Analisis preferensi konsumen terhadap brosur produk kosmetika dengan sistem penjualan langsung

Cholid, M (2005) Analisis preferensi konsumen terhadap brosur produk kosmetika dengan sistem penjualan langsung. Masters thesis, Institut Pertanian Bogor.

[img] Text
E19-01-Cholid-Cover.pdf - Published Version

Download (531kB)
[img] Text
E19-02-Cholid-Abstract.pdf - Published Version

Download (361kB)
[img] Text
E19-04-Cholid-Daftarisi.pdf - Published Version

Download (351kB)
[img] Text
E19-05-Cholid-Pendahuluan.pdf - Published Version

Download (348kB)
[img] Text
E19-03-Cholid-Ringkasaneksekutif.pdf - Published Version

Download (371kB)

Abstract

Perkembangan bisnis penjualan langsung di Indonesia memperlihatkan perkembangan yang sangat pesat dan sangat berpotensi menjadi bisnis yang sangat menjanjikan. Data Asosiasi Penjual Langsung Indonesia (APLI) mencatat total penjualan bisnis direct selling pada tahun 1999 mencapai Rp. 2,09 triliun, tahun 2002 mencapai Rp. 4,17 triliun dan tahun 2003 mencapai Rp. 6,2 triliun. Peningkatan penjualan tersebut diiringi juga dengan peningkatan jumlah distributor, pada tahun 1999 berjumlah 3.974.000 orang, pada tahun 2002 4.765.000 orang, dan tahun 2003 meningkat menjadi 5.472.000 orang. Pada saat ini terdapat 200 perusahaan yang bergerak pada bisnis DS-MLM dan yang terdaftar sebagai anggota APLI sebanyak 60 perusahaan. Sebagian besar perusahaan DS-MLM yang beroperasi di Indonesia menjual produk perawatan kecantikan dan makanan kesehatan. Hal yang menarik pada perusahaan yang menggunakan sistem direct selling adalah dalam memperkenalkan produk-produk dan manfaat produk, perusahaan tidak melakukan kegiatan periklanan melalui media televisi, radio, surat kabar. Perusahaan direct selling hampir seluruh kegiatan penjualan dan promosinya dilakukan dengan cara penjualan perorangan (personal selling) dengan strategi untuk mendorong terciptanya penjualan (push strategy). Dalam strategi ini barang diperkenalkan dan dijual kepada konsumen sehingga diperlukan tenaga penjual/wiraniaga yang dibekali pengetahuan tentang produk yang dipasarkan. Dalam aktivitas komunikasi pemasaran langsung diperlukan alat komunikasi pemasaran yaitu brosur yang juga dipakai dalam komunikasi produk produsen kepada pengecer dan konsumen akhir. Dapat dikatakan brosur telah menjadi kebutuhan vital bagi pelaku bisnis dengan sistem direct selling dalam upaya memperkenalkan dan menjual produk-produk perusahaan. Oleh sebab perlu dilakukan penelitian tentang pengaruh brosur terhadap tingkat aktivitas tenaga penjual, yang pada akhirnya berpengaruh terhadap penjulan produk perusahaan yang menggunakan sistem DS-MLM. Berdasarkan latar belakang, maka permasalahan dalam penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut (1) Bagaimana karakteristk konsumen kosmetika dengan sistem penjualan langsung?; (2) Faktor-faktor apa yang mempengaruhi persepsi konsumen terhadap brosur produsen yang menggunakan sistem penjualan langsung? (3) Langkah-langkah apa yang harus dilakukan untuk mengukur preferensi konsumen terhadap brosur produsen yang menggunakan sistem penjualan langsung? dan (4) Bagaimana alternatif strategi perbaikan dan pengembangan brosur yang sesuai dengan keinginan konsumen? Tujuan penelitian adalah sebagai berikut (1) Menganalisis karakteristik konsumen kosmetika dengan sistem penjualan langsung; (2) Menganalisis tingkat kepentingan atribut-atribut yang mempengaruhi pemilihan atau ketertarikan terhadap brosur produk penjualan langsung; (3) Menganalisis preferensi konsumen pengguna produk-produk penjualan langsung tentang masing-masing brosur berdasarkan atribut-atribut utama yang mempengaruhi kesukaan konsumen, sehingga dapat diketahui karakteristik brosur masing-masing perusahaan kosmetika menurut sudut pandang konsumen; (4) Merumuskan alternatif strategi perbaikan dan pengembangan brosur perusahaan kosmetika dengan sistem penjualan langsung Metode penelitian yang dilakukan metode deskriptif dengan pendekatan survei. Penelitian dilakukan dengan menyebarkan kuesioner kepada responden kosmetika yang menggunakan produk kosmetika Belleza, Sara Lee, Avon, Thalia, dan Oriflame. Pengambilan sampel dilakukan berdasarkan metode non probability sampling (metode tidak berpeluang) dengan metode convenience yaitu pengambilan contoh dengan cara ketidaksengajaan terhadap target responden. Adapun caranya dengan menelusuri dari seorang responden ke responden lain yang merupakan pengguna produk kosmetika Sara Lee, Avon, Thalia, Belleza dan Oriflame dan proses pencarian responden dihentikan setelah jumlah sampel yang dikehendaki tercapai. Cara yang dilakukan dalam pengumpulan data melalui bantuan kuesioner ke responden adalah dengan cara tatap muka (face to face). Sebaran jumlah 