Analisis pengaruh kecerdasan emosional, kecerdasan spiritual dan penilaian kinerja terhadap motivasi kerja anggota tentara nasional indonesia angkatan laut pada satuan kerja disfaslanal

Mahmud, Amir (2007) Analisis pengaruh kecerdasan emosional, kecerdasan spiritual dan penilaian kinerja terhadap motivasi kerja anggota tentara nasional indonesia angkatan laut pada satuan kerja disfaslanal. Masters thesis, Institut Pertanian Bogor.

[img]
Preview
PDF
E22-01-Amir-Cover.pdf - Published Version

Download (385kB)
[img]
Preview
PDF
E22-02-Amir-Abstract.pdf - Published Version

Download (360kB)
[img]
Preview
PDF
E22-03-Amir-Ringkasaneksekutif.pdf - Published Version

Download (378kB)
[img]
Preview
PDF
E22-04-Amir-Daftarisi.pdf - Published Version

Download (365kB)
[img]
Preview
PDF
E22-05-Amir-Pendahuluan.pdf - Published Version

Download (374kB)
Official URL: http://elibrary.mb.ipb.ac.id

Abstract

Seiring dengan reformasi bangsa dan negara, organisasi Tentara Nasional Indonesia (TNI) dituntut untuk berubah. TNI yang selama 32 tahun lamanya sangat diistimewakan dan diberi tempat prioritas oleh penguasa kala itu, dituntut untuk menjadi lebih profesional dan meninggalkan peran lamanya dalam urusan politik. Saat ini TNI dihujat dan disalahkan oleh seluruh komponen bangsa sebagai penyebab kehancuran negara ini. Proses perubahan yang sangat mendasar tersebut perlu untuk dicermati karena berdampak besar pada perubahan mental dan motivasi prajurit dalam menjalankan tugas negara. Perubahan mental dan motivasi prajurit yang menurun tidak bisa dipungkiri akan berdampak kepada kinerja organisasi yang tidak optimal. Oleh karena motivasi kerja merupakan dorongan, keinginan dan daya yang mengarahkan perilaku seseorang dan distimulir oleh motif-motif tertentu untuk melakukan suatu pekerjaan, maka faktor motivasi menjadi penting bagi seluruh prajurit TNI untuk mengoptimalkan kinerja organisasi. Di organisasi Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut (TNI AL) khususnya pada Dinas Fasilitas Pangkalan TNI AL (DISFASLANAL) yang menjadi obyek penelitian ini misalnya, menurut pengamatan penulis sebagai bagian dari kalangan intern (anggota) TNI AL, motivasi prajurit dalam bekerja sangat beragam. Ada yang bersemangat bekerja di kala diberikan imbalan, dan ada yang bekerja dengan ikhlas dengan alasan mengamalkan Sapta Marga dan Sumpah Prajurit. Beragamnya motivasi prajurit dalam menjalankan tugas, memaksa bagian personil untuk menempuh berbagai cara untuk berupaya meningkatkan motivasi prajurit agar bekerja secara ikhlas, cerdas dan maksimal tanpa mengharapkan imbalan tambahan selain gaji dari pemerintah. Kecerdasan emosional (EQ) berpotensi mempengaruhi motivasi kerja karena kecerdasan emosional berhubungan dengan kemampuan seseorang untuk mengenali emosi diri, mengelola emosi diri, memotivasi diri, berempati, dan membina hubungan dengan orang lain. Kelima dimensi ini apabila dikuasai secara baik oleh seseorang dapat mendorong komitmennya terhadap organisasi. Hal ini dimungkinkan karena dimensi-dimensi yang terkandung dalam kecerdasan emosional dapat menuntun seseorang untuk memahami posisinya secara tepat di dalam dinamika organisasi atau masyarakat, termasuk memotivasi diri, berempati dan membina hubungan dengan orang lain demi kepentingan bersama. Peluang dan frekuensi stres menjadi lebih besar apabila seseorang berada dalam kompetisi yang ketat. Seseorang dengan modal IQ dan EQ saja seringkali mengalami kelebihan beban (overload) dan tak mampu lagi menampung beban yang ditanggungnya. Pada kondisi demikian, kecerdasan spiritual (SQ) sangat dibutuhkan sebagai sumber nilai untuk merespon dan mencari solusi melalui dimensi alternatif. Jika kecerdasan intelektual (IQ) berperan memberi solusi intelektual-teknikal dan EQ berperan meratakan jalan dalam membangun relasi sosial, maka SQ mempertanyakan mengenai makna, tujuan dan filsafat hidup seseorang. Tanpa disertai kedalaman spiritual, kepandaian IQ dan popularitas (EQ) seseorang