Model optimasi dalam perencanaan produksi perkebunan kelapa sawit di pt. xc

Yudhiantoro, Iwan (1995) Model optimasi dalam perencanaan produksi perkebunan kelapa sawit di pt. xc. Masters thesis, Institut Pertanian Bogor.

[img]
Preview
Text
R03-01-Yudhiantoro-Cover.pdf - Published Version

Download (1MB) | Preview
[img]
Preview
Text
R03-04-Yudhiantoro-Pendahuluan.pdf - Published Version

Download (1MB) | Preview
[img]
Preview
Text
R03-02-Yudhiantoro-Ringkasan.pdf - Published Version

Download (1MB) | Preview
[img]
Preview
Text
R03-03-Yudhiantoro-Daftarisi.pdf - Published Version

Download (1MB) | Preview
[img] Text
Tesis.pdf
Restricted to Registered users only

Download (18MB)
Official URL: http://lib.sb.ipb.ac.id/

Abstract

PT. SC adalah badan usaha swasta yang bergerak di bidang agribisnis, yaitu penghasil komoditi kelapa sawit dan komoditi perkebunan lainnya. Saat ini perusahaan terutama untuk penghasil kelapa sawit, telah mampu menjadikan dirinya ke dalam bentuk usaha yang terintegrasi (integrated) yaitu selain perusahaan menghasilkan minyak sawit mentah (CPO) juga menghasilkan produk pengolahan lanjutan yang berupa minyak goreng, margarine dan produk turunan lain. Hal ini berarti bahwa setiap keputusan yang dibuat oleh salah satu baqian yang terintegrasi akan mempengaruhi bagian lainnya. Sampai tahun 1992, produksi perkebunan kelapa sawit PT. SC hanya mampu mensuplai 30 persen dari kebutuhan bahan baku (CPO) pabrik pengolahan minyak goreng, margarine dan produk turunan milik PT. SC. Kekurangan bahan baku (CPO) ini diperoleh melalui cara melakukan kontrak jangka panjang, pembelian dengan cara lelang dan pembelian secara langsung dari perkebunanperkebunan kelapa sawit. Ini merupakan tantangan bagi manajemen perkebunan PT. SC untuk meningkatkan produksi. Sementara itu, isu paling akhir menyatakan bahwa harga CPO di pasar internasional terus meningkat (Informasi Bisnis, ACTI, April 1994). Penyebab kenaikan harga tersebut dikarenakan menipisnya stock CPO dan produk substitusi lainnya. Pada sisi lain terdapat kecenderungan pada perdagangan global yang mulai berubah dengan disepakati GATT (General Agreement on Trade and Tariff) yang menuntut komoditi pertanian untuk dapat meningkatkan efisiensi produksinya sehingqa komoditi ini dapat unggul dalam kompetisi. Melihat kondisi yang demikian tersebut, maka PT. SC perlu memikirkan permasalahan berikut : a. Bayaimana PT. SC menyelola faktor-faktor produksi sebayai input perkebunan untuk menyhesilkan output yany berupa CPO dan PK. b. Sejauh mana pemanfaatan sumberdaya yang ada telah mencapai kondisi yany optimum. c. Baqaimana kebijakan yang berkaitan denqan produksi diambil oleh pihak manajemen perkebunan PT. SC d. Baqaimana dampak kebijakan-kebijakan manajemen terhadap kinerja perusahaan. Pengkajian permasalahan di atas terlebih dahulu didekati dengan pendekatan sistem. Dimana dalam pendekatan ini diharapkan sistem yang ada dapat dilihat dengan seksama dan dapat dituangkan ke dalam bentuk model alternatif yang mampu menerangkan sistem perkebunan yang ada, sehingga model tersebut dapat dijadikan salah satu alat pengambil keputusan dalam menetukan kebijaksanaan produksi. Seiring dengan keadaan ini, maka dilakukan kajian dengan menggunakan model optimasi Goal Programming yang didukung dengan analisis statistik. Model optimasi ini memung.k inkan untuk memasukkan kendala-kendala fungsional ataupun kendala-kendala tujuan dari setiap kebijaksanaan yang akan dibuat dan sekaligus dapat diakses secara simultan. Hal ini dapat menghindari keputusan yang sepihak tanp amempertimbangkan tujuan dan kebijaksaan yang lain. Dari hasil analisis yang digunakan menunjukkan bahwa trend produksi CPO dan PK perkebunan Kelapa Sawit PT. SC. cenderung meningkat. Peningkatan volume produksi ini diiringi semakin meningkatannya penerimaan dari penjualan dua produk. Hal ini disebabkan oleh harga produk tersebut mempunyai kecenderungan yang meningkat juga. Namun demikian, biaya yang digunakan untuk memproduksi juga cenderung meningkat. Sementara itu di bagian yang lebih luas, yaitu pasar internasional semakin terbuka dan sangat potensial untuk dimasuki mengingat terbukti bahwa produk kelapa sawit tidak seperti yang diisukan (mengganggu kesehatan). Namun kondisi seperti ini bagi PT. SC merupakan suatu tantangan yang tidak dapat secara mudah diputuskan untuk memproduksi CPO dan PK sebesar-besarnya tanpa melihat dampak yang lain bagi kelayakan produksinya. Langkah selanjutnya adalah menyiapkan suatu model yang mampu mewakili kondisi sumber daya, kebijaksanaan produksi dan aspek pasar. Dari model tersebut nantinya akan dapat diketahui bagaimana selayaknya produksi direncanakan. Model-model yang telah diformulasikan dalam bentuk model optimasi Goal Programming yang berdasarkan kebijakan- kebijakan manajemen produksi tersebut diimplementasikan ke dalam perangkat lunak