Analisis pengembangan bisnis biodiesel dari minyak kelapa sawit dan pengaruhnya terhadap stabilitas pasokan minyak goreng di indonesia

Triyanto, . (2007) Analisis pengembangan bisnis biodiesel dari minyak kelapa sawit dan pengaruhnya terhadap stabilitas pasokan minyak goreng di indonesia. Masters thesis, Institut Pertanian Bogor.

[img]
Preview
Text
E24-01-Triyanto-Cover.pdf - Published Version

Download (332kB) | Preview
[img]
Preview
Text
E24-02-Triyanto-Abstract.pdf - Published Version

Download (312kB) | Preview
[img]
Preview
Text
E24-03-Triyanto-Ringkasaneksekutif.pdf - Published Version

Download (330kB) | Preview
[img]
Preview
Text
E24-04-Triyanto-Daftarisi.pdf - Published Version

Download (321kB) | Preview
[img]
Preview
Text
E24-05-Triyanto-Pendahuluan.pdf - Published Version

Download (321kB) | Preview

Abstract

Sejak lima tahun terakhir telah terjadi penurunan produksi minyak nasional yang disebabkan oleh penurunan cadangan minyak secara alamiah (natural decline) di sumur-sumur yang berproduksi. Di lain pihak, pertambahan jumlah penduduk telah meningkatkan kebutuhan sarana transportasi dan aktivitas industri yang berakibat pada peningkatan kebutuhan dan konsumsi bahan bakar minyak (BBM) dalam negeri. Untuk mencukupi kebutuhan dalam negeri, pemerintah terpaksa mengimpor sebagian BBM. Peningkatan harga minyak dunia yang sangat besar pada bulan Agustus 2005 hingga melebihi US$ 70 per barrel, semakin membebani pembiayaan pemerintah karena semakin besarnya dana yang diperlukan untuk mensubsidi BBM dalam negeri. Pemerintah akhirnya melakukan pengurangan subsidi BBM pada bulan Oktober 2005. Pengurangan subsidi tersebut menyebabkan kenaikan harga BBM dalam negeri yang cukup tinggi dan menimbulkan imbas yang sangat berat bagi dunia usaha, masyarakat dan sektor-sektor ekonomi lainnya. Kenaikan harga minyak bumi tersebut juga semakin memacu upaya pengembangan energi alternatif seperti biodiesel dan bioetanol. Menurut Blueprint Pengelolaan Energi Nasional 2005-2025 (Dep. ESDM, 2006), pemanfaatan bahan bakar alternatif ditargetkan mencapai 2% dari total kebutuhan solar pada tahun 2010 dan 5% pada tahun 2025. Berdasarkan pada latar belakang di atas maka dalam penelitian ini dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut: (1) Faktor-faktor apa yang mempengaruhi perkembangan bisnis biodiesel dari minyak kelapa sawit di Indonesia? (2) Bagaimana arah perkembangan bisnis biodiesel dari minyak kelapa sawit di Indonesia pada 5 – 10 tahun mendatang? (3) Bagaimana pengaruh pengembangan bisnis biodiesel dari minyak kelapa sawit terhadap stabilitas pasokan bahan baku minyak goreng di Indonesia? (4) Strategi apa yang dapat disusun untuk mengembangkan bisnis biodiesel dari minyak kelapa sawit sekaligus menjaga stabilitas pasokan bahan baku minyak goreng di Indonesia? Tujuan Penelitian ini adalah untuk: (1) Mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan bisnis biodiesel dari minyak kelapa sawit di Indonesia, (2) Menyusun skenario-skenario perkembangan bisnis biodiesel dari minyak kelapa sawit di Indonesia pada 5 – 10 tahun mendatang, (3) Mengetahui pengaruh pengembangan bisnis biodiesel dari minyak kelapa sawit terhadap stabilitas pasokan bahan baku minyak goreng di Indonesia, dan (4) Merumuskan strategi untuk mengembangkan bisnis biodiesel dari minyak kelapa sawit di Indonesia. Penelitian telah dilakukan di kantor para responden maupun di tempat-tempat pertemuan yang berlokasi di Jakarta, Bogor, Bandung dan Medan pada bulan Januari sampai dengan Maret 2007. Data primer yang diperlukan diperoleh melalui indepth interview responden yang dipandu dengan kuesioner, sedangkan data sekunder diperoleh dari instansi/organisasi terkait, telaah pustaka, prosiding seminar, internet, laporan-laporan, dokumentasi, media massa dan arsip. Untuk memperoleh gambaran mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan bisnis biodiesel dari minyak kelapa sawit di Indonesia dan penyusunan skenario dalam upaya perumusan strategi, telah dipilih responden secara purposive sampling sebanyak 30 orang berdasarkan pengalaman praktis, pengalaman kajian, pemahaman terhadap permasalahan dan kepakarannya. Data yang diperoleh selanjutnya dianalisis menggunakan Analytical Hierarchy Process (AHP), analisis skenario dan analisis deskriptif. