Analisa Peluang Pasar Pisang serta Implikasinya pada Pengembangan dan Pemasaran Pisang

Widi , Satiyantari (1998) Analisa Peluang Pasar Pisang serta Implikasinya pada Pengembangan dan Pemasaran Pisang. Masters thesis, IPB.

[img]
Preview
PDF
3-01-WidiSatintari-cover.pdf

Download (689kB)
[img]
Preview
PDF
3-02-WidiSatintari-RingkasanEksekutif.pdf

Download (1MB)
[img]
Preview
PDF
3-03-WidiSatintari-DaftarIsi.pdf

Download (998kB)
[img]
Preview
PDF
3-04-WidiSatintari-Pendahuluan.pdf

Download (1MB)

Abstract

Permintaan dunia terhadap buah-buahan tropis terutama pisang terus meningkat. Menurut ITC/UNSO impor dunia terhadap pisang segar pada tahun 1995 sebesar 11.048.897 ton senilai US$ 5.722.491 meningkat tajam dibanding tahun 1998 yang hanya 7.385.140 ton dengan nilai US$ 339.242. Namun dari jumlah total perdagangan pisang dunia peran Indonesia hanya sekitar 9.157 ton senilai US$ 168.49 pada tahun 1995. Indonesia sebenamya mempunyai potensi besar untuk meningkatkan produksi dan ekspor pisang, mengingat keunggulan komperatif yang dimiliki. Keunggulan ini antara lain adanya iklim yang mendukung, tanah yang subur dan tersedianya tenaga kerja yang murah sehingga memungkinkan produksi dilakukan sepanjang tahun. Pengembangan hortikultura antara lain pisang secara komersial masih menghadapi kendala antara lain terpencamya lokasi usaha dengan skala usaha yang umumnya sangat kecil. Bibit unggul dalam jumlah besar, tepat waktu, dan harga murah sukar didapat, dalam hal teknis budidaya kemampuan petani beragam sehingga berpengaruh terhadap kualitas produksi yang dihasilkan. Dipihak lain produk buahbuahan yang mudah rusak menyebabkan para investor kurang berminat untuk menanamkan investasinya. Fasilitas kredit yang diberikan oleh pemerintah dalam bentuk Kredit Usaha Tani untuk petani/kelompok tani penyerapannya kecil mengingat persyaratan dari pihak Bank yang sulit diterima petani. Posisi tawar menawar petani sangat lemah, di tambah struktur pasar yang bersifat oligopsoni. Pemasaran pisang luar negeri dihadang masalah berupa tidak dapat memenuhi kualitas dan kontinuitas serta volume pasokan, belum adanya dukungan distribusi dengan sarana pendingin yang memadai dan biaya angkutan yang relatif mahal. Kondisi perekonomian sekarang telah mendorong pemerintah untuk menggalakkan ekspor dalam rangka penambahan devisa negara. Upaya yang dilakukan adalah bagaimana meningkatkan daya saing produk di pasaran baik dalam negeri maupun di luar negeri. Berdasarkan permasalahan tersebut, dirumuskan masalah (1) Bagaimana peluang pasar pisang segar dan olahan ; (2) Bagaimana memanfaatkan potensi yang ada untuk mengisi peluang pasar tersebut; (3) Bagaimana sistem pemasaran yang dilakukan perusahaan selama ini dan apa saja permasalahannya ; (4) Bagaimana pola pengembangan dan pemasaran pisang yang akan datang. Kegiatan penelitian ini dilakukan di Jakarta, Jawa Timur dan Lampung selama 3 bulan yaitu Juni - Agustus 1998. Pengumpulan data dilakukan dengan cara desk study, wawancara dan observasi langsung. Data yang terkumpul diolah dengan Smoothing dan analisa regresi untuk mengetahui hubungan ketersediaan untuk dikonsumsi dan populasi penduduk terhadap impor. Analisis SWOT digunakan untuk melihat kelemahan dan tantangan agribisnis pisang di Indonesia. Produksi pisang Indonesia pada tahun 1996 sudah mencapai 3 (tiga) juta ton, dengan daerah penghasil terbesar pisang provinsi Jawa Barat dan Jawa Timur. Dari jumlah produksi tersebut baru diekspor pisang segar sebesar 2,56% dari total produksi pisang (BPS, 1997), itupun setelah ada dua perkebunan besar yang mengembangkan pisang untuk diekspor. Konsumsi pisang penduduk Indonesia pada tahun 1996 sudah mencapai 9,05 kg/kapital tahun. Sedangkan berdasarkan Neraca Bahan Makanan pada tahun 1996 ketersediaan pisang per kapita adalah 16,30 kg/kapitaltahun dengan rata-rata tercecer sebesar 10, 3%. Total penggunaan pisang untuk dikonsumsi tahun 1996 sebagai bahan makanan sebesar 1.819,217 ton dengan rincian untuk konsumsi segar 1.814,100 ton, untuk bahan baku industri