Pengaruh faktor-faktor makroekonomi dan return ihsg terhadap return saham sektor usaha primer, analisis dengan metode garch

Wijaya, Suseno Wangsit (2008) Pengaruh faktor-faktor makroekonomi dan return ihsg terhadap return saham sektor usaha primer, analisis dengan metode garch. Masters thesis, Institut Pertanian Bogor.

[img]
Preview
PDF
R35-01-Suseno-Cover.pdf - Published Version

Download (418kB)
[img]
Preview
PDF
R35-02-Suseno-Abstract.pdf - Published Version

Download (387kB)
[img]
Preview
PDF
R35-03-Suseno-Ringkasaneksekutif.pdf - Published Version

Download (418kB)
[img]
Preview
PDF
R35-04-Suseno-Daftarisi.pdf - Published Version

Download (394kB)
[img]
Preview
PDF
R35-05-Suseno-Pendahuluan.pdf - Published Version

Download (442kB)
Official URL: http://elibrary.mb.ipb.ac.id

Abstract

Investasi pada umumnya dapat dikelompokkan dalam dua golongan utama, yaitu investasi dalam bentuk real assets dan investasi dalam bentuk financial assets. Real assets umumnya bersifat tangible (berwujud) seperti mesin, tanah dan bangunan. Financial assets dapat berupa valuta asing, deposito berjangka, saham dan obligasi yang diperdagangkan di pasar uang dan pasar modal. Saham merupakan salah satu alternatif investasi yang menarik dalam pasar modal. Hal ini ditandai dengan perkembangan pasar modal yang pesat, yaitu meningkatnya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan nilai kapitalisasi pasar modal. Pasar modal di Indonesia adalah Bursa Efek Jakarta (BEJ) yang kini telah berganti nama menjadi Bursa Efek Indonesia (BEI). Keuntungan yang akan didapat investor melalui pasar modal adalah sumber dana tambahan yang berasal dari capital gain (perbedaan harga jual dan beli) serta dividen (alokasi keuntungan perusahaan kepada pemegang saham). Sektor usaha primer yang terdiri dari sektor pertanian dan sektor pertambangan menghasilkan return yang tinggi dan indeks yang terus meningkat sehingga menjadi pilihan menarik bagi investor. Perubahan pada iklim makro sangat mempengaruhi investor dalam mengambil keputusan investasi. Perubahan nilai indeks saham di BEI dipengaruhi oleh beberapa faktor makroekonomi dalam negeri, antara lain inflasi, nilai tukar rupiah terhadap dollar dan suku bunga SBI (Sertifikat Bank Indonesia). Sebagai bursa efek yang masih berkembang, indeks harga saham BEI mempunyai tingkat volatilitas indeks yang cukup tinggi. Volatilitas sebuah pasar menggambarkan fluktuasi atau perubahan harga pada pasar tersebut, yang sekaligus juga menunjukkan resikonya. Investor yang spekulatif menyukai pasar dengan volatilitas tinggi, karena memungkinkan memperoleh keuntungan yang besar dalam waktu yang singkat. Data deret waktu (time-series) pada analisis keuangan biasanya memiliki ragam pengembalian harga saham yang tidak konstan (heterokedastis). Pada keadaan ini asumsi untuk metode kuadrat terkecil tidak terpenuhi. Sebagai alternatifnya digunakan model Generalized Autoregressive Conditional Heteroscedasticity (GARCH) yang dikembangkan oleh Bollerslev (1986). Model ini merupakan penyempurnaan dari model Autoregressive Conditional Heteroscedasticity (ARCH) yang diperkenalkan oleh Engle (1982). Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisis pengaruh return IHSG serta faktor-faktor makroekonomi terhadap volatilitas return saham sektor pertanian dan pertambangan. Penelitian ini menggunakan rentang waktu Januari 2004 hingga Juni 2007. Metode penelitian yang digunakan adalah regresi berganda dan GARCH. Untuk membentuk model diperlukan data dalam bentuk return. Untuk itu data dalam bentuk harga, nominal atau indeks harus diubah terlebih dahulu kedalam bentuk return yang relatif terhadap nilai saham di hari sebelumnya. Data IHSG, Indeks Harga Saham Sektoral (IHSS) Pertanian, IHSS Pertambangan, kurs dan suku bunga SBI dinyatakan dalam bentuk return secara relatif, sedangkan data inflasi dinyatakan dalam persen. Semua variabel yang digunakan dalam penelitian ini yaitu return IHSS Pertanian, return IHSS Pertambangan, return IHSG, inflasi, return kurs dan return suku bunga SBI telah stasioner pada taraf nyata 5%. Perhitungan dengan menggunakan program SPSS 15.0 memperoleh nilai VIF < 10 ini berarti tidak terjadi multikolinearitas yang serius pada variabel yang digunakan. Pengujian autokorelasi pada IHSS Pertanian mendapatkan nilai probabilitas sebesar 0.641349. Nilai ini lebih besar dari taraf nyata 5% sehingga tidak terdapat autokorelasi pada residual. Pengujian terhadap kuadrat residual persamaan menunjukkan bahwa pada significance level 5%, variance IHSS Pertanian bersifat konstan atau homoskedastis, sehingga estimasi volatilitasnya sudah cukup baik dengan menggunakan formulasi standar deviasi biasa dengan regresi linear berganda. Pada model IHSS pertanian, didapatkan nilai F statistik sebesar 145.3309 dan nilai probabilitas F adalah 0,00 yang lebih kecil dari nilai α = 0,05. Berarti paling tidak terdapat satu variabel bebas yang tidak bernilai nol dan berpengaruh secara signifikan terhadap keragaman variabel tak bebasnya. Nilai R-square dari persamaan regresi adalah 28,95%, yang berarti bahwa variasi IHSS Pertanian yang dapat dijelaskan oleh variabel return IHSG, inflasi, return suku bunga SBI dan return kurs sebesar 28,95%. Return IHSS Pertanian hanya dipengaruhi secara nyata oleh return IHSG. Return IHSS berbanding searah dengan return IHSG dengan nilai koefisien IHSG yaitu 0.947301, yang berarti jika return IHSG naik 1% maka return IHSS Pertanian akan naik sebesar 0.947301%. Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara variabel inflasi, return kurs, dan return suku bunga SBI terhadap IHSS Pertanian. Pengujian autokorelasi IHSS Pertambangan menghasilkan nilai probability 0.126448. Nilai ini lebih besar dari taraf nyata 5% sehingga menunjukkan bahwa data tidak mengandung masalah autokorelasi. Pengujian terhadap kuadrat residual IHSS Pertambangan mendapatkan nilai probabilitasnya adalah 0.00. Hasil ini menunjukkan bahwa pada significance level 5%, variance IHSS Pertambangan bersifat heteroskedastis, sehingga estimasi volatilitasnya lebih baik bila dilakukan dengan metode ARCH/GARCH. Pendugaan parameter model GARCH (p,q) menggunakan metode kemungkinan maksimum atau Quasi Maksimum Likelihood (QML). Simulasi model ini mengkombinasikan nilai p = 0, 1 dan 2 dengan nilai q = 1 dan 2 sehingga terbentuk 6 model ragam. Dari beberapa alternatif yang dicoba dipilih GARCH (1,2) sebagai conditional variance. Pemilihan model GARCH (1,2) ini karena memiliki nilai AIC dan SC terkecil dan tidak ada lagi efek ARCH yang tersisa berdasarkan uji ARCH-LM dengan nilai probability sebesar 0.879859 yang jauh lebih besar dari taraf nyata 5%. Return IHSG, return kurs dan return suku bunga SBI berpengaruh signifikan terhadap IHSS Pertambangan. Tingkat inflasi tidak berpengaruh signifikan terhadap IHSS Pertambangan. Jika return IHSG naik 1%, maka return IHSS Pertambangan akan naik sebesar 0.955650%. Jika kurs Rupiah per US Dollar naik 1% (terdepresiasi), maka return