Perancangan dan Implementasi balenced scorecard pada dinas kehutanan provinsi sumatera utara

Simanjuntak, Welman Hasoloan (2007) Perancangan dan Implementasi balenced scorecard pada dinas kehutanan provinsi sumatera utara. Masters thesis, Institut Pertanian Bogor.

[img]
Preview
Text
R34-01-Welman-Cover.pdf - Published Version

Download (448kB) | Preview
[img]
Preview
Text
R34-03-Welman-Ringkasaneksekutif.pdf - Published Version

Download (335kB) | Preview
[img]
Preview
Text
R34-02-Welman-Astract.pdf - Published Version

Download (313kB) | Preview
[img]
Preview
Text
R34-05-Welman-Pendahuluan.pdf - Published Version

Download (339kB) | Preview
[img]
Preview
Text
R34-04-Welman-Daftarisi.pdf - Published Version

Download (331kB) | Preview

Abstract

Dampak dari perkembangan pembangunan, sektor kehutanan mengalami tekanan dari sisi lahan dan produktivitas potensi hasil hutan, khususnya pada Provinsi Sumatera Utara. Dinas Kehutanan Provinsi Sumatera Utara sebagai penanggung jawab kinerja hutan dan kehutanan memerlukan suatu kerangka kerja yang komprehensif, koheren, terukur, dan berimbang melalui Balanced Scorecard dalam rangka meningkatkan kembali produktivitas hutan melalui potensi hasil hutan yang dimilikinya khusunys pada Provinsi Sumatera Utara. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah : (1) Bagaimana menjabarkan visi, misi, tujuan, strategi ke dalam sasaran strategis Dinas Kehutanan Provinsi Sumatera Utara melalui perspektif Balanced Scorecard?, (2) Apa saja yang menjadi indikator kinerja kunci, target dan inisiatif strategis dalam rancangan Balanced Scorecard Dinas Kehutanan Provinsi Sumatera Utara?, (3) Bagaimana bobot dari masing-masing perspektif dan indikator kinerja kunci dalam rancangan Balanced Scorecard Dinas Kehutanan Provinsi Sumatera Utara?, (4) Bagaimana rancangan peta strategi Dinas Kehutanan Provinsi Sumatera Utara?, (5) Bagaimana perbandingan hasil pengukuran menggunakan Balanced Scorecard dengan hasil evaluasi yang digunakan Dinas Kehutanan Provinsi Sumatera Utara selama ini?, (6) Bagaimana kerangka kerja yang bisa direkomendasikan kepada Dinas Kehutanan Provinsi Sumatera Utara untuk mengukur kinerjanya? Hasil rumusan masalah di atas, maka tujuan penelitian adalah: (1) Menjabarkan visi, misi, tujuan, strategi ke dalam sasaran strategis Dinas Kehutanan Provinsi Sumatera Utara melalui perspektif Balanced Scorecard, (2) Menentukan indikator kinerja kunci, target dan inisiatif strategis dalam rancangan Balanced Scorecard Dinas Kehutanan Provinsi Sumatera Utara, (3) Menentukan bobot perspektif dan indikator kinerja kunci Dinas Kehutanan Provinsi Sumatera Utara, (4) Merancang peta strategi Dinas Kehutanan Provinsi Sumatera Utara, (5) Mengevaluasi dan membandingkan hasil pengukuran kinerja dengan Balanced Scorecard dengan pengukuran kinerja yang digunakan Dinas Kehutanan Provinsi Sumatera Utara selama ini, (6) Merumuskan rekomendasi penggunaan kerangka kerja kepada Dinas Kehutanan Provinsi Sumatera Utara untuk mengukur kinerjanya. Penelitian dilaksanakan pada Dinas Kehutanan Provinsi Sumatera Utara, dan untuk mencapai tujuan penelitian, maka diikutsertakan unsur-unsur internal dan eksternal Dinas, yaitu manajemen Dinas, pegawai tetap Dinas dan stakeholders Dinas yaitu Dinas Kabupaten yang membidangi kehutanan, industri bidang kehutanan, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), Instansi Pendidikan Tinggi, Pemerintah Daerah (SETDA), Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD). Awal dari penelitian ini adalah dengan pengumpulan data sekunder tentang visi, misi, tujuan, dan strategi Dinas Kehutanan Provinsi Sumatera Utara sebagai bahan informasi dan masukan dalam menjabarkan melalui perspektif Balanced Scorecard. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif dengan pendekatan studi kasus, yang dilaksanakan mulai bulan Desember 2006 sampai dengan bulan Juni 2007 dengan menggunakan data primer dan sekunder. Data primer diperoleh melalui in depth interview, wawancara terstruktur dengan panduan kuesioner, dan data sekunder diperoleh melalui kajian literatur dan studi putaka. Responden (stakeholders dan manajemen Dinas) untuk keperluan in depth interview, wawancara terstruktur dengan panduan kuesioner kuesioner, dan pembobotan serta pengisian kuesioner ditetapkan dengan metode purposive sampling dengan asumsi bahwa responden terpilih adalah memiliki kompetensi yang relevan dan sama untuk masing-masing keperluan dipandang dari sisi pengetahuan, pengalaman, dan keterampilan teknis kehutanan. Selain itu dilaksanakan wawancara terbuka dengan staf Dinas yang relevan untuk kebutuhan informasi dan data yang akan digunakan dalam penelitian. Analisis kualitatif dilaksanakan untuk menjabarkan visi, misi, tujuan dan strategi Dinas melalui perspektif Balanced Scorecard untuk kesinambungan pada penentuan sasaran strategis, indikator kinerja kunci (lag indicator dan lead indicator), target, dan inisiatif strategis serta analisis hubungan sebab akibat antar sasaran strategis guna perancangan peta strategi Dinas. Analisis kuantitatif dengan pembobotan indikator kinerja kunci (lag indicator) dengan metode paired comparison dalam menentukan tingkat kepentingan setiap perspektif dan bobot kinerja setiap indikator kinerja junci (lag indicator). Selain itu, digunakan analisis skala Likert untuk persepsi kepuasan kerja pegawai, dan kepuasan pengguna jasa utama (pelanggan) Dinas. Visi, misi, tujuan dan strategi dapat dijabarkan melalui empat perspektif sehingga telah memenuhi persyaratan metode Balanced Scorecard dan penelitian dapat dilanjutkan pada penentuan sasaran strategis, indikator kinerja kunci, target dan inisiatif strategis. Sasaran strategis Dinas yang ditentukan oleh manajemen Dinas adalah sebanyak tiga belas yang masing-masing memiliki satu indikator kinerja kunci. Sasaran strategis yang ditetapkan adalah (1) pada perspektif keuangan, yaitu terkendalinya biaya operasional kantor, dan terpenuhinya penerimaan PAD provinsi Bidang Kehutanan; (2) pada perspektif pelanggan, yaitu menjaga citra Dinas, dan terpenuhinya target kepuasan pelanggan; (3) pada perspektif proses bisnis internal yaitu meningkatnya nilai tambah dan manfaat hasil hutan, meningkatnya produksi hasil hutan bukan kayu, tertanganinya kasus perambahan hutan dan ilegal logging, terehabilitasinya hutan dan lahan melalui partisipasi masyarakat, berkembangnya hutan tanaman, dan mantapnya status kawasan hutan, (4) pada perspektif pertumbuhan dan pembelajaran yaitu terpenuhinya target kepuasan kerja pegawai, berkembangnya penggunaan sistem informasi, dan meningkatnya kompetensi SDM baik teknis maupun non