tidak akan memberi makna, ketenangan dan kebahagiaan hidup. Demikian pula halnya dengan metode penilaian kinerja anggota DISFASLANAL saat ini menurut pengamatan penulis belum optimal antara lain diindikasikan dengan adanya keseragaman nilai, kurang objektif, blanko penilaian kinerja bersifat standar, serta persepsi anggota bahwa penilaian kinerja hanya merupakan syarat administrasi untuk usulan kenaikan pangkat atau golongan. Hal ini bukan saja dapat merugikan organisasi TNI AL dalam membangun kinerjanya, tetapi juga kurang menguntungkan para anggota TNI AL dalam meniti karirnya. Bertolak dari kondisi tersebut, ada beberapa permasalahan utama yang dapat diidentifikasikan terkait pengaruh kecerdasan emosional, kecerdasan spiritual dan penilaian kinerja terhadap motivasi kerja anggota Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut pada satuan kerja DISFASLANAL, diantaranya adalah: 1). Kecerdasan emosional (EQ), kecerdasan spiritual (SQ) dan penilaian kinerja berpengaruh terhadap motivasi kerja anggota TNI AL pada satuan kerja DISFASLANAL. 2). Perlu untuk meningkatkan kecerdasan emosional (EQ) dan kecerdasan spiritual (SQ) anggota TNI AL pada satuan kerja DISFASLANAL. 3). Perlu memperbaiki metode penilaian kinerja anggota TNI AL pada satuan kerja DISFASLANAL. 4). Perlu mengetahui unsur yang paling dominan dari tiap unsur kecerdasan emosional, kecerdasan spiritual serta metodologi penilaian kinerja dalam mempengaruhi motivasi kerja anggota TNI AL pada satuan kerja DISFASLANAL. Oleh karena dengan melihat adanya pengaruh kecerdasan emosional (EQ), kecerdasan spiritual (SQ) dan penilaian kinerja terhadap motivasi kerja anggota Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut pada satuan kerja DISFASLANAL, maka perlu mengkaji beberapa hal untuk mengetahui: 1).Bagaimana kecerdasan emosional (EQ), kecerdasan spiritual (SQ), penilaian kinerja dan motivasi kerja anggota TNI AL pada satuan kerja DISFASLANAL? 2). Bagaimana pengaruh kecerdasan emosional, kecer-dasan spiritual dan pola penilaian kinerja terhadap motivasi kerja anggota TNI AL pada satuan kerja DISFASLANAL? 3). Bagaimana upaya-upaya peningkatan kecerdasan emosional (EQ) dan kecerdasan spiritual (SQ) anggota TNI AL? 4) Bagaimana upaya-upaya perbaikan metodologi penilaian kinerja anggota TNI AL pada satuan kerja DISFASLANAL? Penelitian ini menggunakan sampel anggota militer TNI AL yang terdiri dari strata atau golongan Perwira (PA), Bintara (BA) dan Tamtama (TA) dan berdinas pada satker DISFASLANAL ) yang berkedudukan di Gedung B.1 Lt. 3 Mabesal Cilangkap Jakarta Timur. Pengambilan sampel dilakukan dengan metode sensus. Analisis data menggunakan Structural Equation Modelling (SEM). Analisis SEM digunakan untuk menguji kesesuaian antara model yang sudah disusun secara teoritis dengan data empiris yang ada di lapangan. Pengolahan data SEM diuji dengan menggunakan software LISREL 8.51 yang kemudian hasilnya digunakan dalam analisis pembahasan dan implikasi manajerial bagi organisasi. Atribut yang dianalisis terdiri dari 18 peubah indikator yang dikelompokkan menjadi tiga bagian yaitu:1) Lima peubah indikator kecerdasan emosional yaitu kesadaran diri yang baik atau self awareness (X1), kemampuan mengatur diri sendiri atau self management (X2), kemampuan memotivasi diri sendiri atau self motivation (X3), kemampuan memahami emosi orang lain atau social awareness (X4) dan kemampuan memelihara hubungan sosial atau social skill (X5). 2) Enam peubah indikator kecerdasan spiritual yaitu :Sikap peduli terhadap lingkungan (X1), optimis terhadap masa depan (X7), visioner (X8), tanggung jawab (X9), tegar dan tegas (tidak kompromistis) (X10) dan mengakui kelebihan orang lain (tidak fanatis) (X11). 