Perencanaan Pendirian Usaha Meubel Rotan Dengan Sistem Sewa Gudang dan Sub Kontraktor Dalam Mengantisipasi Krisis Moneter

THAHJA , MA'IN (1998) Perencanaan Pendirian Usaha Meubel Rotan Dengan Sistem Sewa Gudang dan Sub Kontraktor Dalam Mengantisipasi Krisis Moneter. Masters thesis, IPB.

[img]
Preview
PDF
3-01-TjahjaMain-cover.pdf

Download (1MB)
[img]
Preview
PDF
3-02-TjahjaMain-Ringkasaneksekutif.pdf

Download (1MB)
[img]
Preview
PDF
3-03-TjahjaMain-DaftarIsi.pdf

Download (855kB)
[img]
Preview
PDF
3-04-TjahjaMain-pendahuluan.pdf

Download (1MB)

Abstract

Pendirian pabrik meubel rotan pada saat krisis moneter, sangat berbeda dengan pada saat kondisi normal. Dengan kondisi perekonomian yang tidak menentu seperti sekarang ini, maka sangat riskan untuk mendirikan suatu bisnis baru. Namun PY. X memberanikan diri untuk masuk pada bisnis tersebut dengan keyakinan bahwa dengan pola yang tepat dan manajemen yang baik, bisnis rotan masih sangat menjanjikan. Pada saat krisis moneter sekarang ini, industri rotan lebih banyak memperoleh keuntungan dari perbedaan kurs dolar terhadap rupiah, dibandingkan pada saat normal (sebelum krisis moneter). Mempertimbangkan faktor tersebut dialas, untuk mendirikan pabrik meubel rotan saat ini, harus berpacu dengan rale dolar yang teIjadi, karena merupakan suatu peluang yang sangat menguntungkan. Semakin naik nilai kurs dolar, makin tinggi keuntungan yang di raih, serta harns berpacu dengan kenaikan harga bahan baku dan bahan pembantu, yang semakin meningkat terns mengikuti naiknya kurs dolar terhadap rupiah. Meski peluang sangat baik dalarn bisnis rotan, namun dalam masa krisis moneter sekarang, sangat sulit untuk membuat usaha barn karena disarnping kondisi ekonomi yang sangat tidak menentu, juga biaya modal sangat tinggi. Bunga bank yang sangat tinggi, dalarn perhitungan sekarang secara teori sulit untuk mendirikan usaha apapun yang cukup feasible. Narnun dengan altematif tertentu PT. X yakin akan berhasil dalarn pendirian pabrik meubel rotan tersebut. Saat ini, para pengusaha dihadapkan kepada beberapa kendala yang antara lain kondisi ekonomi tidak menentu, biaya modal yang sangat tinggi serta resiko bisnis yang cukup besar maka PT. X berusaha mendirikan pabrik meubel rotan di Cirebon dengan tujuan menangkap peluang yang ada serta menghindari resiko yang terjadi sekecil mungkin. Untuk melaksanakan hal tersebut dipilih suatu altematif bahwa CV. X tidak membangun pabrik sendiri narnun dengan cara menyewa gudang yang sudah ada untuk dijadikan pabrik, sehingga dapat berproduksi secepat mungkin untuk mengejar kurs dolar yang tinggi, serta biaya investasi yang cukup rendah. Dalam rangka memperkecil resiko, maka selama belum mendapatkan buyer secara langsung, pemasaran baru diarahkan menjadi sub kontraktor (pengesub) dari ekspotir yang sedang kebanjiran permintaan. Dengan status sebagai sub kontraktor, maka biaya modal keIja dapat diperoleh pinjaman dari eksportir sehingga biaya modalnya cukup murah. Dengan cara ini kedua belah pihak memperoleh keuntungan, pihak eksportir tidak perlu mengeluarkan investasi besar untuk meningkatkan produksinya, sedangkan sub kontraktor juga memperoleh jaminan pasar sebelum mampu mendapatkan pembeli langsung dari luar negeri. Dengan pemilihan altematif ini, perlu diJaksanakan penelitian apakah altematif tersebut paling feasible dibandingkan dengan altematif lain dalam usaha pendirian pabrik meubel rotan. