FORMULAS1 STRATEGI EKSPANSI KREDIT RITEL PASCA REKAPITALISASI DI KANTOR CABANG PT. BANK RAKYAT INDONESIA (PERSERO) BOGOR

TOBERIHARTO AGUS, AGUS TOBERIHARTO (2001) FORMULAS1 STRATEGI EKSPANSI KREDIT RITEL PASCA REKAPITALISASI DI KANTOR CABANG PT. BANK RAKYAT INDONESIA (PERSERO) BOGOR. Masters thesis, Manajemen dan Bisnis Institut Pertanian Bogor.

[img]
Preview
PDF
7e-01-agus-cover.pdf

Download (56kB)
[img]
Preview
PDF
7e-02-agus-ringkasaneksekutif.pdf

Download (264kB)
[img]
Preview
PDF
7e-03-agus-daftarisi.pdf

Download (88kB)
[img]
Preview
PDF
7e-04-agus-bab1pendahuluan.pdf - Published Version

Download (158kB)
Official URL: http://www.elibrary.mb.ipb.ac.id

Abstract

Dalam pembangunan perekonomian dukungan perbankan sangat diperlukan untuk menggerakan roda pembangunan ekonomi nasional. Bangkitnya perekonomian pasca krisis moneter Juni 1997 ditandai dengan ekonomi yaug mulai tumbuh, tingkat inflasi yang cukup rendah dibawah 10 %, tingkat suku bunga mulai normal / stabil dan tidak terjadi negatif spread lagi maka bank dituntut segera dapat menyalurkan kembali kreditnya ke sektor riil dan dunia usaha. Dengan dilakukannya rekapitalisasi oleh Pemerintah (Juli 2000) BRI dituntut untuk dapat tumbuh dan berkembang secara sehat, melakukan reorientasi bisnis yaitu retail banking dijadikan Core business dimasa depan bersama-sama dengan micro banking dan kredit korporat hanya diutamakan pada sektor agribiinis dalam mencapai target pertumbuhan kredit rata-rata 15% per tahun dengan jumlah kredit bermasalah maksimal5 % dari total. Dari latar belakang tersebut penulis menunuskan permasalahan yaitu (1) Strategi apa yang ditempuh Kanca BRI Bogor dalam upaya mencapai target rasio NPL (Non Performing Loan) BRI tetap dibawah 5 % sampai dengan akhir tahun 2001, (2) pilihan jenis kredit apa yang direkomendasikan untuk term dikembangkan dan (3) apakah dengan penerapan Ketentuan Redefinisi Instrumen Kredit dapat mendukung rencana ekspansi kredit yang akan disalwkan serta (4) langkah strategi apa yang perlu diambil dalam rangka ekspansi kredit ritel pasca rekapitalisasi. Selanjutnya penelitian diiakukan dengan tujuan (1) menentukan upaya-upaya yang akan diiempuh dalam rangka mencapai target rasio NPL won Performing Loan BRI tetap dibawah 5% sampai dengan akhir tahun 2001, (2) menentukan jenis-jenis kredit yang disarankan untuk dikembangkan di Kanca BRI Bogor, (3) mengetahui kefektif & keberhasilan ekspansi pinjaman setelah diterapkannya ketentuan Redefinisi Instrumen Kredit, dan (4) mengetahui Instrumen Kredit yang sesuai dengan keinginan nasabah untuk kemudian merumuskan / merekomendasikan strategi yang perlu dilakukan oleh Kanca BRI Bogor dalam melaksanakan ekspansi kredit riteL Penelitian ini dilakukan dengan metode pengumpulan data Studi kasus di Kanca BRI Bogor dipilih sebagai unit kasus. Analisa data menggunakan 3 (tiga) metode yaitu Analisis Trend, Perilaku Konsumen dan Matriks SWOT / IFEEFE. Analisis trend dilakukan secara trend bebas mencakup seluruh kredit ritel yang ada di Kanca BRI Bogor, untuk memilih jenis kredit yang trend kinerjanya baik dengan indikator pertumbuhan dan jumlah kredit bermasalah yang ada. Sedang untuk Analisis Perilaku Konsumen dan Analisis SWOT difokus pada Kredit Ritel Komersial Non Program. Analisis perilaku konsumen diiakukan terutama untuk mengetahui efektititas dan keberhasilan ekspansi pinjaman setelah diterapkannya ketentuan redifinisi Instrumen Kredit dan mengetahui Instrumen Kredit yang disukai oleh nasabah. Untuk