Analisis pengaruh motivasi dan integritas terhadap kinerja polisi kehutanan di departemen kehutanan

Yudhawati, Ine (2007) Analisis pengaruh motivasi dan integritas terhadap kinerja polisi kehutanan di departemen kehutanan. Masters thesis, Institut Pertanian Bogor.

[img]
Preview
Text
E25-01-Ine-Cover.pdf - Published Version

Download (412kB) | Preview
[img]
Preview
Text
E25-02-Ine-Abstract.pdf - Published Version

Download (312kB) | Preview
[img]
Preview
Text
E25-03-Ine-Ringkasaneksekutif.pdf - Published Version

Download (383kB) | Preview
[img]
Preview
Text
E25-04-Ine-Daftarisi.pdf - Published Version

Download (367kB) | Preview
[img]
Preview
Text
E25-05-Ine-Pendahuluan.pdf - Published Version

Download (384kB) | Preview

Abstract

Kondisi hutan terus terdegradasi dan tercatat sampai dengan tahun 2002 luas kawasan hutan yang terdegradasi adalah 59,7 juta hektar, dengan laju kerusakan hutan dari waktu ke waktu makin meningkat. Pada periode 2001-2005 laju kerusakan hutan mencapai 2,8 juta hektar per tahun. Kerusakan hutan juga makin dipicu oleh berbagai gangguan, diantaranya penebangan liar (illegal logging), perambahan hutan dan kebakaran hutan. Akibat gangguan hutan tersebut kerugian negara secara finansial sekitar 30 triliun rupiah setiap tahunnya. Aparatur kehutanan yang bertugas di lapangan dan merupakan ujung tombak dalam pemberantasan pencurian dan perdagangan kayu secara illegal adalah Polisi Kehutanan. Makin meningkatnya kegiatan pencurian dan perdagangan kayu secara illegal menimbulkan anggapan masyarakat bahwa kinerja Polisi Kehutanan belum optimal. Pencapaian kinerja Polisi Kehutanan tidak dapat dipisahkan dari faktor-faktor yang mempengaruhinya dan faktor-faktor tersebut antara lain adalah motivasi dan kompetensi yang dimilikinya. Motivasi merupakan salah satu aspek yang sangat penting dalam menentukan perilaku kerja Polisi Kehutanan karena melalui motivasi kerja dapat didorong atau diarahkan perilaku Polisi Kehutanan untuk melaksanakan tugas perlindungan dan pengamanan hutan serta pengawasan peredaran hasil hutan secara lebih efektif dan efesien. Selain motivasi kerja, seorang Polisi Kehutanan dalam melaksanakan tugasnya juga harus memiliki nilai-nilai integritas yang baik, dimana Polisi Kehutanan harus mampu menunjukkan komitmen dan tanggung jawab terhadap tugas dan pekerjaannya. Polisi Kehutanan dalam melaksanakan tugasnya sering berhadapan dengan tindak pidana kehutanan yang sangat rentan terhadap upaya penyuapan dan pemerasan. Untuk itu integritas moral sangat berperan penting. Kinerja Polisi Kehutanan akan sangat berpengaruh terhadap kinerja organisasi (Departemen Kehutanan), khususnya kegiatan perlindungan dan pengamanan hutan sehingga dipandang perlu terus dilakukan upaya pemberdayaan Polisi Kehutanan. Dalam upaya peningkatan kemampuan Polisi Kehutanan dipandang perlu untuk mengetahui lebih jauh mengenai apa yang menjadi sumber motivasi kerja Polisi Kehutanan. Sumber-sumber motivasi pada penelitian ini dibatasi dengan mengacu pada teori dari Herzberg ini dikenal sebagai teori dua faktor atau disebut juga motivation-hygiene theory. Teori ini mengatakan bahwa suatu pekerjaan selalu berhubungan dengan dua aspek, yaitu: (a) Berhubungan dengan pekerjaan itu sendiri (job content). (b) Berhubungan dengan lingkungan kerja (job context). Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif dalam bentuk studi kasus dengan tujuan sebagai berikut: (1) Menganalisis persepsi Polisi Kehutanan terhadap motivasi, nilai-nilai integritas dan kinerjanya. (2) Menganalisis sumber-sumber motivasi yang menjadi faktor motivator dan faktor hygiene yang berpengaruh terhadap kinerja Polisi Kehutanan. (3) Menganalisis apakah integritas berpengaruh terhadap kinerja Polisi Kehutanan. (4) Merumuskan implikasi manajerial untuk meningkatkan kinerja Polisi Kehutanan. Proses penelitian dilakukan dengan wawancara dan penyebaran kuesioner kepada Polisi Kehutanan untuk mendapatkan data mengenai persepsi motivasi kerja dan nilai-nilai integritas yang dipandang dapat mempengaruhi kinerjanya. Pengumpulan data melalui kuesioner tertutup dilakukan dengan menggunakan skala Likert dalam lima katagori. Data yang digunakan adalah data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh melalui pengisian kuesioner dan hasil wawancara sedangkan data sekunder adalah data yang diperoleh dari data kepegawaian yang ada di Departemen Kehutanan, penelusuran hasil-hasil penelitian, studi pustaka yang ada relevansinya dengan penelitian ini. Pengambilan sampel dengan menggunakan teknik cluster sampling, dengan dasar pertimbangan adalah: (1) Kebijakan pengelolaan kepegawaian Polisi Kehutanan yang diterapkan pada setiap Unit Pelaksana Teknis (UPT) yang ada di Departemen Kehutanan adalah sama. (2) Aturan dan ketentuan jabatan fungsional