teknis. Hasil pembobotan terhadap empat perspektif Balanced Scorecard menunjukkan bahwa stakeholders dan manajemen Dinas lebih memilih perspektif keuangan sebagai perspektif yang paling penting yang ditandai dengan nilai tertinggi yaitu sebesar 28,75% terhadap kinerja Dinas, kemudian diikuti oleh perspektif pelanggan sebesar 28,42%, proses bisnis internal sebesar 23,79%, dan yang terakhir adalah perspektif pertumbuhan dan pembelajaran sebesar 19,04%. Indikator kinerja kunci pada perspektif keuangan, yaitu jumlah penerimaan PAD provinsi bidang kehutanan memiliki kontribusi sebesar 60,29% terhadap perspektif dan 17,33% terhadap kinerja Dinas, dan efisiensi biaya operasional kantor memiliki kontribusi sebesar 39,71% terhadap perspektif dan 11,42% terhadap kinerja Dinas. Indikator kinerja kunci pada perspektif pelanggan, yaitu indeks kinerja memiliki kontribusi sebesar 53,68% terhadap perspektif dan 15,25% terhadap kinerja Dinas, dan persentase pelanggan puas memiliki kontribusi sebesar 46,32% terhadap perspektif dan 13,16% terhadap kinerja Dinas. Indikator kinerja kunci pada perspektif proses bisnis internal, yaitu peningkatan jumlah produksi industri primer hasil hutan memiliki kontribusi sebesar 19,00% terhadap perspektif dan 4,52% terhadap kinerja Dinas, peningkatan jumlah produksi hasil hutan bukan kayu memiliki kontribusi sebesar 16,98% terhadap perspektif dan 4,04% terhadap kinerja Dinas, jumlah kasus perambahan hutan dan illegal logging yang tertangani memiliki kontribusi sebesar 18,09% terhadap perspektif dan 4,30% terhadap kinerja Dinas, jumlah luas lahan yang direhabilitasi melalui program Gerhan memiliki kontribusi sebesar 16,18% terhadap perspektif dan 3,85% terhadap kinerja Dinas, jumlah luas penanaman hutan tanaman memiliki kontribusi sebesar 15,46% terhadap perspektif dan 3,68% terhadap kinerja Dinas, dan jumlah pemantapan batas kawasan hutan memiliki kontribusi sebesar 14,28% terhadap perspektif dan 3,40% terhadap kinerja Dinas. Indikator kinerja kunci pada perspektif pertumbuhan dan pembelajaran, yaitu persentase pegawai puas memiliki kontribusi sebesar 32,68% terhadap perspektif dan 6,22% terhadap kinerja Dinas, jumlah pelayanan pemenuhan permintaan pendidikan dan pelatihan memiliki kontribusi sebesar 33,99% terhadap perspektif dan 6,47% terhadap kinerja Dinas, dan persentase customer puas memiliki kontribusi sebesar 33,33% terhadap perspektif dan 6,35% terhadap kinerja Dinas. Pemetaan terhadap sasaran strategis menunjukkan adanya hubungan sebab akibat dari antar sasaran strategis. Sasaran strategis pada perspektif pertumbuhan dan pembelajaran yaitu: meningkatnya kompetensi SDM Dinas, dan terpenuhinya kepuasan kerja pegawai memberikan dampak kepada pencapaian seluruh sasaran strategis pada perspektif proses bisnis internal dan sasaran strategis terkendalinya biaya operasional kantor pada perspektif keuangan, sedangkan sasaran strategis berkembangnya penggunaan sistem informasi memberikan dampak langsung kepada pencapaian sasaran strategis terpenuhinya kepuasan pelanggan pada perspektif pelanggan. Seluruh sasaran strategis pada perspektif proses bisnis internal yang memberikan pengaruh kepada pencapaian seluruh sasaran strategis yang ada pada perspektif pelanggan, sedangkan sasaran strategis berkembangnya hutan tanaman, meningkatnya jumlah