3) Tujuh peubah indikator penilaian kinerja yaitu relevansi (X12), sensitivitas (X13), penilaian yang dilakukan penilai yang satu dengan penilai yang lainnya sudah saling bersesuaian (keandalan) (X14), ukuran yang obyektif dan adil (keandalan) (X15), dilakukan sosialisasi sistem penilaian kinerja (kemamputerimaan) (X16), hasil penilaian kinerja (nilai) terhadap yang dinilai (ternilai) telah mendapat dukungan dari penilai (kemamputerimaan)(X17)dan kepraktisan (X18). Berdasarkan hasil analisis Structural Equation Modeling, hasil pengolahan data dengan program LISREL 8.54 menunjukkan standar-standar yang sesuai dengan aturan kecocokan model, sehingga tidak diperlukan lagi berbagai modifikasi. Dalam evaluasi kriteria goodness of fit, terdapat beberapa indeks kesesuaian dan cut off value yang digunakan untuk menguji kecocokan model dengan data yang disajikan (sesuai dengan data empiris). Indeks tersebut diantaranya yaitu Degree of Freedom (DF), Chi-square, RMSEA (Root Means Square Error of Approximation), dan P-value. Berdasarkan uji kecocokan, mengindikasikan bahwa terdapat kecocokan yang baik antara model dan kenyataan (didukung oleh data empiris). Nilai Chi-Square (X2) yang kecil relatif terhadap derajat bebasnya (DF) menunjukkan bahwa model yang diajukan didukung oleh data empiris. Nilai RMSEA = 0,00 dan P-value = 1,00 menunjukkan adanya kedekatan suatu model dengan populasinya dan model didukung pula oleh data empiris. Dari hasil analisis terhadap tiap indikator peubah laten eksogen dan laten endogen, secara komprehensif dapat dijelaskan bahwa dari ketiga peubah eksogen yang diikutsertakan dalam penelitian ini, peubah penilaian kinerja memberikan pengaruh yang paling besar terhadap motivasi kerja anggota Disfaslanal dengan kontribusi sebesar 0,45. Peubah kecerdasan spiritual (SQ) berada di urutan kedua dengan kontribusi sebesar 0,39 dan peubah kecerdasan emosional (EQ) memberikan kontribusi paling kecil sebesar 0,38. Nilai-nilai tersebut mengindikasikan bahwa untuk meningkatkan motivasi anggota Disfaslanal seyogyanya peubah penilaian kinerja harus lebih diperhatikan untuk diimplemetasikan dalam membentuk motivasi kerja anggota. Sedangkan faktor peubah kecerdasan emosional (EQ) perlu mendapat perhatian lebih serius dibandingkan dengan kedua faktor lainnya yaitu kecerdasan spiritual (SQ) dan metode penilaian kinerja. Hal ini penting, mengingat kecerdasan emosional memiliki bobot pengaruh yang lebih kecil dibandingkan kedua faktor lainnya. Dari ketujuh indikator pembentuk penilaian kinerja yaitu relevansi (X12), sensivitas (X13), keandalan (X14 dan X15), kemamputerimaan (X16 dan X17) dan kepraktisan (X18), indikator sensitifitas (X13) dan kepraktisan (X18) memberikan pengaruh yang paling besar masing-masing dengan factor muatan sebesar 1,24 dan hasil t-hitung sebesar 3,27 dan 3,26. Sedangkan faktor relevansi memiliki kontribusi paling kecil dengan faktor muatan sebesar 1,00. Dari keenam indikator peubah kecerdasan spiritual (SQ) yang terdiri dari sikap peduli (X6), optimis (X7), visioner (X8), tanggung jawab (X9), tidak komformis (X10) dan tidak fanatik (X11). Faktor sikap peduli terhadap lingkungan sekitar memberikan kontribusi yang paling besar yaitu sebesar 1,00. Sedangkan indikator tegar dan tegas (X10) dan mengakui kelebihan orang lain (X11) memberikan kontribusi paling kecil, yaitu masing-masing dengan faktor muatan sebesar 0,89 dan hasil t-hitung sebesar 3,79 untuk X10 dan dan 3,8 untuk X11. Dari kelima indikator dari peubah kecerdasan emosional (EQ) yang terdiri dari self awereness (X1), self management (X2), self motivation (X3), social awareness (X4) dan social skill (X5). Indikator self motivation (X3) memberikan kontribusi terbesar terhadap motivasi kerja anggota Disfaslanal yaitu faktor muatan sebesar 1,08 dan hasil t-hitung sebesar 3,68. Sedangkan indikator social skill memberikan kontribusi paling kecil yaitu faktor muatan 0,96 dan hasil t-hiyung sebesar 3,39. Sedangkan berkaitan dengan motivasi kerja anggota Disfaslanal indikator yang diikutkan dalam pembentukan laten endogen motivasi terdiri dari keberhasilan pelaksanaan tugas (Y1), pengakuan (Y2), pekerjaan itu sendiri (Y3), supervisi (Y4), pengembangan (Y5), kebijaksanaan dan administrasi organisasi (Y6), hubungan