nasabah BRI dipilih sampel 148 orang dengan metode stratified proportional random sampling, dan untuk nasabah bank lain dipiliih sampel 48 orang dengan metode quota actidental random sampling. Berdasarkan Data Perkembangan Total Pinjaman dan Total Kredit Bermasalah per Jenis Kredit per Tahun diketahui bahwa trend pertumbuhan kredit ritel dengan kualitas kredit yang relatif baik adalah Kredit Usaha Kecil (KUK), Kredit Pensiun, dan Kredit Pegawai Rata-rata pertumbuhan kreditnya pertahun masing-masing 19%, 18% dan 14%, dan prosentase kredit bermasalahnya masing masing 1,2%, 1,8% dan 1,2%. Untuk rata-rata pertumbuban ter tinggi adalah jenis kredit KUT mencapai 12,26 %, namun kualitas kreditnya sangat buruk dengan prosentase kredit bermasalah 98,6%. Selanjutnya menurut data perkembangan total pinjaman dan total kredit bermasalah per sektor ekonomi, sektor ekonomi yang mengalami pertumbuhan dengan atas kredit yang relatif baik adalah sektor jasa jasa sosial dan masyarakat (Konsumtif kretapkresun), konstruksi dan sector perdagangan restoran dan hotel. Rata-rata pertumbuhan kreditnya pertahun masing masing 61%, 8% dan 7%, dan prosentase lcredit bermasalah masing-masing 2,2%, 93% dan 8,2 %. Adapun untuk sektor pertanian dan sarana produksi pertanian pertumbuhan kreditnya sangat tinggi yaitu 2300%, namun prosentase kredit bermalahnya mencapai 92,2%. Kualitas kredit sektor pertanian yang sangat buruk ini disebabkan oleh adanya kredit program yaitu KUT. Pertumbuhan sangat besar tersebut akibat perubahan sistem kredit yang semula Executing menjadi Channeling. Apabila dilihat lebih jauh, temyata pinjaman untuk sektor pertanian selain KUT kualitasnya mas& cukup baik. Berdasarkan Analisis Perilaku Konsumen dapat diketahui segmentation, positioning, targeting dan analisis bauran pemasaran. Dari jawaban responden para nasabah kredit rite1 diietahui segmentasi peminjam menurut jenis kelamin terbanyak adalah laki-laki (77%), berpendidikan SLTA (60%), dan pada usia produktii ( 40 tahun sd. 49 tahun). Pekerjaan utama I jenis usaha yang terbanyak adalah pedagang 75%. Targeting dari nasabah BRI Bogor adalah golongan pengusaha kecil, karena berdasarkan hasil penelitian besarnya pinjaman yang diberikan yang terbanyak adalah dibawah Rp. 50 juta (42 Yo). Piijaman umumnya dipergunakan untuk membiayai usaha pokok (97%), terutama pembiayaan modal kerja usaha (94%). Positioning pinjaman yang dipergunakan saat ini adalah "Kredit Rite dan komersial yang bersifat mum, individual, selektif dan berbunga wajar, Untuk mengembangkan atau meningkatkan usaha nasabah yang layak". Positioning tsb. sesuai, karena dari data yang ada menunjukan komposisi pinjaman yang terbesar adalah dengan besar kredit sampai dengan. Rp. 50 juta ( 42 %), yang berarti usaha yang dominan dikembangkan & ditingkatkan adalah usaha kecil. Sedangkan pada Analisis pada analisis pemasaran diperoleh hasil bahwa nasabah laedit ritel Kanca BRI Bogor lebih menyukai produk kredit berbentuk RIC dengan plafond tetap dari pada RIC plafond menurun atau pinjaman dengan angsuran. Dari sisi harga (Price) nasabah merasakan suku bunga pinjaman yang diberlakukan BRI terlalu tinggi, dan sebagian besar nasabah berpendapat promosi yang dilakukan rnasih kurang atau terbatas pada penggunaan personal selling. Namun dari sisi pelayanan nasabah secara umum cukup puas walaupun perlu tetap dipertahankan I ditingkatkan. Berdasarkan analisis kondisi Eksternal dan Internal serta hasil diskusi dengan beberapa pihak yang terkait langsung (manajemen BIU & Nasabah), maka dapat didentifikasi kekuatan, kelemahan, peluang serta ancaman. Pada Kekuatan diperoleh beberapa faktor yaitu jaringan kerja yang tersebar, jaminan keamanan, lokasi yang strategis, dana ekspansi yang besar pasca rekapitalisasi, dan pengalaman yang cukup lama &lam pemberian kredit. Untuk kelemahan faktor-faktornya adalah pelayanan pemberian kredit yang cukup lama, prosedur pelayanan yang rumit, biaya transaksi tinggi, bentuk dan skim kredit tidak sesuai harapan debitur, resiko Kredit, dan pembinaan yang kurang memadai. Sedang faktor-faktor peluang yaitu pertumbuhan ekonomi daerah, kebutuhan modal kerja pengusaha, pertumbuhan usaha kecil yang pesat, dan peraturan pemerintah yang mendorong berkembangnya usaha masyarakat, serta Kesadaran masyarakat akan peranan bank sebagai pemberi kredit. Dan faktor- War ancaman adalah perubahan suku bunga pinjaman, perubahan nilai tukar rupiah, dalam kondisi sosial politik dan keamanan di masyarakat, serta persaingan dengan bank & lembaga keuangan lainnya Selanjutnya berdasarkan pendapat 10 orang pakar eksternal dan internal yang diajukan melalui kuisioner dilakukan Analisis IFE dan EFE. Dengan metode Paired Comparison untuk menentukan bobot suatu faktor kritis yaitu melalui perbandingan tingkat kepentingan dengan faktor kritis lainnya, dan untuk mengukur berapa besar pengaruh dari faktor kritis tersebut terhadap perusahaan dilakukan pemeringkatan. Hasil perhitungan bobot dan peringkat diperoleh nilai terboboti pada faktor eksternal sebesar 2,231 yang berarti pada ski peluang dan ancaman pemberian kredit ritel tergolong sedang. Sedangkan nilai terboboti pada faktor internal diperoleh nilai 2,414, artinya kekuatan dan kelemahan yang terdapat dalam pelaksanaan pemberian kredit ritel tergolong sedang. Dengan basil tersebut pada matriks internal – eksternal menunjukan posisi kuadran V yang berarti pelaksanaan pemberian kredii Rite1 yang telah di lakukan adalah pada tahap pertumbuhan dan stabiiitas, maka strategi yang dilakmmkan antara lain dengan mempertahankan strategi pelaksanaan ekspansi kredit yang telah diiakukan selama ini. Stretegi ekspansi kredit yang telah diiaksanakan selama ini adalah meningkatkan kuantitas / jumlah kredit secara terus menerus sesuai permintaan / permohonan calon debitur dengan tetap memegang prinsip kehati-hatian bank dan berupaya mengarahkan nasabah untuk menerima bentuk kredit R/C plafond menurun sesuai ketentuan baru Redifinisi Kredit (Surat Edaran Kantor Pusat BRI NOSE: S.4-DIRIRTL /KRD/ 0212000 tgl. 16 Februari 2000). BRI Bogor pasca rekapitalisasi menjadi sangat kelebihan dana sehingga dituntut untuk terus dapat melakukan ekspansi kredit yang sehat. Apabila dilihat dari posisi ekspansi kredit ritel yang telah dilakukan selama ini maka untuk pengembangan dan ekspansi kredii yang akan &tang, selain mempertahankan strategi yang telah dilaksanakan perlu mengembangkan strategi yang ada agar dapat mencapai target yang telah diietapkan oleh Kantor Wilayah sekaligus mempertahankan kualitas kreditnya. Untuk itu disusun formulasi strategi berdasarkan nilai terboboti yang telah diperolah pada masing-masing faktor kritk, kemudian dihitung prioritas nilai pada masing-masing faktor. Dan prioritas stretegi yang diperoleh berdasarkan urutannya yaitu : ( I ) meningkatkan kuantitas dan kualitas kredit ritel dengan ekspansi secara selektif dan terencana dengan nilai 1,703, (11) memperbaiki kualitas pelayanan dengan penyederhanaan prosedur & penerapan bentuk kredit yang