produksi industri primer hasil hutan, dan meningkatnya manfaat nilai tambah hasil hutan bukan secara langsung mempengaruhi sasaran strategis terpenuhinya penerimaan PAD provinsi bidang kehutanan pada perspektif keuangan. Sasaran strategis terpenuhinya kepuasan pelanggan pada perspektif pelanggan secara langsung akan mempengaruhi pencapaian sasaran strategis terpenuhinya penerimaan PAD provinsi bidang kehutanan pada perspektif keuangan. Sasaran strategis pada perspektif keuangan juga secara langsung mendorong tercapainya sasaran strategis pada perspektif pelanggan. Dengan demikian perspektif terpenting dari BSC yang dirancang yaitu perspektif keuangan juga memiliki pengaruh untuk mendorong pencapaian sasaran strategis pada perspektif dibawahnya yaitu perspektif pelanggan. Hasil pengukuran kinerja Dinas melalui indikator kinerja kunci (lag indicator) yaitu: (1) jumlah penerimaan PAD provinsi bidang kehutanan menghasilkan nilai indeks kinerja 60,20%, skor 2 dengan kategori Sedang, dan skor terbobot sebesar 0,3467, (2) efisiensi biaya operasional kantor menghasilkan nilai indeks kinerja 145%, skor 4 dengan kategori Sangat Baik dengan skor terbobot sebesar 0,4566, (3) indeks kinerja menghasilkan nilai indeks kinerja sebesar 91,98%, skor 4 dengan kategori Sangat Baik dengan skor terbobot sebesar 0,6102, (4) persentase pelanggan puas menghasilkan nilai indeks kinerja sebesar 95,98%, skor 4 dengan kategori Sangat Baik dan skor terbobot sebesar 0,5266, (5) peningkatan jumlah produksi industri primer hasil hutan menghasilkan nilai indeks kinerja sebesar 81,13%, skor 3 dengan kategori Baik, dan skor terbobot sebesar 0,1356, (6) peningkatan jumlah produksi hasil hutan bukan kayu menghasilkan nilai indeks kinerja sebesar >100%, skor 4 dengan kategori Sangat Baik, dan skor terbobot sebesar 0,1616, (7) jumlah kasus perambahan hutan dan illegal loging yang tertangani menghasilkan nilai indeks kinerja sebesar 100%, skor 4 dengan kategori Sangat Baik, dan skor terbobot sebesar 0,1722, (8) jumlah luas lahan yang direhabilitasi melalui program Gerhan menghasilkan nilai indeks kinerja sebesar 37,36%, skor 1 dengan kategori Buruk, dan skor terbobot sebesar 0,0385, (9) jumlah luas penanaman hutan tanaman menghasilkan nilai indeks kinerja sebesar 67,96%, skor 2 dengan kategori Sedang, dan skor terbobot sebesar 0,0736, (10) jumlah pemantapan batas kawasan hutan menghasilkan nilai indeks kinerja sebesar 41,64%, skor 1 dengan kategori Buruk, dan skor terbobot sebesar 0,0340, (11) persentase pegawai puas dalam bekerja menghasilkan nilai indeks kinerja sebesar 41,66%, skor 1 dengan kategori Buruk, dan skor terbobot sebesar 0,0622, (12) jumlah pelayanan pemenuhan permintaan pendidikan dan pelatihan menghasilkan nilai indeks kinerja sebesar 100%, skor 4 dengan kategori Sangat Baik, dan skor terbobot sebesar 0,2589, dan (13) persentase customer puas menghasilkan nilai indeks kinerja sebesar 63,49%, skor 2 dengan kategori Sedang, dan skor terbobot sebesar 0,1270. Dengan demikian maka, capaian kinerja Dinas secara keseluruhan diketahui dari penjumlahan dari seluruh skor terbobot setiap indikator kinerja kunci, yaitu total skor terbobot adalah sebesar 3,0035 dengan kategori Baik. Hasil simulasi pengukuran kinerja diketahui bahwa kerangka kerja yang dirancang dengan BSC dapat diimplementasikan