-Inna-Cover.pdf - Published Version

Download (330kB)
[img]
Preview
PDF
R35-02-Inna-Abstract.pdf - Published Version

Download (313kB)
[img]
Preview
PDF
R35-03-Inna-Ringkasaneksekutif.pdf - Published Version

Download (324kB)
[img]
Preview
PDF
R35-04-Inna-Daftarisi.pdf - Published Version

Download (332kB)
[img]
Preview
PDF
R35-05-Inna-Pendahuluan.pdf - Published Version

Download (642kB)
Official URL: http://elibrary.mb.ipb.ac.id

Abstract

Memasuki tahun 2001 film nasional seolah terlahir kembali setelah mengalami beberapa kali masa keterpurukan. Hal ini ditandai dengan kesuksesan yang diraih film Petualangan Sherina dan Ada Apa Dengan Cinta? produksi Miles Film. Kesuksesan kedua film tersebut mendorong para sineas-sineas dalam negeri lainnya untuk turut memproduksi film nasional. Maka setelah sempat terhenti selama hampir dua belas tahun, Festival Film Indonesia (FFI) kembali diselenggarakan pada tahun 2004. Perkembangan indutri perfilman nasional yang terjadi saat ini belum mampu menjadikan film nasional sebagai tuan rumah di negeri sendiri. Produksi film nasional masih berada di bawah rata-rata produksi film nasional yang seharusnya yakni berkisar antara 70-100 judul film per tahun. Perkembangan film nasional semakin dipersulit dengan adanya persepsi yang buruk dari sebagian masyarakat terhadap film nasional. Hal tersebut dikarenakan film nasional belum mampu bersaing dengan film-film asing yang beredar di dalam negeri. Kondisi ini secara tidak langsung mengindikasikan bahwa masih belum terpenuhinya kebutuhan dan keinginan masyarakat terhadap film-film nasional yang beredar. Apabila film nasional yang diproduksi dirasa masih belum sesuai dengan kebutuhan dan keinginan masyarakat, masyarakat pun akan lebih memilih untuk tetap menonton film asing dibandingkan film nasional. Upaya menjadikan film nasional dapat bersaing dengan film-film asing yang masuk ke dalam negeri menghadirkan konsekuensi bahwa film-film nasional harus ditonton oleh masyarakat secara keseluruhan dengan pergi menonton film nasional ke bioskop. Analisis perilaku konsumen film nasional penting untuk dilakukan agar program pemasaran film nasional dapat berjalan dengan efektif dan efisien. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis proses dari tahapan-tahapan pengambilan keputusan konsumen dalam menonton film nasional di bioskop dan menganalisis minat konsumen dalam menonton film nasional di bioskop, serta memberikan implikasi manajerial bagi perkembangan industri perfilman nasional. Analisis terhadap lima tahapan pengambilan keputusan konsumen dalam menonton film nasional di bioskop (pengenalan kebutuhan, pencarian informasi, evaluasi alternatif, keputusan pembelian dan evaluasi pasca pembelian) dilakukan dengan analisis deskriptif dan analisis korespondensi. Sementara itu minat konsumen dianalisis berdasarkan Theory of Planned Behavior (TPB) dengan menggunakan teknik statistik Structural Equation Modeling (SEM). Hasil penelitian menunjukkan bahwa profil konsumen film nasional secara umum berumur 15-20 tahun, berpendidikan SLTA dan belum menikah, berprofesi sebagai pelajar atau mahasiswa, dengan tingkat pengeluaran konsumsi individu antara Rp.700.000,- sampai Rp.1.250.000,- per bulan. Sementara itu konsumen yang kurang berminat terhadap film nasional secara umum dicirikan oleh konsumen yang berumur 21 tahun ke atas, memiliki tingkat pendidikan lebih tinggi dibandingkan dengan konsumen pada segmen potensial, yang telah bekerja dan memiliki tingkat pengeluaran konsumsi individu per bulan di atas Rp.1.250.000,-. Proses pengambilan keputusan konsumen didahului oleh tahap pertama yaitu pengenalan kebutuhan. Tahap ini memberikan penjelasan bahwa manfaat terbesar yang dicari responden dalam menonton film adalah untuk memperoleh hiburan. Motivasi responden untuk menonton film di bioskop adalah dikarenakan hobi atau kesenangan, sehingga