fleksibel dengan nilai 1,355, (111) mengembangkan kemitraan dengan debitur untuk pengembangan bisnis yang saling menguntungkan dengan nilai 1,286, (IV) mernanfaatkan potensi yang dimiliki untuk mencari peluang bisnis yang baik dan menguntungkan dengan nilai 1,171, (V) meningkatkan pembiayaan pada sektor usaha kecil yang prospeknya baik dengan nilai 1,072, (VI) menciptakan citra layanan yang baik untuk membangun loyalitas debitur dengan nilai 0,998, (VI1) meningkatkan kualitas dan kemampuan SDM dalam mencari peluang bisnis dan nasabah baru dengan nilai 0,931, dan ( IIX) meningkatkan pembinaan debit untuk mengembangkan usahanya dengan nilai 0,808. Berdasarkan pembahasan pada analisis trend, survey konsumen dan analisis SWOT, diperoleh beberapa kesimpulan sebagai berikut : (1) upaya pencapaian target pinjaman agar rasio NPL on Performing Loan) tetap dibawah 5 % sampai dengan akhir tahun 2001 dapat ditempuh dengan 3 (tiga) cara yaitu terus melakukan ekspansi kredit ritel yang sehat, mempertahankan kualitas kredit yang telah dijalurkan, dan memperbaiki kualitas kredit, (2) jenis-jenis kredit yang diuekomendasikan untuk term dikembangkan adalah kredit kepada golongan berpenghasiian tetap (Golbertap) meliputi Kredit Pegawai Tetap (KPT) dalam Kredit kepada Pensiunan (Kresun), dan Kredit Usaha Kecil pada sektor usah yang kinerja krediinya selama ini baik yaitu sektor perdagangan, restoran & hotel sector konstruksi dan sektor pertanian, (3) ketentuan baru Redifinisi Instrumen Kredit apabila diterapkan secara kaku dapat membuat kontra produktif, (4) bentuk instsumen kredit yang disukai nasabah adalah bentuk RlC plafond tetap, dan (5) strategi yang direkomendasikan dalam melakukan ekspansi kredit ritel adalah meningkatkan kuantitas dan kualitas kredit dengan terus melakukan ekspansi secara lebih proaktif, memperbaiki kualitas pelayanan kredit dengan penyederhanaan prosedur dan penerapan bentuk instrumen kredit yang fleksibel, mengembangkan kemitraan dengan debitur yang saling menguntungkan, memanfaatkan potensi yang di untuk mencari peluang bisnis yang baik dan menguntungkan, meningkatkan pembiayaan pada sektor usaha kecil yang prospeknya baik, menciptakan citra layanan yang baik untuk membangun loyalitas debitur, meningkatkan kualitas dan kemampuan SDM dalam mencari peluang bisnis & nasabah baru, dan meningkatkan pembmaan debitur untuk mengembangkan usahanya beberapa saran yang dapat dilakukan oleh pihak manajemen PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero) Kantor Cabang Bogor dalam melakukan ekspansi kredit ritel adalah : (1) melakukan upaya ekspansi kredit secara proaktif, (2) para Account Oflcer disarankan untuk melakukan pembinaan nasabah secara kontinyu, (3) Instrumen kredit agar digu&an lebii fleksibel, (4) agar selalu membiayai sector usaha yang prospeknya baik, dan (5) diarankan untuk menggunakan strategi yang telah direkomendasikan sebagai salah satu acuan dalam melakukan ekspansi kredit ritel dengan tetap berpegang kepada prinsip kehati-hatian bank.

Item Type: Thesis (Masters)
Uncontrolled Keywords: Ekspansi Kredit Ritel, PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero) Kantor Cabang Bogor, Analisis Trend, Survey Konsumen, SWOT, Strategi Non Performing Loan, Redifinisi Instrumen Kredit.
Subjects: Manajemen Keuangan
Depositing User: Staff-3 Perpustakaan
Date Deposited: 28 Dec 2011 06:38
Last Modified: 28 Dec 2011 06:38
URI: http://repository.sb.ipb.ac.id/id/eprint/351

Actions (login required)

View Item View Item