IHSS Pertambangan akan turun sebesar 0.124496%. Pada saat Rupiah mengalami depresiasi, IHSS pertambangan akan melemah. Hal ini mengindikasikan bahwa investor lebih cenderung menanamkan modalnya di pasar valuta asing dengan membeli US Dollar karena memberikan return yang lebih menarik. Return suku bunga SBI memiliki hubungan negatif dengan return IHSS Pertambangan. Jika suku bunga SBI naik 1% maka return IHSS Pertambangan akan turun sebesar 0.104453%. Dengan adanya peningkatan suku bunga SBI, investor akan menanamkan modalnya di bank dalam bentuk tabungan atau deposito karena menghaslkan return yang lebih menarik dibandingkan menginvestasikannya dalam bentuk saham. Tingkat resiko investasi IHSS Pertambangan dipengaruhi oleh besarnya nilai sisaan pengembalian sehari sebelumnya, besarnya simpangan baku return dari rataan untuk sehari sebelumnya dan besarnya simpangan baku return dari rataan untuk dua hari sebelumnya. Volatilitas return IHSS Pertambangan pada hari t adalah sebesar 8.31E-07 ditambah 0.134766 kali persentase perubahan dari varian tak bersyarat sehari sebelumnya; -0.122852 kali persentase perubahan dari varian tak bersyarat 2 hari sebelumnya; 0.982315 kali persentase perubahan dari varian bersyarat sehari sebelumnya. Jika pada penutupan bursa efek hari ini (t) nilai sisaan pengembalian IHSS Pertambangan relatif besar, maka tingkat resiko investasi untuk esok hari (t + 1) akan cenderung besar. Sedangkan jika pada penutupan bursa efek hari ini (t) nilai sisaan pengembalian IHSS Pertambangan relatif kecil, maka tingkat resiko investasi untuk esok hari (t + 1) akan cenderung kecil. Implikasi manajerial dari penelitian ini adalah investor dapat membeli saham-saham pertanian dan pertambangan jika nilai IHSG meningkat. Investor juga dapat membeli saham-saham di sektor pertambangan jika terjadi penurunan suku bunga SBI atau terapresiasinya rupiah, karena akan mendapat peningkatan return. Sektor pertambangan lebih volatil dibanding sektor pertanian. Investor dengan tipe risk seeker, yang menyukai risiko tinggi untuk mendapatkan return yang tinggi maka dapat memilih saham-saham di sektor pertambangan. Bagi emiten saham pertanian, perubahan kondisi makroekonomi (inflasi, nilai tukar rupiah terhadap US Dollar dan suku bunga SBI) tidak berpengaruh terhadap return yang dihasilkan. Sedangkan bagi emiten saham pertambangan, perubahan nilai tukar rupiah terhadap US Dollar dan suku bunga SBI berpengaruh terhadap return yang dihasilkan sehingga emiten saham pertambangan perlu memperhatikan hal ini dengan menjaga keseimbangan struktur leverage yang dimilikinya dan melakukan perlindungan mata uang. Bagi Bapepam (Badan Pengawas Pasar Modal), jika terjadi kenaikan harga saham yang terus-menerus pada saat keadaan makroekonomi stabil maka perlu dilihat apakah kenaikan harga saham tersebut karena faktor fundamentalnya atau karena adanya insider trading. Bapepem juga dapat mensosialisasikan kepada investor mengenai return dan resiko yang didapat jika berinvestasi di pasar modal pada sektor pertanian dan pertambangan serta faktor-faktor yang mempengaruhinya.

Item Type: Thesis (Masters)
Uncontrolled Keywords: Sectoral Stock return, CSPI, Macroeconomics Variabel, GARCH. return, volatilitas, IHSS, IHSG, Makroekonomi, GARCH.
Subjects: Manajemen Keuangan
Depositing User: SB-IPB Library
Date Deposited: 02 Dec 2014 09:22
Last Modified: 02 Dec 2014 09:22
URI: http://repository.sb.ipb.ac.id/id/eprint/2107

Actions (login required)

View Item View Item