Polisi Kehutanan yang berlaku adalah sama bagi setiap Polisi Kehutanan. (3) Karakteristik, dan sifat pekerjaan serta permasalahan yang dihadapi oleh setiap Polisi Kehutanan di masing-masing UPT adalah relatif sama. (4) Efesiensi dalam travelling cost pengambilan data (Istijanto,2005). Penentuan cluster terpilih berdasarkan UPT yang memiliki jumlah Polisi Kehutanan yang mendekati jumlah kebutuhan responden dalam penelitian ini. Jumlah responden ditentukan melalui pendekatan rule of thumb dari Structural Equation Modeling (SEM) yaitu satu peubah indikator memerlukan lima responden. Dalam penelitian ini terdapat 23 indikator sehingga jumlah responden seluruhnya ada 115 orang. Analisa data yang digunakan untuk menjelaskan pengaruh motivasi kerja dan integritas terhadap kinerja Polisi Kehutanan dan juga untuk mengetahui faktor paling dominan dari tiap faktor motivasi dan faktor integritas dalam mempengaruhi kinerja Polisi Kehutanan adalah model analisa data Structural Equation Modeling (SEM). Motivasi merupakan peubah laten eksogen (ξ1) dan integritas merupakan peubah laten eksogen (ξ2) serta kinerja merupakan peubah laten endogen (η). Terdapat dua peubah sub laten motivasi yaitu peubah sub laten hygiene dan peubah sub laten motivator. Pada peubah sub laten hygiene ada tujuh indikator yaitu: gaji (X1), tunjangan jabatan (X2), administrasi kepegawaian (X3), hubungan dengan atasan (X4), hubungan dengan rekan kerja (X5), keamanan (X6), dan sarana kerja (X7). Ada lima indikator peubah sub laten motivator, yaitu: penghargaan (X8), pengakuan (X9), pekerjaan itu sendiri (X10), pengembangan (X11), dan keberhasilan dalam pelaksanaan tugas (X12). Indikator peubah eksogen integritas (ξ2) adalah pemanfaatan wewenang (X13), pelayanan masyarakat (X14), akuntabilitas (X15), dan kejujuran terhadap keluarga (X16). Peubah endogen kinerja Polisi Kehutanan (η) dengan komponen pembentuknya adalah pengumpulan angka kredit (Y1), inisiatif (Y2), tanggung jawab (Y3), pemanfaatan waktu (Y4), pengetahuan tentang pekerjaan (Y5), kerjasama (Y6), dan tingkat kehadiran (Y7). Analisis data masing-masing peubah diproses dengan software LISREL (Linear Structural Relationship) versi 8.72. Hasil analisis memperoleh kesimpulan sebagai berikut: (1) Sub laten motivator dan hygiene berpengaruh positif terhadap motivasi, faktor muatan sub laten motivator adalah 0,84 dan faktor muatan sub laten hygiene adalah 0,56 sehingga sub laten motivator lebih berpengaruh daripada sub laten hygiene terhadap tingkat motivasi. (2) Hasil uji signifikansi t-hitung menunjukkan bahwa indikator gaji memiliki nilai t-hitung 0,66 dan nilai t-hitung indikator tunjangan jabatan adalah 0,12 sehingga indikator gaji dan tunjangan jabatan dianggap bukan merupakan indikator faktor hygiene. (3) Indikator faktor hygiene yang memiliki muatan terbesar adalah hubungan dengan rekan kerja. Hal ini dikarenakan oleh sifat dan karakteristik jenis pekerjaan bidang kepolisian kehutanan yang sebagian besar dilakukan dalam bentuk tim, sehingga soliditas dan sinergitas tim sangat berperan penting terhadap keberhasilan pelaksanaan tugas. (4) Hasil analisis persepsi menunjukkan Polisi Kehutanan mempunyai sikap sangat setuju bahwa variabel kejujuran terhadap keluarga merupakan variabel integritas sangat mempengaruhi terhadap konsentrasi pelaksanaan tugas di lapang. (5) Peubah laten eksogen motivasi dan peubah laten eksogen integritas berpengaruh positif terhadap peubah laten endogen kinerja Polisi Kehutanan, nilai faktor muatan peubah laten eksogen motivasi adalah 0,45 dan nilai faktor muatan laten eksogen integritas adalah 0,33 dengan demikian peubah laten eksogen motivasi lebih berpengaruh dari pada peubah laten eksogen integritas terhadap peubah laten endogen kinerja Polisi Kehutanan. Dengan mempertimbangkan hasil penelitian, ke depan perlu dilakukan antara lain: (1) Penelitian lebih lanjut untuk menganalisis standar kebutuhan pejabat fungsional Polisi Kehutanan yang ideal bagi satu unit kerja yang menangani bidang kehutanan sehingga diharapkan kinerja organisasi dapat lebih optimal terutama penanganan pengamanan dan perlindungan hutan. (2) Perlu dilakukan penelitian lanjutan dalam upaya penggalian nilai-nilai integritas Polisi Kehutanan melalui penambahan indikator peubah latennya, dan (3) Penelitian lanjutan untuk menganalisis hubungan faktor demografi Polisi Kehutanan terhadap tingkat motivasi dan integritasnya yang berpengaruh terhadap kinerja.

Item Type: Thesis (Masters)
Uncontrolled Keywords: Motivasi, Integritas, Kinerja, Polisi Kehutanan, dan SEM
Subjects: Manajemen Sumber Daya Manusia
Depositing User: SB-IPB Library
Date Deposited: 24 Jun 2016 08:15
Last Modified: 24 Jun 2016 08:15
URI: http://repository.sb.ipb.ac.id/id/eprint/2435

Actions (login required)

View Item View Item