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji altematif yang paling tepat untuk melakukan investasi atau memulai pendirian usaha meubel rotan pada masa krisis moneter sekarang ini. Dari penelitian ini dikaji kelayakan usaha PT. X dalam system sewa gudang dan sebagai sub-kontraktor dengan skenario modal kerja ditanggung subkontraktor, ditanggung bersama oleh subkontraktor dan eksportir serta jika modal kerja ditanggung oleh Bank (penggunaan kredit perbankan) Penelitian ini hanya dilakukan pada hal-hal yang berkaitan dengan aspek financial/ekonomis yang akan dilaksanakan oleh PT. X dengan sistem sewa gudang. pada tingkat sewa gudang berapa yang masih ditolerir untuk kapasitas tertentu. Lokasi penelitian adalah di daerah sentra industri dan pengrajin rotan desa Tegalwangi, desa Klangenan dan desa Bodelor, Kecamatan Weru dan Kecamatan Plumbon, Cirebon, Jawa Barat. Data yang dikumpulkan adalah data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh dari wawancara langsung dengan eksportir, pedagang bahan baku dan bahan pendukung, pengrajin dan sub kontraktor, sedangkan data sekunder diperoleh dari Departemen Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Cirebon, Asmindo Kabupaten cirebon, BPS dan BPS kabupaten Cirebon, BPEN dan data hasil peneltian terdahulu serta sumber pustaka lainnya yang mendukung. Data yang telah dikumpulkan, baik data kuantitatif maupun kualitatif kemudian diolah sesuai dengan tujuan anal isis yaitu analisis SWOT, peramalan, dan analisis kelayakan finansial. Dari Hasil analisis SWOT diperoleh beberapa strategi pengembangan untuk mengatasi kelemahan dan ancaman serla dalam rangka memanfaatkan kekuatan dan peluang adalah Strategi SO, melalui peningkatan volume produksi, volume penjualan, pemanfaatan modal ketiga, pemanfatan sub kontraktor, dan mempertahankan kepercayaan pelanggan. Strategi WO, perlunya kebijakan pemerintah untuk mengembangkan pendidikan manajemen, Pengembangan system perbankan melalui kemudahan pinjaman dan bunga yang terjangkau bagi sub kontraktor I dan II. Strategi ST, mengandalkan kekuatan industri meubel rotan Cirebon untuk menghadapi ancaman yang mungkin timbul melalui pemanfaatan keunggulan komparatif yang dimiliki, meningkatkan kemampuan menjaga kontinuitas bahan baku, kontunuitas produksi terjaga, negosiasi, meningkatkan citra dan mutu produk. Strategi WT, ditetapkaan dengan cara meminimasikan kelemahan yang dimiliki industri meubel rotan dan menghindari ancaman melalui peningkatan promosi produk rotan, peningkatan kemampuan dibidang ekspor, pengembangan produk dan desain, pengembangan SDM melalui pelatihan baik formal maupun non formal. Dalam anal isis investasi ada dua cara untuk menilai kelayakan investasi. Pertama melihat pengaruhnya kecenderungan penurunan kurs rupiah terhadap dolar yang berfluktuasi tidak menentu tetapi mempunyai kecendrungan menurun (atau kurs rupiah menguat), dan kedua adalah kecendrungan kurs rupiah terhadap dolar meningkat (atau kurs rupiah melemah). Fluktuasi kurs rupiah tersebut akan mempengaruhi harga bahan baku di dalam negeri dan harga jual ekspor. Besamya ftluktuasi harga bahan baku meubel rotan tidak setluktuatif perubahan kurs rupiah terhadap dolar, akan tetapi arahnya selalu mengikuti pergerakan kurs US dolar terharap rupiah. Asumsi yang digunakan adalah: modal investasi merupakan modal sendiri, dan modal kerja di awal proyek sarna dengan nol (tidak ada modal kerja); pabrik diperoleh dengan cara menyewa gudang seluas 1600 m2 , dengan kapasitas operasi pabrik adalah sebesar 