Analisis perilaku merokok pria usia 18-24 tahun dan implikasinya pada strategi pengendalian perilaku merokok

Arios, Renatalido (2011) Analisis perilaku merokok pria usia 18-24 tahun dan implikasinya pada strategi pengendalian perilaku merokok. Masters thesis, Institut Pertanian Bogor.

[img]
Preview
PDF
R42-01-Renatalido-Cover.pdf - Published Version

Download (463kB)
[img]
Preview
PDF
R42-02-Renatalido-Abstrak.pdf - Published Version

Download (358kB)
[img]
Preview
PDF
R42-03-Renatalido-RingkasanEksekutif.pdf - Published Version

Download (387kB)
[img]
Preview
PDF
R42-04-Renatalido-DaftarIsi.pdf - Published Version

Download (384kB)
[img]
Preview
PDF
R42-05-Renatalido-Pendahuluan.pdf - Published Version

Download (798kB)
Official URL: http://elibrary.mb.ipb.ac.id

Abstract

Saat ini rokok menjadi produk yang tingkat konsumsinya relatif tinggi di masyarakat (57% pria merokok di Kota Bogor). Dalam kehidupan sehari-hari, seringkali ditemui orang merokok, baik di kantor, terminal, warung makan, dan tempat umum lainnya. Sebagai pembakaran senyawa organik yang masuk ke dalam tubuh, rokok memiliki dampak negatif bagi kesehatan. Oleh karena itu, demi mengurangi dampak negatif rokok, pemerintah telah mengkomunikasikan tentang bahaya merokok kepada masyarakat. Selain itu, peraturan pemerintah mengenai larangan merokok juga telah dikeluarkan pemerintah (di Kota Bogor : Peraturan Daerah nomor 12 tahun 2009 tentang Kawasan Tanpa Rokok). Rokok mengandung lebih dari 4.000 bahan kimia (nikotin, TAR, acetone, methanol, dan lainnya), termasuk 43 bahan penyebab kanker yang telah diketahui, sehingga rokok dan lingkungan yang tercemar asap rokok dapat membahayakan kesehatan. Namun, walaupun kesadaran akan bahaya kesehatan akibat merokok telah ada, konsumen rokok tetap saja mengkonsumsi rokok dan cenderung mengabaikan dampak negatif rokok bagi kesehatan. Tujuan penelitian ini adalah mengidentifikasi profil pria perokok dan pria bukan perokok; mengidentifikasi dan menganalisis perilaku pria perokok dan perilaku pria bukan perokok terkait rokok; menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi niat pria perokok untuk berhenti merokok dan niat pria bukan perokok untuk terus tidak merokok; dan menyusun strategi pengendalian perilaku merokok sebagai implikasi hasil penelitian. Penelitian dilakukan di Kota Bogor pada bulan November-Desember 2010. Penelitian dilakukan menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan survei melalui penyebaran kuesioner. Pengambilan sampel dilakukan di sekitar Bogor Trade Mall (BTM), Botani Square, Kampus IPB Diploma III Cilibende, Plaza Warung Jambu, Stasiun Kereta Api, dan kawasan Air Mancur Bogor, dengan metode convenience sampling. Data yang terkumpul dianalisis dengan menggunakan analisis Deskriptif, Multiatribut Fishbein, dan Regresi Berganda. Persentase pria perokok yang terbesar berdasarkan usia adalah kelompok usia 18 tahun (21,57%), sedangkan persentase terbesar pada pria bukan perokok adalah kelompok usia 21 tahun (30,39%). Berdasarkan tingkat pendidikan saat ini, persentase pria perokok yang terbesar adalah kelompok pria dengan tingkat pendidikan Diploma/S1 (47,06%). Demikian juga pada pria bukan perokok, persentase terbesar adalah pria dengan tingkat pendidikan Diploma/S1 (56,44%). Mengenai tingkat pendapatan, persentase pria perokok yang terbesar adalah pria dengan pendapatan antara Rp 800.001 – Rp 1.000.000 (28,43%), sedangkan persentase terbesar pada pria bukan perokok adalah pria dengan pendapatan antara Rp 400.001 – Rp 600.000 (23,53%). Berdasarkan tingkat pengeluaran per bulan, persentase pria perokok yang