makanan 937 ton (Susenas, 1997) dan bahan baku pure pisang 4200 ton (Rahardjo, 1997). Jika produksi pisang pada tahun 1996 sebesar 3.007.743 ton, maka masih ada 893.543 ton yang belum dimanfaatkan di tambah jumlah yang tercecer 300.774,3 ton yang perlu ditingkatkan pemanfaatannya. Ekspor pisang Indonesia selama kurun waktu 9 tahun terakhir menunjukkan trend yang meningkat. Pada tahun 1988 - 1992 ekspor pisang Indonesia hanya ke 4 (empat) negara tetapi dengan volume ekspor tertinggi di Saudi Arabia 395,239 ton, Korea sebesar 191,772 ton dan Hongkong 20,920 ton. Tahun 1993 - 1996 pasar ekspor meluas dengan volume ekspor tertinggi ke China sebesar 60.294,413 ton, Jepang 24.376,969 ton dan Hongkong 20.687,815 ton. Pada tahun 1996 pangsa pasar pisang segar terbesar adalah negara China (48 %) disusul dengan Jepang (19,4%) Hongkong (16,5%). Sedangkan untuk pisang kering atau olahan didominasi oleh Australia, Jepang, Selandia Baru dan Singapura. Volume ekspor tertinggi ke Australia sebesar 816,009 ton, China sebesar 1.098,500 ton dan Jepang 211,800 ton. Pada tahun 1996 di Indonesia masih ada lahan seluas 6.339.434 Ha yang sementara belum dimanfaatkan. Jika dikaitkan dengan arah pengembangan pisang di Indonesia, maka sebagian dari lahan tersebut masih dapat dimanfaatkan untuk mengembangkan pisang, skala sedang/kecil yaitu ke provinsi Sumatera Utara, Riau, Jawa Barat, Jawa Timur, Kalimantan Selatan, Sulawesi Tenggara dan Timor-timur. Struktur pemasaran domestik pisang selama ini adalah ologopsoni hal ini disebabkan lemahnya posisi tawar menawar petani. Sedangkan untuk produk olahan biasanya langsung ke konsumen atau kongsinyasi dengan taka makanan. Pemasaran ekspor pisang segar selama ini melalui perusahaan yang sudah mempunyai jaringan pasar seperti Delmonte Far East dan Arthal Fresh Fruit, sedangkan untuk produk olahan (pure pisang dan keripik pisang) melalui asosiasi perdagangan baru di distribusi ke konsumen. Produsen utama pisang dunia adalah India diikuti Brazil dan Equador. Di dunia, Indonesia merupakan produsen nomor lima setelah Philipina kontribusi produksi Indonesia pada tahun 1996 sebesar 5,33% produksi dunia dengan varietas pisang yang bermacam-macam. Produksi pisang Indonesia yang diekspor baru 2,56% itupun setelah ada dua oerkebunan besar vang menanam jenis Cavendish dengan skala komersial dan ditujukan untuk ekspor. Konsumen pisang dunia adalah India. Amerika Serikat dan China serta negara-negara di kawasan Eropa. Importir utama pisang antara lain Amerika Serikat. Jerman dan Bellux. Di kawasan Asia pengimpor pisang terbesar adalah Jepang dan China. Pada tahun 1996. China kekurangan 456.562 ton pisang dan Jepang 319.212 ton. Oleh karena itu peluang pasar pisang Indonesia adalah negara kawasan Uni Eropa dan di kawasan Asia adalah negara Jepang. Singapura. Hongkong dan Saudi Arabia karena negara-negara tersebut tidak memproduksi pisang. Permintaan pasar untuk konsumsi dalam negeri cenderung meningkat seiring dengan bertambahnya populasi penduduk dan digalakkannya industri pedesaan dalam rangka menumbuhkan perekonomian di pedesaan dan meningkatkan pendapatan masyarakat. Kebutuhan pisang untuk bahan baku industri keripik pisang sebesar 1-1.5 ton/hari, sedangkan untuk pure pisang sebesar 420 ton/hari. Jika kita tinjau dari kekuatan. kelemahan. peluang dan tantangan agribisnis pisang di Indonesia di lihat dari segi lahan, teknologi, SOM dan modal dalam pengembangan agribisnis pisang nampak bahwa pola pengembangan agribisnis pisang di Indonesia masih subsistem dengan skala skala usaha yang kecil-kecil dan belum mengarah ke bisnis. Dipihak lain, petani sebagai pelaku utama produksi, kemampuan teknologi budidaya dan pasca panen masih kurang sehingga mempengaruhi produk yang dihasilkan. Disatu sisi permintaan baik dalam negeri maupun dunia meningkat, sehingga ini menjadi tantangan bagi Indonesia untuk meningkatkan pengembangan pisang di Indonesia. Permintaan pisang di dalam negeri meningkat selnng dengan peningkatan jumlah penduduk rata-rata sebesar 1,66%. Peningkatan