Strategi peningkatan kinerja rantai nilai daging sapi di depok

Shabrina, Nur (2015) Strategi peningkatan kinerja rantai nilai daging sapi di depok. Masters thesis, Institut Pertanian Bogor.

[img]
Preview
Text
R47-01-Nur-Cover.pdf

Download (668kB) | Preview
[img]
Preview
Text
R47-02-Nur-Ringkasan.pdf

Download (525kB) | Preview
[img]
Preview
Text
R47-03-Nur-Summary.pdf

Download (536kB) | Preview
[img]
Preview
Text
R47-04-Nur-Daftarisi.pdf

Download (631kB) | Preview
[img]
Preview
Text
R47-05-Nur-Pendahuluan.pdf

Download (975kB) | Preview
[img] Text
Tesis.pdf
Restricted to Registered users only

Download (2MB)
Official URL: http://elibrary.sb.ipb.ac.id

Abstract

Salah satu komoditas di Indonesia yang mengalami peningkatan permintaan akibat meningkatnya kelas menengah di Indonesia ialah komoditas daging merah. Di Indonesia permintaan komoditas daging merah mengalami peningkatan seiring dengan meningkatnya kelas menengah yaitu sebesar 14,29 % untuk daging sapi dan 25% untuk daging babi. Selain itu permintaan ini juga didukung oleh pertumbuhan jumlah penduduk di Indonesia. Jumlah produksi daging sapi lokal belum bisa memenuhi kebutuhan nasional saging sapi yang merupakan hambatan untuk mencapai swasembada daging. Sasaran PSDS 2014 yaitu mencapai target swasembada daging dan sapi dengan pasokan produksi ternak sapi dalam negeri diharapkan memenuhi porsi minimal 90% dari kebutuhan nasional, sehingga impor daging dan sapi bakalan maksimal hanya 10% dari total kebutuhan konsumsi nasional. Sebaran populasi ternak sapi Indonesia belum merata di seluruh provinsi. Jumlah peternak sapi yang cukup besar berada di wilayah Indonesia bagian tengah dan timur yaitu Provinsi Jawa Timur, Jawa Tengah, Nusa Tenggara Timur dan Sulawesi Selatan. Sedangkan dua provinsi terbesar konsumsi daging berdasarkan indeks konsumsi komoditi makanan triwulan IV tahun 2012 ialah Provinsi DKI Jakarta dan Jawa Barat. Jauhnya daerah penyuplai daging dan biaya operasional yang semakin meningkat sebagai akibat kenaikan harga BBM menyebabkan kenaikan harga yang signifikan pada kedua daerah tersebut. Depok merupakan salah satu kota yang berada di Provinsi Jawa Barat. Depok memiliki tingkat konsumsi yang cukup tinggi sebesar 8 ton/hari Produksi daging sapi berkisar antara 8 hingga 9 ton/hari yang sudah mencukupi kebutuhan konsumsi penduduk di Depok. Peningkatan komoditas daging di Depok disertai dengan harapan peningkatan mutu oleh konsumen daging sapi. Upaya perbaikan di tingkat hulu belum didukung oleh perbaikan pada tingkat rantai nilai daging sapi sehingga telah menarik perhatian untuk menjadi fokus dalam penelitian kali ini. Berdasarkan latar belakang tersebut, penelitian ini bertujuan untuk 1) Menganalisis harapan konsumen terhadap komoditi daging sapi; 2) Mengidentifikasi dan melakukan pemetaan rantai nilai daging sapi dan; 3) Mencari alternatif strategi untuk meningkatkan rantai nilai daging sapi. Penelitian ini dilakukan di Kota Depok pada bulan Desember 2013 hingga bulan Desember 2014, dengan pengambilan data/turun lapang berkisar pada bulan April hingga Desember 2014. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif dengan pendekatan studi kasus. Pengumpulan data primer dilakukan melalui wawancara mendalam dengan aktor-aktor dan konsumen terpilih di dalam rantai nilai daging sapi, sedangkan data sekunder merupakan pelengkap dari data primer yang berasal dari BPS, Bappeda, Dinas Peternakan, Dinas Perdagangan, dan instansi-instansi lain yang terkait. Data sekunder lainnya berasal dari bahan rujukan seperti jurnal, buku, majalah, dan internet dengan topik yang relevan. Teknik pengambilan contoh untuk keperluan perkembangan agroindustri daging sapi untuk mengetahui harapan konsumen dan analisis rantai nilai menggunakan teknik purposive sampling dengan pendekatan expertise judgement. Teknik pengolahan dan analisis data yang dilakukan dalam penelitian meliputi Analisis Penyebaran Fungsi Mutu Daging Sapi, Analisis Rantai Nilai Daging Sapi, dan Analisis Nilai Tambah. Berdasarkan hasil wawancara mendalam serta pengisian kuisioner oleh 30 responden, diperoleh 11 atribut mutu yang mempengaruhi pembelian daging sapi yakni rasio lemak, flavor, warna, marbling, juiceness, aroma, kehalalan, kesegaran, harga, tekstur, dan ketersediaan di pasar. Empat atribut yang menjadi prioritas bagi konsumen ialah kesegaran, kehalalan, harga dan ketersediaan di pasar. Sementara hasil analisis kesenjangan menunjukkan bahwa kondisi aktual yang dirasakan oleh konsumen terkait mutu daging sapi belum memenuhi harapan konsumen. Analisa menangkap harapan konsumen terhadap potensi perbaikan mutu daging sapi dilakukan dengan metode QFD. Dari hasil penilaian kinerja mutu daging sapi, proses sortasi dan penyimpanan merupakan proses yang sangat mempengaruhi kinerja mutu daging sapi di Depok. Hasil pemetaan aktor rantai nilai daging sapi yaitu bahwa aktor utama terdiri dari peternak, bandar, pedagang, dan konsumen. Aktor lainnya ialah aktor penunjang seperti rumah potong hewan (RPH) dan Dinas Perikanan. Hasil analisis rantai nilai, teridentifikasi dua tipe rantai nilai daging sapi, yakni tipe A dan tipe B. Tipe A merupakan tipe rantai nilai daging sapi yang dilakukan sebagai siklus Hari Raya Idul Adha. Tipe B merupakan tipe rantai nilai daging sapi untuk siklus pemenuhan daging sapi harian. Jenis sapi yang berada pada tipe A mayoritas ialah sapi lokal sedangkan untuk tipe B sapi impor. Aktivitas yang dilakukan oleh seluruh aktor rantai nilai daging sapi belum memperhatikan mutu dan sanitasi daging sapi. Hasil lainnya didapatkan bahwa kinerja rantai nilai daging sapi sangat tidak efektif dan efisien. Sistem jual beli yang mencakup kesepakatan kontraktual, sistem transaksi, dan aspek resiko juga menjadi perhatian dalam penelitian ini. Implikasi manajerial penelitian ini mengenai alternatif strategi yang dibutuhkan untuk peningkatan kinerja rantai nilai daging sapi yang berfokus [ada harapan konsumen. Pertama ialah setiap aktor diharapkan meningkatkan kinerja mutu daging sapi yang dihasilkan terutama terkait sanitasi daging sapi dan penerapan manajemen peternakan yang lebih baik. Implikasi peningkatan rantai nilai dari aspek produk ialah dengan membuat rantai dingin daging sapi yang akan memproduksi daging beku. Alternatif strategi yang ketiga ialah pembentukan asosiasi di tingkat peternak dan pedagang yang diharapkan akan meningkatkan kolaborasi rantai nilai daging sapi di Depok. Strategi yang terakhir ialah upaya peningkatan kesadaran melalui pembinaan dan evaluasi sumber daya manusia rantai nilai daging sapi yang dilakukan oleh Dinas Perikanan secara berkala.

Item Type: Thesis (Masters)
Additional Information: 29(47)Sha a
Uncontrolled Keywords: Daging Sapi, Kota Depok, Rantai Nilai, Strategi, QFD, Quality Function Deployment Beef, Depok City, Strategy, Value Chain
Subjects: Manajemen Produksi dan Operasi
Depositing User: SB-IPB Library
Date Deposited: 20 Apr 2016 08:55
Last Modified: 05 Nov 2019 05:11
URI: http://repository.sb.ipb.ac.id/id/eprint/2235

Actions (login required)

View Item View Item