terbesar adalah pria dengan pengeluaran antara Rp 800.001 – Rp 1.000.000 (27,45%), sedangkan persentase terbesar pada pria bukan perokok adalah antara Rp 400.001 – Rp 600.000 (27,45%). Berdasarkan aktivitas di waktu luang, persentase pria perokok yang terbesar adalah bersama teman (52,94%), sedangkan persentase terbesar pada pria bukan perokok adalah melakukan hobi (46,08%). Berdasarkan waktu pria di luar rumah saat hari kerja, persentase pria perokok yang terbesar adalah pria yang memiliki waktu di luar rumah sebanyak 5-8 jam (34,31%), sedangkan persentase terbesar pada pria bukan perokok adalah pria yang memiliki waktu di luar rumah sebanyak 5-8 jam dan 9-11 jam (33,33%). Berdasarkan waktu pria di luar rumah saat hari libur, persentase pria perokok yang terbesar adalah pria yang memiliki waktu di luar rumah sebanyak 5-8 jam dan 9-11 jam (28,43%), sedangkan persentase terbesar pada pria bukan perokok adalah pria yang memiliki waktu di luar rumah kurang dari 5 jam dan waktu di luar rumah sebanyak 5-8 jam (27,45%). Analisis perilaku merokok berdasarkan perilaku pembelian menunjukkan bahwa pria perokok sering membeli rokok di warung (72,55%) dengan paket pembelian per bungkus (59,80%). Tingkat kenaikan harga yang masih dapat diterima adalah sebesar Rp. 1.000,- (76,47%), dan apabila terjadi kenaikan harga rokok melebihi kenaikan harga yang dapat diterima, pria perokok menyatakan akan tetap membelinya, tetapi mengurangi frekuensi merokoknya (46,08%). Analisis perilaku merokok berdasarkan perilaku konsumsi menunjukkan bahwa pria perokok saat ini mengkonsumsi rokok mild (70,59%), di mana rokok yang dihisap pertama kali juga rokok mild (67,65%). Pria perokok pertama kali merokok antara 1-5 tahun yang lalu (45,10%), di mana terdapat tiga pria yang merokok antara 16-20 tahun yang lalu, yaitu saat masih anak-anak. Pendorong merokok pertama kali adalah karena pengaruh teman (50,00%). Pria perokok menyatakan bahwa dirinya pernah berganti jenis rokok (67,65%), dengan alasan keinginan merasakan rasa rokok yang baru atau berbeda (39,53%). Merokok setelah makan merupakan salah satu aktivitas pria perokok (57,84%), dengan jumlah rokok yang dihisap sebanyak 5-10 batang rokok per hari (34,31%), 1-5 batang rokok kemarin (44,12%), dan juga 1-5 batang rokok setelah mengetahui tentang bahaya merokok, tentang larangan merokok, adanya kawasan tanpa rokok, dan fatwa haram merokok oleh MUI (40,20%). Dikatakan juga oleh pria perokok bahwa di rumahnya terdapat anggota keluarga lainnya yang merokok (65,69%). Analisis perilaku merokok berdasarkan perilaku terkait pengetahuan produk menunjukkan bahwa tiga besar bahan kimia berbahaya di dalam rokok yang diketahui oleh pria perokok adalah nikotin, TAR, dan karbon monoksida (CO). Khusus untuk penyakit yang disebabkan oleh rokok, tiga besar penyakit yang dikenal oleh pria perokok adalah kanker paru-paru, serangan jantung, dan kemandulan. Pria perokok juga mengatakan bahwa pengganti aktivitas merokok adalah menyibukkan diri dengan aktivitas (53,92%). Analisis perilaku merokok berdasarkan perilaku terkait norma menunjukkan bahwa apabila ditegur saat sedang merokok, pria perokok akan mematikan rokoknya saat itu (69,61%). Analisis perilaku pria bukan perokok terkait rokok menunjukkan bahwa pria bukan perokok tidak merokok saat ini karena rokok dapat merusak kesehatan (48,84%). Diketahui juga bahwa ayah dari pria bukan perokok ternyata berperilaku merokok (61,84%). Berdasarkan jumlah teman yang merokok, pria bukan perokok memiliki 1-5 orang teman yang merokok (38,24%). Apabila terdapat orang yang sedang merokok di dekatnya, pria bukan perokok