antar pribadi (Y7) dan kondisi kerja (Y8). Indikator kebijaksanaan dan administrasi organisasi (Y6) memberikan kontribusi yang paling besar yaitu sebesar 0,65, sedangkan indikator Y3 dan Y7 memberikan kontribusi paling kecil sebesar 0,61. Secara keseluruhan ketiga konstruk kecerdasan emosional (EQ), kecerdasan spiritual (SQ) dan penilaian kinerja berpengaruh positif terhadap motivasi kerja anggota TNI AL pada satuan kerja DISFASLANAL. Dari ketiga peubah laten eksogen, penilaian kinerja memiliki pengaruh paling besar terhadap motivasi kerja anggota Disfasalanal yaitu sebesar 0,45. Kemudian disusul kecerdasan spiritual sebesar 0,39. Sedangkan kecerdasan emosional memberikan pengaruh sebesar 0,38. Metode penilaian kinerja TNI AL saat ini belum efektif dan tidak memenuhi beberapa persyaratan, maka untuk mengembangkan metode penilaian kinerja anggota TNI AL pada satuan kerja DISFASLANAL sebaiknya harus memperhatikan faktor yang mempengaruhi efektivitas penilaian kinerja yaitu: relevansi, sensitivitas, keandalan, kemamputerimaan dan kepraktisan. Unsur yang paling dominan dari tiap unsur kecerdasan emosional, kecerdasan spiritual serta metodologi penilaian kinerja dalam mempengaruhi motivasi kerja anggota TNI AL pada satuan kerja DISFASLANAL adalah: 1) Kontribusi terbesar untuk peubah kecerdasan emosional diberikan oleh indikator self motivation (X3) dengan faktor muatan sebesar 1,08 dan hasil t-hitung sebesar 3,68. 2). Kontribusi terbesar untuk peubah kecerdasan spiritual diberikan oleh indikator peduli lingkungan sekitar (X6) dengan nilai kontribusi sebesar 1,00. 3). Kontribusi terbesar untuk peubah penilaian kinerja diberikan oleh indikator sensitivitas (X13) dan indikator kepraktisan (X18) dengan faktor muatan masing-masing sebesar 1,24 dan hasil t-hitung sebesar 3,27 untuk (13) dan 3,26 untuk (X18). Karena faktor-faktor kecerdasan emosional (EQ), kecerdasan spiritual (SQ) dan metode penilaian kinerja berpengaruh positif terhadap motivasi anggota Disfaslanal, maka penulis menyarankan untuk: 1)Perlu penelitian lebih lanjut dan mendalam, untuk mengintegrasikan faktor kecerdasan emosional (EQ) dan kecerdasan spiritual (SQ) ke dalam daftar atau blanko penilaian kinerja pegawai/karyawan, dengan harapan penilaian kinerja lebih bermakna dan memuaskan para anggota yang dinilai maupun bagi yang menilai. 2) Oleh karena objek penelitian ini adalah sebuah institusi yang menganut system hierarki komando yang tegas, penulis berkesimpulan bahwa hasil penelitian belum tentu akan berdampak positif bagi anggota maupun karyawannya. Oleh karena itu akan lebih baik bilamana ada penelitian lain dengan tempat penelitian berbeda lalu kemudian mengamati hasilnya pasca penelitian dan pemberian input/saran positif kepada manejer perusahaannya. 3) Sebaiknya dalam proses rekrutmen TNI AL tidak hanya memperhatikan dan memprioritaskan faktor IQ, namun perlu memasukkan faktor EQ dan SQ kedalam materi tes penerimaan prajurit TNI AL. Kedua faktor tersebut diyakini mampu menyumbangkan SDM yang mumpuni. 4). Untuk penilaian kierja anggota Disfaslanal agar dilakukan perubahan periode penilaian, dari satu tahun sekali menjadi enam bulan sekali. Hal ini dimaksudkan agar para pejabat penilai masih dapat mengingat perilaku anggotanya dan dapat lebih mudah mengisi lembar penolong penilaian kinerja anggota. Model yang telah disusun secara teoritis pada penelitian ini telah sesuai dengan data empiris di lapangan, namun untuk penelitian selanjutnya diharapkan dapat mengkaji studi lanjutan dengan mengikut sertakan peubah kecerdasan intelegensia (IQ)

Item Type: Thesis (Masters)
Uncontrolled Keywords: Kecerdasan emosional (EQ), kecerdasan spiritual (SQ), TNI AL, Disfaslanal, Structural Equation Modeling (SEM), LISREL 8.51.
Subjects: Manajemen Sumber Daya Manusia
Depositing User: SB-IPB Library
Date Deposited: 09 Jan 2015 01:33
Last Modified: 09 Jan 2015 01:33
URI: http://repository.sb.ipb.ac.id/id/eprint/2191

Actions (login required)

View Item View Item