5 peti kemas per bulan ; Selama 5 bulan pertama perusahaan sebagai pengesub dengan order per bulan sebesar 3 peti kemas, dan bulan ke-7 sampai ke-12 memdapatkan order sebesar 5 peti kemas. Modal kerja diperoleh dari eksportir ; Pada bulan ke-13 sampai ke-24 perusahaan menjadi eksportir sekaligus produsen. Modal kerja eliperoleh dari pinjaman bartk dengan bunga 5 % per bulan Tenaga kerja yang digunakan pada awal operasi adalah I orang tenaga kerja administrasi, 2 orang tenaga manajemen dan I orang tenaga keamanan. Pada bulan ke-6 terjadi penambahan tenaga kerja baru sebanyak 5 orang untuk tenaga kerja administrasi bertambah 3 orang dan tenaga manajemen bertarnbah 2 orang. Pada bulan ke-13 terjaeli penambahan tenaga kerja baru sebanyak 12 orang untuk kebutuhan tenaga Quality Control 5 orang, Tenaga bagian gudang 2 orang dan Tenaga kerja untuk produk jadi 2 orang dan 3 orang supir. Upah tenaga kerja setiap 6 bulan sekali naik 10 persen; Keuntungan yang eli dapat selama menjaeli pengesub, pada bulan ke-12 sebesar Rp. 100 juta dikeluarkan untuk pembelian 3 buah mobil (I buah truk, I buah pick up dan I buah sedan). Kemudian di jual kembali pada bulan ke-24 sebagai penerirnaan pabrik pada bulan itu; Kebutuhan biaya operasional untuk kebutuhan bensin, solar dan lain-lain adalah sebesar Rp. 3.000.000 per bulan; Harga produk ekspor diasumsikan berfluktuatif sesuai perkembangan harga pasar; Biaya pameran ditetapkan sebesar 5 % dari total penerimaan ekspor dan Biaya Marketing ekspor juga sebesar 5 % dari total penerimaan ekspor; Bunga kredit modal kerja adalah sebesar 5 % (modal kerja dibutuhkan pada saat menjaeli eksportir); dan Pajak penghasilan (PPh) sebesar 10 % dari laba bersih setelah dikurangi bunga pinjaman Dengan discount factor sebesar 5 % (tingkat suku buga 5 % per bulan) maka diperoleh nilai JRR sebesar 20,41 % untuk (skenario I dimana kurs dolar cenderung menguat, dan harga per peti kemas dalarn dolar cenderung menurun). Nilai JRR skenario 2 adalah sebesar 19,57 (kurs dolar cenderung menurun, dan harga jual dalarn dolar cenderung meningkat. Dengan demikian, pada konelisi sekarang ini investasi pendirian pabrik meubel rotan adalah usaha yang tepat, karena mendatangkan keuntungan yang berlipat. Dari nilai tersebut dapat juga dijelaskan bahwa keuntungan akan diperoleh cenderung meningkat dengan menguatnya kurs dalar terhadap rupiah. Faktor lain adalah adanya kekuatan tawar menawar harga ekspor antara eksponir dengan pemesan. Dari hasil anal isis ROJ diperoleh nilai ROJ sebesar 0.14 pada bulan ke-I sampai pada bulan ke-5. Nilai ROJ pada bulan ke-6 adalah sebesar rata-rata 0,22 hingga pada bulan ke-ll, karena laba yang diterima meningkat akibat adanya peningkatan kapasitas produksi dari 3 peti kemas menjadi 5 peti kernas. Pada bulan ke-13 dimana telah menjadi eksponir maka laba yang diterima semakin besar sehingga nilai ROJ-nya juga bertambah besar mencapai 0,86. Sedangkan Besamya nilai ROE sarna dengan ROt, hal ini disebabkan karena total biaya investasi adalah sarna besamya dengan modal sendiri. Analisis sensitifitas adalah mengkaji sensitifitas kelayakan terhadap peningkatan harga sewa, atau mengkaji pada tingkat sewa berapa sehingga investasi di bidang meubel rotan ini masih menguntungkan. Pada saat akan mendirikan pabrik diasumsikan bahwa investor berkeinginan menjadi pengesub. Alasannya adalah karena biaya investasi yang dikeluarkan relatif tidak begitu besar dibandingkan dengan industri lainnya. Jika modal