Analisis faktor-faktor yang mempengaruhi kelangsungan usaha industri garmen kawasan berikat (kasus perusahaan kawasan berikat di wilayah bogor dan sekitarnya)

Indrayani, Iin (2011) Analisis faktor-faktor yang mempengaruhi kelangsungan usaha industri garmen kawasan berikat (kasus perusahaan kawasan berikat di wilayah bogor dan sekitarnya). Masters thesis, Institut Pertanian Bogor.

[img]
Preview
Text
E31-01-Iin-Cover.pdf - Published Version

Download (81kB)
[img]
Preview
Text
E31-02-Iin-Abstrak.pdf - Published Version

Download (66kB)
[img]
Preview
Text
E31-03-Iin-RingkasanEksekutif.pdf - Published Version

Download (72kB)
[img]
Preview
Text
E31-05-Iin-BabIPendahuluan.pdf - Published Version

Download (102kB)
[img]
Preview
Text
E31-04-Iin-DaftarIsi.pdf - Published Version

Download (315kB)
[img] Text
Tesis.pdf
Restricted to Registered users only

Download (1MB)
Official URL: http://elibrary.mb.ipb.ac.id

Abstract

Peningkatan pembangunan dan kemajuan suatu Negara ditinjau dari bidang ekonomi tergantung dari pertumbuhan ekonominya. Dalam dekade terakhir, perkembangan perekonomian Indonesia menurun akibat terjadinya krisis. Resesi telah mengurangi permintaan produk ekspor Indonesia seperti tekstil, garmen, mebel, alas kaki dan lainnya. Sejak awal 2009, industri garmen mengalami penurunan ekspor. Meskipun kontribusi nilai ekspor garmen terhadap PDB Indonesia relatif kecil, namun jumlah tenaga kerja yang diserap oleh industri ini cukup besar sehingga kelangsungan usahanya sangat mempengaruhi kelangsungan hidup sejumlah besar penduduk. Perusahaan garmen yang terganggu kelangsungan usahanya akibat krisis ekonomi global merupakan hal yang wajar. Namun perlu diketahui apakah perusahaan garmen dengan fasilitas Kawasan Berikat juga mengalami gangguan usaha setelah terjadi krisis. Oleh karena itu penelitian ini dilakukan untuk menganalisa faktor-faktor yang dapat mempengaruhi kinerja ekspor termasuk daya tahan perusahaan terhadap krisis. Kriteria penilaian kondisi kelangsungan usaha perusahaan meliputi dua komponen utama yang terdiri dari aspek teknis dan finansial. Fokus dalam penelitian ini adalah pada aspek teknis sehingga ditinjau dari ketentuan pemberian fasilitas, kelangsungan usaha Kawasan Berikat dapat dilihat dari aktivitas ekspornya. Penelitian ini dilakukan terhadap 53 perusahaan garmen di wilayah Bogor dan sekitarnya yang menggunakan fasilitas Kawasan Berikat pada tahun 2008 dan 2009. Jenis penelitian yang digunakan berdasarkan pendekatan analisisnya yaitu penelitian kuantitatif karena memakai analisis statistik. Untuk melakukan pengujian berbagai hipotesa yang telah ditetapkan, metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode gravitasi dengan pendekatan data panel. Regresi data panel dalam penelitian ini menggunakan metode Generalized Least Squares (GLS) dengan white heteroscedasticity-consistent standard errors and covariances dan Panel Correction Standard Error (PCSE) untuk mengatasi masalah tidak terpenuhinya asumsi regresi. Koefisien determinasi dari hasil pengolahan data adalah sebesar 99,90% dan adjusted R-sq nya sebesar 0,997222. F hitung memiliki tingkat signifikansi 1% sehingga secara sangat signifikan menolak Ho, dimana terdapat hubungan linear secara bersama-sama antara variabel bebas dengan variabel tak bebasnya. Variabel bebas yang berpengaruh terhadap nilai ekspor adalah PDB negara tujuan ekspor dan PDB Indonesia, jumlah penduduk negara tujuan ekspor, nilai tukar Rupiah terhadap mata uang negara tujuan ekspor, total produksi tahunan perusahaan, harga dan jenis barang ekspor, modal yang ditanamkan oleh pihak asing maupun dalam negeri, biaya promosi yang dikeluarkan dan jumlah bahan baku yang diimpor. Variabel dummy kondisi ekonomi tidak signifikan secara statistik yang menunjukkan bahwa perusahaan Kawasan Berikat tidak rentan terhadap krisis ekonomi global. Ketidakrentanan terjadi karena buyer mengalihkan ordernya dari perusahaan kompetitor tanpa fasilitas yang mengalami kesulitan permodalan ke perusahaan Kawasan Berikat. PDB negara