menyatakan akan tetap cuek atau diam saja (48,04%). Pria bukan perokok ternyata pernah mencoba rokok (55,88%), namun tidak terus merokok dengan alasan rokok dapat merusak kesehatan (23,53%). Tiga besar bahan kimia berbahaya di dalam rokok yang diketahui oleh pria bukan perokok adalah nikotin, TAR, dan karbon monoksida (CO). Khusus untuk penyakit yang disebabkan oleh rokok, tiga besar penyakit yang dikenal oleh pria bukan perokok adalah kanker paru-paru, serangan jantung, dan batuk kronis. Bagi pria perokok, rokok dipersepsikan sebagai produk yang memberikan manfaat psikologis (menghilangkan stres, menghilangkan rasa kantuk, memberikan rasa tenang, mengurangi tingkat kecemasan, dan mengurangi tingkat ketegangan). Selain itu, pria perokok juga mempersepsikan rokok sebagai produk yang memberikan dampak negatif atau risiko (menyebabkan mulut berbau tidak sedap, tangan berbau tidak sedap, plak kuning di gigi, kerugian secara finansial, dan polusi udara). Berdasarkan situasi konsumsi, rokok dipersepsikan penting (setelah makan, saat “ngobrol”, saat begadang, dan saat minum kopi), dan berdasarkan sensory perception, rokok juga dipersepsikan penting (mempunyai rasa yang khas, aroma yang khas, dan filter yang enak). Lima besar sikap pria terhadap rokoknya adalah bahwa pria perokok memiliki kesukaan terhadap rasa rokoknya (17,15), ketersediaan di setiap tempat (14,24), ketersediaan di setiap waktu (13,40), aroma rokoknya (13,24), dan harga rokok per bungkusnya (13,20). Pria perokok memiliki niat yang tinggi untuk berhenti merokok (5,27), sedangkan pria bukan perokok memiliki niat yang sangat tinggi untuk terus tidak merokok (6,74). Analisis regresi berganda menunjukkan bahwa sikap terhadap perilaku berhenti merokok (Aact) dan norma subyektif terkait perilaku berhenti merokok (SN) berpengaruh secara signifikan terhadap niat untuk berhenti merokok (BI), dengan nilai signifikansi masing-masing variabel sebesar 0,000 dan 0,007 (p<0,05) dan nilai koefisien masing-masing variabel sebesar 0,019 dan 0,015. Nilai koefisien yang terbesar adalah Aact sebesar 0,019, yang berarti bahwa variabel Aact memberi pengaruh paling kuat. Untuk pria bukan perokok, norma subyektif terkait perilaku terus tidak merokok (SN) dan kontrol perilaku terkait perilaku terus tidak merokok (PBC) berpengaruh secara signifikan terhadap niat untuk terus tidak merokok (BI), dengan nilai signifikansi masing-masing variabel sebesar 0,032 dan 0,007 (p<0,05) dan nilai koefisien masing-masing variabel sebesar 0,007 dan 0,018. Nilai koefisien yang terbesar adalah PBC sebesar 0,018, yang berarti bahwa variabel PBC memberi pengaruh paling kuat. Bentuk-bentuk strategi pengendalian perilaku merokok yang direkomendasikan adalah 1) Larangan penjualan rokok bagi konsumen di bawah usia 24 tahun; 2) Penetapan standar kandungan isi rokok; 3) Kampanye anti rokok; 4) Larangan iklan rokok; 5) Larangan adanya produsen rokok baru; 6) Menaikkan harga rokok; 7) Lokalisasi penjualan rokok di daerah yang jarang terdapat pria usia 18-24 tahun; 8) Pengawasan dan perhatian yang intensif dari orang tua; dan 9) Dialog dan konseling untuk meningkatkan niat untuk berhenti merokok.

Item Type: Thesis (Masters)
Uncontrolled Keywords: Cigarette, Consumer Perception, Consumer Attitude, Smoking Behavior, Theory of Planned behavior Rokok, Persepsi Konsumen, Sikap Konsumen, Perilaku Merokok, Theory of Planned behavior
Subjects: Manajemen Pemasaran
Depositing User: Library
Date Deposited: 12 Dec 2011 03:22
Last Modified: 15 Aug 2016 08:06
URI: http://repository.sb.ipb.ac.id/id/eprint/239

Actions (login required)

View Item View Item