konsumsi pisang segar di dalam negeri juga disebabkan dengan akan digalakkannya agroindustri di pedesaan, berupa industri-industri olahan pisang dalam bentuk pure pisang dan keripik pisang yang membutuhkan bahan baku 420 ton/hari untuk pure pisang dan 1-1,5 ton/hari untuk keripik pisang. Permintaan pisang luar negeri juga meningkat seiring dengan pertambahan populasi penduduk dan ketersediaan untuk dikonsumsi pada negara-negara yang tidak mempoduksi pisang. Jika ditinjau dari peningkatan ekspor pisang segar dari Indonesia di kawasan Asia dan dikaitkan dengan pertumbuhan impor negara-negara importer pisang di kawasan Asia maka negara-negara seperti Saudi Arabia, EUA, Korea Selatan dan Hongkong perlu mendapat perhatian karena pada tahun 2001 rata-rata pertumbuhan negara tersebut adalah Saudi Arabia (6.1 %). EUA (12,6%) Korea Selatan (9,7%) dan Hongkong (4,7%). Permintaan pisang kering/olahan luar negeri 1988-1996 meningkat dengan mengarah ke diversifikasi pasar. Volume ekspor pisang kering terbesar adalah China sebesar 1.098.500 kg (50% dari total ekspor Indonesia). diikuti Australia 775.639 kg (35,4% dari total ekspor) dan Jepang 775.689kg (8,90% dari total ekspor pisang Indonesia). Oengan belum dapatnya memenuhi permintaan olahan pisang berupa pure dari negara-negara dikawasan Eropa, Selandia Baru dan Malaysia merupakan peluang bagi Indonesia untk mengembangkan agroindustri pisang. Faktor-faktor yang mempegaruhi pengembangan dan pemasaran pisang antara lain kekuatan tawar pembeli, ancaman pendatang baru dan persaingan dalam industri. Untuk masuk ke pasar pisang luar negeri dapat memilih berdasarkan peluang pasar serta memperhatikan perkiraan kebutuhan. Sedangkan hambatan untuk masuk dalam agribisnis pisang khususnya yang berorientasi ekspor adalah modal, teknologi, sumber daya manusia dan sistem pemasaran yang kuat. Untuk itu diperlukan kerjasama dengan perusahaan yang sudah berpengalaman dalam proses produksi dan pemasaran. Untuk masuk ke bisnis pisang khususnya pure pisang sebagai pengikut perlu diikuti dengan peningkatan mutu dan melakukan ke~asama dengan produsen bahan baku sehingga dapat menjamin pasokan bahan baku. Dalam pengembangan agribisnis pisang pertu memperhatikan empat subsistem yang saling terkait dan saling mendukung. Perhatian terhadap subsistem tersebut mulai dari pemilihan bibit, pengadaan saprotan, teknis budidaya, teknologi pengolahan hasil hingga pemasaran hasil. Faktor-faktor tersebut harus saling terkait dan mendukung, jika diantara faktor-faktor tersebut terputus maka sistem agribisnis tidak akan jalan. Untuk mengisi peluang pasar ekspor pisang Indonesia, dapat dilakukan dengan meningkatkan pangsa pasar di negara yang sudah dimasuki pasamya oleh Indonesia atau dengan masuk ke pasar baru yang belum dimasuki oleh negara yang unggul. Untuk itu dalam pemasaran ekspor harus memperhatikan segmen, target dan posisi dari tujuan perusahaan. Target paamya harus jelas apakah akan mengekspor dalam bentuk segar ataukah dalam bentuk olahan. Dalam menentukan sasaran pasar juga harus memperhatikan segmen pasar berdasarkan geografis ataukah berdasarkan sosial budaya, demikian juga dalam memposisikan perusahaan harus memperhatikan keunggulan komperatif yang dimiliki, serta memperhatikan produk dan harga produk pisang yang dihasilkan, demikian juga dengan distribusi produk harus memperhatikan peraturan-peraturan perdagangan negara tujuan dan peraturan sanitasi dan phytosanitari setiap negara tujuan. Dipihak lain dalam memperkenalkan produk pisang unggulan Indonesia pertu dilakukan promosi baik melalui atase perdagangan Negara setempat ataupun melalui pariwisata.

Item Type: Thesis (Masters)
Uncontrolled Keywords: Analisa Peluang Pasar Pisang serta Implikasinya pada Pengembangan dan Pemasaran Pisang
Subjects: Manajemen Pemasaran
Divisions: Sekolah Bisnis > Perpustakaan
Depositing User: Staff-4 Perpustakaan
Date Deposited: 28 Dec 2011 06:16
Last Modified: 28 Dec 2011 06:16
URI: http://repository.sb.ipb.ac.id/id/eprint/372

Actions (login required)

View Item View Item