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa faktor politik dan faktor ekonomi merupakan faktor yang paling berpengaruh terhadap perkembangan bisnis biodiesel dari minyak kelapa sawit di Indonesia. Elemen dari faktor politik yang menonjol adalah kebijakan ekspor, kebijakan subsidi dan perpajakan, sedangkan elemen faktor ekonomi yang menonjol adalah fluktuasi harga. Selanjutnya menurut para responden, terdapat tiga skenario perkembangan bisnis biodiesel dari minyak kelapa sawit di Indonesia pada 5 – 10 mendatang, yaitu (a) Skenario pesimistis, biodiesel dari minyak kelapa sawit tidak berkembang (27,27%), (b) Skenario optimistis, biodiesel dari minyak kelapa sawit berkembang dan tidak mengganggu stabilitas pasokan minyak kelapa sawit untuk bahan baku minyak goreng (55,56%), dan (c) Skenario dimana biodiesel yang menggunakan bahan baku minyak kelapa sawit berkembang sangat pesat dalam waktu singkat, sehingga mengganggu stabilitas pasokan minyak kelapa sawit untuk bahan baku minyak goreng (17,17%). Hasil ini menunjukkan bahwa bisnis biodiesel dari minyak kelapa sawit di Indonesia masih memiliki prospek yang baik untuk dikembangkan. Hasil analisis permintaan dan penawaran minyak kelapa sawit di Indonesia menunjukkan bahwa pengembangan biodiesel dari minyak kelapa sawit baik secara langsung maupun tidak langsung berpotensi mengganggu stabilitas pasokan minyak goreng di Indonesia. Pengembangan biodiesel di Indonesia sebenarnya telah disusun relatif baik dalam suatu blueprint, roadmap, action plan dan kebijakan. Namun pada taraf implementasinya, sementara ini menurut para responden masih belum selaras dengan hal tersebut. Salah satu indikatornya adalah sangat banyaknya perijinan yang telah diterbitkan untuk mendirikan pabrik biodiesel. Banyaknya perusahaan yang memperoleh ijin tersebut menimbulkan kekuatiran dan pertanyaan mengenai kelanjutan pelaksanaan investasi dari perijinan yang sudah ada tersebut. Pemerintah sebagai regulator hendaknya segera mengantisipasi perkembangan rencana investasi tersebut, seperti halnya yang telah dilakukan oleh pemerintah Malaysia yang telah mengatur dan membatasi perijinan pengembangan bisnis biodiesel berdasarkan hasil pengkajian yang mendalam dan obyektif. Karena biodiesel merupakan industri yang strategis, menentukan hajat hidup orang banyak dan memiliki tingkat dinamika yang sangat tinggi maka sudah waktunya untuk dikelola oleh personalia-personalia yang memiliki lebih banyak waktu dan kompetensi dibidangnya. Keberadaan Tim Nasional Pengembangan Bahan Bakar Nabati sesuai dengan Keputusan Presiden No. 10 Tahun 2006 bersifat sementara (dua tahun), sehingga perlu ditindaklanjuti dengan pembentukan tim atau dewan biodiesel yang lebih permanen, dengan komposisi personalia yang lebih berkompeten di bidangnya, memiliki cukup waktu (tidak merangkap-rangkap jabatan) dan dibekali dengan target, tugas, tanggung jawab dan kewenangan yang mengikat dalam melaksanakan tugas-tugasnya. Sosialisasi pengembangan bisnis biodiesel di Indonesia hendaknya dilakukan terlebih dahulu kepada para aparat pemerintahan, baik di pusat maupun di daerah, kepada anggota lembaga-lembaga negara khususnya legislatif dan pihak-pihak yang memiliki pengaruh terhadap pengambilan keputusan. Dengan sosialisasi tersebut diharapkan mereka memperoleh informasi dan pemahaman yang benar, sehingga dalam pengambilan keputusan atau kebijakan akan lebih cepat, tepat dan komprehensif. Dari sudut pandang perusahaan, faktor politik dan faktor ekonomi yang sangat berpengaruh terhadap perkembangan bisnis biodiesel dari minyak kelapa sawit di Indonesia tersebut merupakan faktor eksternal sehingga perusahaan tidak dapat mempengaruhi, merubah atau mengaturnya. Jika ingin berhasil maka perusahaan harus dapat menyesuaikan diri terhadap kedua faktor tersebut. Pemahaman akan resiko usaha akan mendorong pelaku bisnis untuk lebih berhati-hati dalam menjalankan usahanya. Dalam konteks skenario perkembangan bisnis ke depan, perusahaan harus dapat mengantisipasi apapun yang akan terjadi. Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan sebagai berikut: (1) Faktor-faktor yang sangat mempengaruhi perkembangan bisnis biodiesel dari minyak kelapa sawit di Indonesia adalah faktor politik (40,4%) dan faktor ekonomi (38,6%), sedangkan faktor lainnya memiliki pengaruh yang tidak terlalu besar, yaitu faktor sosial (12,2%) dan faktor teknologi hanya 8,8%. Meskipun faktor yang sangat berpengaruh hanya dua, tetapi delapan variabel yang merupakan unsur-unsur dari kedua faktor tersebut memiliki pengaruh yang relatif sama besarnya; yaitu: variabel fluktuasi harga (14,9%), kebijakan ekspor (11,9%), subsidi (10,1%), pajak (9,9%), kurs rupiah (8,6%), peraturan/birokrasi (8,5%), pemasaran (8,3%), dan suku bunga bank (6,2%), (2) Skenario yang mungkin terjadi pada 5 – 10 tahun mendatang adalah: (a) Bisnis biodiesel dari minyak kelapa sawit berkembang dengan pesat dan tidak mengganggu stabilitas pasokan bahan baku minyak goreng (55,56%), (b) Bisnis biodiesel dari minyak kelapa sawit tidak berkembang (27,27%), dan (c) Bisnis biodiesel dari minyak kelapa sawit berkembang sangat pesat dalam waktu yang singkat, sehingga mengganggu stabilitas pasokan bahan baku minyak kelapa sawit untuk minyak goreng (17,17%), (3) Untuk mengantisipasi terjadinya skenario yang tidak dikehendaki maka dapat dilakukan beberapa strategi sebagai berikut: (a) Pembangunan pabrik biodiesel menggunakan teknologi multifeedstocks, multiproducts dan multifunctions, sehingga kalau gagal tidak akan menjadi besi tua, (b) Pengembangan bisnis biodiesel dilakukan secara bertahap, (c) Melakukan aliansi strategis dengan mitra dari negara maju, dan (d) Strategi manajemen perubahan yang tepat pada saat kritis, dan (4) Produksi biodiesel dengan bahan baku minyak kelapa sawit secara besar-besaran yang dilakukan dalam waktu yang relatif cepat akan sulit diimbangi dengan peningkatan produksi minyak kelapa sawit, sehingga dapat mengganggu stabilitas pasokan CPO untuk minyak goreng. Meskipun secara kuantitatif menunjukkan bahwa pasokan minyak kelapa sawit mampu mencukupi kebutuhan dalam negeri, namun pengalaman menunjukkan telah terjadi gejolak kenaikan harga yang cukup besar akibat perubahan alokasi minyak kelapa sawit untuk keperluan lainnya yang lebih menguntungkan. Hal ini dapat dimaklumi karena minyak goreng memiliki nilai tambah yang paling kecil dibandingkan dengan produk turunan minyak kelapa sawit lainnya. Untuk memberikan jaminan stabilitas pasokan minyak goreng, maka pemerintah bersama-sama dengan produsen minyak kelapa sawit dan produsen minyak goreng dapat menyiapkan skema khusus untuk menjaga stabilitas pasokan minyak goreng yang benar-benar dikonsumsi di dalam negeri. Dari hasil penelitian ini disarankan: (1) Agar Tim Nasional Pengembangan Bahan Bakar Nabati dapat lebih dioptimalkan kinerja dan fungsinya. Agar lebih permanen, lebih terfokus, terkoordinir, dan efektif maka disarankan dibentuk badan atau dewan biodiesel Indonesia. Dalam penyusunan personalia, tugas, kewajiban, fungsi dan kewenangan lembaga tersebut agar melibatkan semaksimal mungkin stakeholder bisnis biodiesel di Indonesia, (2) Untuk menjamin kepastian hukum dan keberlanjutan program bahan bakar nabati di Indonesia, disarankan agar segera dibuat Undang-undang Bahan Bakar Nabati, (3) Untuk menjamin stabilitas pasokan minyak goreng dalam negeri, maka disarankan kepada pemerintah bersama-sama dengan para produsen minyak kelapa sawit dan minyak goreng untuk menyusun skema khusus untuk mencukupi bahan baku minyak goreng konsumsi domestik, (4) Tata niaga dan alokasi penggunaan minyak kelapa sawit (selain untuk bahan baku minyak goreng konsumsi domestik) agar tidak diatur oleh pemerintah, dan diserahkan sepenuhnya kepada mekanisme pasar, dan (5) Disarankan agar penelitian dan pengembangan bisnis biodiesel di Indonesia lebih difokuskan pada sektor penyediaan bahan baku (feedstock) biodiesel. Sektor tersebut merupakan kompetensi inti (core competency) Indonesia saat ini yang memiliki nilai tambah terbesar dalam rantai nilai (value chain) bisnis biodiesel internasional. Penelitian dan pengembangan hendaknya dilakukan secara terdesentralisasi dan terintegrasi kegiatan on farm maupun off farm dengan memanfaatkan semaksimal mungkin potensi sumberdaya yang ada.

Item Type: Thesis (Masters)
Uncontrolled Keywords: biodiesel, minyak kelapa sawit, minyak goreng, manajemen strategi, analisis skenario, nilai tambah.
Subjects: Manajemen Strategi
Depositing User: SB-IPB Library
Date Deposited: 28 Jun 2016 01:54
Last Modified: 28 Jun 2016 01:54
URI: http://repository.sb.ipb.ac.id/id/eprint/2447

Actions (login required)

View Item View Item