ketika responden tidak pergi menonton film di bioskop maka responden akan merasa biasa saja. Tema cerita film nasional yang disukai adalah tema komedi. Tahap kedua yakni pencarian informasi, iklan televisi merupakan sumber informasi yang paling banyak digunakan dan merupakan media yang paling mempengaruhi responden untuk menonton film nasional di bioskop. Hal yang dilakukan konsumen sebelum menonton film nasional di bioskop adalah menanyakan pendapat teman terlebih dahulu. Fokus perhatian konsumen terhadap promosi film nasional adalah tema cerita. Tahap ketiga yakni evaluasi alternatif, menjelaskan bahwa terdapat tiga atribut yang sangat penting untuk dipertimbangkan sebelum menonton film nasional di bioskop yaitu tema cerita film yang bersangkutan, kenyamanan, kebersihan dan keberadaan fasilitas penunjang biokop. Terlihat bahwa bioskop juga memegang peran penting dalam perilaku menonton film nasional di bioskop. Tahap keempat yakni keputusan menonton, menonton film nasional di bioskop dilakukan responden pada waktu yang tidak tentu, dengan cara melakukan keputusan pun tergantung situasi. Frekuensi menonton dalam setahun terakhir adalah kurang dari satu kali dalam sebulan dan biasanya responden lebih memilih menonton bersama teman-teman. Tahap kelima yakni evaluasi pasca pengambilan keputusan menonton, responden merasa puas terhadap atribut tema cerita, pemain film, kenyamanan, kebersihan dan fasilitas penunjang bioskop, dan secara keseluruhan responden merasa puas dengan film nasional yang pernah ditonton. Kepuasan responden akan memberikan dampak bahwa responden akan terus menonton film nasional di bioskop. Sementara itu, ketidakpuasan responden akan memberi dampak bahwa responden tidak akan menonton film nasional di bioskop sampai ada film nasional yang menarik. Perbandingan yang dilakukan terhadap film Hollywood memberikan hasil bahwa dari keempat aspek yakni tema cerita, akting pemain, tata suara dan keindahan gambar film Hollywood lebih unggul dibandingkan film nasional. Analisis SEM memberikan hasil bahwa minat menonton film nasional di bioskop hanya dapat dijelaskan oleh dua variabel yaitu variabel Attitude Toward Behavior (sikap terhadap perilaku menonton film nasional di bioskop) dan variabel Subjective Norms (tekanan sosial yang dirasakan oleh konsumen), sedangkan variabel Perceived Behavioral Control (faktor-faktor penghambat yang dipersepsikan oleh konsumen) tidak mampu menjelaskan minat konsumen. Saat ini minat konsumen untuk menonton film nasional di bioskop tergolong sedang, artinya perkembangan film nasional saat ini belum mampu mendorong masyarakat untuk menonton film nasional di bioskop. Penelitian ini memberikan implikasi manajerial berupa strategi peningkatan pangsa pasar. Strategi peningkatan pangsa pasar film nasional diperlukan agar film nasional dapat ditonton oleh seluruh lapisan masyarakat, dengan demikian film nasional dapat mengatasi persaingan terhadap film-film asing yang beredar, sehingga film nasional dapat menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Peningkatan pangsa pasar dapat dilakukan melalui strategi-strategi khusus yakni penganekaragaman tema cerita, peningkatan kualitas film nasional, perbaikan sistem pasca produksi film nasional, pemotongan harga tiket masuk menonton di bioskop dan mengubah sikap konsumen terhadap film nasional. Keseluruhan strategi-strategi khusus tersebut diwujudkan dalam bentuk kebijakan-kebijakan yang terkait pada masing-masing strategi.

Item Type: Thesis (Masters)
Uncontrolled Keywords: Film Nasional, Pengambilan Keputusan Konsumen, Minat, Theory of Planned Behavior, Structural Equation Modeling
Subjects: Manajemen Pemasaran
Depositing User: SB-IPB Library
Date Deposited: 26 Nov 2014 09:00
Last Modified: 26 Nov 2014 09:00
URI: http://repository.sb.ipb.ac.id/id/eprint/2082

Actions (login required)

View Item View Item