Analisis peran activity based costing dalam penentuan harga pokok produksi pt xyz

Putra, Deni Aruli (2006) Analisis peran activity based costing dalam penentuan harga pokok produksi pt xyz. Masters thesis, Institut Pertanian Bogor.

[img]
Preview
Text
R31-01-Deni-Cover.pdf - Published Version

Download (327kB) | Preview
[img]
Preview
Text
R31-02-Deni-Abstract.pdf - Published Version

Download (310kB) | Preview
[img]
Preview
Text
R31-03-Deni-Ringkasaneksekutif.pdf - Published Version

Download (325kB) | Preview
[img]
Preview
Text
R31-04-Deni-Daftarisi.pdf - Published Version

Download (327kB) | Preview
[img]
Preview
Text
R31-04-Deni-Pendahuluan.pdf - Published Version

Download (324kB) | Preview

Abstract

Dalam menghadapi persaingan di era peradangan bebas, perusahaan di Indonesia masih memerlukan proteksi dari pemerintah agar dalam jangka panjang dapat memerangkan persaingan dengan perusahaan asing yang mampu menghasilkan produk dan jasa dengan lebih efisien. Namun dengan perlindungan yang terus menerus kepada perusahaan Indonesia, tidak akan baik terhadap pertumbuhan jangka panjang industrialisasi di Indonesia. Sehingga strategi yang tepat adalah menjadi perusahaan fleksibel dalam memenuhi kebutuhan konsumen, menghasilkan produk dan jasa yang bermutu, dan cost effective, sehingga perusahaan di Indonesia memiliki kemampuan bertahan dan berkembang dalam menghadapi persaingan global. PT. XYZ adalah perusahaan manufaktur yang bergerak dibidang furnitur. Penetapan harga pokok produksi selama ini berdasarkan metode full costing (konvensional). Pada perusahaan yang menghasilkan bermacam-macam produk (multiproduct) ada kecenderungan terjadi penyimpangan biaya dalam penentuan harga pokok produksi bila menggunakan metode konvensional. Konsep konvensional dalam alokasi biaya membebankan overhead berdasarkan satu pool (misalnya jam mesin atau jam kerja karyawan) kepada semua produk. Tetapi untuk perusahaan yang menghasilkan yang bermacam-macam produk maka pembebanan tersebut menjadi tidak adil, karena produk-produk tersebut dipaksa untuk menerima biaya yang bukan menjadi bebannya. Dengan pembebanan biaya overhead hanya berdasarkan jam mesin atau jam kerja karyawan, mengakibatkan perusahaan tidak dapat mengidentifikasi dan mengetahui aktivitas yang menyebabkan sumberdaya yang digunakan, sehingga tidak dapat mengkalkulasi biaya atas aktivitas tersebut. Berdasarkan permasalahan tersebut, penelitian ini bertujuan untuk menentukan pemacu biaya (cost driver) yang tepat bagi setiap biaya produksi spring bed, menganalisis alokasi biaya overhead pabrik terhadap produk spring bed yang dihasilkan perusahaan, menentukan harga pokok produksi masing-masing tipe produk spring bed dengan metode Activity-Based Costing dan membandingkan dengan hasil perhitungan harga pokok yang diterapkan perusahaan, dan menganalisis besarnya laba atau rugi dari setiap produk. Selanjutnya implikasi atas perbedaaan nilai harga pokok tersebut akan direkomendasikan kepada manajemen untuk dapat ditindaklanjuti. Metode penelitian besifat deskriptif dan merupakan studi kasus di PT. XYZ, Bogor. Penelitian dilakukan selama dua bulan, dari bulan Juni sampai Juli 2005. Dalam penelitian tersebut diperlukan data realisasi biaya bahan baku, biaya tenaga kerja langsung dan biaya overhead selama tahun 2004. Perhitungan harga pokok produksi perusahaan menggunakan metode konvensional, dimana pengalokasian biaya overhead menggunakan satu pemacu biaya, yaitu jam kerja karyawan. Perhitungan harga pokok produksi dengan metode ABC menggunakan empat pemacu biaya, yaitu jam kerja mesin (JKM), luas bangunan (m2), kilowatthour (Kwh), dan jam kerja karyawan (JKK). Dasar penggunaan empat pemacu biaya dalam pengalokasian biaya overhead adalah nilai Koefisien Determinasi (R2). Pemacu biaya yang memiliki nilai R2 yang terbesar akan dipilih sebagai pemacu biaya. Analisis terhadap alokasi biaya overhead menunjukkan bahwa aktivitas-aktivitas yang berhubungan dengan tenaga kerja seharusnya hanya memerlukan biaya overhead sebesar Rp.530.033.310,-, ternyata perusahaan mengalokasikan sebesar Rp.720.429.000,-. Perbedaan