pengimpor dan PDB Indonesia berpengaruh negatif terhadap nilai ekspor. Selain karena pakaian merupakan kebutuhan primer, kekuatan ekonomi negara pengimpor tidak menurunkan pembelian karena sedikit berkurangnya pendapatan. Berbeda dengan PDB, penambahan jumlah penduduk negara pengimpor menyebabkan peningkatan permintaan pakaian jadi. Nilai tukar Rupiah terhadap mata uang negara tujuan ekspor berpengaruh positif terhadap nilai ekspor. Rupiah yang terdepresiasi meningkatkan ekspor karena harga barang domestik menjadi relatif lebih murah. Demikian halnya dengan harga yang berpengaruh positif terhadap kinerja ekspor. Perusahaan menaikkan harga karena perubahan jenis hasil produksi. Kenaikan total produksi mengakibatkan peningkatan nilai ekspor. Perusahaan yang dapat menentukan sistem produksinya sedemikian rupa sehingga dapat meningkatkan total produksi mampu meningkatkan volume ekspornya. Variabel dummy untuk jenis barang sangat signifikan secara statistik. Hal ini menunjukkan bahwa rata-rata nilai ekspor untuk pakaian jadi dari rajutan/kaitan (HS 61) lebih banyak daripada bukan rajutan/kaitan (HS 62). Besarnya modal asing yang ditanamkan dalam perusahaan berpengaruh positif terhadap nilai ekspor sedangkan modal dalam negeri berpengaruh negatif. Hal ini berkaitan dengan luasnya relasi bisnis pihak asing. Sebanyak 86% perusahaan dalam penelitian ini merupakan perusahaan penanaman modal asing. Biaya promosi yang dianggarkan oleh perusahaan berpengaruh negatif terhadap nilai ekspor. Perusahaan yang menetapkan persentase biaya promosi relatif tinggi dari total biaya produksi menunjukkan bahwa perusahaan tersebut belum cukup dikenal oleh buyer atau sebaliknya, buyer sudah sangat mengenal namun mengurangi kepercayaannya terhadap kinerja perusahaan. Nilai impor bahan baku dapat meningkatkan kinerja ekspor. Impor bahan baku dilakukan oleh perusahaan berdasarkan permintaan pihak buyer dan prosedur impor bahan baku Kawasan Berikat telah dipermudah oleh Pemerintah. Wawancara mendalam dengan pihak perusahaan dilakukan untuk mengetahui penyebab timbulnya pengaruh faktor-faktor tersebut sebagai dasar pemberian rekomendasi untuk perusahaan maupun Pemerintah yang dapat digunakan sebagai strategi untuk meningkatkan kinerja ekspor. Rekomendasi untuk perusahaan adalah : (1) merevitalisasi mesin dan menambah varian hasil produksi, (2) menciptakan kenyamanan kerja untuk karyawan, (3) memperluas relasi bisnis untuk mempermudah akses dalam memperkenalkan hasil produksi perusahaan, (4) menjaga kepercayaan pihak buyer. Rekomendasi untuk Pemerintah adalah : (1) mempermudah restrukturisasi mesin, (2) membenahi ketentuan ketenagakerjaan, (3) membantu industri dalam negeri dengan cara membuka akses perdagangan internasional yang selebar-lebarnya sehingga negara lain dapat mengenal produksi Indonesia dengan lebih baik, (4) menarik investor asing untuk menanamkan modalnya di dalam negeri. Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi nilai ekspor adalah PDB negara pengimpor dan PDB Indonesia, jumlah penduduk negara pengimpor, nilai tukar Rupiah terhadap mata uang negara tujuan ekspor, total produksi tahunan perusahaan, jenis dan harga barang ekspor, modal yang ditanamkan oleh pihak asing maupun dalam negeri, biaya promosi yang dikeluarkan dan jumlah bahan baku yang diimpor. Dari perkembangan hasil analisa penelitian ini diperkirakan variabel jumlah jenis barang yang dapat diproduksi oleh perusahaan serta biaya tenaga kerja dalam industri mempengaruhi kinerja ekspor perusahaan, tetapi belum dimasukkan dalam penelitian ini. Oleh karena itu dalam penelitian selanjutnya variabel ini dapat dimasukkan ke dalam model regresi data panel.

Item Type: Thesis (Masters)
Uncontrolled Keywords: Krisis Ekonomi, Ekspor Pakaian Jadi, Kawasan Berikat, Model Gravitasi, Regresi Data Panel
Subjects: Manajemen Pemasaran
Depositing User: Library
Date Deposited: 12 Dec 2011 03:22
Last Modified: 02 Jul 2020 06:24
URI: http://repository.sb.ipb.ac.id/id/eprint/253

Actions (login required)

View Item View Item