dengan hasil bahwa setiap indikator kinerja dapat diukur guna mencapai sasaran strategis. Hasil evaluasi dan pembandingan alat pengukuran kinerja antara yang digunakan Dinas selama ini dan BSC adalah: indikator kinerja yang digunakan dalam LAKIP hanya indikator kinerja teknis kehutanan saja, tidak memperhatikan indikator non teknis kehutanan sebagai pemicu kinerja Dinas, sedangkan indikator kinerja dalam BSC telah memperhatikan indikator kinerja pemicu kinerja Dinas yaitu jumlah penerimaan PAD Provinsi, jumlah pelanggan puas, jumlah pegawai puas dalam bekerja, jumlah pelayanan pemenuhan permintaan pendidikan dan pelatihan pegawai, dan jumlah customer puas. Target kinerja yang digunakan dalam LAKIP adalah target kinerja yang disesuaikan dengan anggaran kegiatan yang disahkan oleh DPR, sedangkan dalam BSC target merupakan akumulasi dari kondisi yang ada. Penanggung jawab kinerja dalam LAKIP adalah penanggung jawab pelaksana program yang kegiatannya dapat berada pada lintas Sub Dinas, sedangkan penanggung jawab kinerja dalam BSC adalah pada masing-masing Sub Dinas sesuai dengan indikator kinerja yang ditetapkan, dan dapat diarahkan kepada masing-masing Kepala Seksi yang ada di bawah tanggung jawab Kepala Sub Dinas. Capaian kinerja dalam LAKIP Dinas secara keseluruhan tidak dapat menjelaskan sebab akibatnya atau merupakan penjelasan dari asumsi yang dibuat, sedangkan capaian kinerja dalam BSC dapat dijelaskan sebab akibatnya melalui hipotesis yang dibuat sebelumnya dalam perancangan peta strategi. Rekomendasi yang dapat diberikan dari penelitian bagi Dinas adalah penerapan kerangka kerja yang telah dirancang dengan BSC melalui otoritas instansi pemerintah yang lebih tinggi dari Dinas yaitu Gubernur melalui Sekretaris Daerah Provinsi Sumatera Utara sebagai pendamping LAKIP. Penerapan kerangka kerja dimaksud secara spesifik memberikan implikasi manajerial bagi Dinas melalui indikator kinerja yang telah ditetapkan, yaitu meningkatkan indikator kinerja kunci yang memiliki kategori Buruk dan Sedang, serta minimal mempertahankan indikator kinerja kunci yang memiliki kategori Sangat Baik dan Baik. Hal-hal yang disarankan dalam penelitian ini adalah pentingnya peran serta seluruh staf yang memiliki kewenangan dalam pengambilan keputusan dalam perancangan Balanced Scorecard untuk kesempurnaannya dan sekaligus merupakan sarana pengomunikasi visi, misi, tujuan dan strategi Dinas serta kejelasan langkah-langkah pencapaiannya. Untuk kelengkapan rancangan Balanced Scorecard ini, perlu dilakukan penjabaran inisiatif strategis ke dalam program dan penganggaran, sehingga dapat dilakukan evaluasi dalam rangka umpan balik perbaikan kesempurnaan keberhasilan kinerja Dinas. Kerangka kerja yang telah dirancang perlu ditinjau ulang sesuai dengan perkembangan politik, sosial, ekonomi dan teknologi melalui rapat-rapat secara periodik.

Item Type: Thesis (Masters)
Uncontrolled Keywords: Balanced Scorecard, Dinas Kehutanan Provinsi Sumatera Utara, Indikator Kinerja Kunci, Lag Indicator, Lead Indicator, Peta Strategi, Kerangka Kerja, Pengukuran Kinerja,.
Subjects: Manajemen Strategi
Depositing User: SB-IPB Library
Date Deposited: 24 Jun 2016 04:01
Last Modified: 24 Jun 2016 04:01
URI: http://repository.sb.ipb.ac.id/id/eprint/2433

Actions (login required)

View Item View Item