alokasi overhead sebesar Rp.190.395.690,- atau 26,43% dari biaya overhead yang seharusnya tidak berkaitan dengan volume telah menimbulkan distorsi dalam biaya overhead per unit dalam biaya overhead per unit yang dihitung menurut perusahaan. Dalam perhitungan perusahaan realisasi biaya overhead pada tahun 2004 sebesar Rp. 720.429.000,- tersebut dialokasikan ke produk dengan menggunakan pemacu biaya tunggal (single driver), yaitu jam kerja karyawan sebanyak 144.000 jam, sehingga tarif overhead menurut perusahaan adalah Rp.5.003,-. Perhitungan dengan metode ABC, jumlah biaya overhead sebesar Rp.720.429.000,- didistribusikan ke dalam empat aktivitas dengan biaya overhead yang berbeda, yaitu overhead yang berkaitan dengan jam kerja mesin (JKM) sebesar Rp.106.970.553,-, overhead yang berkaitan dengan penggunaan luas bangunan (m2) sebesar Rp.31.325.954,-, overhead yang berkaitan dengan konsumsi kilowatthour (Kwh) sebesar Rp.52.099.183,- dan overhead yang berkaitan dengan jam kerja karyawan (JKK) sebesar Rp.530.033.310,-. Seluruh biaya overhead sebesar Rp.720.429.000,-, yang relevan dibebankan ke masing-masing produk atas dasar jam kerja karyawan sebesar 73,57% sehingga beban tiap produk jadi per jam tenaga kerja hanya Rp.3.681,-. Hasil perbandingan harga pokok produksi perusahaan dengan metode ABC menunjukkan bahwa perhitungan kedua metode tersebut tidak berbeda nyata. Metode ABC menghasilkan harga pokok produksi yang lebih rendah terhadap 22 jenis produk spring bed dan lebih tinggi terhadap 16 jenis produk spring bed dibandingkan metode perusahaan. Produk-produk yang harga pokok produksinya lebih rendah dengan metode ABC adalah kasur Big Pocket, kasur Full Latex, Divan dan Sandaran untuk kelas produk Big Land Platinum; Divan dan Sandaran untuk kelas produk Bigland Silver, Bigland Golden dan Bigdream; dan Sandaran untuk kelas produk Bigland Twin. Sedangkan produk-produk yang harga pokok produksinya lebih tinggi dengan metode ABC adalah kasur Panel, kasur King Pocket, kasur Pocket Latex untuk kelas produk Bigland Platinum; kasur Panel untuk kelas produk Bigland Silver, Bigland Golden dan Bigdream; serta Twin Atas dan Twin Bawah untuk kelas produk Bigland Twin. Harga pokok produksi masing-masing produk yang dinilai terlalu tinggi dan terlalu rendah menurut metode perusahaan dibanding dengan metode ABC akan berdampak terhadap laba kotor setiap produk. Pada produk yang pembebanan biaya overhead terlalu tinggi menyebabkan perolehan laba kotor lebih rendah, sedangkan produk yang pembebanannya terlalu akan memperoleh laba kotor lebih tinggi. Namun demikian, perbedaan harga pokok produksi masing-masing jenis produk tidak mengakibatkan perusahaan merugi. Pada PT. XYZ, komposisi biaya produksi spring bed terdiri dari 86,95% biaya bahan baku, 5,48% biaya tenaga kerja langsung, dan 7,57% biaya overhead. Dari komposisi biaya produksi spring bed nampak bahwa biaya bahan baku mempunyai porsi yang dominan dalam penentuan harga pokok produksi. Perbedaan informasi harga pokok produksi yang dihasilkan oleh kedua metode tersebut, ternyata tidak menyangkut semua elemen biaya produksi. Perbedaan informasi tersebut hanya berkaitan dengan alokasi biaya overhead saja sedangkan untuk alokasi biaya-biaya lainnya seperti biaya bahan baku dan biaya tenaga kerja langsung membebankan jumlah yang sama kepada setiap produk. Jadi, semakin besar proporsi biaya overhead dari total biaya produksi suatu produk, maka distorsi yang ditimbulkan oleh metode konvensional akan semakin besar. Meskipun metode ABC dianggap sebagai sistem perbaikan yang memberikan informasi biaya yang lebih akurat, namun untuk saat ini penggunaan metode ABC belum tepat karena distorsi biaya yang ditimbulkan oleh metode konvensional masih kecil.

Item Type: Thesis (Masters)
Uncontrolled Keywords: Harga Pokok Produksi, PT. XYZ, Activity-Based Costing, Metode Konvensional, Spring Bed, Biaya Overhead
Subjects: Manajemen Keuangan
Depositing User: SB-IPB Library
Date Deposited: 30 Jun 2016 02:58
Last Modified: 30 Jun 2016 02:58
URI: http://repository.sb.ipb.ac.id/id/eprint/2472

Actions (login required)

View Item View Item