100 responden yang terbagi ke dalam tiga kota yaitu yaitu responden di Jakarta berjumlah sebanyak 33 tiga responden, Bogor 42 responden, dan Bandung berjumlah sebanyak 25 responden. Analisis yang digunakan adalah analisis deskriptif untuk menggambarkan karakteristik sampel dan memperkirakan prosentase unit variabel; analisis Thurstone untuk mengetahui informasi mengenai tingkat kepentingan atribut produk atau jasa; dan analisis konjoin merupakan metode yang membantu mendapatkan kombinasi atau kompisisi atribut-atribut suatu produk atau jasa bagi konsumen. Responden pada penelitian ini terbagi menjadi dua bagian yaitu responden yang merupakan sebagai konsumen akhir (end user) dengan jumlah responden sebesar 100 responden, dan disamping sebagai konsumen akhir (end user) juga merupakan sebagai penjual (resale) produk kosmetika dengan sistem penjualan langsung dengan jumlah populasi sebesar 58 responden yang mempunyai karakteristik tidak berbeda jauh. Adapun karakteristik responden berdasakan demografi yaitu bahwa responden baik pengguna maupun penjual yaitu sebagian besar atau dengan persentase tertinggi adalah wanita, kisaran usia antara 26 – 45 tahun, tingkat pendidikan SLTA, pekerjaan swasta, status pernikahan adalah sudah menikah, dengan tingkat pengeluaran rumah tangga (konsumsi) berkisar antara Rp.1.000.000 – 2.000.000,- dan status tempat tinggal adalah milik sendiri. Brosur merupakan salah satu pendukung kunci keberhasilan dalam bisnis penjualan langsung sehingga peranan brosur yang diminati oleh konsumen sangat penting untuk diperhatikan oleh perusahaan. Adapun berdasarkan dua belas atribut yang dianggap penting oleh konsumen sebagai penciri dari suatu brosur, maka urutan tingkat kepentingan atribut-atribut brosur berdasarkan responden adalah 1)Cover 2) Isi katalog 3)Informasi diskon 4) Model Iklan 5)Desain Media 6)Kejelasan informasi produk 7)Jenis Kertas 8)Gaya bahasa 9)Ukuran brosur 10)Ketebalan 11)Kontinuitas dan 12)Distribusi. Dalam perkembangan sistem penjualan langsung produk kosmetika saat ini terdapat beberapa perusahaan di Indonesia yang menggeluti dunia bisnis direct selling diantaranya yaitu Avon, Saralee, Oriflame, Belleza dan Thalia. Adapun berdasarkan dua belas atribut penciri brosur menurut penilaian responden bahwa secara keseluruhan brosur Orfilame dianggap merupakan brosur terbaik yaitu bahwa berdasarkan dua belas penciri atribut brosur terdapat tujuh keunggulan Oriflame yaitu 1) Jenis kertas, 2) Desain Media, 3) Isi Katalog, 4)Kejelasan informasi, 5)Sampul, 6)Ketebalan dan 7)Ukuran brosur. Adapun peringkat kedua yaitu adalah Avon dengan tiga keunggulan penciri atribut yaitu 1) Model iklan, 2) Kontinuitas, 3) Gaya bahasa dan 4) Info diskon, sedangkan untuk atribut distribusi diungguli oleh Saralee. Secara umum dari lima perusahaan produk kosmetika dengan sistem penjualan langsung bedasarkan dua belas atribut penciri brosur bahwa brosur yang dianggap sesuai dengan keinginan konsumen adalah Oriflame, Avon, Belleza, Saralee dan Thalia. Berdasarkan hasil kombinasi atribut penciri brosur yang dianggap sesuai dengan responden, maka perusahaan diharapkan dapat memenuhi keinginan konsumennya dengan membuat suatu brosur bagi produk kosmetika dengan kombinasi gambar model sebagai cover/sampul brosur, ukuran brosur 21 x 19.5 cm, frekuensi penerbitan 1 bulan 1 kali dan diskon sebagai informasi utama dalam brosur. Adapun saran berdasarkan hasil penelitian adalah sebagai berikut : (1) Faktor-faktor yang penting dalam implementasi adalah dengan memperhatikan penciri-penciri atribut brosur ketika akan membuat atau meluncurkan suatu brosur produk kosmetika yang akan dipasarkan, kesesuaian isi informasi yang ditampilkan dalam brosur dengan keadaan barang yang sebenarnya, dan ketersediaan barang yang ditampilkan di dalam brosur dengan yang ada di perusahaan; (2) Perusahaan produk kosmetika dengan sistem penjualan langsung yang dapat dijadikan benchmark dalam pembuatan brosur adalah brosur Oriflame untuk jenis kertas, desain media, isi katalog, kejelasan informasi produk, sampul/cover, ketebalan, ukuran brosur dan Avon untuk model iklan, kontinuitas, gaya bahasa dan info diskon serta Saralee untuk distibusi yang sudah dianggap memenuhi keinginan para konsumen.

Item Type: Thesis (Masters)
Additional Information: 29(E19)Cho a
Uncontrolled Keywords: Brosur produk kosmetika, penjualan langsung (direct selling),analisis Thurstone, conjoin, preferensi terhadap perilaku pembelian kosmetik, kepuasan terhadap brosur, atribut brosur, awareness & usage.
Subjects: Manajemen Pemasaran
Depositing User: Library
Date Deposited: 14 Sep 2011 01:03
Last Modified: 16 Nov 2016 02:47
URI: http://repository.sb.ipb.ac.id/id/eprint/288

Actions (login required)

View Item View Item