LINW. Adapun kebijakan yang diambil oleh perusahaan tersebut pada umumnya dibuat oleh pihak manajemen perusahaan yang berada di kantor cabang (lokasi perkebunan) dan pihak manajemen berada di kantor pusat (Jakarta). Pada manajemen tingkat kantor cabang dalam menetapkan kebijaksanaan produksi menggunakan dasar-dasar produksi yang lazim dilakukan oleh perushaaan lain. Adapun kebijaksanaan tersebut adalah melakukan kegiatan produksi untuk mencapai target produksi, memanfaatkan atau menggunakan biaya sesuai biaya yang ditetapkan, dan sejauh mungkin produksi tidak berdampak pada jam lembur yang berlebihan. Pada manajemen tingkat pusat pada umumnya melihat bagian produksi sebagai bagian kegiatan usaha yang harus memberikan keuntungan dengan meningkatkan penerimaan yang sebesar-besarnya. Selain itu, perusahaan melihat bahwa produksi merupakan bagian terbesar dalam menyerap sumber daya perusahaan (untuk perusahaan perkebunan), sehingga perlu dijaga kesinambungan perusahaan dengan menjaga sumber daya yang ada. oleh karenanya PT. SC juga perlu menjaga agar pabrik pengolahan yang ada tetap berjalan dengan baik, mengingat mesin yang ada kondisinya cukup tua . Hasil keluaran dari implementasi model optimasi adalah sebagai berikut : 1. Mengutamakan Pemenuhan Permintaan CPO dan PK Pada keputusan untuk mengutamakan pencapaian permintaan CPO dan PK menimbulkan dampak positif pada usaha pencapaian tujuan yang lain. Penerimaan dari CPO dan PK mampu melebihi target yang ditetapkan dan biaya dapat ditekan sehingga anggaran yang disediakan masih tersisa. Namun terjadi pengangguran kapasitas baik pada lahan yang digunakan, maupun pada jam kerja pabrik. Secara umum akibat dari keputusan yang diambil oleh perusahan akan enguntungkan, mengingat bahwa selain penerimaan mampu melebihi target, juga produksi mampu menekan biaya yang disediakan. Namun akibat lainnya yaitu perkebunan mengalami pengangguran lahan dan pabrik, ha1 ini tentunya secara langsung berakibat buruk bagi kinerja perusahaan mengingat lahan yang tersisa tersebut merupakan lahan yang mempunyai tanaman yang sedang produktif. Pabrik tentunya mempunyai sumber daya yang direncanakan sesuai dengan kapasitas pabrik selama satu tahun, ha1 ini tentunya akan menjadikan biaya investasi banyak yang tidak efisien penggunaannya. 2. Mengutamakan Pencapaian Biaya sesuai Anggaran Pada umumnya pihak manajemen perusahaan di kantor cabang cenderung memanfaatkan seluruh anggaran yang tersedia. Ada beberapa pertimbangan pihak manajemen daerah melakukan ha1 yang demikian. Pertama jika anggaran yang tersedia mampu ditekan dan masih tersisa sering terjadi pihak manajemen pusat akan menurunkan anggarannya pada tahun yang akan datang dalam kuantitas pekerjaan yang sama. Kedua jika ternyata biaya yang digunakan melebihi biaya yang dianggarkan, maka pihak manajemen pusat enganggap pihak manajemen kantor cabang tidak mampu melakukan pekerjaan dengan efisien . Dari hasil implementasi diperoleh bahwa usaha perusahaan untuk mencapai tujuan biaya yang sesuai dengan anggarannya berdampak pula pada tujuan perusahaan lainnya. Seperti halnya pada bagian l., pada bagian ini perusahaan mampu memperoleh penerimaan, baik dari CPO maupun dari PK, melebihi target yang ditetapkan serta luas lahan yang terjadi mengalami pengangguran. Keadaan fungsi tujuan yang alain akibat dari keputusan yang demikian adalah adanya tambahan jam kerja pabrik (lembur) dan meningkatnya produksi CPO melebihi perkiraan permintaan. 3. Mengutamakan Pencapaian Biaya sesuai Anggaran dengan Menekan Jam Kerja Pabrik Seminimum Mungkin Model pada bagian ini merupakan model lanjutan dari model yang terdapat pada bagian 2. Perbedaannya terdapat pada koefisien yang terdapat pada fungsi tujuan Jam Kerja Pabrik, dimana pada variabel deviasional (deviasi atas) koefisiennya diberi nilai lebih tinggi yaitu 10. Nilai ini dimaksudkan untuk membedakan prioritas dari kendala-kendala tujuan yang ada. Tambahan nilai koefisien ini menyebabkan fungsi tujuan untuk menekan kelebihan jam kerja pabrik menjadi Berdasarkan perbandingan model tersebut, maka dapat disarankan keputusan yang optimal bagi perusahaan. Keputusan produksi yang optimal untuk periode 1994 adalah 63.836 Ton CW dan 15.239 Ton PK. AdaPun penerimaan yang dapat dicapai oleh perusahaan dengan keputusan ini adalah Rp.45.639.727.000,- dari CPO dan Rp.7.602.020.800,- dari PK. Sedangkan biaya yang dianggarkan dan luas lahan yang harus disiapkan masing-masing adalah Rp. 16.111.816.900,- dan 14.096,35 Ha.

Item Type: Thesis (Masters)
Additional Information: 136YUD m
Uncontrolled Keywords: manajemen produksi dan operasi, Kelapa Sawit, CPO.
Subjects: Manajemen Produksi dan Operasi
Depositing User: SB-IPB Library
Date Deposited: 17 Feb 2017 00:58
Last Modified: 05 Mar 2020 10:23
URI: http://repository.sb.ipb.ac.id/id/eprint/2826

Actions (login required)

View Item View Item