kerja ditanggung eksportir harga sewa gudang sebesar 5.5 juta per tahun, dengan tingkat suku bunga 5 %, maka dapat disimpulkan proyek sangat layak untuk dilaksanakan. Pada kondisi yang sarna dimana modal kerja ditanggung oleh eksportir walaupun harga sewa gudang mencapai harga 20,2 juta per tahun, memberikan nilai 1RR sebesar 5 %. Hal ini membuktikan walaupun harga sewa meningkat sampai 20,5 juta, proyek masih layak dilakukan. Sistem ini memungkinkan untuk dikembangkan karena memberikan keuntungan baik bagi sub kontraktor maupun oleh eksportir. Keuntungan yang di dapat sub kontraktor antara lain adalah modal investasi yang diperlukan relatif kecil, karena biaya modal kerja yang relatif besar ditanggung oleh eksportir yang kuat dibidang permodalan; Resiko klim dari eksportir relatif kecil, karena bahan baku dan bahan membantu dari eksportir, sehingga klim terhadap mutu produk bisa dihindari; waktu pengerjaan lebih cepat karena tidak perlu mencari bahan baku ke pasaran. Sedangkan keuntungan bagi eksportir adalah kesempatan luas untuk memenuhi permintaan pasar yang cenderung meningkat, sehingga keuntungan yang diraih bertambah besar. Keuntungan lain adalah eksportir bisa lebih berkonsentrasi mencari peluang pasar, selain itu eksportir tidak perlu mengeluarkan biaya investasi yang terlalu besar untuk meningkatkan kapsitas produksinya. Dengan dilakukan analisis kelayakan terhadap sistem sewa gudang untuk pabrik pembuatan meubel rotan, maka diperoleh perhitungaan bahwa untuk sewa gudang dengan kapasitas 3-5 peti kemas setiap bulan masih layak pada tingkat sewa gudang sebesar Rp. 20.500.000 per tahun dengan asumsi tingkat suku bunga 5% per bulan dan biaya modal kerja di tanggung eksportir. Untuk tingkat sewa gudang sebesar tersebut masih cukup tersedia di daerah kecamatan Weru, PIumbon, Palimanan atau sekitar Tegalwangi yang menjadi pusat industri pengrajin rotan di Cirebon. Dilain pihak, apabila statusnya adalah menjadi eksportir, maka dengan kondisi kurs dolar dan harga bahan baku seperti sekarang, maka sumber dana dari manapun masih cukupfeasible Dari kajian ini direkomendasikan bahwa untuk meraih peluang yang cukup baik ini, dalam mendirikan pabrik meubel rotan harus berpacu dengan waktu, sehingga diharapkan masih dapat menikmati tingginya kurs dolar terhadap rupiah, maka diupayakan menyewa gudang, karena dengan menyewa gudang yang langsung dijadikan pabrik, saat itu juga langsung dapat beroperasi, tidak seperti membangun pabrik yang memerlukan waktu lama; mencari eksportir yang cukup kuat agar semua modal kerja berupa bahan baku dan upah kerja langsung ditanggung eksportir. Pola seperti ini sudah berjalan setelah kondisi eksportir membaik seperti sekarang. Justru sebaliknya sebelum kondisi seperti sekarang ini eksportir yang diberi pinjaman oleh pengesub, karena pengesub baru dibayar setelah LlC cair; dan menjadi pengesub hanya merupakan batu loncatan selama belum mempunyai buyer secara langsung, sehingga harus mempunyai target paling lama setahun dan selanjutnya menjadi eksportir.

Item Type: Thesis (Masters)
Uncontrolled Keywords: Perencanaan Pendirian Usaha Meubel Rotan Dengan Sistem Sewa Gudang dan Sub Kontraktor Dalam Mengantisipasi Krisis Moneter
Subjects: Manajemen Keuangan
Divisions: Sekolah Bisnis > Perpustakaan
Depositing User: Staff-4 Perpustakaan
Date Deposited: 28 Dec 2011 06:16
Last Modified: 28 Dec 2011 06:16
URI: http://repository.sb.ipb.ac.id/id/eprint/380

Actions (login required)

View Item View Item